Kawasan Stasiun terletak di kecamatan Tegal Timur, berada di sebelah timur kawasan alun-alun kota Tegal. Pada tahun 1885 di kota ini dibangun stasiun kereta api sebagai stasiun trem JSM (Java Spoorweg Maatschappij). Kemudian pada tahun 1897 Stasiun Tegal dibeli oleh maskapai perkeretaapian SCS (semarang-Cheribon Stoomtram Maatschappij). Stasiun ini dilengkapi dengan atap besar dari bahan kayu yang mampu mengatapi tiga buah kereta api. Pada tahun 1918, sebagian bangunan direnovasi berdasarkan karya arsitek Henri Maclaine Pont (1885-1971) tetapi atap buatan tahun 1897 tidak diubah banyak (situs budaya.id 2017).
Stasiun tersebut berdiri diatas tanah seluas ± 2.015 meter, stasiun Tegal memiliki luas bangunan ± 1.802 meter dan panjang ± 67,5 meter serta lebar ± 5,5 meter dan tinggi bangunan ± 8 meter. Jauh sebelum dibuka trayek Semarang – Cirebon, pemerintah kolonial merencana pembuatan jalan kereta api sebagai jalur alternatif pengganti jalan mulai digagas pada 18 Januari 1882, yang membuka jalur Tegal – Balapulang melalui Banjaran dan Slawi. Dari Banjaran percabangan akan menghubungkan daerah ke wilayah Pangka. Makna pembuatan rel kereta api itu diantaranya mempermudah jalur pengangkutan komoditas gula seperti di Pangka dan Balapulang. Dengan kata lain pembukaan jalur kereta api makin memudahkan pengiriman hasil perkebunan di pedalaman Tegal menuju pelabuhan Tegal. Pembangunan pelabuhan niaga sebagai pendukung transportasi komoditas perkebunan yang sudah ada semasa cultuurstelsel. Di kawasan pelabuhan Tegal terdapat gudang-gudang penyimpanan kopi dan gula.
Perkembangan berikutnya moda transportasi kereta api diupayakan untuk mengatasi arus mobilitas sosial di kawasan pesisir Jawa serta kondisi jalan Groote Postweg (jalan Daendels) yang dianggap tidak lagi sebagai pilihan karena kondisi jalan yang rusak. Hingga sekarang stasiun Tegal menjadi perlintasan kereta api cukup padat di wilayah pesisir utara yang menghubungkan Jakarta hingga Surabaya.
Sama seperti karya Ponts lainnya, bangunan stasiun Tegal sama persis dengan karya Ponts lainnya yakni menggabungkan antara estetika dan fungsi. Karakter lainnya menggabungkan nilai tradisi setempat. Ini terbukti dengan seksama melihat atap stasiun Tegal. Jika melihat atap stasiun Tegal, tanpa disadari terdapat bangunan cungkup seperti masjid berbentuk limas tumpang dua. Ponts telah menggabungkan antara aristektur Barat dengan setempat yang melahirkan karya arsitektur Indis (Disporabudpar 2013).
Di dekat stasiun Tegal, berdiri bangunan megah peninggalan arsitektur kolonial Belanda. Bangunan adalah gedung Birao atau SCS (Semarang-Cheribon Stoomtram Maatschappij). Gedung SCS dirancang oleh Maclaine Pont (1884-1971). Karya-karya Maclaine Ponts banyak tersebar dan menjadi ikon aristektur kolonial. Rancangan antara lain gedung Technische Hogeschool 1918 (sekarang ITB Bandung), Stasiun Tegal (1911), gereja Pohsarang Kediri (1936) merupakan sejumlah karya Ponts.
Karyanya atas gedung Birao merupakan karya pertamanya di Hindia Belanda. Ia merancang bangunan Semarang Cheriboon Stroomtram Matchappij berkat koneksinya dengan petinggi SCS Henry de Vogel yang notabene merupakan pamannya. Kekuatan bangunan gedung birao ini menjadi dasar pijakan selanjutnya bagi Maclaine Ponts, terutama berkaitan dengan adaptasi lingkungan dan iklim serta pemakaian bahan bangunan.
Luas bangunan gedung Birao ± 7.106 meter berdiri diatas tanah seluas ± 11.000 meter. Panjang bangunan ini ± 120 meter dengan lebar ± 42 meter dan tinggi ± 36 meter. Pilihan pada batu bata dan pemakaian kayu, menjadikan bangunan ini unik dan mampu menyesuaikan dengan iklim tropis. Bangunan ini diselesaikan tahun 1913.
Bangunan Birao kini menjadi milik PT Kereta Api Indonesia (KAI). Sebelumnya pernah digunakan sebagai bangunan sekolah dan Universitas milik Yayasan Pancasakti. Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945) pernah dijadikan markas balatentara Jepang. Termasuk saat revolusi kemerdekaan, gedung SCS menjadi simbol perlawanan terhadap pendudukan Jepang oleh para pemuda yang tergabung dalam Angkatan Muda Kereta Api (AMKA).
Berita proklamasi yang diperoleh para pemuda AMKA, pada tanggal 6 September 1945 menjadikan mereka berkeinginan menaikkan bendera merah putih di gedung SCS. Di tengah ancaman kekuasaan status quo Jepang, pemuda AMKA menaikkan bendera merah putih diatas gedung SCS tanggal 7 September 1945.
Perusahaan Semarang Cheriboon Stroomtramm Matchappij merupakan salah satu perusahaan transportasi kereta api yang melayani trayek Semarang hingga Cirebon melalui Pekalongan dan Tegal. Pada masa pemerintahan kolonial terdapat beberapa perusahaan kereta api. Diantaranya milik perusahaan pemerintah Staats Spoorwegen yang melayani trayek Batavia – Buitenzorg (Bogor). Perusahaan kereta api ini juga membuka trayek Surabaya-Pasuruan-Malang.
Beberapa perusahaan kereta api lainnya yang pernah ada di Indonesia era pemerintah kolonial antara lain Nederlandsch Indiche Spoorweg Matschappij, Semarang Joana Stroomtram Matschappij yang melayani Semarang Juwana, Serajoedal Stroomtramm melayani trayek Banyumas-Cilacap-Banjarnegara hingga Wonosobo.
Gedung Birao adalah saksi bahwa Tegal menjadi penanda transportasi kereta api di Jawa yang tak lekang digerus zaman. Meski banyak yang tak mengetahui dibalik kekokohan bangunan ini (Disporabudpar Kota Tegal, 2013).
Bangunan bersejarah lainnya adalah gudang barang. Gudang Barang pada awalnya stasiun kereta api barang dibangun pada tahun 1912. Jadi untuk mengirim hasil dari perkebunan / barang ke daerah Cirebon dan Semarang. Sedangkan bangun Sub Dipo Loko Tegal telah mengalami beberapa renovasi hanya saja bagian yang asli. Menurut kepala Sub Dipo Tegal (Pak Pri), ada trun table yang berfungsi untuk memutar balik arah lokomotif. Disini ada benda bersejarah yaitu sebuah loko peninggalan Belanda tahun 1920, dan katanya satu-satunya loko tua yang ada di Daop IV PT KAI.
Di lingkungan stasiun terdapat bengkel kereta api dan perumahan pegawai kereta api. Pegawai- Pegawai kereta api ini diambil dari masyarakat lokal yang umumnya dari masyarakat Jawa dan telah mengalami pendidikan teknik pada masa itu. Jaringan jalan kereta api pada tahun 1888 dan tahun 1925 di pulau Jawa merupakan salah satu jaringan terlengkap di Asia pada zamannya (Lombard 2000 dalam Budiyuwono 2014).