Selamat datang di Ruang Bahasa Inggris MA ARIFAH
Kalau kamu ingin membuat contoh narrative text, ada baiknya pahami dulu kaidah kebahasaannya, ya. Karena, unsur inilah yang menjadi ciri khas narrative text. Lalu, apa aja sih language features of narrative text, atau kaidah kebahasaan teks narasi itu?
Narrative text biasanya menggunakan simple past tense karena akan menceritakan peristiwa atau kisah yang telah terjadi. Dengan begitu, pembaca bisa memahami urutan peristiwa secara jelas, dan membantu mereka untuk hanyut ke dalam cerita.
Contohnya:
“Once upon a time, in a small village, there lived a kind, generous old man. One day, as he was walking through the forest, he stumbled upon a giant squash. Amazed, he inched closer.”
(Pada zaman dahulu kala, di sebuah desa kecil, hiduplah seorang pria tua yang baik hati dan dermawan. Suatu hari, ketika dia sedang berjalan menuju hutan, dia menemukan sebuah labu raksasa. Terkejut, dia pun mendekat.)
Nah, pada potongan teks di atas, terdapat bentuk past tense dari live –> lived, he is walking –> he was walking, inch –> inched, yang menggambarkan kalau peristiwa itu sudah terjadi.
Adverb of time adalah kata yang memberi keterangan terkait kapan peristiwa terjadi, berapa lama, dan berapa sering peristiwa itu berlangsung. Pada narrative text, adverb of time membantu memperjelas konteks urutan peristiwa dalam cerita. Ini memungkinkan pembaca untuk lebih mudah mengikuti alur cerita dan merasa terbawa masuk ke dalam cerita yang mereka baca.
Contoh adverb of time, antara lain today, yesterday, one day, tomorrow, last year, later, dan sebagainya. Contoh adverb of time dalam narrative text bisa kamu cek pada potongan teks berikut ini:
“Early one morning, Sarah decided to go for a jog in the park. As she jogged, the sun began to rise, casting a golden glow over the trees. Later that day, she met her friends for lunch and shared her morning adventure with them.”
(Pagi-pagi sekali, Sarah memutuskan untuk jogging di taman. Saat dia jogging, matahari mulai terbit, menyebarkan cahaya emas di atas pepohonan. Kemudian pada hari itu, dia bertemu teman-temannya untuk makan siang dan menceritakan petualangan paginya kepada mereka.)
Nah, pada contoh di atas, terdapat beberapa adverb of time, yaitu early one morning, later that day, yang digunakan untuk menunjukkan urutan peristiwa yang terjadi.
Adjective adalah kata yang digunakan untuk mendeskripsikan noun (kata benda) dan pronoun (kata ganti), yang bisa berupa orang, tempat, hewan, benda, warna, bau, atau konsep abstrak lainnya. Adjective bisa kita sebut juga sebagai kata sifat.
Dalam narrative text, adjective membantu menciptakan cerita yang lebih rinci atau deskriptif. Dengan begitu, ini akan menstimulasi imajinasi pembaca, sehingga mereka dapat ikut hanyut ke dalam cerita.
Contohnya:
“The brave knight entered the dark, mysterious forest, ready to face any challenges that lay ahead.”
(Seorang Ksatria yang berani memasuki hutan yang gelap dan misterius, siap menghadapi segala tantangan yang menantinya.)
Pada contoh ini, terdapat kata sifat berupa brave, dark, dan mysterious, yang memberikan pembaca gambaran yang lebih jelas tentang kepribadian ksatria serta atmosfer hutan.
Noun phrase adalah kata-kata yang berfungsi sebagai kata benda. Bisa berupa tempat, orang, makhluk hidup, dan lain-lain. Nah, sama halnya dengan adjective, noun phrase digunakan untuk memberi deskripsi yang lebih rinci dari sebuah narrative text.
Contohnya:
“The bright morning sun cast a golden glow on the calm waters of the lake, creating a breathtaking view.”
(Matahari pagi yang terang melemparkan cahaya emas pada air tenang danau, menciptakan pemandangan yang memukau.)
Pada contoh teks di atas, terdapat beberapa noun phrases, yaitu the bright morning sun and the calm waters of the lake, yang membantu memberikan gambaran lebih rinci terkait suasana dan waktu dalam cerita.
The Legend of Mount Batur
A long time ago, there lived on the island of Bali a giant-like creature named Kbo Iwo. The people of Bali used to say that Kbo Iwo was everything, a destroyer as well as a creator. He was satisfied with the meal, but this meant for the Balinese people enough food for a thousand men.
Difficulties arose when for the first time the barns were almost empty and the new harvest was still a long way off. This made Kbo Iwo wild with great anger. In his hunger, he destroyed all of the houses and even the temples. It made the Balinese turn to rage.
So, they came together to plan steps to oppose this powerful giant by using his stupidity. They asked Kbo Iwo to build them a very deep well, and rebuild all the houses and temples he had destroyed. After they fed Kbo Iwo, he began to dig a deep hole.
One day he had eaten too much, he fell asleep in the hole. The oldest man in the village gave a sign, and the villagers began to throw the limestone they had collected before into the hole. The limestone made the water inside the hole boiling. Kbo Iwo was buried alive. Then the water in the well rose higher and higher until at last it overflowed and formed Lake Batur. The mound of earth dug from the well by Kbo Iwo is known as Mount Batur.