Salam Guru Penggerak
Pendidikan tidak hanya berbentuk pengajaran yang memberikan pengetahuan pada murid tetapi juga mendidik keterampilan berfikir dan mengembangkan kecerdasan batin, sebagai pendidik kita perlu cermat dalam menempatkan pendidikan pikiran murid sesuai dengan konteks pendidikan nasional sesuai dengan garis-garis bangsa/kultur nasional yang akan melengkapi, mempertajam dan memperkaya pendidikan keterampilan berpikir murid, Ki Hadjar Dewantara menggagas perlunya sistem pendidikan yang humanis dan transformative untuk kemerdekaan murid dengan memperkenalkan sistem among, dengan slogannya Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani, yaitu seorang guru harus berkomitmen menjadi seorang tauladan memberikan contoh yang baik, harus dapat membangkitkan atau menguatkan semangat murid muridnya bukan melemahkannya, dan haruslah mampu memberikan dorongan/menjadikan murid muridnya mandiri yang merdeka dan tumbuh kembang secara maksimal. Sistem ini terbukti masih relevan hingga saat kini dan akan mampu menghantarkan murid siap mengisi zamannya kelak, dimana kita sebagai pendidik harus memandang murid sebagai manusia secara utuh dan berperan dalam menuntun murid agar bisa bertumbuh dan berkembang sesuai kodratnya dengan membantu murid memenuhi kebutuhan pendidikan lahir dan pendidikan batin agar mencapai keseimbangan dalam menjalani kehidupan, sesuai dengan pengertian Pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara yaitu “Pendidikan adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan yang hidup dalam masyarakat, dan daya upaya untuk memajukan perkembangan budi pekerti, pikiran dan jasmani”.
Peran guru sangat penting bagi perkembangan murid dalam membentuk karakter murid muridnya dimasa depan. Pada saat sekarang ini dimana murid murid adalah generasi digital native dengan kemudahan informasi dalam mencari ilmu pengetahuan dan merupakan generasi yang akan membentuk peradaban dan kebudayaan bangsa di masa depan, sehingga hal itu merupakan tantangan bagi guru untuk mampu menyelaraskan peran sebagai pendidik yang relevan dengan konteks murid dan zaman untuk menghantarkan murid – murid untuk berdaya dan menjadi manusia merdeka, menurut Ki Hadjar Dewantara “Manusia merdeka adalah manusia yang hidupnya bersandar pada kekuatan sendiri baik lahir maupun batin, tidak tergantung pada orang lain”. Kita sebagai seorang guru harus mampu menyesuaikan peran untuk menuntun perjalanan belajar mereka dalam mengenali diri, berdaya untuk menentukan tujuan yang relevan dan kontekstual terhadap diri dan lingkungannya dan pada akhirnya menemukan siapa mereka dan menghantarkan mereka menuju cita-citanya, dalam proses pembelajaran apapun yang disampaikan oleh guru dalam segi menfasilitasi proses belajar akan memberikan makna dan berkontribusi pada kecakapan hidup bagi murid – murid saat dewasa sehingga guru harus secara utuh dapat mempersiapkan murid – murid dalam menyongsong masa depan karena merekalah yang akan membentuk masyarakat dan budaya bangsa di masa yang akan datang, seperti kita saat sekarang ini yang merupakan hasil produk pendidikan masa lalu maka merekapun merupakan hasil produk pendidikan pada saat sekarang.
Pendidikan bergerak dinamis menyesuaikan keadaan yang terus bergerak begitu cepat sesuai kodrat alam dan kodrat zaman sehingga guru harus dapat menyelaraskan dan beradaptasi pada perubahan tersebut, menurut Ki Hadjar Dewantara “Segala perubahan yang terjadi pada murid dihubungkan dengan kodrat keadaan, baik alam dan zaman”. Dengan perkembangan dan perubahan zaman yang dinamis, guru perlu adaftif terhadap perubahan dengan terus belajar dimana pendidikan merupakan sarana dalam menumbuhkan karakter moral dan kinerja serta potensi murid sebagai bekal mengisi masa depannya, dengan memahami kodrat alam masing-masing murid dan bagaimana memberikan pengalaman-pengalaman belajar sesuai dimana murid tinggal serta perubahan zaman yang berpengaruh terhadap cara kita mendidik dan mengajar murid, Peran guru dalam memenuhi kebutuhan lahir dan batin murid dengan memandang murid sebagai manusia secara utuh bukan hanya terpusat pada ilmu pengetahuan dan kecerdasan saja namun juga mencakup pendidikan kultural berdasarkan garis bangsa dan budaya, yang akan melengkapi, mempertajam dan memperkaya kecerdasan murid sesuai dengan cita – cita Ki Hadjar Dewantara yaitu kemerdekaan setiap murid mampu mengatur dirinya sendiri agar murid-murid berperasaan, berpikiran dan bekerja merdeka dalam ketertiban bersama, demi mewujudkan cita-cita pendidikan nasional. Pendidikan sejatinya dapat mengantarkan murid untuk keselamatan dan kebahagiaan dan mendorong murid untuk menemukan pemahaman bermakna yang relevan dalam kehidupannya Ki Hadjar Dewantara ingin mengingatkan kita para pendidik untuk menuntun murid mencapai kekuatan-kekuatan kodratnya sesuai dengan alam dan zaman menggunakan asas tricon yaitu kontinyu, konvergen, dan konsentris. Kontinyu, pendidik menuntun murid dengan perencanaan dan pengembangan secara berkesinambungan menyatu dengan alam masyarakat Indonesia untuk mewariskan peradaban. Konvergen, pendidik menuntun murid dengan pemikiran terbuka terhadap segala sumber belajar, mengambil praktek-praktek baik dari kebudayaan lain dan menjadikan kebudayaan kita bagian dari alam universal. Konsentris, pendidik menuntun murid dengan berdasarkan kepribadian karakter dan budaya kita sendiri sebagai pusatnya.
About me
My name is Chofiuddin Muchlis, S.E., M.Ak. and now I work at SMP Negeri 1 Surade as a social studies and crafts subject teacher.
I graduated with a bachelor's degree in 2000 at the Faculty of Economics, majoring in management, and I obtained a Masters in Accounting in 2015.