MERENUNGKAN KEKUASAAN ALLAH SWT DAN MENGGAPAI RAHMATNYA
IPK ( Indikator Pencapaian Kompetensi )
1.2.1 Membenakan terhadap kekuasaan dan rahmat Allah SWT. Sesuai QS. asy-Syams : 1-10 dan QS. Ali Imran (3): 190, dan hadis riwayat Bukhari dari Abu Hurairah
1.2.2 Meyakini kekuasaan dan rahmat Allah SWT. Sesuai QS. asy-Syams : 1-10 dan QS. Ali Imran (3): 190, dan hadis riwayat Bukhari dari Abu Hurairah
2.2.1 Menerima sikap disiplin dalam menjalankan kewajiban
2.2.2 Membiasakan sikap disiplin dalam menjalankan kewajiban
3.2.1 Menyebutkan arti dari QS. asy-Syams (91): 1-10, QS. Ali Imran (3): 190, dan hadis riwayat Bukhari dari Abu Hurairah
3.2.2 Menjelaskan isi kandungan QS. asy-Syams (91): 1-10, QS. Ali Imran (3): 190, dan hadis riwayat Bukhari dari Abu Hurairah
3.2.3 Menentukan isi kandungan QS. asy-Syams (91): 1-10, QS. Ali Imran (3): 190, dan hadis riwayat Bukhari dari Abu Hurairah
3.2.4 Membandingan isi kandungan QS. asy-Syams (91): 1-10, QS. Ali Imran (3): 190, dan hadis riwayat Bukhari dari Abu Hurairah
3.2.5 Menilai sikap yang sesuai dengena isi kandungan QS. asy-Syams (91): 1-10, QS. Ali Imran (3): 190, dan hadis riwayat Bukhari dari Abu Hurairah 3.2.6 Merencanakan sikap yang sesuai dengan isi kandungan QS. asy-Syams (91): 1-10, QS. Ali Imran (3): 190, dan hadis riwayat Bukhari dari Abu 4.2.1 Menghafal QS. asy-Syams (91): 1-10, QS. Ali Imran (3): 190, dan hadis riwayat Bukhari dari Abu Hurairah
4.2.2 Mengolah fenomena sosial dan alam sebagai bukti kekuasaan Allah sebagaimana dalam QS. asy-Syams (91): 1-10, QS. Ali Imran (3): 190 dan hadis riwayat Bukhari dari Abu Hurairah tentang kekuasan dan rahmat Allah Swt.
عن أبي هريرة، رضي اللَّهُ عنه، قَالَ: قَالَ رسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: "لَمَّا خَلَقَ اللَّهُ الخَلْقَ، كَتَبَ في كِتَابٍ، فَهُوَ عِنْدَهُ فَوْقَ العَرْشِ:
إِنَّ رَحْمتي تَغْلِبُ غَضَبِي"
QS. Asy-Syams Ayat 1-10
وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا وَالْقَمَرِ إِذَا تَلَاهَا وَالنَّهَارِ إِذَا جَلَّاهَا وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَاهَا وَالسَّمَاءِ وَمَا بَنَاهَا وَالْأَرْضِ وَمَا طَحَاهَا وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
Demi matahari dan cahayanya dipagi hari, dan bulan apabila mengiringinya, dan siang apabila menampakkannya, dan malam apabila menutupinya, dan langit serta pembinaannya, dan bumi serta penghamparannya, dan jiwa serta penyempurnaannya (penciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.
Isi Kandungan QS. Asy-Syams Ayat 1-10
1. Tujuh Fenomena Alam yang menakjubkan
Pada awal surah asy-Syams ini (ayat 1-7), Allah Swt. menunjukkan sebagian dari betapa luar biasa ciptaan-Nya: matahari, bulan, siang, malam, langit, bumi, dan jiwa manusia. Semuanya berjalan teratur dalam hukum yang telah ditentukan-Nya (sunnatullah), yaitu:
Demi matahari dan cahayanya di pagi hari yakni sinarnya atau cahayanya yang memberi manfaat bagi tumbuhan-tumbuhan maupun makhluk hidup lainnya.
Dan bulan apabila mengiringinya “Yakni mengikutinya.” yaitu, ketika matahari tenggelam, bulan muncul.
Dan siang apabila menampakkannya yakni siang apabila terang benderang.” siang ketika nampak jelas dengan cahayanya dan sinarnya dan menyingkap kegelapan.
Dan malam apabila menutupinya Yakni jika malam menutupi matahari, yaitu saat matahari terbenam sehingga seluruh ufuk menjadi gelap.
Dan langit serta pembinaannya “yaitu langit dan pembangunannya, ketinggiannya yang demikian hebat yang amat sempuna indah.
Dan bumi serta penghamparannya, yakni Allah Swt. membentangkan dan memperluasnya sehingga memungkinkan seluruh makhluk untuk memanfaatkan bumi dengan berbagai seginya.
Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), yakni penciptaan yang sempurna lagi tegak pada fitrah yang lurus.
Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya Yakni Allah mengenalkan dan memahamkannya tentang ketakwaan dan kebaikannya, dan kefasikan dan keburukan.
2. Sumpah Allah Swt.
Setelah Allah Swt bersumpah dengan hal-hal (ciptaan-Nya) di atas, pada ayat 9 dan 10 surah asy-Syams ini menjelaskan apa yang hendak ditekankan Allah Swt dengan sumpah-sumpah di atas, yaitu:
a. Sungguh beruntung dan akan meraih segala apa yang diharapkannya siapa yang menyucikan jiwa dan mengembangkan dirinya. Firman Allah:
Makna asal kata “ زَكَّى “ adalah bertambahnya kebaikan, Maksudnya bahwa siapa saja yang berusaha untuk menyucikan, memperbaiki, dan mengisi jiwa dengan memperbanyak amalan ketaatan dan kebaikan, serta menjauhi segala keburukan, maka pastilah dia akan beruntung. Berarti beruntunglah orang yang mensucikan dirinya ( dengan iman dan taqwa kepada Allah) dan membersihkannya dari akhlak tercela dan berbagai hal yang hina.
b. Sungguh merugilah siapa yang memendamnya, yakni menyembunyikan kesucian jiwanya.
وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّـهَا
” dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”
Maksud mengotorinya, pada posisi manusia menghinakan dan menjauhkan diri dari petunjuk Allah sehingga dia berbuat maksiat dan meninggalkan ketaatan kepada Allah SWT.
Makna asal kata adalah menutupi. Orang yang bermaksiat, artinya dia telah menutupi jiwanya yang mulia dengan melakukan berbagai macam dosa, menguburnya dengan berbagai hal yang rendah dan hina, menghancurkan dan merusaknya dengan perbuatan yang tercela, sehingga jiwanya pun menjadi jiwa yang rendah dan hina. Sehingga dengan hal itu, jiwa tersebut berhak mendapatkan kesengsaraan dan kerugian (di akhirat).
QS. Ali Imron Ayat 190
اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal,
Isi Kandungan QS. Ali Imron Ayat 190
Tafsir Wajiz
Setelah menjelaskan keburukan-keburukan orang Yahudi dan menegaskan bahwa langit dan bumi milik Allah, pada ayat ini Allah menganjurkan untuk mengenal keagungan, kemuliaan, dan kebesaranNya. Sesungguhnya dalam penciptaan benda-benda angkasa, matahari, bulan, beserta planet-planet lainnya dan gugusan bintang-bintang yang terdapat di langit dan perputaran bumi pada porosnya yang terhampar luas untuk manusia, dan pergantian malam dan siang, pada semua fenomena alam tersebut terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang yang berakal yakni orang yang memiliki akal murni yang tidak diselubungi oleh kabut ide yang dapat melahirkan kerancuan. ;
Tafsir Tahlili
Diriwayatkan dari Aisyah r.a. bahwa Rasulullah saw berkata: "Wahai Aisyah, saya pada malam ini beribadah kepada Allah." Jawab Aisyah r.a. "Sesungguhnya saya senang jika Rasulullah berada di sampingku. Saya senang melayani kemauan dan kehendaknya." Tetapi baiklah! Saya tidak keberatan. Maka bangunlah Rasulullah saw dari tempat tidurnya lalu mengambil air wudu, tidak jauh dari tempatnya lalu salat. Pada waktu salat beliau menangis sampai air matanya membasahi kainnya, karena merenungkan ayat Al-Qur'an yang dibacanya. Setelah salat beliau duduk memuji Allah dan kembali menangis tersedu-sedu. Kemudian beliau mengangkat kedua belah tangannya berdoa dan menangis lagi dan air matanya membasahi tanah. Setelah Bilal datang untuk azan subuh dan melihat Nabi saw menangis ia bertanya, "Wahai Rasulullah! Mengapakah Rasulullah menangis, padahal Allah telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang terdahulu maupun yang akan datang?" Nabi menjawab, "Apakah saya ini bukan seorang hamba yang pantas dan layak bersyukur kepada Allah? Dan bagaimana saya tidak menangis? Pada malam ini Allah telah menurunkan ayat kepadaku. Selanjutnya beliau berkata, "Alangkah rugi dan celakanya orang-orang yang membaca ini dan tidak memikirkan dan merenungkan kandungan artinya." Memikirkan pergantian siang dan malam, mengikuti terbit dan terbenamnya matahari, siang lebih lama dari malam dan sabaliknya. Semuanya itu menunjukkan atas kebesaran dan kekuasaan penciptanya bagi orang-orang yang berakal. Memikirkan terciptanya langit dan bumi, pergantian siang dan malam secara teratur dengan menghasilkan waktu-waktu tertentu bagi kehidupan manusia merupakan satu tantangan tersendiri bagi kaum intelektual beriman. Mereka diharapkan dapat menjelaskan secara akademik fenomena alam itu, sehingga dapat diperoleh kesimpulan bahwa Tuhan tidaklah menciptakan semua fenomena itu dengan sia-sia.