KUGAPAI REZEKI-MU DENGAN IKHTIYARKU
KOMPETENSI DASAR
3.2 Memahami isi kandungan QS. Al-Quraisy (106) dan QS. Al-Insyirah (94) tentang ketentuan rezeki dari Allah.
4.2 Mensimulasikan isi kandungan QS. Al-Quraisy (106) dan QS. Al-Insyirah (94) tentang ketentuan rezeki dari Allah.
QS. Al-Quraisy
Surat Al-Quraisy merupakan surat ke-29 dari segi urutan turunnya. Surat ini turun sebelum surah At Tin dan sesudah surat Al Qari’ah. Didalam Al-Qur’an Surat Al Quraisy merupakan surah ke-106. Surat ini tergolong surah pendek karena hanya terdiri dari 4 ayat. Surat Al Quraisy termasuk surah makkiyah karena diturunkan di Makkah. Dalam Kitab Al-Quran, Surat Al Quraisy menempati juz 30 tepatnya setelah Surat Al Fil. Selain Surat Al-Quraisy Surah Al-Insyirah juga merupakan salah satu surah pendek di Juz 30 atau Juz 'Amma dalam Al-Quran. Surat ini menempati urutan surah ke-94. Didalam Surah Al-Insyirah Allah memberikan petunjuk kepada kita bahwa di setiap kesulitan itu akan diiringi dengan turunnya kemudahan-kemudahan. Al-Insyirah merupakan surah yang diturunkan di kota Makkah (makkiyah), ketika Nabi Muhammad SAW belum melakukan hijrah ke Madinah dan masih tinggal di Makkah.
Kata Quraisy sendiri merujuk pada kaum Quraisy yakni kaum (suku) yang mendapat kepercayaan menjaga Ka'bah. Pokok isinya surat ini menerangkan kehidupan orang Quraisy serta kewajiban yang seharusnya mereka penuhi. Di antara informasi yang menarik dari surat ini, terkait dengan rihlat al-syitai wa al-shayf; tradisi ekspedisi dagang pada musim dingin ke Yaman (rihlat al-syitai) dan pada muslim panas ke Syam (rihlat al-Shayf).
Surah ini dinamakan surah Al Quraisy yang berarti suku Quraisy, diambil dari ayat pertamanya. Quraisy adalah suku terkuat dan paling berpengaruh di Makkah. Dinamakan suku Quraisy diambil dari tokoh utamanya yakni Fihr, yang merupakan kakek Rasulullah yang kesebelas. Hampir semua penduduk asli Makkah adalah keturunan Quraisy.
Secara bahasa, kata Quraisy berasal dari kata At Taqarrusy yang artinya keterhimpunan. Anggota suku ini tadinya terpencar-pencar lalu menyatu dalam himpunan yang sangat kokoh sehingga disebut Quraisy.
Pendapat lain menyebutkan bahwa Quraisy berasal dari kata Qarasya yang artinya berusaha atau mencari. Suku ini dinamakan Quraisy karena terkenal sebagai pengusaha yang ulet dan selalu mencari orang-orang yang butuh untuk dibantu.
Ada pula yang berpendapat bahwa Quraisy berasal dari kata Qirsy yang artinya adalah ikan hiu. Ikan ini sangat kuat, melebihi ikan-ikan lain, bahkan bisa menjungkirbalikkan perahu. Dinamakan Quraisy untuk menggambarkan kuatnya suku ini laksana ikan hiu.
Asbabun Nuzul Surah Al Quraisy
Surah Al Quraisy diturunkan di Makkah terkait orang-orang Quraisy. Mereka diingatkan akan nikmat-nikmat Allah. Salah satunya adalah nikmat keamanan, yang pada surah Al Fil diterangkan kebinasaan pasukan bergajah yang hendak menyerbu Makkah untuk menghancurkan Ka’bah.
Dengan rasa aman itu, orang-orang Quraisy bisa menjalankan kebiasaan mereka berupa bepergian pada musim dingin dan musim panas. Surah ini juga mengingatkan nikmat Allah lainnya berupa kesejahteraan ekonomi dalam bentuk pangan.
Dengan banyaknya nikmat itu, semestinya orang-orang Quraisy menyembah Allah tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Semestinya mereka beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.
Isi Kandungan Surah Al Quraisy
Berikut ini isi kandungan surah Al Quraisy yang disarikan dari sejumlah tafsir. Yakni Tafsir Al Qur’anil ‘Adhim karya Ibnu Katsir, Tafsir Al Munir karya Syaikh Wahbah Az Zuhaili, Tafsir Fi Zilalil Quran karya Sayyid Qutb dan Tafsir Al Azhar karya Buya Hamka.
Surah Al Quraisy mengingatkan orang-orang Quraisy akan nikmat-nikmat Allah yang dianugerahkan kepada mereka.
Dengan banyaknya nikmat itu, orang-orang Quraisy semestinya hanya menyembah kepada Allah dan tidak menyekutukan dengan siapapun juga.
Dalam surah Al Quraisy digambarkan salah satu tradisi orang-orang Quraisy yakni bepergian dagang dua kali dalam setahun yakni di musim dingin dan musim panas.
Di antara nikmat Allah kepada Quraisy adalah kesejahteraan ekonomi berupa pangan dan stabilitas keamanan. Dua nikmat ini merupakan dua hal sangat penting bagi kebahagiaan masyarakat.
Nikmat-nikmat itu dianugerahkan Allah kepada orang-orang Quraisy karena di Makkah ada Ka’bah yang merupakan “ rumah” Allah yang dimuliakan dan kini menjadi kiblat umat Islam.
Keutamaan Surah Al Quraisy
Surah Al Quraisy memiliki keutamaan yang luar biasa. Menurut riwayat Imam Al Baihaqi tentang masalah khilafiyah dari Ummu Hani’ Binti Abu Thalib bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda :
“ Allah mengutamakan suku Quraisy dengan tujuh karakter, diantaranya yaitu bahwa Allah menurunkan surah dalam Al Quran untuk mereka.” Kemudian Rasulullah membaca surah ini.”
Kagumlah kalian pada kebiasaan suku Quraisy, yakni suku dari bangsa Arab yang paling agung yang berasal dari keturunan An Nadhar bin Kinanah dan merupakan sukunya Nabi.
Kata ‘liilaf’ merupakan Masdar dari kata Alifa yakni persembahan keramah-tamahan. Imam Hakim dan lainnya mengatakan bahwa hadis dari Ummu Hani’ sebelumnya adalah untuk menjelaskan sebab turunnya surah Al Quraisy.
Manfaat Membaca Surah Al Quraisy
Berikut adalah beberapa manfaat bila membaca surah Al Quraisy :
Barangsiapa membaca surah Al Quraisy maka akan dihilangkan beban pikirannya, kesedihannya, was-was, dan dilindungi dari segala kejahatan. Apabila dibaca pada suatu makanan, maka akan dihilangkan oleh Allah bahaya dari makanan tersebut.
Barangsiapa yang membaca pada makanan yang dikhawatirkan akan menimbulkan mudarat terhadap badannya seperti racun, maka hal itu akan hilang dengans endirinya.
Apabila air diminumkan kepada orang yang kebingungan, insyaAllah dia akan sadar dan hilang bingungnya.
Jika ditulis pada piring, menulisnya harus dalam keadaan suci lalu dilunturkan dengan air biasa, kemudian air itu diminumkan orang yang terkena racun, insyaAllah sembuh.
Apabila surah ini ditulis dan dileburkan dengan air lalu diminumkan kepada orang yang bingung dan pelupa, maka dia akan sembuh dari keluhannya dengan izin Allah.
Dalam rangka menjaga supaya badan tetap sehat, segar dan tidak lembik, maka hendaklah selalu mengamalkan membaca surah Al Quraisy.
Untuk merawat sakit buah pinggang, bacalah surah Al Quraisy kemudian tiupkan kepada makanan sebelum memakannya, insyaAllah sakit buah pinggang akan berangsur sembuh.
Ketentuan Rezeki didalam Surah Al Quraisy
Dalam surat Al Quraisy dijelaskan bahwa rezeki dari Allah dapat diperoleh dengan usaha yang dilakukan manusia seperti berdagang, sebagaimana yang terdapat pada ayat ke-2 tentang kebiasaan suku quraisy yang berdagang ke negeri yaman pada musim dingin dan ke negeri syam pada musim panas. Sedangkan dalam surat Al Insyirah dijelaskan bahwa manusia harus bisa memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk mencari rezeki.
QS. Al-Insyirah
Surat Al Insyirah adalah surat ke-94 di Alquran. Secara Bahasa Indonesia Surat Al Insyirah memiliki arti ‘Kelapangan’. Surat ini berisi tentang penegasan Allah SWT tentang nikmat yang diberikan kepada umat-Nya serta pengingat bahwa di balik kesulitan pasti akan ada kemudahan. Al Insyirah termasuk ke dalam golongan surat Makkiyah karena diturunkan di kota Mekkah. Surat ini diturunkan setelah Surat Adh-Dhuhaa dan terdiri atas 8 ayat.
Kandungan dalam Surat Al Insyirah
QS. Al Insyirah memiliki beberapa pokok isi kandungan. Mulai dari kenikmatan Allah yang dikaruniakan kepada Rasulullah, janji akan kemudahan, menghilangkan bencana, dan kabar gembira atas kemenangan yang sudah dekat.
Selain itu, surat tersebut juga berisi perintah agar Rasulullah beribadah sebagai bentuk syukur atas nikmat dan bertawakal hanya mengharap rida dari-Nya.
Asbabun nuzul Surat Al Insyirah.
Menurut riwayat Ibnu Jarir, asbabun nuzul surat ini berkaitan dengan perjalanan dakwah Nabi Muhammad di Mekah. Di mana kafir Quraisy selalu menghadang dakwah-dakwah nabi.
Mereka mengejek bahwa pengikut nabi adalah orang-orang yang strata sosialnya rendah. Pada waktu Rasulullah SAW berada di Mekah, beliau acap kali menghadapi berbagai macam rintangan dan halangan dari kafir Quraisy.
Surat Al Insyirah diwahyukan kepada Rasullulah sebagai bentuk motivasi Allah agar beliau senantiasa menguatkan niatnya dalam berdakwah di tengah teror yang terus berkelindan setiap saat. Kemudian sering berjalannya waktu, nabi meraih kemenangan dan kemudahaan dalam menjalankan misi dakwahnya.
Dalam Surat Al Insyirah menegaskan tentang pertolongan-pertolongan Allah kepada Nabi Muhammad. Pada surat ini juga ditegaskan kalau beliau telah diberikan jiwa yang bersih dan sikap legowo (lapang dada) yang besar. Sehingga Rasulullah mampu mengontrol ego dan emosinya saat menghadapi arogansi dan kebodohan kafir Quraisy yang menolak kebenaran ajaran Islam. Beliau percaya bahwa pertolongan Allah SWT senantiasa menyertainya.
Rasulullah pernah berpesan kepada para sahabat, agar mereka tidak mudah putus asa dan menyerah menghadapi segala tantangan dan rintangan dari orang kafir. Sebab, dibalik kesusahan yang dihadapi sekarang, pasti ada kemudahan yang menantinya. Maka, beliau menyuruh para sahabat untuk bergembira dalam menyongsong dua kemudahan yang akan datang. Hal itu sebagaimana tersirat dalam kandungan Surat al-Insyirah: Di balik satu kesulitan, Allah SWT telah menyiapkan dua solusi atau kemudahaan.
إن مع العسر يسرا فإن مع العسر يسرا
“Sesungguhnya setelah kesulitan, pasti ada kemudahan. Dan Sesungguhnya setelah kesulitan, pasti ada kemudahan”. (Surat Al Insyirah: 5-6)
Dalam kaidah tafsir dijelaskan, ketika isim nakiroh diulang dua kali, maka kandungan isim nakiroh yang kedua berbeda dengan yang pertama. Lain halnya dengan isim ma'rifat, ketika disebut dua kali, maka maksud dari isim ma'rifat yang kedua itu sama dengan isim ma'rifat yang pertama.
Apakah Rezeki itu ?
Secara umum, rezeki adalah segala sesuatu dari Allah Swt yang bermanfaat dan yang dihalalkan, bisa berupa uang, makanan, pakaian, hingga pasangan yang saling menentramkan. Rezeki berarti segala sesuatu yang bermanfaat, berdaya guna bagi setiap makhluk, serta dapat dimanfaatkan oleh manusia sebagai sumber kehidupan. Rezeki juga berarti anugerah, karunia atau pemberian dari Allah SWT untuk makhluknya. Dengan ungkapan lain rezeki merupakan segala sesuatu yang dapat menunjang kelangsungan hidup manusia dan mengantarkan kepada kehidupan yang lebih baik lagi. Allah SWT berfirman :
“Allah-lah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezeki lalu mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali). Adakah diantara yang kamu sekutukan dengan Allah itu dapat berbuat demikian? Maha Suci Dia dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutuan.” (QS. Ar-Rum : 40)
Pengertian Rezeki Menurut Islam
Banyak orang beranggapan bahwa rezeki semata-mata hanya berupa harta dan benda. Hal tersebut tentunya berbeda dengan sudut pandang menurut islam. Rezeki menurut islam bukan hanya berupa harta dan benda, apalagi yang semata-mata karena hasil (kerja) manusia. Rezeki dalam islam melingkupi semua apa yang ada di dalam kehidupan manusia. Berupa waktu, kesehatan, kesempitan, kecerdasan dan tetangga serta masih banyak yang lainnya. Itulah mengapa Allah SWT mengingatkan kepada manusia untuk mengetahui bahwa rezeki yang Allah SWT berikan sungguh tidak bisa terhitung. Sebab Allah SWT telah menyediakan untuk umat manusia apa saja yang dibutuhkan umat manusia dari segala situasi dan kondisi. Allah SWT berfirman :
“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluan) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkarinya (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim : 34)
Allah SWT memang memberikan rezeki kepada semua makhluk-Nya, tetapi tidak semua akan mendapatkan rezeki yang mulia dari Allah SWT. Lantas, siapa sajakah mereka itu ?
“Maka orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia.” (QS. 22 : 50)
Manusia yang hidup di dunia ini, tentunya sudah dijamin oleh Allah SWT mengenai rezekinya. Tetapi bukan berarti manusia tanpa berbuat apa-apa rezeki kemudian akan datang dengan sendirinya, tetapi manusia tersebut harus menggunakan akal dan pikiran untuk menjemput rezeki itu sendiri tentunya dengan memulai usaha atau bekerja.
di ajaran Islam itu sendiri tidak menganjurkan umatnya untuk memerankan dirinya sebagai penganggur, meski dengan alasan untuk memfokuskan dirinya dalam beribadah kepada Allah SWT, atau bahkan menggantungkan belas kasihan dari orang lain dengan cara meminta-minta. Jadi sudah dapat disimpulkan bahwa mencari rezeki adalah suatu keharusan. Allah SWT berfirman :
“Apabila telah ditunaikan sholat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah : 10)
Mengenai ayat ini dalam tafsiran Ar-Razi dinyatakan bahwa makna “Maka bertebaranlah kamu di muka bumi.” Mengacu dua hal yaitu pertama, perintah untuk menyelesaikan tugas-tugas hidup setelah selesai sholat jumat dan kedua larangan untuk berdiam diri, istirahat, tidur di dalam masjid setelah selesai sholat jumat.
Dalam firman Allah SWT ini tentunya memberi inspirasi bagi kita semua untuk selalu senantiasa “produktif, energik dan efisien.” Dalam menggunakan waktu dan dilarang keras untuk bermalas-malasan. Allah SWT berfirman :
“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya.” (QS. Al-Mulk ; 15)
Tentang ayat ini, Ibnu Katsir mengatakan “Menyebarlah kemana pun kalian inginkan di penjuru-penjuru-Nya, dan berkelilinglah di sudut-sudut, tepian dan wilayah-wilayah-Nya untuk menjalankan usaha dan perniagaan.”
Jadi salah satu pintu rezeki Allah SWT yang bisa dimasuki manusia adalah lewat bidang perdagangan, kebiasaan mencari nafkah dengan berdagang ternyata sudah dilakukan oleh orang-orang suku Quraisy dari sejak zaman Rasulullah SAW. Perjalanan dagang mereka ke luar wilayah Mekah yaitu pada musim dingin, mereka melakukan perjalanan ke Yaman untuk berbelanja parfum dan rempah-rempah. Selama musim panas mereka pergi ke Syam untuk berbelanja hasil pertanian.
UNTUK LEBIH JELASNYA KALIAN BISA MENYIMAK VIDEO DIBAWAH INI