Bayangkan, kalian berumur 15 tahun pada tanggal 16 Agustus 1945. Kepala kampung tiba-tiba datang ke rumah, menemui ayah kalian, lalu mereka bicara dengan berbisik-bisik di ruang depan. Setelah itu, ayah kalian menggiring seluruh keluarga masuk kamar, lalu bicara berbisik-bisik, “Besok proklamasi!”
Itulah yang terjadi pada malam 16 Agustus 1945. Berita tentang rencana proklamasi disebarkan dari mulut ke mulut, secara rahasia. Surat dari Bung Karno dikirimkan dengan kerahasiaan penuh kepada para pemimpin pasukan PETA dan pemimpin-pemimpin masyarakat.
Alhasil, pada pagi 17 Agustus 1945 itu, masyarakat menjejali Jalan Pegangsaan Timur sehingga pasukan PETA yang mendapat tugas mengawal kediaman Bung Karno harus berjalan sambil menyikut kiri dan kanan agar sampai tepat waktu.
Tidak ada perintah untuk berbondong-bondong memadati Jalan Pegangsaan Timur. Tidak ada perintah untuk menghadiri peristiwa proklamasi. Namun, semenjak subuh, rakyat sudah datang dengan berjalan kaki maupun kendaraan yang mereka punya. Apakah yang menggerakkan mereka saat itu?
Merdeka!
Satu kata itulah yang menggerakkan mereka, merdeka!
Merdeka adalah kata keramat yang sudah digaungkan secara sembunyi-sembunyi sejak lagu Indonesia Raya pertama kali dikumandangkan dengan gesekan biola pada Deklarasi Sumpah Pemuda tahun 1928. Saat itu, kata merdeka hanya diucapkan dalam hati karena Belanda melarang penggunaan kata merdeka.
Sebenarnya, pelarangan tersebut merupakan jalan pintas untuk memudahkan Belanda memberikan instruksi kepada para polisi yang bertugas di lapangan. Belanda memang mengizinkan para pemuda untuk berkumpul atau mengadakan perkumpulan, tetapi melarang pembicaraan apa pun yang berbau politik.
Larangan seperti ini mungkin terlalu sulit untuk disampaikan kepada para polisi yang hanya menjadi pelaksana teknis di lapangan. Karenanya, jalan pintas ini pun diambil, “Dilarang mengucapkan kata merdeka.”
Namun, sebagaimana pegas yang ditekan, makin besar tekanannya, makin besar pula daya lentingnya. Inilah yang terjadi pada para pemuda Indonesia. Bukannya mereda, kata merdeka malah makin menguatkan semangat untuk lepas dari penjajahan.
Lagu Indonesia Raya yang memuat kata merdeka pun dinyanyikan pada setiap perkumpulan pemuda meski hanya dalam bentuk siulan. Lama kelamaan, kata merdeka dan Indonesia Raya pun tertanam dalam jiwa para pemuda kita.
Ketika Jepang datang dan melatih para pemuda untuk menjadi pion-pion mereka dalam melawan sekutu, yang terjadi malah kebalikannya. Jepang membujuk mereka bergabung dengan membentuk pasukan Pembela Tanah Air alias PETA.
Ketika menyebutkan tanah air, yang dibayangkan oleh Jepang adalah Negeri Matahari Terbit alias Dai Nippon. Namun, kata tanah air yang sudah terbentuk dalam benak para pemuda itu adalah “Indonesia, tanah airku, tanah tumpah darahku.”
Tidak heran, Supriyadi, salah seorang komandan PETA kemudian memberontak di Blitar. Meski pemberontakan itu dapat dipadamkan dengan sangat mudah oleh Jepang, tetapi semangat merdeka itu makin berkobar di dada para pemuda Indonesia.
Semangat merdeka terus menyala dan berkobar pada sidang-sidang BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Bapak-bapak para pendiri negara ini bersidang, bertukar pikiran, hampir setiap hari.
Para pendiri negara ini sadar, bahwa lepas dari penjajah saja belum bisa disebut merdeka sepenuhnya. Bangsa Indonesia yang telah terjajah ratusan tahun lamanya harus dimerdekakan dulu jiwanya agar benar-benar bisa merdeka secara utuh. Namun, Soekarno tidak setuju.
Bagi Soekarno, kemerdekaan Indonesia adalah jembatan yang akan mengantarkan seluruh rakyat Indonesia menuju kemerdekaan sejatinya, kemerdekaan jiwa dan raga. Tanpa kemerdekaan. Dia menyebut kemerdekaan ini sebagai political independence, kemerdekaan politis.
Ya! 17 Agustus 1945, Soekarno bersama Hatta telah memproklamasikan kemerdekaan politis ini. Kemerdekaan yang menjadi jembatan bagi seluruh bangsa Indonesia untuk meraih kemerdekaan sejatinya, merdeka jiwanya, merdeka badannya.
Sekarang, setelah 79 tahun berlalu, apakah kita sudah benar-benar merdeka?
Salah satu cara memerdekakan bangsa adalah dengan memerdekakan bahasa. Bahasa pengantar kita bukan lagi bahasa Belanda ataupun bahasa asing lain. Pada tahun 1947, ketika Belanda masih berusaha merongrong kedaulatan Indonesia, kita menciptakan ejaan sendiri untuk menggantikan ejaan Van Ophuijsen yang jamak digunakan saat itu.
Bukan hanya dari segi bahasa, usaha memerdekakan jiwa juga dilakukan Soekarno melalui makanan. Dengan Mustika Rasa, kumpulan buku resep masakan nusantara, Soekarno ingin menunjukkan kekayaan bahan pangan dan makanan bangsa Indonesia.
Itu adalah dua hal yang dilakukan pada masa pemerintahan Soekarno dalam usaha untuk memerdekakan jiwa bangsa Indonesia. Namun, apa yang terjadi sekarang? Di dua hal itu saja, bahasa dan makanan, apakah kita sudah merdeka?
Dari sisi bahasa saja, kita sudah mulai terjajah lagi. Para pakar bahasa Indonesia telah bersusah payah menyerap berbagai kata dari bahasa daerah untuk menggantikan kata-kata yang berasal dari bahasa asing. Namun, apa yang terjadi? Banyak di antara kita yang malah merasa lebih keren ketika bisa mencampur-campur penggunaan bahasa Indonesia dengan bahasa asing, padahal sedang berbicara dengan sesama bangsa Indonesia.
Bagaimana dengan makanan? Mana yang lebih dikenal oleh kawula muda, sarabba atau cappuccino? Mana yang lebih dipilih oleh anak-anak muda, lontong atau sushi?
Tak dapat dimungkiri, serbuan budaya asing telah membuat kita lupa akan keluhuran budaya sendiri. Kita mungkin bisa fasih bercerita tentang ikigai dari Jepang, yang terbukti mampu meningkatkan kinerja di negeri matahari terbit itu. Namun, tidakkah kita ingin tahu, etos kerja seperti apa yang membuat Gajah Mada berhasil menaklukkan Nusantara? Filosofi apa yang membuat Sriwijaya menjadi pusat pendidikan Buddha di Asia Tenggara pada masanya?
Di sini, tanah Indonesia yang ada di bawah kaki kita, menyimpan berjuta kekayaan alam hingga ilmu pengetahuan. Namun, jiwa kita yang masih terjajah, terus saja menatap ke luar, sementara, orang-orang luar memanfaatkan kekayaan yang seharusnya berada di tangan kita.
Kuncinya hanya satu, merdekakan jiwamu!
Yuk, tinggalkan jejak di kolom komentar~