Kita mengenang lagi Chairil—Chairil Anwar, penyair yang lahir pada 26 Juli 1922 di Medan, kota yang kini jadi ibu kota Provinsi Sumatera Utara. Kita tidak punya hubungan kekerabatan dengan anak-kedua dari pasangan Toeloes bin Manan dan Siti Saleha binti Datuk Paduko Tuan itu. Bagi anak muda kelahiran akhir 1990-an atau awal 2000-an, cucu Mak Tupin ini boleh jadi seangkatan dengan buyut—Evawani Alissa, anak tunggal Chairil Anwar dan Hapsah Wiraredja, menurut Jodhi Yudono (Kompas, 22 November 2013), sudah punya tiga anak dan empat cucu. Pelajaran bahasa Indonesia di sekolah telah mengenalkan Chairil Anwar dan puisi-puisi karyanya kepada para siswa yang boleh jadi tidak mengenal nama buyut masing-masing. Kita mengenang lagi Chairil agar kita tidak hanya menghafal peristiwa-peristiwa bersejarah yang disajikan di sekolah-sekolah menengah, tetapi memiliki kesadaran untuk menorehkan nama masing-masing dalam lembaran sejarah kecil—syukur-syukur jika dapat tertoreh dalam lembaran sejarah besar.
Kita mengenang lagi Chairil, seorang anak muda yang dibesarkan di keluarga yang berkecukupan. Segala keinginannya terpenuhi. Ayah Chairil membangun budaya intelektual yang baik. Bukunya banyak sekali. Jangan heran jika Chairil muda adalah maniak buku. Dalam “Prolog” buku Chairil, Hasan Aspahani (2017) menulis bahwa gara-gara membaca, Chairil bahkan pernah berurusan dengan polisi. Ketika ayahnya bertugas di Pangkalan Brandan, Chairil tetap tinggal bersama neneknya di Medan, semata agar mendapatkan pendidikan yang baik. Setamat Hollandsch Inlandsche School (HIS), Chairil meneruskan pendidikan di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO). Dengan mengenang lagi Chairil, mudah-mudahan saja kita terpapar jadi maniak buku juga. Mungkin kita tidak sebaik nasib Chairil yang berada di lingkungan keluarga berkecukupan dan memiliki kesadaran intelektual yang baik. Namun, perpustakaan umum dan jejaring internet tentu dapat membantu kita menjadi maniak buku.
Kita mengenang lagi Chairil, seorang pemuda yang memilih pindah ke Jakarta—tahun 1941—menyertai ibunya yang bermasalah dengan sang suami. Dalam Seri Buku Tempo Chairil Anwar bagimu Negeri Menyediakan Api (Suyono dkk., 2016) disebutkan bahwa di Jakarta, Chairil dan ibunya menumpang di rumah Sutan Sjahrir, pamannya. Tinggal di rumah tokoh pergerakan nasional, Chairil bergaul dengan berbagai kalangan—antara lain Des Alwi, Rosihan Anwar, Mochtar Lubis, Jassin, Affandi, Takdir Alisjahbana, dan L.K Bohang. Tahun 1942, Jepang datang. Pada zaman pendudukan Jepang, kehidupan semakin sulit. Chairil melakukan berbagai pekerjaan—sebelum kemudian lontang-lantung sebagai bohemian: berdagang barang bekas, penerjemah di kantor statistik, penyunting akuisisi pada sebuah majalah, bekerja di biro reklame. Dengan mengenang lagi Chairil, mudah-mudahan saja kita punya kesanggupan menghadapi berbagai gelombang kehidupan.
Kita mengenang lagi Chairil, seorang penyair yang ditabalkan oleh Paus Sastra Indonesia sebagai pelopor Angkatan ’45. Tujuh tahun setelah Chairil meninggal, H. B. Jassin menulis buku Chairil Anwar Pelopor Angkatan ’45—edisi baru buku tersebut diterbitkan oleh sebuah penerbit Yogyakarta (2018). Sajak-sajak Chairil, menurut Jassin (2018: 3-4), “dimuat di mana-mana, bukan saja di majalah-majalah kebudayaan atau yang khusus punya lembaran kesusastraan. Tapi juga di majalah dan surat kabar yang tidak mementingkan kesusastraan ….”
Dalam hitungan Jassin, Chairil menulis 70 sajak asli, 4 sajak saduran, 10 sajak terjemahan (serta 6 prosa asli dan 4 prosa terjemahan). Semasa Chairil hidup, boleh jadi hanya buku Deru Campur Debu yang sempat terbit, sementara Kerikil Tajam dan yang Terampas dan yang Putus terbit sesudah hidup penyairnya “terampas” oleh maut. Demikian berartinya sang penyair, hingga dalam sepuluh tahun pertama setelah Chairil meninggal, tak kurang dari 37 tulisan tentang penyair yang mati muda itu (Jassin, 2018: 236-9). Dalam buku berjudul Aku Ini Binatang Jalang: Koleksi Sajak 1942–1949, Pamusuk Eneste (2019: 126-9) mendaftarkan lebih dari 90 tulisan mengenai Chairil Anwar dan karyanya. Perjalanan hidup dan karyanya menginspirasi Sjuman Djaya (2018) pada akhir tahun 1983 merampungkan skenario film Aku: Berdasarkan Perjalanan Hidup dan Karya Penyair Chairil Anwar. Kita mengenang lagi Chairil agar semakin sadar bahwa manusia hanya dapat dikenang melalui karya yang dihasilkannya.
Kita mengenang lagi Chairil, penyair flamboyan bernasib malang dalam urusan cinta. Kisah gelora asmara Chairil, menurut Seno Joko Suyono dkk. (2016: 81), tertuang dalam banyak sajak karyanya. Ada beberapa nama perempuan yang terbaca pada sajak Chairil: Sri Ajati, Karinah Moordjono, Mirat, dan Ida. Chairil memiliki hubungan khusus dengan keempat nama itu. Chairil akhirnya menikah dengan Hapsah Wiraredja. Pasangan ini dikaruniai seorang anak, Evawani Alissa, sebelum pernikahan itu kandas. Dengan mengenang lagi Chairil, semoga saja para jomlo tetap punya semangat membara dalam upaya menjalin hubungan percintaan.
Kita mengenang lagi Chairil Anwar pada momen hari kematiannya. Peristiwa ini terjadi pada akhir April setiap tahun, entah sejak kapan. Mungkin sejak April 1950, setahun semenjak Chairil Anwar dimakamkan di Karet—sebuah tempat yang disebut oleh sang penyair dalam “Yang Terampas dan yang Putus” yang ditulis pada tahun kematiannya. Pada Kamis, 28 April 1949, pukul 14.30 Chairil meninggal setelah tujuh hari terbaring di rumah sakit. Sehari kemudian, delapan opelet serta beberapa sepeda dan delman mengiringi jenazahnya ke Taman Pemakaman Umum Karet Bivak. Kita mengenang lagi hari kematian Chairil untuk memenuhi keinginan sang penyair yang “mau hidup seribu tahun lagi”.