HMPS IKS - DISKOTIK Bahas Praktik Pekerjaan Sosial di Palestina
DISKOTIK (Diskusi Kolaborasi Terkait Isu Terkini) sukses diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial (HMPS IKS) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dengan tema "Praktik Pekerjaan Sosial di Palestina: Navigasi Kompleksitas & Resiliensi dalam Konteks Kolonial" pada Kamis, 15 Mei 2025, pukul 19.00 WIB secara daring melalui Zoom Meeting.
Acara ini menghadirkan narasumber Shawqi Raji, MA, CAADC, seorang pekerja sosial profesional asal Palestina dan Putra Ramadhan sebagai moderator sekaligus translator. Acara yang sukses diikuti seratus lebih peserta dari berbagai instansi, organisasi, ataupun komunitas yang berbeda-beda.
Beberapa tahun terakhir, kesadaran masyarakat dunia tentang isu terkait Palestina meningkat terutama melalui platform media sosial, seperti Instagram, Tiktok, dan twitter, terutama termasuk dokumentasi kekerasan, penggusuran, dan kondisi kemanusiaan yang terjadi di Gaza Palestina. Maka dari itu, tujuan dari diselenggarakan forum diskusi ini adalah untuk memperoleh pemahaman terkait kondisi, situasi, dan dinamika konflik Palestina-Israel. Selain itu, dapat memperoleh pemahaman akan peran pekerja sosial & organisasi kemanusiaan dalam menyalurkan bantuan serta kemampuan untuk mengimplementasikan langkah-langkah preventif & intervensi yang efektif dalam mengatasi dan mengembalikan keberfungsian sosial di masyarakat.
Acara dibuka oleh Putra Ramadhan selaku moderator, dan dilanjutkan sambutan oleh ketua Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Muhammad Izzul Haq, Ph.D., menyampaikan semoga dengan adanya forum ini dapat memperluas wawasan mahasiswa dan publik terkait isu yang terjadi di palestina. Dilanjutkan sambutan oleh Afifah Afra Azzahroh, selaku ketua Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial (HMPS IKS).
Selanjutnya Shawqi Raji menceritakan mirisnya pembunuhan dan kematian sudah menjadi rutinitas dan dianggap biasa bagi masyarakat Palestina, salah satunya masalah kekerasan sudah menjadi makanan sehari-hari baik kekerasan seksual ataupun yang lainnya, bahkan Israel tidak memandang bulu ketika melakukan kekerasan.
Banyak orang yang memiliki masalah mental itu juga mengakibatkan angka kematian yang sangat tinggi, kebanyakan dirasakan oleh perempuan karena banyaknya perempuan yang sudah menikah dini bahkan dari umur 6 tahun dan yang paling parah perempuan diperlakukan sangat keji oleh Israel.
Selanjutnya dalam pemaparannya, menjelaskan tantangan nyata yang dihadapi para pekerja sosial di Palestina di bawah pendudukan. Situasi politik di Palestina telah menciptakan dua hambatan besar dalam praktik pekerjaan sosial. Pertama, tingginya permintaan akan layanan sosial akibat banyaknya korban kekerasan, pengungsian, keluarga tahanan, serta anak-anak yang kehilangan orang tua.
Kedua, pendudukan militer telah mengakibatkan pembatasan mobilitas, pos pemeriksaan, dan penutupan mendadak mengganggu pemberian layanan. Misalnya, bepergian ke sebuah pertemuan bisa memakan waktu berjam-jam karena penundaan di pos pemeriksaan yang sewenang-wenang. "Hari ini, saya pulang kerja tiga jam lebih awal untuk pertemuan ini, tetapi tertahan di pos pemeriksaan. Sepupu saya ditolak minggu lalu hanya karena nama keluarga kami ada di 'daftar'. Pekerja sosial tidak bisa menjadwalkan kunjungan atau program dengan pasti. Jika seorang klien membutuhkan bantuan mendesak, bisa jadi butuh seminggu untuk menjangkaunya." ujar pemateri.
Selain pembatasan akses, para pekerja sosial juga dihadapkan pada krisis kemanusiaan yang lebih luas. Lonjakan angka kemiskinan, kelaparan, dan pengangguran memperburuk situasi. Di Gaza, orang-orang mengantre berjam-jam hanya untuk mendapatkan roti. Ketika pekerja sosial menawarkan dukungan emosional, keluarga sering membalas "Kami butuh makanan dan tempat tinggal terlebih dahulu."
Fragmentasi keluarga, anak-anak yang dipaksa bekerja karena kehilangan kepala keluarga, serta tingginya kasus trauma dan gangguan kesehatan mental menjadi tantangan lain yang harus dihadapi. Tantangan lain yang tak kalah serius adalah ketergantungan layanan sosial terhadap LSM internasional. Palestina belum memiliki sistem lokal yang stabil dan jumlah tenaga profesional sangat terbatas. Universitas pun belum mampu menyediakan pendidikan pekerjaan sosial yang memadai.
Terakhir, tantangan budaya seperti rendahnya kesadaran akan pentingnya dukungan psikososial serta praktik pernikahan dini masih menjadi hambatan dalam pemberdayaan masyarakat, meskipun sejumlah kampanye penyadaran telah dijalankan.
Shawqi Raji menutup presentasinya dengan pernyataan mengharukan: “Kami adalah korban yang mencoba membantu korban lain. Setiap hari, kami menyeimbangkan ketahanan dengan kelelahan. Pendudukan membuat bahkan kemanusiaan paling dasar menjadi perjuangan – tetapi kami tetap bertahan.”
Setelah pemaparan materi selesai, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang dipandu langsung oleh moderator. Beberapa peserta aktif mengajukan pertanyaan, menunjukkan kepedulian dan rasa ingin tahu yang tinggi terhadap isu kemanusiaan di Palestina, di antaranya adalah Gilang Indra Setiawan, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga. Ia bertanya "Bagaimana pekerjaan sosial di Palestina melakukan pekerjaan kemanusiaan dan memberdayakan kelompok-kelompok rentan di tengah ancaman perang, terutama saat ini dengan semakin sulitnya logistik masuk?". Menanggapi pertanyaan tersebut, pemateri menjelaskan bahwa kondisi di Palestina memang sangat sulit. Namun, para pekerja sosial tetap menunjukkan komitmen yang kuat. Mereka terus bekerja secara penuh di dalam negeri, atau melanjutkan pendidikan di luar negeri sebagai bentuk upaya peningkatan kapasitas. Bagi mereka, menjadi pekerja sosial bukan hanya soal pekerjaan, melainkan merupakan komitmen yang mendalam terhadap kemanusiaan dan perjuangan.
Pertanyaan lain disampaikan oleh Rizal, juga mahasiswa UIN Sunan Kalijaga. Ia mempertanyakan "Bagaimana pemerintah di Palestina menanggapi situasi tersebut, karena menurut saya pemerintah harus bekerja sama dengan banyak organisasi internasional untuk mengatasi situasi tersebut?". Menjawab pertanyaan tersebut, pemateri menegaskan bahwa pemerintah Palestina bersikap sangat terbuka terhadap bantuan dari berbagai pihak. Demikian pula masyarakatnya, yang selalu menyambut dukungan dengan tangan terbuka. Namun demikian, salah satu kendala terbesar yang dihadapi adalah terhambatnya bantuan akibat pembatasan yang dilakukan oleh tentara Israel. Hal ini menjadi tantangan serius dalam upaya menjangkau masyarakat yang paling membutuhkan".
Akhir dari acara DISKOTIK tersebut dilanjut sesi foto bersama dan penyerahan sertifikat kepada narasumber. Dari forum DISKOTIK ini diharapkan dapat membangkitkan kesadaran, empati, dan pemahaman yang lebih mendalam mengenai dimensi kemanusiaan dan dampak kesejahteraan dari konflik Israel-Palestina, serta menambah pengetahuan kita tentang peran pekerja sosial dalam mengembalikan keberfungsian sosial masyarakat yang terdampak.
Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial (HMPS-IKS)
Fakultas Dakwah dan Komunikasi
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
HMPS IKS - DISKOTIK Discusses Social Work Practice in Palestine
DISKOTIK (Collaborative Discussion on Current Issues) was successfully organized by the Student Association of Social Welfare Science Study Program (HMPS IKS) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta with the theme "Social Work Practice in Palestine: Navigating Complexity & Resilience in a Colonial Context" on Thursday, May 15, 2025, at 19.00 WIB online via Zoom Meeting.
The event presented speakers Shawqi Raji, MA, CAADC, a professional social worker from Palestine and Putra Ramadhan as moderator and translator. The successful event was attended by more than one hundred participants from various agencies, organizations, or different communities.
In recent years, the awareness of the world community about issues related to Palestine has increased especially through social media platforms, such as Instagram, TikTok, and twitter, especially including documentation of violence, evictions, and humanitarian conditions that occur in Gaza Palestine. Therefore, the purpose of organizing this discussion forum is to gain an understanding of the conditions, situation, and dynamics of the Palestinian-Israeli conflict. In addition, it can gain an understanding of the role of social workers & humanitarian organizations in distributing aid and the ability to implement effective preventive & intervention measures in overcoming and restoring social functioning in the community.
The event was opened by Putra Ramadhan as the moderator, and continued with remarks by the chairman of the Social Welfare Science Study Program at UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Muhammad Izzul Haq, Ph.D., saying that hopefully this forum can broaden the horizons of students and the public regarding issues that occur in Palestine. Followed by remarks by Afifah Afra Azzahroh, as the head of the Social Welfare Science Study Program Student Association (HMPS IKS).
Furthermore, Shawqi Raji shared the sadness that murder and death have become routine and are considered normal for the Palestinian people, one of which is the problem of violence that has become daily food, both sexual violence and others, even Israel does not discriminate when committing violence.
Many people who have mental problems also cause a very high mortality rate, mostly felt by women because many women have been married early even from the age of 6 years and the worst thing is that women are treated very cruelly by Israel.
She went on to describe the real challenges faced by social workers in Palestine under occupation. The political situation in Palestine has created two major obstacles to social work practice. First, the high demand for social services due to the large number of victims of violence, refugees, families of prisoners, and children who have lost their parents.
Second, the military occupation has resulted in mobility restrictions, checkpoints and sudden closures disrupting service delivery. For example, traveling to a meeting can take hours due to delays at arbitrary checkpoints. "Today, I left work three hours early for this meeting, but was held up at the checkpoint. My cousin was turned away last week just because our family name was on the ‘list’. Social workers cannot schedule visits or programs with certainty. If a client needs urgent help, it could take a week to reach them." said the presenter.
In addition to access restrictions, social workers are also faced with a broader humanitarian crisis. Spikes in poverty, hunger and unemployment exacerbate the situation. In Gaza, people queue for hours just to get bread. When social workers offer emotional support, families often reply “We need food and shelter first.”
Family fragmentation, children forced to work due to the loss of the head of the family, and high cases of trauma and mental health disorders are other challenges that must be faced. Another serious challenge is the dependence of social services on international NGOs. Palestine does not have a stable local system and the number of professionals is very limited. Universities are also unable to provide adequate social work education.
Finally, cultural challenges such as low awareness of the importance of psychosocial support and the practice of early marriage are still obstacles to community empowerment, despite a number of awareness campaigns.
Shawqi Raji closed his presentation with a moving statement: "We are victims trying to help other victims. Every day, we balance resilience with exhaustion. The occupation makes even the most basic humanity a struggle - but we persist."
After the presentation of the material, the event continued with a question and answer session guided by the moderator. Several participants actively asked questions, showing high concern and curiosity about humanitarian issues in Palestine, including Gilang Indra Setiawan, a student of UIN Sunan Kalijaga. He asked “How does social work in Palestine do humanitarian work and empower vulnerable groups amidst the threat of war, especially now with the increasing difficulty of logistics entering?”. Responding to the question, the speaker explained that the conditions in Palestine are indeed very difficult. However, social workers continue to show strong commitment. They continue to work full-time in the country, or continue their education abroad as a form of capacity building. For them, being a social worker is not just a matter of work, but a deep commitment to humanity and the struggle.
Another question was raised by Rizal, also a student of UIN Sunan Kalijaga. He questioned “How does the government in Palestine respond to the situation, because I think the government should work with many international organizations to overcome the situation?”.
Answering the question, the speaker emphasized that the Palestinian government is very open to assistance from various parties. The same goes for the people, who always welcome support with open arms. However, one of the biggest obstacles faced is the obstruction of aid due to restrictions imposed by the Israeli army. This is a serious challenge in trying to reach the people who need it most".
The end of the DISKOTIK event was followed by a group photo session and the handover of certificates to the speakers. From this DISKOTIK forum, it is hoped that it can raise awareness, empathy, and a deeper understanding of the humanitarian dimensions and welfare impacts of the Israeli-Palestinian conflict, and increase our knowledge of the role of social workers in restoring the social functioning of affected communities.
Student Association of Social Welfare Science Study Program (HMPS-IKS)
Faculty of Da'wah and Communication
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta