TERHAPUS KESALAHANKU, KARENA DIA MAHA PENGAMPUN
(Optimis dan Sabar dalam Menggapai Ampunan Allah SWT)
IPK ( Indikator Pencapaian Kompetensi )
1.5.1 Membenarkan bahwa optimis dan sabar adalah perintah Allah SWT.
1.5.2 Menyakini bahwa optimis dan sabar adalah perintah Allah SWT.
2.5.1 Menunjukkan sikap pantang menyerah dalam meraih keberhasilan sebagai salah satu bentuk sikap anti korupsi
2.5.2 Terbiasa bersikap pantang menyerah dalam meraih keberhasilan sebagai salah satu bentuk sikap anti korupsi
3.5.1 Menyebutkan arti dari QS. Al-Balad ayat 1-10, QS. Az-Zumar ayat 53 dan QS. Al- Baqarah ayat 153
3.5.2 Menjelaskan isi QS. Al-Balad ayat 1-10, QS. Az-Zumar ayat 53 dan QS.Al-Baqarah ayat 153
3.5.3 Menentukan isi QS.Al-Balad ayat 1-10, QS. Az-Zumar ayat 53 dan QS. Al-Baqarah ayat 153
3.5.4 Membandingan isi kandungan QS. Al-Balad ayat 1-10, QS. Az-Zumar ayat 53 dan QS.Al- Baqarah ayat 153
3.5.5 Menilai sikap sesuai isi kandungan QS. Al-Balad ayat 1-10, QS.Az-Zumar ayat 53 dan QS. Al- Baqarah ayat 153
3.5.6 Merencanaan sikap sesuai kandungan QS. al-Balad ayat 1-10, QS.Az-Zumar ayat 53 dan QS. Al- Baqarah ayat 153
4.5.1 Mendemonstrasikan hafalan QS.Al-Balad ayat 1-10, QS.Az-Zumar ayat 53 dan QS.Al- Baqarah ayat 153
4.5.2 Menyimpulkan keterkaitan isi kandungan QS. Al-Balad ayat 1-10, QS. Az-Zumar ayat 53 dan QS. Al-Baqarah ayat 153
dengan fenomena sosial dan menyajikannya dalam bentul lisan atau tulisan
QS. Al-Balad ayat 1-10
Menurut beberapa riwayat, Surah Al-Balad turun di Mekah dan berkaitan dengan kemuliaan kota tersebut serta tantangan yang dihadapi oleh Nabi Muhammad ﷺ.
Sumpah Allah pada ayat pertama ("Aku bersumpah dengan kota ini") menunjukkan bahwa kota Mekah memiliki kehormatan yang tinggi di sisi Allah. Sebagian ulama tafsir, seperti Al-Zamakhsyari dan Abu Hayyan, mengaitkan ayat ini dengan peristiwa ketika orang-orang Quraisy menganggap Nabi Muhammad telah menghalalkan kehormatan kota Mekah setelah penaklukan, di mana Nabi ﷺ memerintahkan untuk menghancurkan berhala-berhala. Surah ini turun untuk menegaskan bahwa Allah telah menghalalkan bagi Rasul-Nya hal-hal yang sebelumnya dilarang di kota Mekah.
Selain itu, ayat 5 dan 6 yang berbunyi "Apakah manusia itu mengira bahwa sekali-kali tiada seorangpun yang berkuasa atasnya?" dan "Dan mengatakan: "Aku telah menghabiskan harta yang banyak"" diriwayatkan berhubungan dengan seorang tokoh Quraisy yang sombong, yaitu Abu al-Asyad bin Kaladah. Ia membanggakan kekuatannya dan mengaku telah menghabiskan banyak harta untuk melawan Nabi Muhammad ﷺ. Ayat ini turun sebagai teguran atas kesombongannya dan untuk mengingatkan bahwa tidak ada kekuatan yang dapat mengungguli kekuasaan Allah.
Berikut adalah lafaz (teks Arab), transliterasi, dan terjemahan dari QS. Al-Balad ayat 1-10.
Ayat 1 لَا أُقْسِمُ بِهَٰذَا الْبَلَدِ Lā uqsimu bihāżal-balad. Aku bersumpah dengan negeri ini (Mekah).
Ayat 2 وَأَنْتَ حِلٌّ بِهَٰذَا الْبَلَدِ Wa anta ḥillum bihāżal-balad. dan engkau (Muhammad) bertempat di negeri (Mekah) ini.
Ayat 3 وَوَالِدٍ وَمَا وَلَدَ Wa wālidiw wa mā walad. dan demi (pertalian) bapak dan anaknya.
Ayat 4 لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي كَبَدٍ Laqad khalaqnal-insāna fī kabad. Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.
Ayat 5 أَيَحْسَبُ أَنْ لَنْ يَقْدِرَ عَلَيْهِ أَحَدٌ A yaḥsabu allay yaqdira ‘alaihi aḥad. Apakah dia (manusia) itu mengira bahwa tidak ada sesuatu pun yang berkuasa atasnya?
Ayat 6 يَقُولُ أَهْلَكْتُ مَالًا لُبَدًا Yaqūlu ahlaktu mālal lubadā. Dia mengatakan, “Aku telah menghabiskan harta yang banyak.”
Ayat 7 أَيَحْسَبُ أَنْ لَمْ يَرَهُ أَحَدٌ A yaḥsabu allam yarahu aḥad. Apakah dia mengira bahwa tidak ada sesuatu pun yang melihatnya?
Ayat 8 أَلَمْ نَجْعَلْ لَهُ عَيْنَيْنِ Alam naj‘al lahū ‘ainain. Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata,
Ayat 9 وَلِسَانًا وَشَفَتَيْنِ Wa lisānaw wa syafataīn. lidah, dan dua buah bibir?
Ayat 10 وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ Wa hadaināhun-najdain. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebaikan dan kejahatan).
QS. Az-Zumar ayat 53
Lafadz Ayat
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Terjemahan :
Katakanlah (wahai Muhammad): "Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri (dengan perbuatan maksiat), janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
Ayat ini turun berkenaan dengan keadaan orang-orang musyrik Mekah yang telah banyak melakukan dosa, termasuk pembunuhan dan perzinahan. Mereka datang kepada Rasulullah ﷺ dan bertanya apakah dosa-dosa mereka dapat diampuni jika mereka masuk Islam.
Mereka berkata, "Apakah dosa-dosa kami ini bisa diampuni? Kami sudah melakukan pembunuhan dan perzinahan. Apa yang harus kami lakukan?"
Sebagai jawaban atas pertanyaan mereka dan untuk memberikan harapan kepada mereka yang ingin bertaubat, Allah menurunkan ayat ini. Ayat ini menegaskan bahwa tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni oleh Allah, selama seseorang bertaubat dengan sungguh-sungguh dan tidak kembali kepada dosa-dosanya. Ini adalah ajakan universal dari Allah kepada semua hamba-Nya untuk kembali kepada-Nya, tanpa memandang seberapa besar kesalahan yang telah mereka perbuat.
QS. Al- Baqarah ayat 153
Berikut adalah lafadz (teks Arab) dari Surah Al-Baqarah ayat 153, beserta transliterasi dan terjemahan dalam bahasa Melayu.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
Terjemahan: Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan solat, sesungguhnya Allah bersama-sama orang-orang yang sabar.
Ayat ini tidak memiliki Asbabun Nuzul yang spesifik seperti ayat-ayat lain yang turun sebagai respons langsung terhadap suatu peristiwa tertentu. Namun, para mufassir (ahli tafsir) menjelaskan bahwa ayat ini turun sebagai kelanjutan dari perintah untuk bersyukur atas nikmat Allah dan sebagai penguat bagi kaum Muslimin dalam menghadapi berbagai ujian dan musibah.
Secara umum, ayat ini berfungsi sebagai penegasan dan motivasi bagi umat Islam. Ia mengajarkan bahwa dalam menghadapi kesulitan hidup—baik itu kekurangan, kesakitan, atau penderitaan—cara terbaik untuk mendapatkan pertolongan dan ketenangan adalah dengan bersabar dan mendirikan solat.
Ayat ini merupakan inti ajaran Islam tentang bagaimana seorang mukmin harus bersikap dalam cobaan: kembali kepada Allah melalui solat, sambil terus memupuk kesabaran.