Batu
Sarung
Sungai, sungai yang bisa untuk bermain adalah sungai yang tidak terlalu dalam dan tidak terlalu deras.
Dalam permainan batu selam ini, biasanya anak-anak akan bermain saat mandi di sore hari. Permainan ini dimainkan oleh anak-anak dan orang dewasa, sarung akan diikat di pinggang baik tepi kain atas maupun tepi kain bawah yang akan berfungsi sebagai pelampung.
Melakukan suit atau hom pim pah untuk menentukan siapa yang menang dan kalah, pemain yang menang akan menyembunyikan batu dan pemain yang kalah akan mencari batu.
Sebelum batu disembunyikan oleh pemain yang menang, mereka akan menyampaikan kriteria batu yang akan disembunyikan. Seperti bentuk, ukuran, warna dan sebagainya.
Pemain yang kalah akan menutup mata sembari pemain yang menang menyembunyikan batu tersebut dengan mengatakan " alah atau alun" yang berarti sudah atau belum.
Batu yang disembunyikan akan di injak oleh salah satu pemain yang menang.
Pemain yang kalah tadi akan mencari batu tersebut dengan menyelam dan mencari kaki siapa yang menginjak batu tersebut.
Jika berhasil, permainan akan dilakukan secara bergantian
Menjaga keseimbangan tubuh, karena permainan ini dimainkan pada tempat yang tidak rata maka ini akan bisa melatih keseimbangan tubuh.
Melestarikan tradisi, batu selam turut melestarikan salah satu permainan tradisional unik dari Solok Selatan.
Menghargai alam, karena permainan ini dimainkan di sungai maka akan menumbuhkan rasa cinta dan penghargaan terhadap lingkungan sekitar.
Mempererat silaturahmi, permainan ini menjadi ajang pertemuan dan keakraban masyarakat sekitar, terutama saat perayaan-perayaan tertentu.
Hiburan dan mengisi waktu luang.
Filosofi
Dalam permainan ini, mengandung makna mencari yang tersirat, orang minang terkenal dalam bahasa kiasan, untuk menyampaikan yang disukai atau tidak disukai cukup dengan kiasan, maka semua orang memahami. Dari permainan batu selam ini, adanya unsur penyidikan, mencari fakta yang sebenarnya, mendalami kasus dimana posisinya, setelah batu itu terangkat maka baru tunjuk pelakunya, maka setelah batu itu disembunyikan dalam air kemudian baru diangkat itu menjelaskan dikaji dulu peristiwa baru menunjuk pelaku dengan adanya bukti, bukti itu batu maka menunjuk pelaku dianggap berkasus harus hati-hati karena salah tunjuk saja dalam bermain sudah disorakan oleh pemain-pemain lainnya.