Pertemuan ke 1
A. PERILAKU KONSUMEN DAN PRODUSEN
Pada dasarnya, kegiatan ekonomi menciptakan adanya peran konsumen dan peran produsen. Peran kedua pelaku ekonomi tersebut akan diuraikan berikut ini.
Perilaku Konsumen
Perilaku konsumen adalah proses pengambilan keputusan dan aktivitas masing-masing individu yang dilakukan dalam rangka evaluasi, pendapatan, penggunaan, atau mengatur barang dan jasa.
Perilaku konsumen dapat dilihat dalam memilih tempat berbelanja, ada yang memilih mal, pasar tradisional, pedagang kaki lima, atau warung di sekitar rumah.
a. Pengertian Konsumen dan Konsumsi
Konsumen adalah orang yang menggunakan barang-barang hasil produksi. Dalam menjalani aktivitas sehari-hari yaitu memenuhi kebutuhan hidup, semua orang melakukan kegiatan konsumsi. Konsumsi bukan hanya berarti makan dan minum tetapi juga berbagai kegiatan lainnya yang menyangkut pemenuhan kebutuhan hidup.
Konsumsi adalah setiap kegiatan yang mengurangi atau menghabiskan nilai guna suatu barang atau jasa. Contoh paling mudah dari konsumsi adalah makan dan minum. Namun konsumsi tidak sebatas makan dan minum saja karena manusia memiliki kebutuhan yang tak nterbatas. Akibatnya, konsumsi yang dilakukan manusia memiliki ruang lingkup yang luas dan tidak terbatas, mulai dari menggunakan alat tulis, membaca buku, hingga memperoleh pendidikan di sekolah.
Adapun tujuan konsumsi yaitu memenuhi kebutuhan, memperoleh kepuasan semaksimal mungkin atas penggunaan barang atau jasa yang dikonsumsi, dan untuk mewujudkan kemakmuran.
Apabila suatu barang atau jasa dapat dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan manusia, berarti barang atau jasa tersebut mempunyai nilai guna atau manfaat. Nilai guna atau manfaat dapat digolongkan menjadi dua macam, yaitu :
1) Nilai pakai
Nilai pakai adalah kemampuan suatu barang untuk dipakai dalam memenuhi kebutuhan. Misalya, sebuah buku pelajaran Ekonomi dapat dipakai oleh seorang siswa untuk dipakai dalam rangka memenuhi kebutuhannya akan ilmu ekonomi. Sedangkan nilai pakai dibedakan menjadi dua macam, yaitu :
a) Nilai pakai subjektif
Nilai pakai subjektif adalah nilai yang diberikan oleh seseorang terhadap suatu barang karena barang tersebut dapat dipakai untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Karena penilaian bersivat individual, maka nilai pakai subjektif suatu barang berbeda antara orang yang satu dengan orang lainnya.
b) Nilai pakai objektif
Nilai pakai objektif adalah kemampuan suatu barang secara umum untuk dipakai dalam memenuhi kebutuhan manusia. Nilai pakai objektif berlaku umum, karena dilihat dari segi barang itu sendiri.
2) Nilai tukar
Nilai tukar adalah kemampuan suatu barang untuk dapat ditukar dengan barang lain, baik ditukar dengan uang ataupun dengan benda lainnya. Nilai tukar pun terdiri dari dua macam, yaitu :
a) Nilai tukar subjektif
Nilai tukar subjektif adalah nilai tukar suatu barang yang dilihat menurut sudut pandang pemiliknya atau orang yang menukarnya. Nilai tukar subjektif bersifat individual, sehingga berbeda-beda antara orang yang satu dengan orang lainnya. Contohnya, seorang pelukis cat minyak tidak akan mau menukarkan cat minyak dengan cat air walupun keduanya secara umum dianggap memiliki nilai yang sama.
b) Nilai tukar objektif
Nilai tukar objektif adalah nilai tukar suatu barang yang berlaku secara umum. Dengan kata lain nilai tukar yang dilihat dari sudut pandang barang itu sendiri.
Mislanya, pada umumnya orang tidak keberatan untuk mengganti daging ayam dengan daging ikan atau mengganti penggunaan jasa bus dengan kereta api. Hal ini terjadi karena bus memiliki nilai tukar objektif dengan kereta api.
b. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen
Pada dasarnya, perilaku konsumen dipengaruhi oleh dua factor, yaitu factor internal dan eksternal.
1) Faktor internal
Faktor internal adalah factor yang berasal dari diri konsumen, meliputi :
a) Pendapatan
Pendapatan konsumen berpengaruh pada besarnya konsumsi yang dilakukan. Makin tinggi pendapatan konsumen, maka konsumsi cenderung makin besar. Sebaliknya, konsumen yang berpendapatan rendah biasanya tidak akan banyak melakukan kegiatan konsumsi, karena daya belinya juga rendah.
b) Motivasi
Setiap orang mempunyai motivasi sendiri-sendiri dalam melakukan kegiatan konsumsi. Ada yang melakukan konsumsi untuk memenuhi kebutuhan yang benar-benar diperlukan. Namun ada pula orang yang membeli barang karena ikut-ikutan, padahal sebenarnya tidak membutuhkan.
c) Sikap dan kepribadian
Sikap dan kepribadian individu juga mempengaruhi perilaku konsumsinya. Orang yang hemat hanya akan membeli barang-barang yang telah direncanakan, sementara orang yang boros seringkali membeli barang-barang diluar perhitungannya. Orang yang menyukai barang-barang antik akan membeli barang-barang kuno dengan harga tinggi, sementara orang yang tidak menyukai barang kuno dengan harga tinggi, sementara orang yang tidak menyukai barang kuno tidak akan mau memiliki barang antic meskipun diberi gratis.
d) Selera
Masing-masing individu mempunyai selera yang berbeda-beda dalam memilih berbagai jenis barang dan jasa. Hal ini juga berpengaruh terhadap pola konsumsi.
2) Faktor eksternal
Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar konsumen, meliputi :
a) Kebudayaan
Kebudayaan yang terdapat di suatu daerah berpengaruh pada pola konsumsi masyarakat di daera tersebut. Di Jepang dan Cina orang lebih suka makan dengan supit, orang Barat memakai garpu dan sendok, sedangkan orang Indonesia lebih suka dengan tangan.
b) Status sosial
Status sosial atau posisi seseorang di dalam masyarakat dengan sendirinya akan membentuk pola konsumsi orang tersebut. Konsumsi seorang presiden, raja, atau menteri sudah jelas berbeda dengan konsumsi seseorang supir, tukang kayu, atau pengusaha kecil.
c) Harga barang
Sudah menjadi hokum ekonomi bahwa bila harga barang naik, maka konsumsi akan turun dan bila harga turun, maka konsumsi akan naik. Hal ini berlaku juga untuk tingkat harga barang substitusi, seperti dalam hokum permintaan dan penawaran. Permintaan yang dilakukan konsumen akan selalu mempertimbangkan harga yang berlaku.
c. Macam-Macam Perilaku Konsumen
Macam-macam perilaku konsumen dibedakan berdasarkan pertimbangan akal sehat yang menjadi dasar pada saat melakukan konsumsi. Berdasarkan pertimbangan tersebut, perilaku konsumen dikelompokkan menjadi 2, yaitu perilaku rasional dan perilaku tidak rasional (irasional).
1) Perilaku rasional
Perilaku rasional adalah perilaku konsumsi yang dilakukan dengan berdasarkan pertimabngan akal sehat. Kegiatan konsumsi dikatakan rasional apabila :
a) mengonsumsi produk yang terjamin kualitasnya
b) mengonsumsi produk yang sesuai dengan pendapatan yang dimiliki
c) mengonsumsi produk yang mampu memberikan kegunaan optimal, maksudnya dapat digunakan dalam jangka waktu lama
d) mengonsumsi produk yang benar-benar dibutuhkan
2) Perilaku irasional
Terdapat beberapa factor yang menyebabkan seorang konsumen berperilaku irasional, antara lain :
a) membeli karena adanya bonus pembelian
b) membeli karena adanya potongan produk
c) membeli karena tertarik pada iklan produk
d) membeli karena tertarik pada merek
e) membeli karena ikut-ikutan/demonstration effect
f) membeli karena ingin mempertahankan prestise
Tingkat rasionalisme seorang konsumen dapat dipengaruhi oleh berbagai factor, seperti tingkat pendidikan, kedewasaan, dan tingkat pendidikan. Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka perilaku konsumsi yang ditunjukkan cenderung rasional. Namun sebaliknya, makin rendah tingkat pendidikan seseorang terdapat kecenderungan untuk melakukan tindakan konsumsi irasional.
Demikian pula dengan tingkat kedewasaan seseorang, makin dewasa seseorang diharapkan mampu melakukan perilaku konsumsi rasional. Kedewasaan sikap seseorang menjadi faktor penunjang kematangan emosional seseorang. Makin matang tingkat emosional seseorang, maka perilaku konsumsi yang dilakukan cenderung rasional. Namun sebaliknya, bagi seseorang yang memiliki tingkat kedewasaan rendah, maka akan rendah pula tingkat kematangan emosional yang dimiliki. Oleh karena itu perilaku konsumsi yang ditunjukkan pun cenderung irasional. Konsumen rasional akan senantiasa mempertimbangkan konsumsi yang dilakukan. Mereka berusaha untuk memperoleh kepuasan maksimal dari konsumsi yang telah dilakukan.
Untuk memperoleh kepuasan maksimal dari konsumsi dapat ditempuh langkah-langkah sebagai berikut :
1) menyesuaikan jumlah konsumsi dan tabungan dengan pendapatan yang dimiliki
2) menyisihkan penghasilan untuk ditabung
3) memperkirakan adanya pengeluaran tak terduga
4) menyusun skala prioritas kebutuhan
5) membuat perkiraan harga barang atau jasa yang hendak dikonsumsi
6) membuat daftar barang atau jasa yang hendak dikonsumsi pada suatu waktu tertentu
LINK ABSEN PJJ KLIK DISINI :forms.gle/GP458tqy1bGPNNSA6
Setelah memahami materi di atas, silahkan dirangkum di catatan masing - masing dan kerjakan tugas berikut : KLIK DI SINI
Pertemuan ke 2
a. Teori Perilaku Konsumen
Konsep dasar perilaku konsumen manyatakan bahwa pada umumnya konsumen selalu berusaha untuk mencapai utilitas yang maksimal dari pemakaian benda. Utilitas adalah derajat seberapa atau ukuran kepuasan yang diterima dari penggunaan barang atau jasa. Utilitas sering disebut sebagai nilai guna. Setiap konsumen mempunyai tingkat kepuasan yang berbeda-beda, namun setiap orang akan berusaha mencapai kepuasan yan maksimal.
Kepuasan konsumen untuk melakukan tindakan pembelian serta konsumsi pada dasarnya terjadi karena barang dan jasa tersebut mempunyai nilai guna. Teori nilai guna dibagi menjadi 4 macam, yaitu :
1) Nilai guna total (total utility)
Nilai guna total merupakan nilai kepuasan secara keseluruhan yang didapat konsumen dalam mengonsumsi barang atau jasa. Misalnya, permintaan gula di suatu daerah dalam satu bulan adalah 10 ton, maka nilai guna totalnya dapat dikatakan 10. bulan berikutnya permintaan gula 30 ton, maka nilai guna total konsumsi gula juga 30.
2) Nilai guna marginal (marginal utility)
Nilai guna marginal merupakan pertambahan nilai kepuasan yang didapat konsumen sebagai akibat dari pertambahan jumlah barang yang dikonsumsi. Misalnya, nilai guna total dari konsumsi buah mangga yang pertama adalah 50. Sedangkan nilai guna total dari konsumsi buah mangga yang berikutnya (yang kedua) adalah 90, maka nilai guna marginal antara mangga yang pertama dengan yang kedua adalah 90 – 50 = 40.
3) Nilai guna yang makin menurun (diminishing utility)
Biasanya kepuasan atau nilai guna yang didapat konsumen yang dilakukan pada mulanya meningkat, namun setelah 5 atau sampai pada titik tertentu akan makin menurun.
Sebagai contoh, pada saat kitalapar yang kita butuhkan adalah makanan. Untuk memuaskan kebutuhan tersebut kita akan mengonsumsi makanan. Katakanlah sepotong roti potongan roti yang pertama, kedua dan ketiga akan dapat menyenangkan dan memuaskan. Namun apabila kita mengonsumsi roti yang keempat, maka tingkat kepuasan yang kita rasakan mulai menurun karena sudah kenyang. Konsumsi potongan roti yang kelima akan membuat mual dan begitu seterusnya.
Jadi, dalam kegiatan konsumsi mula-mula nilai guna total meningkat. Namun bila sampai pada titik tertentu nilai guna total akan menurun dan begitu pula dengan nilai guna marginal.
Dari tabel di atas dapat diketahui nilai guna marginal menurun sejak awal pada tiap pertambahan unit mangga. Artinya, saat konsumsi suatu produk meningkat, nilai guna tambahan yang diperoleh dari tiap unit turun secara bertahap (prinsip diminishing marginal utility).
Dari tabel dan grafik tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa dalam kegiatan konsumsi yang dilakukan secara terus-menerus, mulai kepuasan konsumen (nilai guna total) sampai pada titik tertentu tingkat kepuasan tersebut akan makin menurun. Inilah yang disebut dengan Hukum Gossen I.
4) Nilai guna yang sama
Kita mengetahui bahwa kebutuhan manusia itu banyak dan beraneka ragam. Sekarang mari kita lihat apa yang terjadi dengan nilai guna barang apabila konsumen berusaha memenuhi kebutuhan dengan mengonsumsi lebih dari satu benda.
Dari table dan grafik tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa pada titik manapun, semua kebutuhan dapat terpenuhi dan tingkat kepuasan yang didapat juga sama. Inilah yang disebut dengan Hukum Gossen II.
Perilaku Produsen
Dalam melakukan produksi, produsen memiliki beberapa tujuan sebagai berikut :
menyediakan alat pemuas kebutuhan yang sesuai dengan kebutuhan konsumen serta mengikuti perkembangan teknologi dan kuantitas penduduk
memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri dan luar negeri
menyediakan benda pemuas kebutuhan sebagai pengganti yang telah rusak
memperoleh laba
meningkatkan kemakmuran masyarakat
Setelah memahami pengertian dan tujuan produksi, maka selanjutnya kita perlu mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan tersebut.
a. Bidang-bidang Produksi
1). Ekstraktif, produksi yang memungut langsung hasil yang disediakan alam tanpa melakukan pengolahan lebih lanjut
2). Agraris, produksi yang mengolah alam untuk memelihara tanaman dan hewan. Seperti: pertanian, perkebunan, peternakan, dan lain-lain
3) Industri
4) Perdagangan
5) Jasa
b. Faktor-Faktor Produksi
Kegiatan menambah/menciptakan nilai guna suatu barang membutuhkan beberapa elemen pendukung. Elemen-elemen tersebut dinamakan factor produksi.
Misalnya, untuk membuat sebuah baju, diperlukan kain sebagai bahan dasar, mesin produksi, modal uang, dan pengusaha garmen sebagai pengelola.
Faktor produksi dibedakan menjadi 2, yaitu factor produksi asli dan factor produksi turunan.
1) Faktor produksi asli
Faktor produksi asli terdiri atas alam dan tenaga kerja. Keduanya dikatakan sebagai faktor produksi asli karena dengan adanya alam dan tenaga kerja, proses produksi sudah dapat dilakukan.
a) Faktor produksi alam (natural resources)
Faktor produksi alam adalah segala sesuatu yang disediakan oleh alam dan dapat dipergunakan manusia untuk mencukupi kebutuhannya. Faktor produksi alam disebut juga sumber daya alam. Factor produksi alam terdiri dari tanah, air, bahan tambang, angina, udara, tumbuh-tumbuhan dan sinar matahari.
b) Faktor produksi tenaga kerja (labour)
Faktor produksi tenaga kerja diosebut juga sumber daya manusia (SDM). Faktor produksi manusia merupakan faktor produksi yang berperan untuk mengolah sumber daya alam yang tersedia. Berdasarkan kualitasnya, tenaga kerja dibedakan menjadi 3, yaitu tenaga kerja terdidik dan terlatih, tenaga kerja terlatih, serta tenaga kerja tidak terdidik dan terlatih.
(1) Tenaga kerja terdidik dan terlatih, adalah tenaga kerja yang memiliki keahlian dan pendidikan sesuai dengan bidangnya. Contoh tenaga kerja terdidik dan terlatih antara lain arsitek, pengacara, dokter, akuntan, ekonom, ilmuwan dan ahli pertanian.
(2) Tenaga kerja terlatih, yaitu tenaga yang memiliki keterampilan di bidangnya. Contoh tenaga kerja terlatih antara lain montir, sopir bus dan tukang kayu.
(3) Tenaga kerja tidak terdidik dan tidak terlatih, yaitu tenaga kerja yang tidak memiliki latar belakang pendidikan ataupun keterampilan khusus berkaitan dengan bidang pekerjaan yang dilakukan. Contoh tenaga kerja tidak terdidik dan tidak terlatih antara lain kuli pelabuhan, pramuwisma dan buruh.
Berdasarkan sifatnya ada dua jenis tenaga kerja yaitu:
(1) Jasmani, menekankan kemampuan fisik dalam proses produksi
(2) Rohani, menekankan kemampuan berfikir dalam proses produksi
Setelah memahami materi di atas, silahkan dirangkum di catatan masing - masing
a. RUMAH TANGGA PRODUKSI (PRODUSEN/ PERUSAHAAN)
Peran rumah tangga produksi adalah
1) Sebagai produsen
2) Sebagai pengguna factor produksi
3) Sebagai agen pembangunan
Sebagai agen pembangunan artinya runah tangga produksi berperan membantu pemerintah dalam kegiatan-kegiatan pembangunan, seperti membuaka lapangan kerja, membangun infrastruktur, menyejahterakan karyawan, dan lain-lain.
b. RUMAH TANGGA KONSUMSI ( KONSUMEN)
Peran rumah tangga konsumsi antara lain
1) Sebagai konsumen
2) Sebagai pemasok atau pemilik faktor produksi
Dengan memasok factor produksi rumah tangga konsumen akan memperoleh pendapatan berupa
a) sewa (rent) yaitu balas jasa karena telah menyewakan tanahnya
b) Upah (wage) merupakan balas jasa atas tenaga kerja yang dilorbankan untuk bekerja di perusahaan
c) Bunga ( interest) yaitu balas jasa yang diterima karena telah meminjamkan sejumlah dana
d) Laba ( profit) yaitu balas jasa yang diterima karena telah mengorbankan tenaga dan pikirannya untuk mengelola perusahaan.
c. RUMAH TANGGA NEGARA ( PEMERINTAH)
Peran pemerintah meliputi:
1) sebagai pengatur,
2) sebagai pengontrol
3) sebagai penguasa
4) sebagai produsen/ investor
5) sebagai konsumen
d. MASYARAKAT EKONOMI LUAR NEGERI
Memiliki peran sebagai berikut:
1) sebagai konsumen
2) sebagai produsen
3) sebagai investor
4) sebagai sumber tenaga ahli
Arus lingkaran kegiatan ekonomi (circular flow diagram) merupakan hubungan timba balik antara arus barang dan arus uang yang bertemu di pasar.
Circular flow diagram menunjukkan interaksi antar pelaku ekonomi. Interaksi tersebut dapat terjadi dalam perekonomian 2 sektor, 3 sektor, mapun 4 sektor (perekonomian terbuka).
Di bawah ini akan disajikan contoh gambar diagram interaksi dua sektor :
Di dalam perekonomian dua sector hanya melibatkan rumah tangga konsumen dan produsen. Peranan mekanisme harga dalam memcahkan permasalahan ekonomi dapat dilihat pada circular flow diagram berikut ini :
Diagram tersebut menggambarkan arus perputaran barang dan jasa dalam suatu perekonomian. Konsumen menawarkan faktor produksi yang dimiliki seperti tenaga kerja, tanah, dan modal kepada produsen. Imbalan yang diperoleh konsuen setelah menyerahkan faktor produksi yaitu upah untuk tenaga kerja, sewa untuk tanah, dan bunga untuk modal.
Setelah memperoleh faktor produksi dari konsumen, produsen selanjutnya melakukan proses produksi untuk menghasilkan barang atau jasa. Hasil prodksi tersebut kemudian ditawarkan kepada konsumen. Konsumen memperoleh barang atau jasa yang dibutuhkan dengan melakukan pengorbanan. Pengorbanan tersebut berupa penyerahan pendapatan yang dimiliki.
Jika pendapatan yang dibelanjakan lebih kecil daripada pendapatan yang diperoleh, konsumen dapat menyisihkan pendapatan yang dimiliki sebagai tabungan. Adapun bagi produsen, apabila laba yang diperoleh dari penjualan barang atau jasa lebih besar daripada yang dikeluarkan untuk pembelian faktor produksi, maka sisa laba tersebut dapat digunakan untuk berinvestasi.
Pertemuan Ke 4
Kerjakan Tugas berikut ini , KLIK DI SINI