Seorang wanita tua tersenyum lemah menatap perempuan muda di hadapannya. Matanya mengerjap perlahan. Ruangan serba putih dan wangi khas pembersih, kini mulai terasa memuakkan oleh perempuan muda tersebut.
"Kamu gak jadi pergi?" ucapnya pelan, terdengar nyaris seperti berbisik.
"Ke mana?" jawab si perempuan muda dengan lembut.
"Katanya mau ambil beras di rumah Pak RT. Kasian adik kamu lapar, dari kemarin dia nangis."
Perempuan itu tersenyum lembut, jemarinya mengusap pelan tangan wanita tua itu. Pipinya kini basah karena air mata.
"Iya, sebentar lagi kesana," ujar perempuan itu.
Wanita tua itu menggeleng pelan, menelan ludahnya lalu berucap lagi, "Jangan Nunik, sekarang kamu harus ke sana. Kasihan adikmu, dia pasti sangat kelaparan."
Digenggam tangan wanita yang sedari lahir dipanggilnya Nenek itu. Ini sudah dialog yang sama ketiga kalinya sedari pagi.
Pintu di belakangnya bergeser, wanita dengan pakaian serba putih bersih muncul dari baliknya.
"Mba Nisa, silahkan tanda tangan di lembar ini ya. Untuk keperluan administrasi."
Dia pun melepas genggaman tangannya dari neneknya, seraya mengambil pena dari tangan perawat itu.
"Nunik, namanya bukan Nisa. Dia anak perempuan saya, Mba. Kamu ini yang punya tempat inikah? Apa ada sedikit makanan buat anak-anak saya?"
Suster tersebut hanya tersenyum tipis seraya mengangguk memberi isyarat pamit. Nenek itu kemudian memejamkan matanya lagi, lalu bersenandung pelan. Pelan sekali…
Tak lelo, lelo, lelo ledung
Cep meneng aja pijer nangis
Anakku sing ayu rupane
Yen nangis ndak ilang ayune
“Nisa, dulu Pamanmu suka sekali nasi pakai minyak bekas goreng ikan. Tapi Nenek gak bisa kasih. Dia pergi dalam kondisi lapar.”
Mata Nenek itu terbuka, matanya basah.
[TAMAT]
Yuk, tinggalkan jejak di kolom komentar~