Orang Arab dan keturunan Arab di Indonesia sudah sejak lama memainkan peranan penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Termasuk perkembangan kerajaan Islam di nusantara tidak lepas dari peran pedagang Arab.. Bahkan tidak sedikit raja-raja kerajaan Islam di nusantara berasal dari keturunan Arab. Menurut Bahri (2015), kedatangan mereka ke nusantara selain untuk berdagang juga melakukan misi untuk berdakwah.
Prof. LWC Van den Berg dalam Masyhudi (2010) seorang orientalis dan pakar hukum Belanda yang pada tahun 1884-1886 mengadakan penelitian mengenai orang Arab di Hadramaut dan di Indonesia, sebagian besar orang Arab yang bermukim di Nusantara berasal dari Hadramaut. Hanya satu dua diantara mereka yang datang dari Muskat di Teluk Parsi, Hijaz, Mesir atau Afrika Utara. Masyhudi (2010) menyebutkan bahwa kedatangan komunitas Arab dari Hadramaut ke Indonesia di perkirakan terjadi sejak abad pertengahan (abad ke-13).
Keberadaan penjajah Belanda memberikan pengaruh pada pola hidup masyarakat di Indonesia seperti dalam hal bermukim. Peraturan yang diterapkan adalah Wijkenstelsel dan Passenstelsel. Al Qurtuby (2003) dalam Budiyuwono (2014) menjelaskan, kebijakan politik Wijkenstelsel merupakan kebijakan untuk memisahkan dan mengisolasi para etnis masyarakat Eropa dan Timur Asing dari arus integrasi dengan pribumi sejak tahun 1835 sampai 1915. Di tahun 1866 kebijakan tersebut dimuat dalam Staatsblad van Nederlandsch Indie No. 57. Dalam Regeringsreglement tahun 1854, masyarakat Hindia Belanda dibagi dalam tiga mintakat ruang besar, yaitu Europeanen (mintakat ruang orang Eropa), Vreemde Oosetrlingen (mintakat ruang Timur Asing, yaitu orang Tionghoa, India, Arab, dan Melayu), dan Inlander (mintakat orang Pribumi). Kawasan tempat dimana orang Arab tersebut tinggal selanjutnya dikenal sebagai kampung Arab (Bazher 2018).
Menurut Masyhudi (2010), di kota-kota yang berada dekat dengan pantai utara Jawa permukiman etnis Arab sangat mungkin karena kota tersebut pernah dijadikan sebagai pelabuhan, tempat mendaratnya kapal-kapal dari bangsa lain termasuk diantaraya bangsa Arab. Kota Tegal contohnya. Hal ini senada dengan yang disebutkan oleh Budiyuwono (2014) bahwa pada era kolonial, Kota Tegal merupakan satu dari dua kota di pesisir utara Jawa Tengah yang berkembang sebagai kota pelabuhan dan galangan kapal. Posisi pantai yang menunjang pelayaran, menjadikan lokasi pelabuhan Kota Tegal mudah di jangkau dari jalur laut. Hal ini ditandai dengan berlabuhnya kapal dari berbagai negara seperti China, Gujarat, India, dan Belanda. Para pendatang ini selain berlabuh juga melakukan transaksi dagang.
Dalam bukunya, Tegal Stad, Daryono et al (2008) menyebutkan bahwa perkampungan Arab di Kota Tegal berada di sekitar desa Mintaragen, Pekauman, dan Kraton. Kampung Arab tersebut memiliki elemen-elemen fisik yang signifikan dalam membentuk “sense of place” perkampungan tersebut ditambah dengan kebudayaan yang sudah mengalami peleburan dengan budaya setempat. Dalam bidang usaha, kampung Arab terkenal dengan sentra kerajinan kain tenun ATBM.
Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu warga keturunan Arab di Kota Tegal (Pak Ismail), pada tahun 1965, Kabupaten dan Kota Tegal pernah mengalami peristiwa G-30 S/PKI. Tegal berhasil selamat tanpa pertumpahan darah. Rakyat Tegal berjasa dalam menangkap gembong G-30 S/PKI yaitu Kolonel Untung dan Supardjo yang tertangkap di Asemtiga kota Tegal. Dibalik keberhasilan tersebut, warga keturunan Arab di Kota Tegal berjasa dalam penangkapan PKI. Salah satunya adalah ayahanda dari Pak Ismail. Foto di bawah ini adalah kegiatan koordinasi penangkapan gembong G-30 S/PKI di rumah ayahanda Pak Ismail di jalan Gajah Mada. Lelaki yang berada di tengah memakai jaz dan peci adalah ayahanda dari Pak Ismail.
Salah satu jejak kampung Arab di Kota Tega adalah adanya makam Habib Muhammad bin Thohir Al Haddad. Makam tersebut terletak pemakaman Pekauman Kota Tegal yang kelak disebut dengan makam al Hadad. Dilansir dari situs web www.sarkub.com, beliau dilahirkan di kota Geidun, Hadramaut tahun 1838 M. Ayah beliau merupakan merupakan ulama besar di kota Geidun.
Ketika berusia 47 tahun, beliau bersama dua putranya berkunjung ke Indonesia, yakni Habib Alwi bin Muhammad Al Haddad yang berdakwah di Kota Bogor (dimakamkan di Kramat, Empang, Kota Bogor) dan Habib Husein bin Muhammad Al Hadad yang berdakwah di Tuban dan Jombang (pada akhir hayatnya beliau dimakamkan disamping makam ayahnya). Selama 45 hari Habib Muhammad bin Thohir Al Haddad berdakwah dan berdagang ke berbagai kota, termasuk Kota Tegal. Namun tidak lama di Tegal beliau jatuh sakit dan meninggal pada 1885 M. Beliau dimakamkan di Pemakaman Kauman.
Selain makam Al Haddad, bukti jejak keturunan Arab di Tegal adalah Masjid An-Nur yang terletak di jalan Gajah Mada, kelurahan Mintaragen. Masjid tersebut berdiri tahun 1892 dan merupakan hibah dari Syeikh Awod bin Abu Bakar Al Yazidi yang berasal dari Hadramaut. Masjid An-Nur berdiri diatas tanah 960 meter2. Masjid ini adalah bukti keberadaan orang-orang Arab dan pengaruh Timur-Tengah di Tegal (Disporabudpar 2013). Kondisi masjid saat ini sedang direnovasi. Rumah tinggal/hunian kuna juga menjadi bukti jejak keturunan Arab di kota ini.