Kamis, 10 November 2025 | 16.06 WIB
Hari Kesehatan Mental Dunia atau World Mental Health Day selalu menjadi hari yang hangat untuk diperingati pada setiap tanggal 10 Oktober. Sama halnya dengan yang dilakukan oleh mahasiswa program studi Psikologi UPI di Noid Coffee, Bandung. BEM KEMA Psikologi UPI menyelenggarakan kegiatan Aksi Sehat Mental pada Sabtu, 25 Oktober 2025 dalam nuansa ikut memperingati World Mental Health Day tersebut.
Booth 2 “Songs That Heal Us”
Dokumentasi Penulis
Aksi Sehat Mental tahun ini mengangkat tema "Rythms of Emotion: A Sound Journey to Self-Regulation". Tema tersebut membawa tujuan agar ASM dapat menjadi wadah untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan mental. Selain itu, ASM juga ingin para pengunjung memahami emosi apa yang dirasakan setiap mereka mengalami situasi tertentu.
ASM juga menciptakan mini art exhibition dengan 9 booths yang bisa dikunjungi oleh seluruh kalangan usia. Pameran-pamerannya menekankan bagaimana suara—termasuk musik—bisa menjadi teman untuk menginterpretasikan dan memahami emosi serta kondisi hati manusia. Hal ini juga berkaitan dengan bagaimana setiap lagu bermakna suasana yang berbeda-beda.
Di booth 2 “Songs that Heal Us”, pengunjung diminta untuk menulis lirik dari lagu yang dapat dijadikan sebagai motivasi. Pengunjung juga dapat menuturkan lagu yang menggambarkan pengalaman pribadi yang pernah mereka alami. Dari booth ini, pengunjung dapat menyadari bahwa lagu-lagu yang mereka sering dengarkan selama ini merefleksikan masalah yang pernah terjadi di hidupnya.
Berbeda halnya di booth 6 “Soulphone Station”, pengunjung diberikan pengalaman berupa mendengarkan suara orang yang berbicara dari “telepon”. Seseorang di seberang telepon itu menyampaikan cerita dan pesan untuk pengunjung. Kemudian, pengunjung dapat menceritakan kembali bagaimana perasaannya dan menulis kesannya di catatan tempel setelah mendengar suara tersebut.
Booth 6 “Soulphone Station”
Dokumentasi Penulis
“Dengan aku adain mini exhibition ini, mereka bisa refreshing sekalian bisa ngenal diri sendiri lebih jauh,” ujar ketua pelaksana ASM 2025.
Bagi pengunjung, kegiatan ini menjadi pengalaman yang baru. Stan yang berisi eksperimen-eksperimen dengan musik menjadi media untuk mengutarakan isi hati mereka. Lagu-lagu yang didengarkan dapat menafsirkan keadaan afektif yang sedang mereka rasakan.
“Ternyata bikin mixed feelings juga sih. New experience juga buat aku pribadi gitu kan. Jadi bisa ngutarain rasa, entah itu bisa dari segi curhatan ataupun apa yang dirasain gitu.” Ungkap salah satu pengunjung ASM yang ditemui oleh penulis pada Sabtu, 25 November 2025.
Pengalaman di setiap booth menjadi “jalur” bagi pengunjung untuk mengutarakan perasaan mereka. Emosi sedih dapat diekspresikan dengan mudah. Suasana hati juga mampu ditata dengan baik.
Dengan adanya mini art exhibition ini, diharap setiap pengunjung memiliki pengalaman dan pemahaman berarti tentang sejauh mana suara dapat menjadi wadah paling besar dan nyaman untuk menggambarkan emosi mereka. Seiring berkembangnya zaman, musik juga sering digunakan generasi muda sebagai alat komunikasi terkait suasana hati. Sejalan dengan perkataan Aldous Huxley, “Setelah keheningan, yang paling dekat untuk mengekspresikan yang tak terlukiskan adalah musik”.
Penulis : Peserta Pelatihan JIP 2025 - Fatih Q. & Khaila D.