Gender Fest: A Fight Human Right “Mewujudkan Lingkungan yang Inklusif dan Nondiskriminatif"
Pada Minggu, 4 Desember 2022 yang lalu, dilaksanakan Seminar, Bazar, dan Tes Kesehatan Seksual dalam rangka diadakannya Gender Fest: A Fight Human Rights “Mewujudkan Lingkungan yang Inklusif dan Nondiskriminatif” secara luring di Gedung Ahmad Sanusi UPI, Bandung, Jawa Barat. Dan juga dilaksanakan juga secara daring melalui Zoom. Acara ini diadakan dengan tujuan untuk menciptakan lingkungan kampus yang inklusif, responsif gender, dan mengedepankan nilai kemanusiaan.
Berdasarkan keterangan dari Ketua Pelaksana Gender Fest, Wildan Safiramadhan, mahasiswa Ilmu Komputer angkatan 2020, rangkaian kegiatan ini berawal dari BEM REMA UPI yang memiliki kementerian baru yaitu Kementerian Emansipasi dan HAM. Pada awalnya, kementerian ini tidak memiliki tonggak, seperti harus fokus ke isu gender atau HAM yang belum terdapat di UPI. Pada akhirnya, mereka mencari mitra-mitra sendiri dan menghubungi PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia) yang mau diajak bekerjasama dengan isu yang menjadi fokus Kementerian Emansipasi dan HAM. PKBI sendiri memiliki acara untuk kalangan mahasiswa yaitu "Inklusi PKBI Goes To Campus". Akan tetapi PKBI belum tahu acaranya akan dilaksanakan dimana. Oleh karena, PKBI dan BEM REMA UPI memiliki tujuan yang sama, maka terjalinlah kerjasama, sehingga lahirlah rangkaian kegiatan yang diberi tajuk Gender Fest.
Seminar dimulai pukul 09.30 dengan peserta seminar yang hadir terdiri dari 300 orang. Acara diawali oleh Firman Nurdiansyah, S.H., selaku sekretaris Satgas PPKS UPI (Satuan Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual Universitas Pendidikan Indonesia) yang membahas mengenai Satgas PPKS UPI. Pemateri kedua diisi oleh Tety Herawaty seorang penyintas HIV dan koordinator IPPI (Ikatan Perempuan Positif Indonesia) Jawa Barat yang membahas mengenai pengalamannya dalam berjuang hidup dengan HIV, stigma-stigma yang didapatkannya, dan cara ia menghadapi stigma-stigma tersebut. Kemudian pematerian berikutnya diisi oleh Dr. Putri Widi Saraswati M.Sc seorang dokter PKBI dan AMPC International Health Consultant yang mengupas mengapa stigma bisa timbul di masyarakat dan betapa pentingnya untuk menghentikan stigma yang negatif tersebut. Selanjutnya, seminar diakhiri dengan sesi tanya jawab yang diikuti aktif oleh seluruh peserta yang hadir di Gedung Ahmad Sanusi maupun di Zoom.
Menurut Rizky Syah, mahasiswa Pendidikan Bahasa Sunda angkatan 2022 dan Zaki Muaradan, mahasiswa Pendidikan Pariwisata angkatan 2022, manfaat dari kegiatan Gender Fest yang didapatkan oleh mereka adalah menjadi tahu bahwa sangat penting untuk menghilangkan stigma-stigma yang ada mengenai pengidap HIV. Menurut Rizky dan Zaki, dengan tidak dicegahnya stigma terhadap pengidap HIV akan membuat mereka mendapatkan permasalahan-permasalahan mental.
-JIP UPI-