Nada dan Bima : Mimpi dan Harapan
Nada dan Bima : Mimpi dan Harapan
Karya: Yeptirani Syari
Langit mendung sore itu. Bima baru saja selesai berlatih gitar bersama grupnya untuk penampilan perpisahan kelas XII. Sepertinya baru kemarin ia diterima di SMA ini, masuk kelas X-4, dan berkenalan dengan Nada dari kelas X-2 di klub sains. Sekarang ia harus menjalani proses perpisahan dan melanjutkan belajarnya di universitas pilihannya.
Sore itu, ia duduk di taman XII, di bawah pohon, bersama Nada, siswi yang dekat dengan Bima sejak kelas X.
“Bim, aku diterima di Wageningen,” kata Nada memberitahu Bima.
“Belanda?” tanya Bima.
“Iya, Belanda,”
“Kapan berangkatnya?”
“Belum tahu. Aku baru menerima LoA, Letter of Acceptance-nya. Nanti academic calendars-nya akan diinformasikan kemudian,” jelas Nada.
Bima memandang wajah Nada dari samping. Gadis yang dekat dengannya sejak kelas X SMA itu akhirnya berhasil meraih cita-citanya, belajar ke luar negeri. Bima tahu, Wageningen University bukan pilihan pertama Nada. Ia lebih ingin ke Oxford. Tetapi mungkin garis nasib Nada membawanya ke Belanda alih-alih Inggris.
“Untung kita nggak pacaran, ya, Nad. Jadi kamu nggak ada beban mau kuliah di mana saja,” kata Bima. Sebenarnya ia sedang menghibur dirinya sendiri. Hatinya terasa berat mendengar Nada akan melanjutkan pendidikannya ke Belanda.
“Iya. Lagian aku, kan, pacarnya Hyunjin Oppa,” kata Nada cuek.
“Iya, dah. Yang pacarnya Hyunjin Oppa,” goda Bima.
“Kamu manggilnya Hyung!” ralat Nada.
“Iya, Hyunjin Hyung!” ujar Bima lagi.
“Hyunjin udah dikasih tahu kalau kamu kuliah di Belanda?” tanya Bima lagi. Ia tahu cuma candaan. Tetapi ia tak tahan untuk tidak menanyakannya.
“Nggak perlu. Hyunjin Oppa tahu, aku akan tetap setia sama dia di mana pun aku kuliah,” jawab Nada cuek.
“Kenapa kamu nggak milih kuliah di Korea saja? Kan, seru bisa dekat dengan Hyunjin?” tanya Bima lagi.
“Aku inginnya di Eropa,” jawab Nada tertawa, “jurusan yang kucari nggak ada di Korea,” lanjut Nada.
“Bang Alor diterima di Hokkaido,” kata Bima. Alor adalah abang sulung Bima.
“Beasiswa LPDP?” tanya Nada.
“Iya, S-2 beasiswa LPDP,” jawab Bima.
“Kamu nggak apply belajar ke luar negeri, Bim?” tanya Nada.
“Nggak, aku di UI dulu. Nanti saja S-2 di Eropa. Harus ada yang menjaga orang tuaku dan Carita. Bang Alor, kan, sudah diterima di Hokkaido. Jadi aku harus stay di Indonesia,” jawab Bima. Carita, adik bungsu Bima dan Alor, lahir dengan cacat pada pita suara sehingga tidak dapat berbicara. Namun pendengarannya sempurna. Saat ini Carita sedang duduk di kelas VIII SMP, menjelang naik kelas IX.
“Aku kuliah cuma tiga tahun. Kalau kamu lulus S-1 langsung apply S-2, mungkin kita selisipan,” ujar Nada.
“Hm.. Kalau begitu, kita S-2 di negara yang sama, gimana?” tawar Bima.
“Aku memang berencana kembali ke Indonesia setelah sarjana. Mungkin kerja dulu, baru apply sekolah master,” kata Nada.
“Iya, sama. Aku juga berencana kerja dulu barang satu atau dua tahun. Aku berencana kerja di daerah terpencil, malah. Siapa tahu ilmuku berguna untuk masyarakat,” kata Bima.
“Mimpimu mulia sekali, Bim,” ujar Nada.
“Biasa saja, Nad. Harus ada yang berpikir seperti itu supaya negara kita maju merata. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, kan, belum sepenuhnya terwujud,” kata Bima.
“Tapi…” ujar Bima menggantung.
“Apa?” tanya Nada.
“Di masa depanku ada kamu, Nad. Tapi aku tidak tahu apakah dengan mimpiku ini, di masa depanmu ada aku. Aku tidak akan pernah memaksamu ikut mewujudkan mimpiku,” ujar Bima seraya memandang wajah manis Nada.
Tanpa aba-aba, pipi Nada bersemu merah mendengar kata-kata Bima.
“Sebenarnya, di masa depanku juga ada kamu, Bim. Tapi aku belum memutuskan, masa depan seperti apa yang akan aku tempuh. Kalau kamu punya mimpi dan mimpimu cocok juga untukku, mungkin boleh kucoba?” tanya Nada.
Kali ini telinga Bima memerah. Ia bahkan merasakan aliran panas mengalir di telinganya.
“Kalau kamu mau mencoba mewujudkan mimpi bareng aku, gak masalah, sih,” jawab Bima mencoba terlihat keren. Nada tertawa mendengarnya.
“Jadi, aku ke Belanda, kamu di Indonesia. Kemudian kita akan bekerja bersama di daerah terpencil di Indonesia?” tawar Nada.
“Setuju,” jawab Bima.
Matahari makin membesar di ufuk barat. Tanda sore sudah menjelang malam. Bel pulang sekolah berbunyi. Tak terasa, jam tangan Bima sudah menunjukkan pukul lima sore. Mereka harus segera pulang karena jam pelajaran sore telah berakhir.
“Kita pulang?” tanya Bima. Nada mengangguk.
Meraka pun berjalan ke kelas masing-masing untuk mengambil tas sekolah dan barang-barang mereka untuk kemudian ke halte bus dan pulang ke rumah masing-masing. Esok, mereka akan kembali ke sekolah untuk persiapan perpisahan.
Masa depan cerah ada di hadapan Bima dan Nada. Mereka berdua bermimpi ikut andil dalam mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yang menjadi tujuan pendiri bangsa Indonesia. Bima dan Nada adalah dua dari banyak pemuda harapan bangsa Indonesia. Semua berharap, mereka dapat mewujudkan mimpi mereka dan mewujudkan Indonesia Emas 2045.
[TAMAT]
Yuk, tinggalkan jejak di kolom komentar~