Hari Baru untuk Dia
Hari Baru untuk Dia
Karya: Yeptirani Syari
"Hari ini dia ulang tahun!"
Aku menatap Listy dengan setengah bengong. Anak ini datang-datang langsung berpidato tentang hal yang gak aku pahami. Siapa yang ulang tahun?
"Hei, Meimei! Hari ini dia ulang tahun, loh. Kamu udah nyiapin apa?"
Aku tatap Listy, "Siapa yang ulang tahun, Lis?"
"Ya ampun, Meimei. Your Knight in the shining amour."
"Ha?"
"Cowok pujaan kamu."
"Oh..."
"Oh? Cuma 'oh'? Ayolah Meimei."
"Nah, terus aku harus ngapain?"
"Mei, aku udah baik-baik lari-lari ke sini buat ngasih tau ke kamu kalau si Akbar ulang tahun hari ini, kamunya cuma nanggapi dengan 'oh'. Sedikit excited, kek. Antusias, kek."
"Iya, Lis. Aku antusias, kok. Cuma kamunya aja emang ngagetin tadi, makanya aku agak bengong. Belum nyambung."
"Hm... jadi, mau ngasih apa?"
"Apa, ya?"
Jujur aku bingung, Akbar adalah cowok yang setahun ini aku taksir. Dia cuek dan berkesan gak punya perasaan khusus sama aku. Tapi kadang, dan jarang, dia nunjukin kalau dia perhatian sama aku. Tapi aku gak yakin, apa dia memang perhatian, atau akunya yang kegeeran.
"Gimana kalau kamu ngasih kado yang isinya sekalian kamu nembak dia?" ucapan Listy membuyarkan pikiranku.
"Hah? Nembak dia duluan? NGGAK!"
"Haduh, Mei. Gak usah gengsi gitu donk! Mau sampai kapan kamu cuma jadi penggemar rahasia dia? Kalau kamu sudah nembak, kamu bakalan tau apa dia suka juga atau nggak."
"Nggak!"
"Ya udah."
Listy pergi meninggalkanku. Dia biasa seperti itu kalau lagi ngambek karena pendapatnya aku mentahkan. Kado buat Akbar, ya? Hm....
***
Akbar ada di pojok kelas. Listy masih saja mendorongku untuk memberikan kado di tanganku untuk si Akbar, sambil membujukku memberi tahu dia apa isi kado itu. Listy tidak tahu isi kado ini.
Mata Akbar bertemu dengan mataku. Rasanya menusuk sekali. Aduh! Aku refleks menunduk. Malunya.
Tapi ya ampun, Akbar berjalan ke arahku.
"Meimei, kata Listy kamu punya sesuatu buat aku?"
LISTY!!! Ku pelototi dia. Dia menunduk sambil tersenyum-senyum sendiri. Mengesalkan!
"Eh, iya. Ini," aku menjulurkan kado itu. Jantungku berdebar kencang. Aku yakin Akbar bisa mendengar detaknya. Aduh, rasanya benar-benar mau copot. Badanku lemas. Kupakai sisa tenagaku untuk tetap berdiri, berpegangan pada meja.
Akbar mengambil kado itu dari tanganku. Tangannya bersentuhan dengan tanganku. Rasanya seperti dialiri listrik. Nyetrum.
"Makasih, ya," kata Akbar sambil tersenyum. Dia pun pergi. Tinggal aku sendiri yang lemas, terduduk.
"Gimana?" tanya Listy menggoda.
Aku terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Listy.. Listy.. aku bingung, harus marah atau berterima kasih sama kamu.
***
Pagi ini cerah sekali. Setelah kejadian penyerahan hadiah kemarin, aku belum bertemu lagi dengan Akbar. Dan hari ini dia datang terlambat.
"Maaf, Pak. Saya terlambat masuk kelas," kata Akbar pada Pak Ilham, guru matematika kami.
"Kenapa kamu terlambat, Akbar?"
"Karena saya memakai sepatu baru, Pak."
"Sepatu baru? Apa hubungannya dengan terlambat?"
Akbar diam saja, dia hanya menunjukkan sepatu barunya, sepatu bola. Ya ampun, itu sepatu yang aku hadiahkan kemarin. Ngapain dia makai sepatu itu ke sekolah?
"Kamu memakai sepatu bola ke sekolah?" tanya Pak Ilham heran.
"Anu, Pak. Ini hadiah ulang tahun."
"Tapi kan tidak untuk dipakai di sekolah, Akbar!"
"Eh... saya hanya ingin menunjukkan kepada dia bahwa apapun yang dia berikan, sangat berarti buat saya. Karena saya suka kepada dia. Maaf, Pak."
Ya Tuhan. Rasanya jantungku benar-benar berhenti sekarang.
"Boleh Bapak tahu siapa yang kamu maksud?" tanya Pak Ilham. Please, Akbar, jangan bilang siapa-siapa. Aku belum siap. Jantungku mau copot.
"Seorang teman, Pak. Suatu saat nanti dunia pasti akan tahu siapa dia," jawab Akbar tersenyum, dia melirik padaku. Aku yakin itu.
"Ya, sudahlah, kamu duduk sana! Besok, jangan pakai sepatu bola lagi, ya!" kata Pak Ilham memerintah.
"Baik, Pak. Terima kasih."
Akbar beranjak ke bangkunya di pojok ruang kelas. Matanya melirik padaku. Dia tersenyum dan menggumamkan sesuatu. Aku yakin aku mendengarnya berkata, "Terima kasih, aku sayang kamu."
Dan aku yakin aku pingsan setelah itu.
***
[TAMAT]
Yuk, tinggalkan jejak di kolom komentar~