“Hadirin yang berbahagia, mari kita sambut juara kita, peraih medali perak di ajang Olimpiade Sains Nasional Matematika, Samsudin!” Pembawa Acara berteriak memanggil nama Sam untuk naik ke atas panggung. Sam dengan bangga meniti tangga panggung satu demi satu dan mendekati Pembawa Acara.
“Baiklah, Mas Sam, coba ceritakan bagaimana kamu bisa mendapatkan medali perak dalam OSN Matematika ini!” pinta Pembawa Acara.
“Yah, saya rutin belajar dan selalu memperhatikan saat guru menerangkan di depan kelas,” jawab Sam jujur.
“Ini ada pertanyaan dari warganet, mari kita baca bersama dan dijawab ya, Mas Sam,” kata Pembawa Acara. Sam mengangguk.
“’Apa sarapan Sam tiap hari sampai jadi juara?’ Wah, ini pertanyaan dari Vina, silakan dijawab, Mas!” kata Pembawa Acara.
“Sarapannya biasa, ya. Kadang nasi uduk, kadang nasi kuning, kadang nasi pecel, kadang bubur kacang ijo, atau kadang bubur ayam,” jawab Sam.
“Diaduk atau tidak diaduk?” tanya Pembawa Acara.
“Diaduk. Wajib diaduk!” jawab Sam bangga.
“Wah, sekte bubur diaduk, nih. Kita nggak berteman, Mas, saya penganut bubur tidak diaduk,” ujar Pembawa Acara.
“Nggak bisa, Mas. Bubur itu harus diaduk agar rasanya merata,” bela Sam.
“Apa enaknya bubur diaduk? Kalau tidak diaduk, rasanya alami sendiri-sendiri,” ujar Pembawa Acara lagi.
“Rasanya enak banget, tahu! Bubur diaduk itu rasanya pas asin, manis, dan gurihnya,” jawab Sam.
“Sudah-sudah, kita sudah tak sejalan. Lebih baik kita akhiri saja sampai di sini. Mohon maaf, hadirin, saya akhiri dulu acara ini. Selamat pagi,” kata Pembawa Acara sembari turun dari panggung dengan kesal.
Sementara Sam yang ditinggal sendiri di atas panggung, berdiri dengan canggung, karena bingung. Ia tak tahu apa hubungan bubur dengan medali yang diperoleh.
[TAMAT]
Yuk, tinggalkan jejak di kolom komentar~