Pinang dalam bahasa Gorontalo disebut Luhuto merupakan syarat penting yang harus ada dalam ritual modutu. Sebagai objek yang harus berjalan beriringan dengan buah sirih, pinang tidak boleh ketinggalan dalam proses pelaksanaan adat di wilayah Gorontalo. Pinang dimaknai sebagai daging adat yang berarti “kesempurnaan”, yang diharapkan kedua pasangan nantinya menjadi insan yang terus berupaya menjadi sosok yang sempurna walaupun kesempurnaan memang hanya milik Sang Pencipta. Selain itu, adapun pohon pinang yang diletakkan dekat Tolitihu yang dihubungkan dengan janur yang melengkung dan tidak dipotong yang bermakna apa yang terjadi diluar rumah jangan dibawa kerumah tangga agar rumah tangga selalu aman dan bahagia.