HMPS IKS - Bahas Pentingnya Berteman Akrab dengan Emosi
Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial (HMPS IKS) divisi Intelektual menyelenggarakan forum DISKOTIK (Diskusi Kolaborasi Terkait Isu Terkini) yang mengangkat tema "Kamu Tak Harus Sempurna: Mari Berteman Akrab dengan Emosi, Kenali, Pahami, dan Jadilah Manusia yang Berharga".
Bertempat di Student Center Lt.3 Timur, pada hari Rabu, 18 Juni 2025. Diskusi yang dibuka secara umum untuk teman-teman mahasiswa yang ingin mengenal emosi secara sehat dalam kehidupan pribadi maupun sosialnya, dengan tujuan agar peserta memahami bahwa emosi bukan untuk ditekan, tetapi untuk dikenali dan dikelola. Dengan menyadari emosi, juga dapat belajar berdamai dengan diri sendiri tanpa harus menjadi sempurna.
Diskusi berlangsung dari pukul 15.30 dengan menghadirkan Miftahul Rizki Rahmawati, S.Sos., sebagai pemateri dan dipandu oleh Verlita Alesya Susanto sebagai moderator.
Diawali dengan pembukaan oleh moderator yang menyinggung sedikit terkait apa itu emosi, yang memang emosi sendiri sudah menjadi bagian dari diri seorang manusia. Emosi juga merupakan teman yang akrab, namun tidak semua orang mampu untuk menyadari, memahami, mengenali, dan mengelola emosi dengan baik dan sehat. Karena emosi juga merupakan bagian dari kehidupan manusia yang mempengaruhi cara berfikir, berperilaku, dan berinteraksi dengan orang lain. Setiap orang pasti mengalami beragam emosi didalam dirinya, baik positif maupun negatif sebagai respon terhadap berbagai situasi atau kondisi.
Selanjutnya, sesi penyampaian materi oleh Miftahul Rizki Rahmawati, S.Sos. Dalam pemaparannya menjelaskan bahwa kecerdasan emosional didefinisikan sebagai kemampuan mengenali, memahami, dan mengelola emosi dengan baik. Oleh karena itu, hal ini sangat penting dalam mengambil keputusan yang bijak, membangun hubungan sosial yang sehat, serta menurunkan resiko stres dan kecemasan. "Kecerdasan emosional bukan hanya soal tampil lembut atau soft spoken, melainkan bagaimana kita menyadari dan mengelola emosi, termasuk dalam konteks hubungan sosial dan pengelolaan stres. Dengan kecerdasan emosional, seseorang juga bisa mengambil keputusan yang lebih bijak serta menciptakan situasi yang aman dan nyaman dalam interaksi sosial", ujarnya.
Materi kemudian dilanjutkan dengan pembahasan mengenai empat pilar utama kecerdasan emosional, yaitu kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi, empati, dan keterampilan sosial terhadap orang lain. Karena keempat pilar ini menjadi dasar dalam membangun kedewasaan emosi yang stabil dan konstruktif.
Selanjutnya, peserta diajak untuk mengenali jenis-jenis emosi dan fungsinya dalam kehidupan. Emosi tidak hanya menjadi reaksi spontan, tetapi juga memiliki fungsi adaptif (misalnya rasa takut yang mendorong perlindungan diri), fungsi sosial (seperti rasa senang yang mempererat hubungan), serta fungsi kognitif (yang memengaruhi perhatian dan pengambilan keputusan). Untuk jenis emosi utama yang dibahas juga meliputi rasa senang, sedih, marah, takut, jijik, ataupun terkejut.
Strategi pengelolaan emosi yang sehat, di mana peserta diperkenalkan pada teknik-teknik sederhana seperti latihan pernapasan, journaling, berbagi cerita dengan orang yang dipercaya, serta latihan mindfulness. Salah satu teknik yang cukup diminati adalah pernapasan 4-4-6, yakni menarik napas selama 4 detik, menahan 4 detik, dan menghembuskan perlahan selama 6 detik. Latihan ini membantu menenangkan sistem saraf dan meredakan ketegangan emosional.
Tidak kalah penting, pemateri juga menekankan pentingnya resiliensi sebagai fondasi dalam menjaga kesehatan mental. Resiliensi dijelaskan sebagai kemampuan untuk bangkit kembali dari kegagalan, tekanan, atau tantangan hidup dengan cara yang positif. Peserta diajak untuk membangun resiliensi melalui berbagai cara, seperti memiliki tujuan hidup yang jelas, menata waktu dengan baik, membangun kebiasaan sehat, serta mengatur ekspektasi secara realistis. Jadi, akhir dari materi ini, disampaikan bahwa dengan mengelola emosi secara bijak, kita tidak perlu menjadi sempurna untuk merasa berharga, cukup berdamai dan berteman akrab dengan emosi yang kita miliki.
Untuk memperkaya pemahaman spiritual, terdapat adanya kutipan-kutipan dari Al-Qur’an seperti QS. Ar-Ra’d: 28 yang menekankan pentingnya ketenangan hati melalui zikir, serta QS. Al-Insyirah: 5-6 yang mengingatkan bahwa di balik setiap kesulitan selalu ada kemudahan. Ayat-ayat ini menjadi penguat batin dalam menghadapi dinamika kehidupan sehari-hari.
Setelah pemaparan materi utama, kegiatan dilanjutkan dengan sesi dialog interaktif berupa tanya jawab dan diskusi bersama para peserta. Sesi ini berlangsung hangat, penuh antusiasme, dan menjadi wadah bagi peserta untuk saling berbagi pandangan serta pengalaman.
Menjelang akhir kegiatan, pemateri mengajak seluruh peserta untuk melakukan sesi refleksi atau terapi sederhana. Peserta diminta menutup mata, diiringi dengan alunan musik yang menenangkan, sambil mendengarkan kata-kata yang dipandu secara perlahan oleh pemateri. Refleksi ini bertujuan untuk membantu peserta mengelola dan mengendalikan emosi, menenangkan pikiran, serta membangun penguatan diri.
Dalam proses tersebut, peserta diajak untuk menyelami diri sendiri, menerima dan memaafkan masa lalu, serta menanamkan afirmasi positif seperti: "kita pasti bisa", "yang lalu biarlah berlalu", dan "sekarang adalah langkah untuk masa depan". Momen refleksi ini menjadi sangat emosional bagi sebagian peserta, beberapa tampak meneteskan air mata sebagai bentuk pelepasan emosi yang selama ini mungkin terpendam, merasa terhubung dengan kata-kata yang disampaikan dan pengalaman hidup mereka masing-masing.
Sesi terakhir yaitu penutup dan tidak lupa sesi foto bersama. Diskusi ini menjadi ruang refleksi dan dialog yang aman untuk berbagi pengalaman emosional secara jujur dan saling mendukung. Diharapkan juga dapat membangun hubungan yang lebih sehat dengan emosinya masing-masing tanpa merasa harus selalu terlihat baik-baik saja dan sempurna. Karena itu, sebagai langkah awal menuju kesehatan mental yang lebih baik.
Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial (HMPS-IKS)
Fakultas Dakwah dan Komunikasi
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
HMPS IKS - Discussing the Importance of Making Friends with Emotions
The Intellectual division of the Social Welfare Science Study Program Student Association (HMPS IKS) held a DISKOTIK (Collaborative Discussion on Current Issues) forum with the theme "You Don't Have to Be Perfect: Let's Make Friends with Emotions, Recognize, Understand, and Be a Valuable Human Being".
Located at the Student Center Lt.3 East, on Wednesday, June 18, 2025. The discussion was opened in general for fellow students who want to get to know emotions in a healthy way in their personal and social lives, with the aim that participants understand that emotions are not to be suppressed, but to be recognized and managed. By being aware of emotions, one can also learn to make peace with oneself without having to be perfect.
The discussion took place from 15.30 by presenting Miftahul Rizki Rahmawati, S.Sos., as the speaker and guided by Verlita Alesya Susanto as the moderator.
Beginning with the opening by the moderator who mentioned a little related to what emotions are, which indeed emotions themselves have become part of a human being. Emotions are also familiar friends, but not everyone is able to realize, understand, recognize, and manage emotions properly and healthily. Because emotions are also a part of human life that affects the way we think, behave, and interact with others. Everyone must experience a variety of emotions within themselves, both positive and negative in response to various situations or conditions.
Furthermore, the material delivery session was delivered by Miftahul Rizki Rahmawati, S.Sos. In her presentation, she explained that emotional intelligence is defined as the ability to recognize, understand, and manage emotions well. Therefore, it is very important in making wise decisions, building healthy social relationships, and reducing the risk of stress and anxiety. "Emotional intelligence is not just about being soft spoken, but how we recognize and manage emotions, including in the context of social relationships and stress management. With emotional intelligence, one can also make wiser decisions and create safe and comfortable situations in social interactions," he said.
The material then continued with a discussion of the four main pillars of emotional intelligence, namely self-awareness, self-control, motivation, empathy, and social skills towards others. Because these four pillars are the basis for building stable and constructive emotional maturity.
Next, participants were invited to recognize the types of emotions and their functions in life. Emotions are not only spontaneous reactions, but also have adaptive functions (such as fear that promotes self-protection), social functions (such as pleasure that strengthens relationships), and cognitive functions (which affect attention and decision-making). The main types of emotions discussed also include pleasure, sadness, anger, fear, disgust, or surprise.
Healthy emotion management strategies, where participants were introduced to simple techniques such as breathing exercises, journaling, sharing stories with a trusted person, and mindfulness exercises. One of the most popular techniques was 4-4-6 breathing, which involves inhaling for 4 seconds, holding for 4 seconds, and exhaling slowly for 6 seconds. This exercise helps calm the nervous system and relieve emotional tension.
Last but not least, the speaker also emphasized the importance of resilience as a foundation in maintaining mental health. Resilience was explained as the ability to bounce back from failure, pressure, or life challenges in a positive way. Participants were invited to build resilience through various ways, such as having clear life goals, managing time well, building healthy habits, and setting realistic expectations. So, at the end of this material, it is conveyed that by managing emotions wisely, we do not need to be perfect to feel valuable, it is enough to make peace and make friends with the emotions we have.
To enrich spiritual understanding, there are quotations from the Qur'an such as QS. Ar-Ra'd: 28 which emphasizes the importance of peace of mind through dhikr, and QS. Al-Inshirah: 5-6 which reminds us that behind every difficulty there is always ease. These verses become an inner strengthener in facing the dynamics of daily life.
After the presentation of the main material, the activity continued with an interactive dialog session in the form of questions and answers and discussions with the participants. This session was warm, full of enthusiasm, and became a forum for participants to share their views and experiences.
Towards the end of the activity, the speaker invited all participants to conduct a simple reflection or therapy session. Participants were asked to close their eyes, accompanied by soothing music, while listening to the words guided slowly by the speaker. This reflection aims to help participants manage and control emotions, calm the mind, and build self-strengthening.
In the process, participants are invited to dive into themselves, accept and forgive the past, and instill positive affirmations such as: "we can do it", "let bygones be bygones", and "now is the step for the future". This moment of reflection became very emotional for some participants, some were seen shedding tears as a form of release of emotions that may have been pent up, feeling connected to the words delivered and their respective life experiences.
The last session was the closing and not forgetting the group photo session. This discussion became a safe space for reflection and dialog to share emotional experiences honestly and support each other. It is also expected to build a healthier relationship with their own emotions without feeling that they always have to look fine and perfect. Therefore, as a first step towards better mental health.
Student Association of Social Welfare Science Study Program (HMPS-IKS)
Faculty of Da'wah and Communication
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta