Selfie
Selfie
Karya: Nesri Baidani
"Pandu, wefie, yuk!" Tamara mengacungkan ponselnya.
"Kamu kebanyakan selfie, deh," komentar Pandu tanpa ekspresi menatap kamera.
"Biarin, daripada kebanyakan cowok!" Tamara mencibir, menggemaskan.
Kembang api meledakkan cahaya warna-warni. Orang-orang bersorak, tahun baru 2018 tiba. Pandu dan Tamara, membuka tahun dengan sebuah ciuman penuh cinta.
***
Pandu menggenggam erat ponsel di tangan. Postingan terakhir Tamara di instagram terlihat jelas. Enam bulan lalu, dia mengirimkan foto tembok bata merah bertuliskan I MISS HER.
Itu bukan di Indonesia. Pandu tahu. Pohon berdaun kuning yang meranggas adalah pemandangan biasa di negeri empat musim. Tamara mengunggahnya bulan Juli. Saat belahan bumi utara sedang meradang karena musim panas. Karenanya Pandu yakin, gadis itu ada di belahan bumi selatan.
Ibunya menangis saat Pandu memberitahukan tebakannya. "Dia masih hidup?" tanyanya penuh harap. Tiga bulan tanpa kabar, harapan pun pupus dimakan waktu.
Pandu mengedikkan bahu ragu. "Saya harap begitu, Tante," katanya.
"Kamu tahu di mana foto ini?" Binar mata perempuan paruh baya itu memancarkan asa.
Tak ada jawaban. Pandu hanya bisa menggeleng. "Kemungkinan di Australia, Tante. Tapi saya tak tahu tepatnya."
"Kita cari!" katanya penuh semangat.
***
Enam bulan berlalu. Keberadaan Tamara masih jadi misteri. Pandu memilih tak pulang liburan musim panas ini. Ibu Tamara memohon dengan sangat agar mencari lokasi foto itu. "Itu satu-satunya petunjuk dari Mara," katanya memelas. "Mumpung kamu masih di Melbourne, tolong ya, Pandu," suara perempuan itu menahan tangis di ujung telepon.
Pandu tak bisa menolak.
Bulan Januari. Musim panas mencapai puncaknya. Badan Pandu lengket karena keringat ditambah udara lembap. Pendingin ruangan di kamarnya rusak dan pemilik apartemen hanya memberi janji demi janji untuk memperbaiki. Untung, jendela kamarnya masih bisa dibuka. Meski angin yang masuk hanya sepoi-sepoi, cukuplah untuk sekadar mengurangi kepengapan.
Matanya sudah lelah setelah hampir tiga hari menghadap layar laptop berjam-jam. Hampir separuh benua sudah dijelajahi dengan google street view demi mencari tembok bata merah itu. Hingga suatu malam, mata lelahnya terbelalak.
Tembok itu terpampang jelas di layar. Tulisan I MISS HER masih terlihat samar di bata merah. Google mencatat waktu pengambilan foto adalah tiga bulan yang lalu. Buru-buru Pandu mencatat alamatnya.
***
Alamat itu membawa Pandu ke Bendigo. Sebuah kota tua dengan sejarah panjang para pendatang. Bangunan-bangunan tua terlihat cerah dengan taman berisi bunga warna-warni. Musim panas yang lembap terasa lebih ceria di kota kecil ini.
Pandu terus menyusuri jalan hingga ke pinggiran kota. Alamat di tangan menggiringnya hingga ke sebuah jalanan sepi. Tembok besar itu ternyata adalah dinding layaknya benteng yang mengitari sebuah sekolah berasrama.
Di situ, dia berdiri. Di hadapan tembok yang diunggah Tamara ke akun instagramnya. Pohon di foto itu sudah berdaun lebat saat Pandu mematung menatapnya. Daunnya hijau, menutupi pandangan. Tulisan I MISS HER hampir tak terlihat lagi. Hanya sisa-sisa cat putih yang masih tampak membekas di dinding.
Pandu masih berdiri di seberang tembok. Mengira-ngira dari mana Tamara mengambil fotonya. Jalanan yang terlihat serata pandang memberi kesan kamera yang diletakkan setinggi jalan. Atau lebih tinggi sedikit dari jalan.
Dikeluarkannya ponsel. Mencoba mengulang posisi pengambilan gambar Tamara. Ketika itulah ia melihat sesuatu di belakang tempatnya berdiri.
Sebuah lubang angin kecil. Mungkin digunakan untuk memasukkan cahaya ke dalam basement. Pandu melongok ke dalam ruangan gelap di balik lubang angin itu. Aroma lumut dan jamur marasuk ke hidung. Seseorang menyalakan lampu. Terlihat deretan botol anggur di rak yang rapat ke dinding. Dia bisa mendengar langkah kaki, tetapi tak dapat melihat seorang pun.
Pandu berdiri, khawatir ketahuan mengintip. Dicarinya pintu masuk ke gedung itu. Hanya sebuah pintu di sudut dinding. Kemudian empat jendela, dua di lantai dua dan dua di lantai tiga.
Pandu berniat mengetuk ketika pintu itu tiba-tiba terbuka. Sesosok lelaki berbadan besar keluar dengan dada membusung. Tampaknya dia tinggal di gedung itu. "G'day, Sir," sapa Pandu canggung.
Lelaki itu menyipitkan mata menatap Pandu. Memindai tubuhnya dari atas hingga ujung kaki.
Pandu menelan ludah, berusaha menguatkan hati. "I'm looking for a job," katanya terbata, berharap lelaki itu percaya dia sedang mencari pekerjaan.
Bibir merah hitam lelaki besar itu menggariskan seringai. "Can you do a cleaning job?" Dia menawarkan pekerjaan bersih-bersih.
"Sure, anything," jawab Pandu cepat. Tak peduli pekerjaan apa pun. Yang diinginkannya saat ini adalah masuk ke dalam gedung dan mencari tahu petunjuk lain tentang Tamara.
Lelaki itu mengajaknya masuk dan mulai berceloteh tentang anak Meksiko yang baru saja jatuh sejak semalam hingga tak ada orang yang mengerjakan pekerjaan bersih-bersih. Gedung ini ternyata sebuah kelab malam. Ada panggung beserta meja tempat DJ mencampur beraneka musik. Lantai kosong yang luas tepat di depannya, cocok dijadikan tempat orang-orang berjoget saat tempat ini beroperasi.
Aroma tempat ini benar-benar membuat mual. Campuran bau rokok dengan alkohol ditambah muntahan. Mungkin ada yang terlalu mabuk dan mengeluarkan isi perutnya tanpa berpikir dua kali.
Pandu tak bisa membayangkan Tamara pernah ada di tempat seperti itu. Dia mungkin bukan sekadar pengunjung. Foto itu diambil siang hari. Mana ada kelab malam beroperasi siang bolong? Mungkinkah dia bekerja di situ juga? Otaknya mengolah berbagai kemungkinan sembari terus mengayunkan tongkat pel.
Seorang lelaki dengan setelan jas hitam membuka pintu. Cahaya menyilaukan dari matahari masuk ke ruang remang-remang itu. "Get Mary here. Boss' waitin'" Lelaki rapi itu memberi perintah pada Pandu agar memanggilkan Mary.
"Mary, Sir?" gelagapan Pandu menjawab. Belum ada setengah jam di tempat ini, satu orang pun belum ia kenal. Hanya lelaki berbadan besar tadi yang sekarang sudah keluar lagi entah ke mana.
"Coming!" Suara perempuan muncul dari tangga. Terdengar langkah kaki santai menuruni jenjang demi jenjang.
Dalam keremangan ruangan, Pandu bisa mengenali gadis itu. Tak salah lagi, cara berjalannya, kaki jenjangnya, rambut panjangnya. Tamara! Dia 100% yakin, itulah gadis yang dicarinya.
Tamara terlihat jauh lebih dewasa. Tank top dan hot pants yang dikenakannya membuat Pandu panas dingin. Dia tampak begitu berbeda.
Keterkejutan tampak samar di wajah gadis itu begitu tatapan mereka bersirobok. Hanya sedetik, kemudian dia membuang muka. Tanpa menoleh lagi, terus berjalan lurus ke pintu keluar.
Pandu mengurungkan niat untuk menyapa. Mungkin dia terlalu terobsesi menemukan gadis itu. Sampai-sampai siapa pun gadis berambut panjang terlihat seperti Tamara di matanya.
Gadis itu tiba-tiba menabraknya. "Watch your step, Man!" bentaknya marah.
Pandu terduduk. Mulutnya hendak membantah. Enak saja membentak orang. Dia yang menabrak, dia yang marah.
***
Gadis itu memang Tamara. Foto di layar kunci ponsel jelas sekali memperlihatkan mata beningnya. Mata bening yang dirindukan Pandu.
Dia sengaja menabrak untuk memasukkan ponsel ke saku kemeja Pandu. Ditimangnya ponsel mungil itu. Tak bisa dibuka. Tamara mengunci dengan password.
Sebuah notifikasi muncul di layar. Satu SMS dari nomor tak dikenal, "First Kiss Day," begitu isinya.
Pandu teringat sesuatu. Ciuman pertama mereka. Di bawah ledakan kembang api warna-warni. Saat perayaan tahun baru 2018.
Diketikkannya sederet angka di kolom password, 01012018. Salah. 81021010. Terbuka!
Lalu apa?
Pandu dikejutkan oleh getar ponsel. Sebuah nomor tidak dikenal. Diusapnya simbol bergambar telepon warna hijau. Takut-takut ia menjawab, "Halo?"
"Pandu?" terdengar bisikan dari seberang sana. "Ini beneran kamu, kan?" sekarang terdengar seperti tangis yang tertahan.
"Mara? Kamu di mana?" Pandu menahan suara agar tak jadi teriakan karena senangnya.
Tak banyak yang diceritakan di telepon pertama. Dia hanya menangis, terisak, lalu titip salam rindu untuk ayah dan ibu.
***
Selama bekerja di klab malam itu, Pandu harus pura-pura tak mengenal Tamara. Dia akhirnya mengetahui bahwa gadis itu adalah kesayangan mafia narkoba pemilik night club ini. Sudah pasti dia juga sudah dicekoki narkoba, entah jenis apa. Pandu menghela napas panjang begitu mengetahui fakta ini.
Tamara bercerita, semua bermula dari foto selfie di instagram. Seseorang menemukan fotonya dan menawari menjadi model. Dia senang sekali, hatinya berbunga-bunga. Tanpa pikir panjang langsung setuju.
Audisi dilaksanakan di sebuah kapal pesiar. Tak ada yang mencurigakan mulanya. Dia hanya disuruh bergaya di depan kamera. Mula-mula dengan pakaian lengkap. Lama-lama satu persatu pakaiannya dilepas. Tamara mulai curiga, tapi semua terlambat. Tak ada lagi tempat untuk lari. Kapal pesiar sudah berada di tengah laut.
***
Siang itu Pandu membulatkan tekad. Dia harus membawa Tamara kembali pada bundanya. Sebuah rencana tersusun rapi di benak.
Polisi ternyata telah lama mengintai klab malam itu. Seorang perwira dalam penyamaran sudah berkali-kali mengumpulkan bukti. Laporan dari Pandu menambah kuat alasan penggerebekan. Malam nanti, semua akan dieksekusi.
***
Tamara mendapat tugas untuk memancing si boss mafia datang. Ini akan jadi penangkapan kelas kakap. Mafia narkoba yang licin bagai belut akan dikerangkeng dalam penjara.
Tangan Pandu berkeringat. Jantungnya berdegup kencang. Beberapa polisi berpakaian sipil sudah siap di tempat. Si boss mafia datang tanpa curiga. Tamara berhasil membuatnya sangat nyaman hingga sama sekali tak berpikir soal ancaman.
Begitu kode dilemparkan, para polisi segera bergerak ke lantai tiga, lokasi kamar Tamara. Pandu mengikuti sambil merunduk-runduk. Peluru berdesing-desing di sisi telinga. Suara pukulan dan tinjuan meningkahi gerak lari. Dia tak berani melihat, terus maju sambil melindungi kepala. Polisi telah memberinya rompi anti-peluru tapi kepalanya tetap tak terlindungi.
Tamara sedang bergumul dengan si boss mafia ketika pintu kamar didobrak. Dengan cepat Pandu meraih apa pun untuk menutupi tubuh gadis itu dan memanggulnya lari keluar.
***
Berkat program perlindungan saksi, Tamara berhasil tiba kembali ke pangkuan ibunda. Tangis dan isak membanjiri saat-saat pertemuan mereka di bandara.
Semua lega, semua bahagia. Kecuali satu hal yang masih memancarkan tangis. Tamara masih belum bisa pulang ke rumah. Dia harus mengeluarkan sisa-sisa narkoba yang terlanjur merusak otak berbulan-bulan.
Semua bermula dari satu foto selfie. Satu foto, yang membawanya berakhir di RSKO.
[TAMAT]
Yuk, tinggalkan jejak di kolom komentar~