Thursday, 31 August 2023, 9:45 PM
Link Video Jurnal Refleksi Modul 1.1_Chofiuddin Muchlis:
https://drive.google.com/file/d/1lCgwS5Rfn1EkernhyGcj1JBC6dtILOmh/view?usp=sharing
JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN MODUL 1.1
FILOSOFIS PEMIKIRAN KI HADJAR DEWANTARA
Nama : Chofiuddin Muchlis, S.E., M.Ak.
Asal Instansi : SMPN 1 Surade
CGP Angkatan 9 Kab.Sukabumi
Fasilitator : Ida Liana, M.Pd
Pengajar Praktik : Iis Aisyah Citra Dewi, S.Pd
MODEL REFLEKSI:
FACT (PERISTIWA)
Pengalaman saya mengikuti kegiatan CGP selama dua minggu ini dengan mengikuti serangkaian kegiatan yang dilaksanakan secara daring bersama fasiitator dan pengajar praktek melalui vicon dan penugasan mandiri. terdiri dari: Mulai dari diri, Eksplorasi konsep, Ruang Kolaborasi, Demonstrasi Konstektual, Elaborasi Pemahaman, dan Aksi nyata yang bila disingkat menjadi kata MERDEKA, kegiatan Lokakarya Orientasi yang dilaksanakan secara daring menggunakan vicon pada tanggal 30 Agustus 2023
Dalam mengikuti pembelajaran Modul 1 ini dimulai Dari Diri sendiri, refleksi pemikiran KHD. eksplorasi konsep serta berdiskusi Bersama fasilitator dan CGP lainnya mengenai filosofi KHD. Setelah itu, di ruang kolaborasi saya dengan teman-teman saling sharing dan berdiskusi mengenai filososfi KHD dan penerapannya disekolah. terakhir mengikuti kegiatan elaborasi pemahaman dan lokakarya bersama instruktur, disana banyak ilmu dan pengalaman yang disampaikan instruktur dan teman CGP lainnya.
FEELING (PERASAAN)
Perasaan saya mengikuti kegiatan ini di dua minggu ini tentunya sangat senang dan bangga bisa diberi kesempatan untuk mengikuti kegiatan PGP ini.
Di lain sisi saya harus dapat mengatur waktu antara tugas pokok saya sebagai pendidik dengan tugas yang lainnya, dimana saya merasa khawatir tidak bisa menyelesaikan tugas tepat waktu terlebih tugas saya. Namun, alhamdulillah seiring berjalannya waktu saya bisa beradaptasi dengan keadaan yang sedang dijalani dengan belajar memanage waktu dengan baik dan semakin bersemangat untuk meyelesaikan kegiatan di Program Pendidikan Guru Penggerak ini.
FINDINGS (PEMBELAJARAN)
Pengalaman berharga yang saya dapatkan yaitu Ketika mendapatkan banyak ilmu tentang filosofi Pendidikan KHD dan saat berdiskusi dengan fasilitator, pp dan rekan CGP serta instruktur. saya mulai menyadari bahwa pemikiran KHD begitu luar biasa untuk diterapkan disekolah. Setelah mempelajari modul 1.1 saya mengetahui bahwa sebagai pendidik saya harus menerapkan proses pembelajaran yang berpusat pada siswa yang dimana guru sebagai fasilitator yang menuntun siswa untuk menggali potensinya. Sebagai pendidik saya harus bisa memberikan kebebasan pada peserta didik dalam menyelesaikan tugasnya, sesuai dengan minat, bakat, dan kretifitasnya masing-masing, Selain itu saya harus memahami karakteristik siswa dan harus menciptakan pembelajaran yang menarik dan menyenangkan sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman yang berorientasi pada konsep merdeka belajar.
FUTURE (PENERAPAN)
Setelah selesai mengerjakan rangkaian modul 1.1 tentang Filosofi pendidikan KHD saya akan berusaha untuk mengimplementasikann pemikiran Ki Hadjar Dewantara dalam setiap kegiatan di sekolah dengan merancang pembelajaran sesuai kodrat alam dan kodrat zaman. Saya akan menjadi guru yang bisa menuntun siswa sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zamannya. saya akan menjadi guru yang bisa menuntun dan menjadi teladan bagi mereka, seperti pembelajaranyang menyenangkan dengan memanfaatkan teknologi yang di sukai oleh siswa/ media aplikasi.
uesday, 19 September 2023, 7:50 PM
Jurnal refleksi dwi mingguan modul 1.2
Nilai dan Peran Guru Penggerak
Nama : Chofiuddin Muchlis, S.E., M.Ak.
Asal Instansi : SMPN 1 Surade
CGP Angkatan 9 Kab.Sukabumi
Fasilitator : Ida Liana, M.Pd
Pengajar Praktik : Iis Aisyah Citra Dewi, S.Pd
Model 4F.
Fact (Peristiwa)
Dalam mempelajari modul 1 sub modul 1.2 tentang Paradigma dan Visi Guru Penggerak (Nilai dan Peran Guru Penggerak). Hal yang dipelajari pertama kali yaitu mempelajari materi tentang “Mulai dari Diri” sesuai dengan petunjuk yang ada di LMS. Setelah mempelajari materi mulai dari diri kami memasuki kegiatan Ekplorasi Konsep dimana tugasnya memberikan komentar dari setiap materi kemudian menjawab pertanyaan pemantik dan menanggapi tulisan teman cgp lain minimal 2 cgp. Setelah itu kami melakukan kegiatan pada Ruang kolaborasi 1 forum diskusi tentang Nilai-nilai dan Peran Guru Penggerak, dan Ruang kolaborasi 2 presentasi hasil diskusi dari masing masing kelompok
Selanjutnya melakukan Demonstrasi Konstektual dimana dalam kegiatan ini membuat karya narasi tentang gambaran diri sebagai Guru Penggerak dimasa depan. Dan pada hari rabu, 13 September 2023, melakukan kegiatan Elaborasi pemahaman secara online dengan menggunakan fasilitas flatform G-meet dengan instruktur Dr. Suwardi, M.Pd. dimana dalam kegiatan elaborasi ini kami membahas tentang nilai dan peran Guru dan mengisi penilaian instruktur. Setelah melakukan kegiatan Elaborasi, kami menganalisis Koneksi antar materi yaitu menuliskan refleksi tentang pembelajaran dari modul 1.1 hingga modul 1.2 dengan menggunakan refleksi model 4F untuk menguraikannya, dan membuat aksi nyata untuk melaksanakan rencana yang telah dituliskan pada refleksi 4P di bagian Koneksi Antar Materi mengenai “pengembangan diri yang sederhana, konkret dan rutin serta dapat dilakukan sendiri dari sekarang”. dalam bentuk dokumentasi dengan format singkat atau kumpulan foto dan pada tanggal 16 September 2023 kami mengadakan kegiatan lokakarya 1 yang dilakukan di SMA Negeri 1 Sukaraja, dan selanjutanya menuliskan jurnal dwimingguan 1.2.
Feeling (Perasaan)
Perasaan yang pertama kali muncul yaitu adanya rasa senang dalam hati karena telah menyelesaikan modul 1.1 dengan tuntas dan lanjut mempelajari isi modul 1.2 tentang Nilai dan Peran Guru Penggerak. Ketika melihat topik bahasan di eklsplorasi konsep membuat saya tertarik sekali untuk mempelajarinya, akan tetapi melihat tugas-tugas yang harus diselesaikan muncul lagi rasa khawatir dalam diri ini takut tidak bisa menyelesaikan tugas-tugasnya tepat waktu karena bersamaan dengan aktifitas disekolah dan aktifitas lainnya yang sama sama harus dikerjakan. Akan tetapi, hal pokok yang saya tanamkan dalam hati saya, saya pasti bisa menyelesaikan modul 1.2 ini dengan baik, seperti menyelesaikan modul sebelumnya. Setelah dijalani, ternyata apa yang saya khawatirkan itu tidak terjadi dan semua berjalan dengan baik. Ini karena adanya kolaborasi yang baik antara fasilitator, pengajar praktik, dan teman-teman CGP khususnya yang satu kelompok yang selalu mengingatkan dan saling membantu dalam menyelesaikan modul 1.2. Dan juga dukungan dari kepala sekolah serta rekan-rekan sejawat yang selalu memberi dukungan untuk tetap semangat menjalani progam guru penggerak ini.
Finding (Penemuan)
Pembelajaran yang saya dapatkan dari modul 1.2 ini diantaranya, saya belajar cara membuat trapesium usia, hubungan antara emosi, cara kerja otak, kebutuhan dasar manusia, daya untuk memilih, motivasi intrinsik, dan struktur sistemik lingkungan dalam pembentukan nilai-nilai dalam diri seseorang. Hal yang berikutnya saya pelajari yaitu menjelaskan makna Profil Pelajar Pancasila dalam transformasi pendidikan, menjelaskan makna peran guru penggerak dalam transformasi pendidikan, mengetahui bahwa keteladanan dan sistem pembiasaan yang konsisten di suatu lingkungan mempengaruhi penumbuhan nilai-nilai dalam diri seseorang, dan mengelaborasi makna pemimpin pembelajaran di sekolahnya masing-masing. Selain itu saya juga belajar tentang bagaimana otak bekerja, kebutuhan dasar manusia, tahap tumbuh kembang anak dan tahap perkembangan psikososial Erik Erikson. Di modul 1.2 ini yang paling utama yaitu mempelajari Nilai-nilai dan Peran sebagai Guru Penggerak. Banyak sekali pelajaran yang saya dapatkan mengenai hal tersebut khusunya lewat forum diskusi kelompok dan untuk lebih mendalami materi materi tersebut yaitu pada kegiatan elaborasi yang dipandu oleh instruktur yang luar biasa.
Future (Penerapan)
Dari hasil pembelajaran di modul 1.2 ada rencana yang ingin saya wujudkan atau praktekan untuk menumbuhkan dan menebalkan nilai-nilai dan peran sebagai guru penggerak yaitu: Nilai berpihak pada siswa, saya ingin praktekan dengan melakukan proses pembelajaran yang berpusat pada siswa. Nilai mandiri, saya ingin praktekan dengan mengikuti berbagai macam kegiatan pengembangkan diri (pendidikan atau pelatihan) dengan kesadaran sendiri untuk selalu belajar akan hal hal baru sesuai dengan perkembangan zaman tanpa harus disuruh ataupun diperintah oleh atasan Nilai reflektif, saya ingin praktekan dengan selalu memaknai setiap kegiatan yang dilakukan yaitu dengan selalu mengevaluasi diri terhadap apa yang sudah dilaksanakan untuk bahan tindak lanjut dengan meningkatkan hal hal yang baik dan memperbaiki hal yang masih kurang Nilai kolaboratif, saya ingin praktekan dengan membangun kerjasama positif bersama warga disekolah dengan menciptakan kepercayaan dengan saling mengisi dan saling melengkapi satu sama lain untuk mencapai visi bersama. Nilai inovatif, saya ingin praktekan dengan selalu berusaha berkreasi dan berinovasi khususnya dalam pembuatan media belajar, strategi pembelajaran yang berorientasi pada siswa.
Monday, 2 October 2023, 9:14 PM
Nama : Chofiuddin Muchlis, S.E., M.Ak.
Asal Instansi : SMPN 1 Surade
CGP Angkatan 9 Kab.Sukabumi
Fasilitator : Ida Liana, M.Pd
Pengajar Praktik : Iis Aisyah Citra Dewi, S.Pd
Jurnal refleksi dwi mingguan modul 1.3 ini saya buat dengan menerapkan model DEAL (Description, Examination and Articulation of Learning) yang dikembangkan oleh Ash dan Clayton (2009).
Description
Dalam pembelajaran Modul 1.3, membahas tentang cara membuat visi atau mimpi seorang guru penggerak mengenai murid di masa depan. Dalam proses awal pembelajaran, kita diminta merefleksikan diri pada alur mulai dari diri, dan kita mencoba untuk membuat sebuah mimpi tentang bagaimana gambaran murid impian kita di masa depan. Dalam tugas ini, saya mengimajinasikan murid saya mencapai kebahagiaan dan kesuksesan sesuai dengan cita-cita mereka masing-masing dengan mempunyai karakter berakhlak mulia yang dilandasi atas dasar Iman dan Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta mempunyai kemampuan dan keterampilan berfikir dan bernalar kritis siswa terutama yang berkaitan dengan kemampuan untuk berpikir secara kritis dalam menerima berbagai jenis informasi, berpikir kreatif dalam memecahkan suatu masalah dengan menggunakan pengetahuan yang dimiliki serta membuat keputusan dalam situasi-situasi yang kompleks. Dari imajinasi murid impian tersebut, saya mengimplementasikan dalam sebuah rumusan visi yang saya impikan yaitu “Mewujudkan Siswa yang berakhlak mulia dan Bernalar Kritis”. Dimana visi tersebut mudah untuk diingat dan dipahami.
Pada tahap eksplorasi konsep dalam perumusan visi, saya mempelajari bagaimana membuat visi yang baik dengan dengan melalui tahapan menyusun prakarsa perubahan melalui Inkuiri Apresiatif dan rancangan A-T-A-P dan tahapan BAGJA (Buat pertanyaan, Ambil pelajaran, Gali Mimpi, Jabarkan rencana, Atur Eksekusi), serta bagaimana sebagai guru penggerak, dalam merumuskan sebuah Visi haruslah selaras dengan filosofi KHD yang menyatakan bahwa tujuan pendidikan adalah untuk membimbing kodrat yang ada pada murid agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya, baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Oleh karena itu, dalam menyusun visi pengajaran, guru penggerak harus fokus dan berpihak pada murid agar mereka dapat berkembang sesuai dengan kodrat alam dan zaman yang ada. hal ini sangat penting untuk menciptakan generasi yang tangguh dan siap menghadapi masa depan yang penuh tantangan. Dengan menerapkan tahapan prakarsa perubahan melalui Inkuiri Apresiatif dan rancangan A-T-A-P dan tahapan BAGJA tergambar jelas bagaimana proses merumuskan visi serta bagaimana untuk mewujudkan visi tersebut.
Dalam ruang kolaborasi merupakan salah satu alur yang sangat penting, karena dapat melakukan diskusi dan sharing dengan sesame teman-teman CGP yang lainnya dan tentunya mendapat pencerahan dan wawasan yang lebih luas dari Ibu Ida Liana, M.Pd sebagai fasilitator kami. Pada sesi diskusi kelompok saya memaparkan visi hasil kesepakatan bersama kelompok yakni visi “Mewujudkan peserta didik yang BERMARTABAT (Berkemajuan dan unggul dalam keilmuan, Mandiri, Reflektif, Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Berakhlak Mulia serta Bertanggungjawab) sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila”. Di dalam ruang diskusi, saya menjelaskan mengapa visi ini saya anggap penting dan apa alasan kelompok dalam membuat Visi tersebut. Pada visi tersebut saya berusaha menjelaskan gambaran bahwa setiap anak yang terlahir ke dunia ini memiliki kelebihan dibalik segala kekurangan yang tampak oleh mata dan tugas kita sebagai guru adalah menuntun segala potensi yang ada pada anak tersebut bukan sesuai dengan keinginan kita. Ada nilai-nilai kebajikan yang termuat dalam visi yaitu mewujudkan profil pelajar Pancasila. Pastinya untuk mewujudkan visi tersebut diperlukan prakarsa perubahan dan dirancang suatu tindakan perubahan dengan menggunakan model inkuiri apresiatif (IA) dengan tahapan BAGJA dengan mengangkat sebuah Prakarsa perubahan menciptakan proses pembelajaran yang menyenangkan dan menumbuhkembangkan karakter akhlak mulia, Berdasarkan diskusi dengan teman-teman dan masukan dari Ibu fasilitator, akhirnya saya bisa memahami cara membuat prakarsa perubahan dengan bantuan kanvas BAGJA.
Pemahaman saya tentang merumuskan visi dan membuat perubahan prakarsa dengan inkuiri apresiatif alur BAGJA semakin tercerahkan setelah saya mengikuti sesi elaborasi dengan instruktur yakni Bapak Suhada, M.Pd, saya semakin paham bahwa visi itu dirumuskan berdasarkan tujuan yang ingin dicapai atau gambaran murid impian dimana visi ini hendaknya memuat dimensi profil pelajar Pancasila dan pada aksi nyata saya merumuskan visi “Mewujudkan Siswa yang Berakhlak Mulia dan Bernalar Kritis” dimana dalam perumusan visi ini saya mengangkat sebuah prakarsa perubahan melaksanakan pembiasaan 5S (Senyum, sapa, salam, sopan dan santun), melaksanakan pembiasaan shalat dhuha, melaksanakan kegiatan peduli lingkungan, melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan menerapkan sistem Higher Order Thingking Skill (HOTS) dan mengintregasikan teknologi dalam pembelajaran (TPACK).
Examination
Modul 1.3 ini memperkenalkan kita pada cara merumuskan visi atau impian kita tentang murid yang ideal. Kemudian, kita belajar menyusun rencana aksi konkret menggunakan model inkuiri apresiatif serta menyusun prakarsa perubahan melalui rancangan ATAP dan tahapan BAGJA untuk mewujudkan impian tersebut di kelas. Pengalaman menyusun pertanyaan menggunakan model BAGJA sungguh menarik dan bermanfaat. Sebelumnya, saya memiliki impian tentang murid ideal, namun kesulitan untuk mewujudkannya karena kurangnya rencana aksi yang jelas. Saya baru menyadari bahwa untuk mencapai impian tersebut, saya harus mulai bergerak dan menjadi inisiator perubahan. Kita tidak bisa memaksa orang lain untuk berubah jika kita sendiri tidak mulai bergerak. Oleh karena itu, dengan memanfaatkan model inkuiri apresiatif dan rancangan ATAP serta tahapan BAGJA, kita dapat merancang ide dan tindakan yang tepat untuk mewujudkan impian kita menjadi kenyataan di kelas.
Articulation of Learning
Pada tahap ini saya mempelajari Cara mewujudkan Visi impian dan melakukan prakarsa perubahan Sebagai upaya dalam mencapai tujuan yang telah dirumuskan dalam meningkatkan kualitas layanan pendidikan di sekolah sehingga berpihak pada murid dengan menggunakan pendekatan atau paradigma inkuiri Apresiatif (IA) yang dikembangkan oleh David Cooperrider (Cooperrider & Whitney, 2005; Noble & McGrath,2016)
Inkuiri Apresiatif (IA) merupakan Filosofi dan landasan berfikir tentanng perubahan yang berfokus pada Upaya kolaboratif (Koopertif dan ko-evolusi) perubahan positif untuk menemukan hal terbaik yang melibatkan proses penyelidikan secara sistematis dengan melalui pendekatan kolaboratof berbasis kekuatan yang bertujuan untuk melakukan perubahan yang membawa perbaikan dalam suatu sistem misal di sekolah dalam lingkup kecil yaitu di kelas.
Dalam menyusun manajemen perubahan yang saya lakukan adalah melalui rancangan ATAP sebagai dasar dalam menyusun rancangan prakarsa perubahan dan menyusun tindakan menggunakan Tahapan BAGJA sebagai tahapan inkuiri apresiatif pendekatan manajemen perubahan atau langkah-langkah dalam menerapkan perubahan sesuai dengan visi yang telah ditentukan berbasis kekuatan atau potensi dimiliki.
Dari pembelajaran tersebut saya merencanakan ke dalam aksi nyata saya di kelas dan di sekolah mewujudkan visi impian dengan merumuskan prakarsa perubahan yang saya fokuskan pada kegiatan pembelajaran dan pembiasaan yakni penerapan pembiasaan 5S (Senyum, sapa, salam, sopan dan santun), melaksanakan pembiasaan shalat dhuha, melaksanakan kegiatan peduli lingkungan, melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan menerapkan sistem Higher Order Thingking Skill (HOTS) dan mengintregasikan teknologi dalam pembelajaran (TPACK).
Sunday, 22 October 2023, 9:03 PM
Edited by CHOFIUDDIN MUCHLIS, Sunday, 22 October 2023, 9:05 PM
Refleksi Dwi Mingguan Modul 1.4
Budaya Positif
Nama : Chofiuddin Muchlis, S.E., M.Ak.
Asal Instansi : SMPN 1 Surade
CGP Angkatan 9 Kab.Sukabumi
Fasilitator : Ida Liana, M.Pd
Pengajar Praktik : Iis Aisyah Citra Dewi, S.Pd
Link: https://drive.google.com/file/d/1dKJpnV5hb0f-Nk6xmbr2MKKHGLzJCTvy/view?usp=sharing
Saturday, 4 November 2023, 6:22 AM
Jurnal Dwi mingguan modul 2.1
Pembelajaran Berdiferensiasi
Nama : Chofiuddin Muchlis, S.E., M.Ak.
Asal Instansi : SMPN 1 Surade
CGP Angkatan 9 Kab.Sukabumi
Fasilitator : Ida Liana, M.Pd
Pengajar Praktik : Iis Aisyah Citra Dewi, S.Pd
Pada Modul 2.1, kami membahas materi tentang Pembelajaran Berdiferensiasi dalam proses pembelajaran berdasarkan dengan filosofi Ki Hadjar Dewantara yaitu pembelajaran yang berpihak pada murid. setelah mempelajari materi tersebut saya melakukan refleksi terhadap apa yang telah saya peroleh pada pembelajaran ini. Refleksi dibutuhkan sebagai media untuk mendokumentasikan perasaan, gagasan dan pengalaman serta praktik baik yang telah saya dilakukan selama proses pembelajaran. Dalam melakukan refleksi ini saya menggunakan model 1: 4F yaitu (Facts, Feelings, Findings, Future) untuk mendokumentasikan refleksi saya selama proses pembelajaran.
Refleksi pembelajaran dan aktivitas pembelajaran ini terkait apa yang telah dilakukan selama proses pembelajaran di Learning Management System (LMS). Dalam kegiatan pembelajaran ini ada beberapa aktivitas pembelajaran yang dilakukan oleh seluruh peserta calon guru penggerak yaitu diawali dengan Test Awal Paket Modul 2, dilanjutkan aktivitas pembelajaran di LMS dimulai dengan 2.1.a.3. Mulai dari diri, 2.1.a.4. Eksplorasi konsep, 2.1.a.5.1. Ruang Kolaborasi 1, 2.1.a.5.2. Ruang Kolaborasi 2 Google Meet; 2.1.a.6. Demonstrasi Kontekstual - Modul 2.1; 2.1.a.7. Refleksi terbimbing dan Elaborasi Pemahaman - Modul 2.1.
1. Facts (Peristiwa)
Aktivitas pertama yaitu Test Awal Paket Modul 2, dilanjutkan aktivitas pembelajaran di LMS dimulai dengan 2.1.a.3. Mulai dari diri, 2.1.a.4. Eksplorasi konsep, 2.1.a.5.1. Ruang Kolaborasi 1, 2.1.a.5.2. Mempresentasikan hasil kolaborasi pertemuan sebelumnya. Alhamdulillah, Pada kesempatan kali ini kelompok saya yaitu kelompok 2 melakukan presentasi pada sesi ke-3. Anggota kelompok kami yang terdiri dari tiga orang yakni saya Chofiuddin M, Ibu Mery Esa Karmila dan Bapak Wahyu Anggoro P. Kami mempresentasikan hasil diskusi tentang contoh kasus pembelajaran pada jenjang SMP. Berikutnya, kami melakukan Refleksi terbimbing dan Elaborasi Pemahaman dengan narasumber intrukstur Ibu Anijar Hapni Siregar. Kami diminta untuk menjawab beberapa pertanyaan pemantik yang makin memperkuat kami meningkatkan pemahaman terkait pembelajaran berdiferensiasi. Di aktivitas ini tidak ada hambatan yang dirasakan karena di sesi ini bagaimana CGP menggali lebih dalam konsep pembelajaran berdiferensiasi. Aktivitas berikutnya yaitu demonstrasi kontekstual. Di aktivitas ini kami diminta membuat Rencana pembelajaran berdiferensiasi dan mengevaluasi efektivitas RPP yang dibuat oleh sesama rekan CGP. Disini, saya membuat RPP berdiferensiasi dengan mempertimbangkan kebutuhan peserta didik ditinjau dari Profil Belajarnya.
2. Feelings (Perasaan)
Saya bahagia, antusias dan semangat mengikuti aktivitas pembelajaran. Pada modul 2.1. ini, Saya belajar menyusun RPP berdiferensiasi,belajar menyusun langka-langkah pembelajaran yang menyelaraskan dengan karakteristik peserta didik.Ada gambaran tindak lanjut seperti apa yang dapat diambil oleh saya sebagai bentuk tindakan yang mempertimbangkan kebutuhan belajar peserta didik.
3. Findings (Pembelajaran)
Informasi, pengetahuan dan pengalaman baru akan diterima oleh saya sebagai calon guru penggerak pemimpin pembelajaran. Salah satu aplikasi nyata bagaimana seorang guru dalam proses pembelajaran harus berpihak pada anak adalah mengintegrasikan pembelajaran berdiferensiasi terhadap perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian. Pembelajaran yang mengakomodir seluruh kebutuhan peserta didik dari minat, kesiapan belajar dan profil belajar peserta didik.
4. Future (Penerapan)
Disini saya belajar untuk lebih memperhatikan kemampuan siswa dalam memilih aktivitas belajar yang sesuai dengan gaya belajar yang dimiliki akan membantu menghindarkan siswa dari pengalaman belajar yang kurang tepat, kurang menyenangkan dan kurang berpihak pada murid. Selain itu, Saya coba untuk sharing kepada rekan sejawat tentang pembelajaran berdiferensiasi dengan harapan kami semua menjadi lebih memperhatikan minat dan profil belajar peserta didik dalam melaksanakan aktivitas pembelajaran.
Monday, 20 November 2023, 3:40 PM
JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN MODUL 2.2
PEMBELAJARAN SOSIAL EMOSIONAL
Nama : Chofiuddin Muchlis, S.E., M.Ak.
Asal Instansi : SMPN 1 Surade
CGP Angkatan 9 Kab.Sukabumi
Fasilitator : Ida Liana, M.Pd
Pengajar Praktik : Iis Aisyah Citra Dewi, S.Pd
Saya akan membuat jurnal refleksi dwi mingguan modul 2.2 tentang Kompetensi Sosial Emosional dengan model refleksi 4F (Fact, Feeling, Finding, Future) oleh Robert Greenaway.
FACT (Peristiwa)
Pembelajaran Modul 2.2 ini dimulai dengan mulai dari diri, kami diberikan beberapa pertanyaan tentang pengalaman yang pernah kami alami yang berhubungan dengan tugas kami sebagai pendidik yang berkaitan dengan pembelajaran sosial dan emosional. Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE) adalah pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah. Pembelajaran Sosial dan Emosional berdasarkan kerangka kerja CASEL (Collaborative for Academic, Social and Emotional Learning) yang bertujuan untuk mengembangkan 5 (lima) Kompetensi Sosial dan Emosional (KSE) yaitu: kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Pembelajaran Sosial Emosional ini dapat diimplementasikan di kelas atau sekolah dengan 4 indikator yaitu, pembelajaran eksplisit, integrasi dalam pembelajaran guru dan kurikulum akademik, melalui proses menciptakan iklim kelas dan budaya sekolah, serta penguatan KSE Tenaga pendidik dan Tenaga Kependidikan.
Dalam kegiatan berbagi pemahaman kepada beberapa rekan guru, tampak bahwa mereka sangat antusias dalam memperoleh informasi baru tentang pembelajaran sosial dan emosional (PSE). Materi ini termasuk hal baru bagi Sebagian besar guru terutama guru mata Pelajaran, namun berbeda dengan guru Bimbingan Konseling yang sudah memahami dengan baik materi ini. Namun sebenarnya, praktik penerapan PSE telah dilaksanakan secara tidak langsung di dalam kelas pada saat proses pembelajaran, hanya saja guru belum mengetahuinya, karena selama ini belum terintegrasi dalam RPP atau modul ajar. Pada kegiatan ini, saya mencoba memaparkan kompetensi sosial dan emosional (KSE) yang harus dimiliki baik oleh guru maupun peserta didik termasuk juga Teknik mewujudkan KSE menggunakan kesadaran penuh (mindfulness), serta indicator pembelajaran sosial dan emosional berkaitan dengan kelas dan sekolah demi tercapainya kondisi Wellbeing.
FEELINGS (Perasaan)
Selama mempelajari modul 2.2 tentang Pembelajaran Sosial Emosional yang kami lakukan, banyak sekali perasaan yang timbul dari diri saya, seperti perasaan senang, karena bertambah lagi ilmu terutama bagaimana saya mampu mengenali emosi yang sedang dirasakan serta bagaimana saya mampu mengelola emosi tersebut agar tidak melakukan tindakan yang mungkin akan berdampak negatif bagi murid. Selama ini saya merasa, apapun perasaan yang sedang saya rasakan itu tidak akan mempengaruhi diri saya ataupun orang lain dalam pelaksanaan tugas saya sebagai guru. Saya merasa bersyukur sekali sudah sampai tahap ini dimana dari semua modul yang telah saya pelajari di program guru penggerak ini, modul 2.2 inilah yang paling banyak mempengaruhi dan bisa berbagi Bersama dengan rekan sejawat / guru guru lain di sekolah dalam penerapan KSE. Saya dan murid saya menjadi semakin baik dalam berperilaku di sekolah. Rasa saling menghormati satu dengan yang lain juga meningkat saya rasakan. Tentu dengan perubahan perubahan ini ada rasa senang dan bangga.
Saat membagikan pemahaman tentang pembelajaran sosial emosional, ada rasa kekhawatiran pada diri saya sehubungan dengan apakah saya mampu memberikan konsep dasar tentang pembelajaran sosial emosional tersebut kepada rekan guru yang lain atau bahkan sebaliknya saya tidak mampu? Namun, dengan pemahaman konsep yang saya kuasai dan keinginan yang kuat, saya tetap optimis dalam menjalankan kegiatan berbagi praktik baik ini, dengan harapan guru-guru di sekolah dapat memahami pembelajaran sosial dan emosional sehingga dapat diterapkan dalam keseharian terutama dalam kegiatan pembelajaran atau di lingkungan sekolah.
FINDINGS (Pembelajaran)
Pada modul 2.2. ini saya belajar bahwa pembelajaran social emosional mutlak diperlukan pada proses pembelajaran agar siswa lebih nyaman, bahagia dan merdeka dalam belajarnya. Hasil Pembelajaran PSE ini dirancang untuk menciptakan kondisi wellbeing di lingkungan sekolah. PSE mempengaruhi Nilai dan peran guru juga serta mempengaruhi keberhasilan belajar siswa. Dari modul ini saya mendapatkan pelajaran bahwa mengenali emosi diri sebelum melakukan setiap tindakan itu harus agar tindaan tersebut tidak berdampak buruk bagi diri sendiri maupun orang lain. Selain mengenali emosi diri, kita juga dituntut untuk mampu mengelola emosi tersebut agar kita kembali ke keadaan semula yaitu dalam keadaan yang bahagia. Selain itu, banyak lagi ilmu yang saya dapatkan di modul ini seperti kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Kesemua materi tersebut menginginkan terciptanya hubungan yang baik dan positif dengan sesama rekan kerja, dengan murid maupun dengan masyarakat disekitar kita.
Kompetensi sosial emosional ini juga dapat diterapkan di kelas maupun disekolah. Penerapan PSE di kelas bisa dilakukan dengan pembelajaran secara eksplisit maupun terintegrasi dalam proses belajar guru dan kurikulum akademik. Juga dapat dilakukan dengan membentuk iklim kelas dan budaya sekolah serta dengan melakukan penguatan pada Tenaga pendidik maupun tenaga kepedidikan. Adapun tujuan utama PSE itu sendiri adalah untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman agar seluruh individu di sekolah dapat meningkatkan kompetensi akademik dan kesejahteraan psikologis (well-being) secara optimal agar siswa merasa nyaman dalam pembelajaran.
Hal yang bermanfaat dari kegiatan membagikan pemahaman tentang pembelajaran sosial emosional, yaitu informmasi akan mudah tersampaikan, tidak hanya diri sendiri saja yang mengetahui konsep dari pembelajaran sosial emosional, namun juga rekan guru di sekolah. Guru-guru mulai menyadari arti pentingnya pembelajaran sosial emosional dalam kegiatan pembelajaran atau dalam lingkungan sekolah, sehingga demi sedikit akan mencoba menerapkannya. Umpan balik yang saya terima adalah guru-guru akan mencoba mempraktikan secara langsung Teknik kesadaran penuh (mindfulness) untuk mewujudkan kompetensi sosial dan emosional pada diri murid.
FUTURE (Penerapan)
Hal yang ingin saya perbaiki dan ditingkatkan agar pemahaman konsep pembelajaran sosial dan emosional berdampak lebih luas, saya akan membagikan pemahaman PSE tersebut tidak hanya kepada guru di sekolah saja, namun juga pada murid dengan harapan terciptanya peserta didik yang memiliki kesadaran diri dalm berperilaku, manajmen diri dalam pengelolaan emosi dan pikiran, memiliki kesadaran sosial terhadap orang lain dan lingkungannya, dan memiliki keterampilan berelasi dengan berkomunikasi secara efektif, serta memiliki kemampuan pengambilan keputusan yang bertanggungjawab pada pilihan-pilihan yang ada.
Selanjutnya Pembelajaran KSE akan selalu saya terapkan di kelas untuk menciptakan lingkungan belajar yang nyaman secara psikologis, dimana bila kenyamanan tercapai maka tujuan pembelajaran akan mudah tercapai. PSE ini juga diterapkan dalam hubungan dengan kepala sekolah maupun dengan sesama rekan guru untuk menjaga agar kolaborasi tetap terjaga dan terciptanya lingkungan kerja yang nyaman. Dari pendalaman materi PSE pada modul 2.2 ini saya berencana untuk menerapkannya terlebih dahulu dalam lingkup kelas saya disekolah seperti melakukan pernafasan dengan kesadaran penuh sebelum memulai pembelajaran, kemudian juga mengintegrasikan kompetensi tersebut dalam pembelajaran saya seperti menerapkan kompetensi kesadaran sosial dalam kegiatan diskusi di kelas, kemudian menerapkan keterampilan berelasi pada saat melakukan refleksi ataupun memberikan umpan balik terhadap hasil kerja teman maupun penjelasan guru dengan menggunakan kata-kata yang positif dan mudah dimengerti.
Thursday, 29 February 2024, 9:23 PM
JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN_MODUL 2.3
COACHING UNTUK SUPERVISI AKADEMIK
Nama : Chofiuddin Muchlis, S.E., M.Ak.
Asal Instansi : SMPN 1 Surade
CGP Angkatan 9 Kab.Sukabumi
Fasilitator : Ida Liana, M.Pd
Pengajar Praktik : Iis Aisyah Citra Dewi, S.Pd
Saya merefleksikan modul ini dengan menggunakan modul refleksi 4F/4P. Berikut hasil refleksi saya yang tertuang pada model refleksi 4F/4P.
1. FACTS/PERISTIWA
Kegiatan Modul 2.3 diawali dengan berselancar di LMS yaitu dimulai dari diri. Alur mulai dari diri diawali dengan menjawab lima pertanyaan reflektif mengenai kegiatan observasi atau supervisi yang pernah dilaksanakan. Kemudian, saya menjawab dua pertanyaan mengenai harapan saya tentang modul 2.3 ini. Tahapan selanjutnya yaitu kegiatan eksplorasi konsep. Tahapan eksplorasi konsep ini, merupakan tahapan dimana saya mengeksplor sendiri materi-materi mengenai coaching. Ada empat bagian pada eksplorasi konsep ini, dimana disetiap bagiannya terdapat beberapa kotak serta beberapa video yang saya pelajari. Pada bagian terakhir eksplorasi konsep, saya berdiskusi bersama rekan CGP lainnya untuk memberikan pernyataan mengenai keterkaitan keterampilan coaching dengan supervisi akademik. Tahapan selanjutnya adalah ruang kolaborasi. Pada ruang kolaborasi yang pertama bersama fasilitator saya mendapatkan pemahaman mengenai coaching ini, setelah itu saya dibagi kelompok dan melakukan latihan coaching bersama kelompok. Kegiatan ruang kolaborasi selanjutnya saya bersama rekan CGP saya melakukan simulasi coaching secara bergantian melalui Gmeet. Setelah kegiatan ruang kolaborasi, saya memasuki tahapan demonstrasi kontekstual. Pada tahapan ini, saya bersama 2 rekan CGP lainnya melakukan simulasi coaching melalui Gmeet. Pada kegiatan ini, saya bersama rekan saya bergantian peran menjadi coach, coachee, dan observer. Kegiatan simulasi ini dilaksanakan melalui Gmeet dan direkam untuk kemudian rekamannya diunggah ke LMS. Kegiatan selanjutnya yaitu elaborasi pemahaman bersama instruktur. Pada kegiatan ini saya mendapatkan banyak pengetahuan, pemahaman mengenai coaching. Selanjutnya tahap koneksi antar materi. Pada kegiatan ini saya membuat koneksi materi mengenai modul yang dipelajari dengan pengalaman serta materi lainnya. Tahapan terakhir adalah aksi nyata. Kegiatan aksi nyata rencananya saya akan melaksanakan kegiatan coaching bersama salah satu rekan guru di sekolah. Modul 2.3 ini ditutup dengan kegiatan posttest.
2. FEELINGS/PERASAAN
Perasaan saya ketika mempelajari modul 2.3 ini yaitu senang, optimis, dan tertantang. Saya merasa senang karena mendapatkan pengetahuan dan pengalaman yang baru mengenai coaching. Saya juga merasa senang karena bisa melakukan simulasi coaching bersama rekan CGP lainnya. Saya merasa optimis karena saya yakin bisa mengaplikasikan pengetahuan saya mengenai coaching ini dalam peran saya sebagai pemimpin pembelajaran. Saya merasa tertantang dalam mempelajari materi coacing serta dalam mengaplikasikan coaching ini.
3. FINDINGS/PEMBELAJARAN
Hal yang bermanfaat yang saya dapatkan pada modul ini adalah mengenai supervisi akademik yang dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan coaching. Pada pelaksanaan coaching ini harus didasarkan prinsip dan kometensi coaching. Coaching juga bisa dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran kepada murid untuk menggali potensi yang dimiliki oleh murid.
4. FUTURE/PENERAPAN
Penerapan di masa mendatang, sebagai pemimpin pembelajaran saya akan melaksanakan kegiatan coaching di kelas kepada murid saya untuk memaksimalkan dan mengembangkan potensi yang ada pada diri murid saya. Saya akan melaksanakan diseminasi kepada kepala sekolah dan rekan guru mengenai coaching ini untuk merubah kegiatan supervisi akademik dengan paradigma coaching. Ketika nanti saya menjadi kepala sekolah saya akan menerapkan supervisi akademik dengan menggunakan pendekatan coaching. Saya akan merubah paradigma supervisi akademik yang tadinya hanya sebagai kegiatan menilai menjadi kegiatan coaching dengan memperhatikan prinsip coaching serta menggunakan keterampilan coaching.
Thursday, 29 February 2024, 9:24 PM
JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN MODUL 3.1
PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERBASIS NILAI-NILAI KEBAJIKAN SEBAGAI PEMIMPIN.
Nama : Chofiuddin Muchlis, S.E., M.Ak.
Asal Instansi : SMPN 1 Surade
CGP Angkatan 9 Kab.Sukabumi
Fasilitator : Ida Liana, M.Pd
Pengajar Praktik : Iis Aisyah Citra Dewi, S.Pd
Pada modul 3.1 ini, saya merefleksikan hasil dari kegiatan yang saya ikuti di LMS ini dalam bentuk jurnal refleksi. Jurnal Refleksi dwi minggu ini membahas materi pada Modul 3.1 tentang Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin. Jurnal refleksi ini saya tulis sebagai media yang mendokumentasikan perasaan, gagasan dan pengalaman serta praktik baik yang telah saya dilakukan. Model refleksi yang saya pakai adalah Model 4C yang dikembangkan oleh Ritchhart, Church dan Morrison (2011). Model 4C ini terdiri dari: Connection, Challenge, Concept dan Change.
1. CONNECTION
Di minggu ini , saya mempelajari modul 3.1 tentang Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin. Modul ini sangat berkaitan erat dengan peran saya sebagai calon guru penggerak dalam memimpin pembelajaran. Sebagai pemimpin pembelajaran, guru dibutuhkan ketepatan dalam pengambilan keputusan. Baik itu keputusan yang berhubungan dengan kurikulum, kesiswaan maupun keputusan terkait hubungan sosial lainnya.dengan mempelajari modul 3.1 ini, semakin mempermudah saya dalam mengidentifikasi dan menganalisis suatu permasalahan, baik itu yang berupa dilema etika maupun bujukan moral sehingga mampu memberikan keputusan yang arif dan bijak.
2. CHALLENGE
Fokus pada hasil akhir yaitu “ saya lakukan karena itu yang terbaik untuk kebanyakan orang”. Karena menurut saya kepentingan orang banyak itu yang paling utama. Tapi pada modul ini, ternyata kita juga dilatih untuk mengolah rasa empati dalam mengambil keputusan. Kita dihadapkan pada posisi “ seandainya saya diposisi dia, apa yang akan saya lakukan?”.
3. CONCEPT
Konsep penting yang saya pelajari dalam modul ini yaitu:
4 paradigma dilema etika (individu Vs kelompok, keadilan Vs kasihan, kebenaran Vs kesetiaan dan jangka pendek Vs jangka panjang). Selain itu, di dalam modul ini juga saya belajar mengenai 3 prinsip pengambilan keputusan yakni: berpikir berbasis hasil akhir, berpikir berbasis peraturan dan berpikir berbasis rasa peduli.
Serta 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan yakni: 1. Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan, 2. Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini, 3. Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini, 4. Pengujian benar/ salah (uji legal, uji regulasi/standar professional, uji intuisi, uji publikasi, uji panutan/idola), 5. Pengujian paradigma benar Vs benar, 6. Melakukan prinsip resolusi, 7. Investigasi opsi trilemma, 8. Buat keputusan, dan 9. Lihat lagi keputusan dan refleksikan.
4. CHANGE
Perubahan yang ingin saya lakukan setelah mendapat materi ini adalah perubahan dalam pengambilan keputusan. Saya akan menerapkan 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah dalam menganalisis sebuah kasus dilemma untuk mengujinya sebelum mengambil sebuah keputusan.
Thursday, 29 February 2024, 9:40 PM
JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN MODUL 3.2
PEMIMPIN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA
Nama : Chofiuddin Muchlis, S.E., M.Ak.
Asal Instansi : SMPN 1 Surade
CGP Angkatan 9 Kab.Sukabumi
Fasilitator : Ida Liana, M.Pd
Pengajar Praktik : Iis Aisyah Citra Dewi, S.Pd
Saya merefleksikan modul ini dengan menggunakan modul refleksi 4F/4P. Berikut hasil refleksi saya yang tertuang pada model refleksi 4F/4P.
1. FACTS/PERISTIWA
a. Mulai dari diri dengan menjawab pertanyaan yang disediakan di LMS.
b. Eksplorasi konsep terkait Problem Based Thinking dan Asset Based Thinking.
c. Diskusi ruang kolaborasi mengenai pemetaan 7 kekuatan asset sekolah.
d. Demonstrasi konstektual menganalisis video mengenai visi dan Prakarsa perubahan menggunakan tahapan BAGJA.
e. Elaborasi pemahaman dengan Instruktur.
f. Koneksi antar materi menghubungkan materi yang sedang dipelajasi modul 3.2 dengan materi sebelumnya.
g. Aksi Nyata merefleksikan apa yang sudah dipelajari dan di praktikan di sekolah.
2. FEELINGS/PERASAAN
Perasaan saya ketika mempelajari modul 3.2 adalah saya sangat senang karena saya mendapatkan pengalaman yang luar biasa yakni ternyata disebuah instansi/sekolah, kita bisa menganalisa 7 kekuatan asset yang dimiliki sebagai modal untuk mewujudkan visi, misi dan tujuan instansi/sekolah, tentunya dalam menganalisa kekuatan tersebut harus melalui kolaborasi dan komunikasi yang efektif antar seluruh warga sekolah.
3. FINDINGS/PEMBELAJARAN
Saya mendapatkan pengalaman penerapan pemetaan kebutuhan melalui Pendekatan Berbasis Masalah yang merupakan pendekatan yang memusatkan perhatian kita pada apa yang mengganggu, apa yang kurang, dan apa yang tidak bekerja. Segala sesuatunya akan dilihat dengan cara pandang negatif. Mengapa? Karena mereka lupa terhadap potensi dan peluang yang ada disekitarnya dan juga melalui pendekatan Berbasis Aset yang merupakan cara praktis menemukan dan mengenali hal-hal yang positif dalam kehidupan dengan menggunakan kekuatan sebagai tumpuan berfikir, kita diajak untuk memusatkan perhatian pada apa yang bekerja , yang menjadi inspirasi, yang menjadi kekuatan ataupun potensi yang positif.
4. FUTURE/PENERAPAN
Setelah mempelajari modul ini, saya harus bisa menerapkan pendekatan berbasis asset dengan fokus pada kekuatan, mengorganisasikan aset dan sumber daya, merancang program berdasarkan visi dan kekuatan untuk menjalankan rencana aksi yang sudah disepakati. Selain itu, kedepannya saya tidak boleh lagi menerapkan pendekatan berbasis masalah, dimana kita berkutat dengan masalah dan selalu bertanya apa yang kurang.
Tuesday, 26 March 2024, 10:04 AM
Jurnal refleksi dwi mingguan modul 3.3
Pengelolaan Program yang Berdampak Positif Pada Murid
Nama : Chofiuddin Muchlis, S.E., M.Ak.
Asal Instansi : SMPN 1 Surade
CGP Angkatan 9 Kab.Sukabumi
Fasilitator : Ida Liana, M.Pd
Pengajar Praktik : Iis Aisyah Citra Dewi, S.Pd
fact (peristiwa)
Pada Modul 3.3, saya belajar tentang pengelolaan program yang memberikan dampak bagi murid. Selain itu, dalam modul ini, saya juga mempelajari konsep kepemimpinan murid (student agency), di mana murid dapat mengambil peran sebagai pemimpin dalam proses belajarnya. Dengan memberikan kesempatan kepada murid untuk mengembangkan kapasitasnya dalam mengelola pembelajarannya sendiri, sehimgga potensi kepemimpinannya dapat tumbuh secara signifikan.
Ketika murid mengambil peran sebagai pemimpin dalam proses pembelajaran mereka, mereka sebenarnya memiliki suara (Voice), pilihan (Choice), dan tanggung jawab (Ownership). Modul ini juga mencakup materi mengenai tujuh karakteristik lingkungan yang mendukung dalam pengelolaan program yang berdampak pada perkembangan murid.
Penciptaan lingkungan yang mendorong siswa untuk menggunakan pola pikir positif dan merasakan emosi yang positif.
Fasilitasi lingkungan yang memperkuat keterampilan interaksi sosial siswa dengan pola perilaku yang positif, bijaksana, dan menghormati nilai-nilai kebajikan yang ditanamkan oleh institusi pendidikan.
Pengembangan lingkungan yang melatih keterampilan esensial bagi siswa guna mencapai tujuan akademik dan non-akademik.
Pembinaan lingkungan yang mendorong siswa untuk mengenali dan memahami potensi diri, orang lain, serta lingkungan sekitar.
Fasilitasi lingkungan yang membuka pandangan siswa untuk menetapkan dan mengejar tujuan, harapan, atau impian yang memberikan manfaat dan kebaikan, tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi kelompok dan masyarakat.
Penciptaan lingkungan yang mendorong keterlibatan aktif siswa dalam proses belajar mereka sendiri.
Pembinaan lingkungan yang menumbuhkan ketangguhan dan semangat siswa agar dapat bangkit dalam menghadapi tantangan dan peluang.
feeling (perasaan)
Setelah menyelesaikan modul 3.3, saya merasa sangat gembira karena mendapatkan pengetahuan baru yang telah memperluas pemahaman dan pola pikir saya sebagai seorang pendidik. Modul ini menegaskan pentingnya memberi kesempatan kepada murid untuk mengembangkan kemampuan dalam mengelola proses pembelajarannya sendiri, sehingga potensi kepemimpinan murid dapat berkembang lebih optimal.
finding (penemuan)
Dalam modul 3.3, terdapat beragam pelajaran yang diperoleh terkait pengelolaan program yang memberikan dampak positif bagi para murid. Konsep kepemimpinan murid (student agency) menunjukkan kemampuan murid untuk mengambil peran sebagai pemimpin dalam proses pembelajaran mereka sendiri, yang memberikan kesempatan kepada mereka untuk bersuara (voice), memilih (choice), dan rasa memiiki/ tanggung jawab (ownership). Terdapat tujuh karakteristik lingkungan yang dapat membantu mengembangkan kepemimpinan murid. Dengan demikian, penting bagi sekolah untuk menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan kepemimpinan murid tersebut.
future (penerapan)
Setelah menelaah modul 3.3 ini, saya akan berusaha untuk dapat mengimplementasikan di lingkungan sekolah saya, terutama di kelas saya, sebagai langkah awal perubahan. Selain itu, saya berencana untuk berbagi praktik baik yang saya pelajari dari modul 3.3 ini dengan rekan sejawat di sekolah untuk saling memperkaya pengetahuan dan pengalaman.