Modul 2.1
Pembelajaran untuk Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid
Pembelajaran untuk Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid
Pembelajaran berdiferensiasi adalah pendekatan yang memungkinkan guru untuk menciptakan lingkungan belajar yang memadai untuk setiap siswa, dengan mempertimbangkan kebutuhan, minat, dan gaya belajar individu mereka. Prinsip ini didasarkan pada gagasan bahwa setiap siswa adalah unik dan memiliki cara belajar yang berbeda-beda. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk memahami perbedaan ini dan merancang pembelajaran yang sesuai agar setiap siswa dapat mencapai potensi maksimal mereka dengan menerapkan strategi pengajaran yang berfokus pada memenuhi kebutuhan belajar individu murid. Guru yang menerapkan pembelajaran berdiferensiasi memahami bahwa setiap murid memiliki gaya belajar, minat, dan kemampuan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, mereka merancang pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan individu murid masing-masing. Pendekatan ini didasarkan pada keyakinan bahwa semua murid adalah unik dan memiliki cara belajar yang berbeda-beda sehingga guru harus memastikan bahwa semua murid memiliki kesempatan yang sama untuk belajar dan mencapai potensi penuh mereka dengan menekankan pada penciptaan lingkungan belajar yang fleksibel dan responsif di mana semua murid merasa dihargai, dihormati, dan didukung untuk mencapai potensi penuh mereka.
Pembelajaran berdiferensiasi dapat diterapkan di berbagai konteks pendidikan, seperti sekolah negeri, sekolah swasta, dan sekolah alternatif. Pembelajaran berdiferensiasi juga dapat diterapkan di berbagai tingkatan pendidikan, mulai dari prasekolah hingga sekolah menengah atas.
Penerapan pembelajaran berdiferensiasi membutuhkan komitmen dan usaha dari semua pihak yang terlibat, termasuk guru, murid, orang tua, dan administrator sekolah. Guru perlu dilatih untuk menerapkan pembelajaran berdiferensiasi dengan efektif. Murid perlu dilibatkan dalam proses perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran. Orang tua perlu mendukung pembelajaran berdiferensiasi di rumah. Administrator sekolah perlu menciptakan lingkungan yang mendukung pembelajaran berdiferensiasi.
Tujuan pembelajaran berdiferensiasi:
Membantu semua murid mencapai potensi penuh mereka.
Meningkatkan motivasi dan keterlibatan murid dalam belajar.
Menciptakan lingkungan belajar yang positif dan inklusif.
Mengembangkan keterampilan abad ke-21 yang penting bagi murid.
Prinsip-prinsip utama pembelajaran berdiferensiasi:
Berpusat pada murid: Murid adalah pusat dari proses belajar mengajar. Kebutuhan, minat, dan potensi mereka menjadi dasar perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran.
Holistic: Pembelajaran berdiferensiasi memperhatikan semua aspek perkembangan murid, termasuk aspek kognitif, afektif, sosial, dan fisik.
Berdiferensiasi: Pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan dan gaya belajar individu murid.
Berbasis data: Guru menggunakan data untuk memantau kemajuan murid dan membuat keputusan yang tepat tentang pembelajaran.
Terintegrasi: Pembelajaran berdiferensiasi mengintegrasikan berbagai mata pelajaran dan disiplin ilmu untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna.
Kontekstual: Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata dan pengalaman murid.
Aktif dan kolaboratif: Murid terlibat aktif dalam proses belajar dan bekerja sama dengan teman sebayanya.
Berpusat pada karakter: Pembelajaran berdiferensiasi membantu murid mengembangkan karakter positif, seperti tanggung jawab, disiplin, dan rasa hormat.
Berkelanjutan: Pembelajaran berdiferensiasi adalah proses yang berkelanjutan yang terus berkembang dan beradaptasi dengan kebutuhan murid.
Strategi untuk memenuhi kebutuhan belajar murid melalui pembelajaran berdiferensiasi:
Diferensiasi konten: Guru menyediakan berbagai pilihan materi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan minat murid.
Diferensiasi proses: Guru menggunakan berbagai metode pembelajaran yang sesuai dengan gaya belajar individu murid.
Diferensiasi produk: Guru memberikan berbagai pilihan tugas dan penilaian yang memungkinkan murid menunjukkan pemahaman mereka dengan cara yang berbeda.
Lingkungan belajar yang fleksibel: Guru menciptakan lingkungan belajar yang memungkinkan murid untuk belajar dengan cara yang mereka sukai dan dengan kecepatan mereka sendiri.
Dukungan sosial dan emosional: Guru memberikan dukungan sosial dan emosional kepada murid untuk membantu mereka belajar dengan efektif.
Manfaat pembelajaran berdiferensiasi:
Meningkatkan hasil belajar: Murid yang belajar dengan pembelajaran berdiferensiasi cenderung memiliki hasil belajar yang lebih tinggi.
Meningkatkan motivasi dan keterlibatan murid: Murid yang merasa dihargai, dihormati, dan didukung lebih termotivasi untuk belajar dan terlibat dalam proses belajar mengajar.
Mengembangkan keterampilan abad ke-21: Pembelajaran berdiferensiasi membantu murid mengembangkan keterampilan abad ke-21 yang penting, seperti berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, dan pemecahan masalah.
Membangun karakter positif: Pembelajaran berdiferensiasi membantu murid mengembangkan karakter positif yang penting untuk kesuksesan dalam hidup.
Menciptakan lingkungan belajar yang positif dan inklusif: Pembelajaran berdiferensiasi menciptakan lingkungan belajar yang aman, positif, dan inklusif di mana semua murid merasa dihargai, dihormati, dan didukung.
Sunday, 22 October 2023, 5:31 PM
MULAI DARI DIRI
KERAGAMAN DI DALAM KELAS
PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI
CHOFIUDDIN MUCHLIS
CGP Angkatan 9 - Kab. Sukabumi
PERTANYAAN PEMANTIK
1. Bagaimana seorang guru dapat mengelola kelas dan memenuhi kebutuhan belajar murid-muridnya yang berbeda-beda?
Setiap murid memiliki kodrat kekuatan/potensi yang berbeda dan pendidikan hanya sebagai sarana dan tuntunan dalam mengembangkan dan menggali potensi tersebut. Pendidik tidak dapat berkehendak atas kodrat kekuatan atau potensi murid namun dapat memberikan daya upaya maksimal untuk mengembangkan sesuai kodrat dan potensi murid dan membantu mengantarkan murid untuk merdeka atas dirinya sendiri dengan memberikan hak dan kesempatan belajar sesuai keinginan dan bakat serta potensinya dengan kasih sayang yang tulus, medampingi, merawat dan menjaganya serta doa dan harapan untuk kehidupan dan penghidupannya, memelihara dan menjaga bangsa dan alam dimana kemerdekaan dalam belajar merupakan kunci untuk mencapai tujuan pendidikan. Dimana peran guru tidak hanya mengajarkan materi pelajaran, tetapi mendorong murid untuk menemukan pemahaman bermakna yang relevan dengan kehidupannya.
Sebagai Seorang guru, kita harus mampu memberikan pelayanan terbaiknya kepada setiap muridnya. Oleh karena itu dalam pembelajaran kita harus memberikan pembelajaran berpihak pada murid sesuai dengan filosofi pemikiran Ki Hajar Dewantara dengan mengidentifikasi apa saja kebutuhan, karakteristik dan kondisi murid sehingga mampu merancang pembelajaran berbasis pada murid sehingga kebutuhan murid bisa terpenuhi. Dalam pemikiran KHD diungkapkan bahwa murid itu adalah individu yang unik. Karakter, kebutuhan, kondisi atau kemampuan tiap murid itu berbeda. Dalam mengidentifikasi kebutuhan tersebut guru dapat melakukan dengan pembelajaran berdiferensial. Langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam mengelola kelas guna memenuhi kebutuhan murid yang beragam dengan mengidentifikasi setiap keragaman murid terlebih dahulu. Hal tersebut dapat dilakukan menggunakan asesmen diagnostik secara kognitif maupun non kognitif. Asesmen kognitif dapat dilakukan dengan metode free test untuk mengukur tingkat pemahaman dan kesiapan murid salam memahami materi pelajaran, sedangkan asesmen non kognitif dilakukan untuk mengetahui problematika yang dialami oleh peserta didik baik secara sosial dan emosionalnya. Langkah-langkah tersebut akan mampu memahami dalam melaksanakan pembelajaran berdiferensial kepada murid.
REFLEKSI
2. Membuat Refleksi Individu
a. Bayangkanlah kelas yang saat ini Anda ampu dengan segala keragaman murid-murid Anda.
Jawaban:
Saya menemukan berbagai macam karakteristik gaya belajar, beragam kemampuan murid dalam belajar dan beragam potensi yang mereka miliki sehingga saya harus mampu melayani keberagaman tersebut baik persiapan dalam pembelajaran, keragaman gaya belajar, motivasi dan minat belajar serta pemahaman awal siswa mengenai pelajaran yang saya akan berikan
b. Apa yang telah Anda lakukan untuk melayani kemampuan murid yang berbeda? Apa yang Anda lakukan untuk membuat proses pembelajaran menjadi lebih?mudah untuk murid Anda? Apakah ada perlakuan yang berbeda yang anda lakukan? Jika ada, perlakuan seperti apa? Jika tidak ada, apa dampaknya terhadap murid Anda?
Jawaban:
Untuk melayani kebutuhan murid di kelas yang beragam, saya sering melakukan pembelajaran dengan beragam jenis metode dan media pembelajaran yang tentunya bertujuan agar lebih memudahkan murid dalam mengikuti proses pembelajaran di dalam kelas. Perlakuan yang saya berikan tentunya tidak akan sama untuk setiap murid tapi hal itu bertujuan untuk memberikan mengalaman belajar menurut kodrat dan kemampuan mereka masing masing tanpa merasa dipaksa, dimana pada tahap awal terlebih dahulu menganalisis sejauh mana kemampuan yang ada pada murid tersebut melalui asesmen diagnostik yang saya lakukan, misalnya free test yang dilakukan pada pertemuan pertama sebagai cara untuk mengukur kesiapan dan tingkat pemahaman belajar murid. Hal yang saya lakukan untuk mempermudah yakni dengan membuat kelompok belajar dengan metode tutor sebaya, dimana murid yang sudah memiliki pemahaman lebih akan diminta untuk menginformasi mengenai pemahaman yang telah dimilikinya sehingga murid tersebut akan semakin mahir dan tentu saja temannya yang masih minim pemahaman akan mendapatkan gambaran materi. Perlakuan berbeda terkadang dilakukan, misalnya dengan memberikan perhatian lebih kepada murid yang memiliki pemahaman yang kurang pada murid. Dampak murid yang adanya perlakuan khusus yaitu lebih banyak hal yang harus dilakukan oleh saya terutama dalam membimbing siswa yang masih minim dalam segi pemahaman namun akan memberikan dampak terbentuknya pemahaman yang sama dengan murid yang sudah memahami materi sejak awal. Selai itu perlakuan berbeda yang dilakukan dapat memberikan dampak positif bagi murid yang memerlukan perhatian lebih dalam proses pembelajaran. Mereka akan merasa didukung dan diakui karena keunikannya, sehingga meningkatkan motivasi dan keterlibatan dalam pembelajaran. Namun, perlakuan berbeda haruslah adil dan didasarkan pada kebutuhan dan kemampuan individu, bukan diskriminatif atau merugikan bagi murid yang lain.
c. Sebutkan tantangan-tantangan yang Anda hadapi dalam proses pembelajaran di kelas yang disebabkan oleh keragaman murid-murid Anda tersebut? Tindakan- tindakan apa yang telah Anda lakukan untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut?
Jawaban:
Tantangan yang dihadapi, dengan beragamnya karakter dan keunikan setiap murid dalam kelas dan mengajar beberapa kelas menyebabkan keunikan tiap murid dan tiap kelas pun berbeda-beda, sehingga harus lebih banyak lagi menyiapkan rencana pembelajaran dengan model dan media pembelajaran yang bervariasi disesuaikan dengan kerakteristik dan gaya belajar yang diperlukan oleh murid-murid tiap kelas. Dengan keberagaman tersebut akan membutuhkan waktu yang dibutuhkan relatif lama dalam menganalisis dan memahami keragaman murid, metode variatif yang harus konsisten guru lakukan untuk mengakomodir ragam gaya belajar pada murid, dan materi pembelajaran yang banyak menyebabkan kesulitan demi mencapai ketuntasan materi, serta harus konsistennya evaluasi dan refleksi dilakukan. Sedangkan tindakan yang saya lakukan terhadap tantangan yang ditemukan dalam menerapkan pembelajaran berdiferensial yaitu (1) Konsisten mencoba melakukan asesmen diagnostik pada setiap awal pertemuan pembelajaran dan memanfaatkan teknologi informasi dalam merekap data hasil asesmen diagnostik dengan google form atau google sheet dalam merekap hasil asesmen yang telah dilakukan untuk memudahkan tahapan analisis. (2) Mempelajari dan mencoba menerapkan ragam model dan metode pembelajaran yang variatif dengan melihat contoh di berbagai media massa seperti youtube, dll. (3) Menyesuaikan target ketercapaian materi dengan pemahaman murid, biasanya saya tidak memasang target materi 100% harus tuntas disampaikan yang terpenting pemahaman murid mencapai maksimal dalam setiap proses pembelajaran yang dilakukan.
d. Menurut Anda, untuk mengakomodasi tantangan yang terkait dengan keragaman murid tersebut, bagaimana seharusnya pembelajaran itu dirancang, dilaksanakan, dan dievaluasi?
Jawaban:
Untuk menghadapi tantangan tersebut, diperlukan persiapan dalam menyajikan pembelajaran yang mampu memenuhi kebutuhan semua murid sesuai dengan kodrat alam dan zaman, tanpa memaksakan kehendak dari guru kepada murid. Dalam hal ini, pembelajaran yang tepat adalah pembelajaran berdiferensiasi, yang terdiri dari serangkaian pembelajaran yang disesuaikan oleh guru untuk memenuhi kebutuhan murid yang beragam. Guru diharapkan untuk mengevaluasi hasil asesmen, baik kognitif maupun non-kognitif, untuk mengetahui kebutuhan murid secara individu. Dengan cara ini, guru dapat mengakomodasi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan murid yang berbeda-beda.
Tahap rancangan
Pada tahapan ini, saya melakukan pengumpulan data dengan melakukan asesmen diagnostik secara kognitif maupun non-kognitif kepada seluruh murid, Selanjutnya, saya menentukan model dan metode pembelajaran yang variatif dalam menyampaikan materi. Selain itu, saya juga mengitregasikan penggunaan teknologi informasi untuk memaksimalkan proses pembelajaran.
Tahap pelaksanaan
Dalam pembelajaran berdiferensiasi, terdapat tiga tindakan penting yang harus dilakukan. Pertama, menyesuaikan metode, konten, dan penilaian sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing murid. Memberikan bantuan ekstra atau tugas tambahan bagi murid yang memerlukannya. Kedua, menerapkan metode tutor sebaya untuk mengejar ketertinggalan pemahaman dan kemampuan murid. Ketiga, mendorong semua murid untuk berpartisipasi aktif dalam pembelajaran, tanpa memandang latar belakang atau kemampuan mereka.
Tahap evaluasi
Pada tahap ini, saya menjalankan beberapa kegiatan. Pertama, saya memilih berbagai jenis penilaian, termasuk tes tertulis, tugas proyek, presentasi, dan portofolio, untuk memastikan kemampuan murid terukur secara merata. Kedua, saya memberikan umpan balik yang spesifik dan bermanfaat untuk membantu murid berkembang lebih pesat lagi. Ketiga, saya memantau perkembangan mereka secara terus-menerus. Terakhir, saya melakukan refleksi hasil evaluasi untuk menentukan apakah model dan metode pembelajaran yang digunakan sudah sesuai dan efektif.
“Serupa seperti para pengukir yang memiliki pengetahuan mendalam tentang keadaan kayu, jenis-jenisnya, keindahan ukiran, dan cara-cara mengukirnya. Seperti itulah seorang guru seharusnya memiliki pengetahuan mendalam tentang seni mendidik, Bedanya, Guru mengukir manusia yang memiliki hidup lahir dan batin.”
(Ki Hajar Dewantara)
Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid. Keputusan-keputusan yang dibuat tersebut adalah yang terkait dengan:
Kurikulum yang memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas. Bukan hanya guru yang perlu jelas dengan tujuan pembelajaran, namun juga muridnya.
Bagaimana guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar muridnya. Bagaimana ia akan menyesuaikan rencana pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar murid tersebut. Misalnya, apakah ia perlu menggunakan sumber yang berbeda, cara yang berbeda, dan penugasan serta penilaian yang berbeda.
Bagaimana mereka menciptakan lingkungan belajar yang “mengundang’ murid untuk belajar dan bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar yang tinggi. Kemudian juga memastikan setiap murid di kelasnya tahu bahwa akan selalu ada dukungan untuk mereka di sepanjang proses belajar mereka.
Manajemen kelas yang efektif. Bagaimana guru menciptakan prosedur, rutinitas, metode yang memungkinkan adanya fleksibilitas, namun juga struktur yang jelas, sehingga walaupun mungkin melakukan kegiatan yang berbeda, kelas tetap dapat berjalan secara efektif.
Penilaian berkelanjutan. Bagaimana guru tersebut menggunakan informasi yang didapatkan dari proses penilaian formatif yang telah dilakukan, untuk dapat menentukan murid mana yang masih ketinggalan, atau sebaliknya, murid mana yang sudah lebih dulu mencapai tujuan belajar yang ditetapkan.
Pembelajaran berdiferensiasi haruslah berakar pada pemenuhan kebutuhan belajar murid dan bagaimana guru merespon kebutuhan belajar tersebut.
Kaitan dengan Standar Nasional Pendidikan. Di dalam Standar Proses, dijelaskan tentang kriteria minimal proses pelaksanaan pembelajaran yang harus dilakukan guru. Salah satunya terkait dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Dalam pembuatan RPP terdapat beberapa prinsip yang harus diikuti, dimana salah satunya adalah bahwa perencanaan pembelajaran harus dilakukan dengan memperhatikan perbedaan individu setiap peserta didik.
Tomlinson (2001) dalam bukunya yang berjudul How to Differentiate Instruction in Mixed Ability Classroom menyampaikan bahwa kita dapat mengkategorikan kebutuhan belajar murid, paling tidak berdasarkan 3 aspek.
Ketiga aspek tersebut adalah:
Kesiapan belajar (readiness) murid
Minat murid
Profil belajar murid
Sebagai guru, kita semua tentu tahu bahwa murid akan menunjukkan kinerja yang lebih baik jika tugas-tugas yang diberikan sesuai dengan keterampilan dan pemahaman yang mereka miliki sebelumnya (kesiapan belajar). Lalu jika tugas-tugas tersebut memicu keingintahuan atau hasrat dalam diri seorang murid (minat), dan jika tugas itu memberikan kesempatan bagi mereka untuk bekerja dengan cara yang mereka sukai (profil belajar).
Kesiapan belajar (readiness) adalah kapasitas untuk mempelajari materi, konsep, atau keterampilan baru. Sebuah tugas yang mempertimbangkan tingkat kesiapan murid akan membawa murid keluar dari zona nyaman mereka dan memberikan mereka tantangan, namun dengan lingkungan belajar yang tepat dan dukungan yang memadai, mereka tetap dapat menguasai materi atau keterampilan baru tersebut. Ada banyak cara untuk membedakan kesiapan belajar. Tomlinson (2001: 46) mengatakan bahwa merancang pembelajaran mirip dengan menggunakan tombol equalizer pada stereo atau pemutar CD. Untuk mendapatkan kombinasi suara terbaik, biasanya Anda akan menggeser-geser tombol equalizer tersebut terlebih dahulu. Saat Anda mengajar, menyesuaikan “tombol” dengan tepat untuk berbagai kebutuhan murid akan menyamakan peluang mereka untuk mendapatkan materi, jenis kegiatan dan menghasilkan produk belajar yang tepat di kelas Anda. Tombol-tombol dalam equalizer tersebut sebenarnya menggambarkan beberapa perspektif yang dapat kita gunakan untuk menentukan tingkat kesiapan belajar murid. Dalam modul ini, kita hanya akan mencoba membahas 6 dari beberapa contoh perspektif yang terdapat dalam Equalizer yang diperkenalkan oleh Tomlinson (2001: 47) tersebut.
Tombol-tombol dalam equalizer mewakili beberapa perspektif kontinum yang dapat digunakan untuk menentukan tingkat kesiapan murid. Dalam modul ini, kita akan mencoba membahas 6 dari beberapa contoh perspektif kontinum tersebut, dengan mengadaptasi alat yang disebut Equalizer yang diperkenalkan oleh Tomlinson (Tomlinson, 2001).
Bersifat mendasar - Bersifat transformatif
Saat murid dihadapkan pada sebuah ide yang baru, yang mungkin belum dikuasainya, mereka akan membutuhkan informasi pendukung yang jelas, sederhana, dan tidak bertele-tele untuk dapat memahami ide tersebut. Mereka juga akan perlu waktu untuk berlatih menerapkan ide-ide tersebut. Selain itu, mereka juga membutuhkan bahan-bahan materi dan tugas-tugas yang bersifat mendasar serta disajikan dengan cara yang membantu mereka membangun landasan pemahaman yang kuat. Sebaliknya, saat murid dihadapkan pada ide-ide yang telah mereka kuasai dan pahami, tentunya mereka membutuhkan informasi yang lebih rinci dari ide tersebut. Mereka perlu melihat bagaimana ide tersebut berhubungan dengan ide-ide lain untuk menciptakan pemikiran baru. Kondisi seperti itu membutuhkan bahan dan tugas yang lebih bersifat transformatif.
Konkret - Abstrak
Di lain kesempatan, guru mungkin dapat mengukur kesiapan belajar murid dengan melihat apakah mereka masih di tingkatan perlu belajar secara konkret, sehingga mereka mungkin masih perlu belajar dengan menggunakan beragam alat-alat bantu berupa benda konkret atau contoh-contoh konkret, atau apakah murid sudah siap bergerak mempelajari sesuatu yang lebih abstrak, sehingga mereka mungkin mulai dapat diperkenalkan dengan konsep-konsep yang lebih abstrak.
Sederhana - Kompleks
Beberapa murid mungkin perlu bekerja dengan materi lebih sederhana dengan satu abstraksi pada satu waktu, yang lain mungkin bisa menangani kerumitan berbagai abstraksi pada satu waktu.
Terstruktur - Terbuka
Saat menyelesaikan tugas, kadang-kadang ada murid-murid yang masih memerlukan struktur yang jelas, sehingga tugas untuk mereka perlu ditata dengan tahapan yang jelas dan cukup rinci, di mana mereka tidak memiliki terlalu banyak keputusan untuk dibuat. Sementara mungkin murid-murid lainnya sudah siap untuk menjelajah dan menggunakan kreativitas mereka.
Tergantung (dependent) - Mandiri (Independent)
Walaupun pada akhirnya kita mengharapkan bahwa semua murid kita dapat belajar, berpikir, dan menghasilkan pekerjaan secara mandiri, namun sama seperti tinggi badan, mungkin seorang anak akan lebih cepat bertambah tinggi daripada yang lain. Dengan kata lain, beberapa murid mungkin akan siap untuk kemandirian yang lebih awal daripada yang lain.
Lambat - Cepat
Beberapa murid dengan kemampuan yang baik dalam suatu mata pelajaran mungkin perlu bergerak cepat melalui materi yang telah ia kuasai atau sedikit menantang. Tetapi di lain waktu, murid yang sama mungkin akan membutuhkan lebih banyak waktu daripada yang lain untuk mempelajari topik yang lain.
Perlu diingat bahwa kesiapan belajar murid bukanlah tentang tingkat intelektualitas (IQ). Hal ini lebih kepada informasi tentang apakah pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki murid saat ini, sesuai dengan keterampilan atau pengetahuan baru yang akan diajarkan. Adapun tujuan melakukan identifikasi atau pemetaan kebutuhan belajar murid berdasarkan tingkat kesiapan belajar adalah untuk memodifikasi tingkat kesulitan pada bahan pembelajaran, sehingga dipastikan murid terpenuhi kebutuhan belajarnya (Joseph, Thomas, Simonette & Ramsook, 2013: 29).
Minat merupakan suatu keadaan mental yang menghasilkan respons terarah kepada suatu situasi atau objek tertentu yang menyenangkan dan memberikan kepuasan diri. Tomlinson (2001: 53), mengatakan bahwa tujuan melakukan pembelajaran yang berbasis minat, diantaranya adalah sebagai berikut:
membantu murid menyadari bahwa ada kecocokan antara sekolah dan kecintaan mereka sendiri untuk belajar;
mendemonstrasikan keterhubungan antar semua pembelajaran;
menggunakan keterampilan atau ide yang dikenal murid sebagai jembatan untuk mempelajari ide atau keterampilan yang kurang dikenal atau baru bagi mereka, dan;
meningkatkan motivasi murid untuk belajar.
Minat sebenarnya dapat kita lihat dalam 2 perspektif. Yang pertama sebagai minat situasional. Dalam perspektif ini, minat merupakan keadaan psikologis yang dicirikan oleh peningkatan perhatian, upaya, dan pengaruh, yang dialami pada saat tertentu. Seorang anak bisa saja tertarik saat seorang gurunya berbicara tentang topik hewan, meskipun sebenarnya ia tidak menyukai topik tentang hewan tersebut, karena gurunya berbicara dengan cara yang sangat menghibur, menarik dan menggunakan berbagai alat bantu visual. Yang kedua, minat juga dapat dilihat sebagai sebuah kecenderungan individu untuk terlibat dalam jangka waktu lama dengan objek atau topik tertentu. Minat ini disebut juga dengan minat individu. Seorang anak yang memang memiliki minat terhadap hewan, maka ia akan tetap tertarik untuk belajar tentang hewan meskipun mungkin saat itu guru yang mengajar sama sekali tidak membawakannya dengan cara yang menarik atau menghibur.
Karena minat adalah salah satu motivator penting bagi murid untuk dapat ‘terlibat aktif’ dalam proses pembelajaran, maka memahami kedua perspektif tentang minat di atas akan membantu guru untuk dapat mempertimbangkan bagaimana ia dapat mempertahankan atau menarik minat murid-muridnya dalam belajar.
Beberapa cara yang dapat dilakukan oleh guru untuk menarik minat murid diantaranya adalah dengan:
menciptakan situasi pembelajaran yang menarik perhatian murid (misalnya dengan humor, menciptakan kejutan-kejutan, dsb),
menciptakan konteks pembelajaran yang dikaitkan dengan minat individu murid,
mengkomunikasikan nilai manfaat dari apa yang dipelajari murid,
menciptakan kesempatan-kesempatan belajar di mana murid dapat memecahkan persoalan (problem-based learning).
Seperti juga kita orang dewasa, murid juga memiliki minat sendiri. Minat setiap murid tentunya akan berbeda-beda. Sepanjang tahun, murid yang berbeda akan menunjukkan minat pada topik yang berbeda. Gagasan untuk membedakan melalui minat adalah untuk "menghubungkan" murid pada pelajaran untuk menjaga minat mereka. Dengan menjaga minat murid tetap tinggi, diharapkan dapat meningkatkan kinerja murid. Hal lain yang perlu disadari oleh guru terkait dengan pembelajaran berbasis minat adalah bahwa minat murid dapat dikembangkan. Pembelajaran berbasis minat seharusnya tidak hanya dapat menarik dan memperluas minat murid yang sudah ada, tetapi juga dapat membantu mereka menemukan minat baru.
Untuk membantu guru mempertimbangkan pilihan yang mungkin dapat diberikan pada murid, guru dapat mempertimbangkan area minat dan moda ekspresi yang mungkin digunakan oleh murid-murid mereka. (Tomlinson, 2001)
Profil Belajar mengacu pada cara-cara bagaimana kita sebagai individu paling baik belajar. Tujuan dari mengidentifikasi atau memetakan kebutuhan belajar murid berdasarkan profil belajar adalah untuk memberikan kesempatan kepada murid untuk belajar secara natural dan efisien. Namun demikian, sebagai guru, kadang-kadang kita secara tidak sengaja cenderung memilih gaya belajar yang sesuai dengan gaya belajar kita sendiri. Padahal kita tahu setiap anak memiliki profil belajar sendiri. Memiliki kesadaran tentang ini sangat penting agar guru dapat memvariasikan metode dan pendekatan mengajar mereka.
Profil belajar murid terkait dengan banyak faktor. Berikut ini adalah beberapa diantaranya:
Preferensi terhadap lingkungan belajar, misalnya terkait dengan suhu ruangan, tingkat kebisingan, jumlah cahaya, apakah lingkungan belajarnya terstruktur/tidak terstruktur, dsb.
Contohnya: mungkin ada anak yang tidak dapat belajar di ruangan yang terlalu dingin, terlalu bising, terlalu terang, dsb.
Pengaruh Budaya: santai - terstruktur, pendiam - ekspresif, personal - impersonal.
Preferensi gaya belajar.
Gaya belajar adalah bagaimana murid memilih, memperoleh, memproses, dan mengingat informasi baru. Secara umum gaya belajar ada tiga, yaitu:
visual: belajar dengan melihat (misalnya melalui materi yang berupa gambar, menampilkan diagram, power point, catatan, peta, graphic organizer );
auditori: belajar dengan mendengar (misalnya mendengarkan penjelasan guru, membaca dengan keras, mendengarkan pendapat saat berdiskusi, mendengarkan musik);
kinestetik: belajar sambil melakukan (misalnya bergerak dan meregangkan tubuh, kegiatan hands on, dsb).
Mengingat bahwa murid-murid kita memiliki gaya belajar yang berbeda-beda, maka penting bagi guru untuk berusaha menggunakan kombinasi gaya mengajar.
Preferensi berdasarkan kecerdasan majemuk (multiple intelligences): Teori tentang kecerdasan majemuk menjelaskan bahwa manusia sebenarnya memiliki delapan kecerdasan berbeda yang mencerminkan berbagai cara kita berinteraksi dengan dunia. Kecerdasan tersebut adalah visual-spasial, musical, bodily- kinestetik, interpersonal, intrapersonal, verbal-linguistik, naturalis, logic- matematika.
https://drive.google.com/file/d/1nJTqpsphnwdOJVZVEoA1ewuVQtOAJdMu/view?usp=drive_link
https://drive.google.com/file/d/1exBsQw-IZIjGCtIdAyeZDeD0A2P_pK9U/view?usp=drive_link
https://drive.google.com/file/d/1177KW0tLpC7qGzigZWweP6PI_du57iOD/view?usp=drive_link