Mengawali pesta akbar perayaan ulang tahun ke-51 Sulawesi Tenggara, Taman Budaya Sulawesi Tenggara menggelar pameran seni rupa. Dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Tenggara, Drs. H. Damsid, M.Si., pada Senin malam, 31 Maret 2015, pameran ini, pertama-tama, membuktikan bahwa seni rupa masih ada di Sulawesi Tenggara. Ini penting disadari oleh kita semua, sekaligus sebagai pemberitahuan pemerintah daerah, baik pemerintah provinsi maupun pemerintah kota/kabupaten, bahwa kesenian bukan hanya musik dan tari seperti yang selalu digadang-gadang pada setiap acara ulang tahun provinsi ini dari tahun ke tahun.
Meskipun tidak begitu jelas siapa dan apa pertimbangan kurator dalam memilih karya, pameran yang diselenggarakan dalam bingkai revitalisasi kebudayaan ini tentu saja menjadi ajang apresiasi seni bagi khalayak. Tidak kurang dari 70 karya perupa yang dipamerkan di studio rupa ini yang meliputi 41 karya berupa gambar/lukisan, 29 seni patung dan seni kriya, bahkan ada satu seni instalasi. Ada 13 perupa yang memamerkan empat puluh satu karya berupa sketsa atau lukisan. Mereka adalah: Aksa, Ardy Pranata, Arham, Dullah, Julianto, La Ode Djagur Bolu, Masjidi, Najamudin, Syamsuri (Kendari), Husain (Konawe), Anggi (Kolaka), Herry Kiswanto dan Ishak (Baubau). Selain karya berupa lukisan, Husain (Konawe) juga memamerkan tiga karya patungnya.
Dalam bidang kriya, La Ode Munandar (Kendari) mendominasi pameran ini dengan karya ukir berupa ikon provinsi ini yakni anoa dan rusa alias jonga, di samping karya ukir kuda dalam berbagai pose, macan, serta singa. Ishak dari Baubau memamerkan berbagai ragam lampu hias dan pada acara pembukaan sempat memamerkan kemahirannya menggambar dengan teknik airbrush. Dan di depan Sanggar Seni Rupa –tempat pameran digelar– sebuah instalasi karya Achmad Zain berjudul "Menguak Tabir" menyambut pengunjung.
***
Kiprah Taman Budaya Provinsi Sulawesi Tenggara menyelenggarakan pameran ini layak diapresiasi. Sebagai warga Sulawesi Tenggara, saya berharap Taman Budaya dapat memenuhi hajat hidup warganya akan sajian seni-budaya yang berkualitas sehingga warga provinsi ini tidak mengalami bencana "kelaparan batin". Pada bulan April tahun ini, Sulawesi Tenggara genap berusia 51 tahun. Sampai saat ini, pada aspek lahiriah, alhamdulillah tidak terdengar ada bencana kelaparan. Namun, pada aspek batiniah, apakah warga provinsi ini sudah cukup mendapat asupan yang memperkaya batin warganya sehingga mereka tidak tergolong, meminjam judul novel Nikolai Gogol, sebagai "jiwa-jiwa mati"?
Pemerintah provinsi dan pemerintah kota ini tentu telah banyak berbuat untuk menyejahterakan warganya. Jalan-jalan membentang menggerakkan roda ekonomi warga. Sungai dan selokan direvitalisasi agar warga terhindar dari banjir. Berbagai fasilitas olahraga dan kesehatan dibangun kembali di tempat yang lebih luas dan tampak lebih megah. Tanah negara diikhlaskan ditukar guling kemudian berdiri pusat perbelanjaan memuaskan hasrat konsumtif warganya. Para pengusaha ramai-ramai membangun ruko, panti pijat dan ruang karaoke sampai tidak terhitung jumlahnya. Para kepala daerah berusaha membangun sesuatu seperti menara atau mesjid di tengah teluk atau jembatan yang diharapkan akan menjadi ikon monumental dan dapat mengingatkan warga akan jasa-jasanya bila kelak dia tidak menjabat lagi. Namun, di kota yang ngebet untuk segera disebut kota metropolitan ini, adakah gedung kesenian yang representatif untuk memberi kesempatan kepada warga kota memperkaya batin masing-masing?
Acara pertunjukan setiap tahun masih tetap bisa dihitung dengan jari, malah semakin menurun dibanding dengan saat Teater Sendiri aktif menyelenggarakan acara Proselamat setiap bulan. Sekitar sepuluh tahun silam, dalam satu tahun Teater Sendiri menyelenggarakan 12 kegiatan seni budaya yang biasa dilaksanakan di Taman Budaya Provinsi Sulawesi Tenggara. Jadi, kalau Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Tenggara menargetkan kegiatan seni budaya di Taman Budaya dilaksanakan minimal empat bulan sekali, maka dari segi kuantitas itu berarti hanya 25 % dari kegiatan yang dilaksanakan di Taman Budaya Provinsi Sulawesi Tenggara sepuluh tahun lalu, oleh sebuah kelompok kesenian yang notabene tidak dibiayai oleh negara.
Lihatlah, betapa mandirinya para pejuang kesenian di Sulawesi Tenggara. Pengorbanan mereka melebihi pengorbanan olahragawan yang diurus dengan baik oleh Dinas Pemuda dan Olahraga, Komite Nasional Olahraga Indonesia Provinsi, serta induk-induk olahraga yang memperoleh dana tetap dari negara. Pengabdian mereka melebihi pengabdian para pelaku kesenian di tempat lain yang lebih maju. Di kota-kota besar lain, jika pemerintah abai terhadap pengembangan seni budaya, masih banyak perusahaan besar yang bersedia menjadi penaja, serta perusahaan media yang mendukung penuh publikasi kegiatannya.
Maka dari itu, tidak aneh kalau khalayak masyarakat, bahkan sebagian pejabat yang memiliki kekuasaan, menganggap seni sebagai hiburan belaka. Mereka tidak mengenal Seni (dengan S) sebagai wujud kreativitas manusia. Pemerintah barangkali sudah merasa cukup menunjukkan kepedulian terhadap pengembangan kesenian apabila pada setiap acara yang diselenggarakannya ada tampilan musik dan tarian yang bisa ditonton. Bahkan, pada setiap acara ulang tahun provinsi atau kabupaten/kota, mungkin dirasakan kurang afdol apabila tidak mengundang penyanyi yang paling tersohor. Adapun warga, cukuplah menjadi penonton: mereka bisa bersorak, bersuit, atau berjoged. Bukankah dengan berjoged, mereka sudah menjadi pelaku seni juga?
***
Bila bahasa menunjukkan bangsa, maka seni budaya adalah jiwa bangsa. Sebagai warga kota ini, saya ingin merasa bangga dengan pemimpin daerah tempat saya tinggal. Seperti warga Kota Bandung merasa bangga punya Walikota Ridwan Kamil atau warga Kota Tanjung Pinang di Kepulauan Riau sana yang mengidolakan Suryatati, walikotanya. Kebanggaan mereka, antara lain, karena orang yang diidolakan itu telah memberi mereka "kota yang berjiwa", sehingga mereka merasa nyaman tinggal di sana. Kota bukan sekadar setumpuk properti hidup yang memenuhi hajat lahiriah warganya, tetapi juga hajat batinnya.
Nutrisi batin itu, yang menjadi penanda maju-mundurnya peradaban suatu bangsa, adalah seni budaya. Warga berhak memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kemampuan apresiatif, dan para pelaku seninya memperoleh kesempatan untuk meningkatkan daya kreativitas dalam berbagai cabang seni yang digeluti: seni musik, seni rupa, seni sastra, seni tari, seni teater. Dengan demikian, pada masa depan warga kota ini tidak hanya menjadi penonton, tetapi sebagian dari mereka menjadi pelaku seni dengan kreativitas tinggi. Ada kelompok musik yang terkenal di level nasional, perupa yang karyanya dipajang di Istana Negara, penyair yang tampil di Winternachten, koreografer yang mementaskan karyanya di Praha, atau drama yang dipentaskan di Edinburgh Festival. Semua itu bisa diawali dengan berfungsinya Taman Budaya Sulawesi Tenggara sebagai laboratorium seni. Semoga.