Kita pasti pernah mendengar istilah hukum alam.
Tapi, apa sih hukum alam itu?
Hukum alam, hukumnya alam, bisa disebut juga kodrat alam. Kita tentu sepakat dan meyakini: alam memiliki aturan yang menjadikan alam ini bekerja–seperti yang kini bisa kita lihat.
Ambil contoh, adanya siang malam. Fenomena siang dan malam terjadi karena bumi berotasi. Bumi berotasi itu hukum alam. Tanpa berotasi, fenomena siang dan malam itu tidak terjadi.
Bisakah mencegah atau menghentikan bumi berotasi? Tidak.
Hukum alam tidak bisa dicegah, tidak bisa pula dihentikan, itu prinsip hukum alam.
Kita tidak perlu repot melarang orang lain yang ingin makan dengan berfotosintesis, karena itu mustahil terjadi. Kita juga tidak perlu melarang orang yang ingin bereproduksi dengan membelah diri, toh memang mustahil dilakukan.
Kita tidak bisa melakukan hal-hal yang bertentangan dengan hukum alam. Segala yang bertentangan dengan hukum alam tidak perlu dilarang untuk dilakukan, karena memang mustahil bisa dilakukan.
Namun, masih saja ada manusia yang keliru dan menyalahartikan bahwa hukum alam bisa dilawan, bisa ditentang.
Pernah dengar kasus begini:
Ada perempuan yang enggan hamil dan melahirkan lalu dianggap melawan kodrat, tidak sesuai dengan hukum alam.
Keputusan perempuan itu menuai kecaman dan dilarang keras untuk ditiru.
Orang-orang yang mengecam beranggapan si perempuan melawan hukum alam, menentang kodratnya sebagai perempuan.
Mari kita bedah kekeliruan berpikir seperti ini.
Pertama, ingat prinsip hukum alam: kita tidak bisa melakukan hal-hal yang bertentangan dengan hukum alam.
Jadi, jika ada argumen yang mengandung kalimat “melawan hukum alam atau menentang kodrat” dapat dipastikan argumen tersebut tidak valid, ya.
Tidak ada manusia atau makhluk apapun yang sanggup melawan hukum alam, tidak ada.
Kedua, segala yang bertentangan dengan hukum alam tidak perlu dilarang untuk dilakukan, karena memang mustahil bisa dilakukan.
Kalau ada argumen begini, “tapi si etah tuh kitu. itu kan gak boleh, melawan kodrat.”
Ingat lagi prinsip hukum alam: Tidak ada manusia atau makhluk apapun yang sanggup melawan hukum alam, tidak ada.
Kata kuncinya, tidak ada yang sanggup. Tidak sanggup sama dengan tidak bisa, bukan tidak boleh. Dalam hal inilah manusia seringkali keliru, tidak bisa membedakan sains dengan budaya.
Hukum alam tidak memerlukan persetujuan boleh atau tidak boleh dari manusia.
Segala pelarangan yang menggunakan dalih "melawan hukum alam/kodrat" sebenarnya adalah pelarangan melawan budaya.
Yuk, tinggalkan jejak di kolom komentar~