1. Zaman Filsafat Yunani Kuno (600 SM – 400 M)
Zaman kuno meliputi zaman filsafat pra-Socrates di Yunani. Tokoh-tokohnya dikenal dengan nama filsuf pertama atau filsuf alam. Mereka mencari unsur induk (arche) yang dianggap asal dari segala sesuatu. Menurut Thales, Arche itu air, Anazimandros berpendapat arche itu udara, Pythagoras arche itu bilangan, Heraklitos arche itu api, ia juga berpendapat bahwa segala sesuatu itu terus mengalir (panta rhei).
2. Zaman Keemasan Filsafat Yunani
Pada waktu Athena dipimpin oleh Perikles, kegiatan politik dan filsafat dapay berkembng dengan baik. Ada segolongan kaum yang pandai berpidato(retorika) dinamakan kaum sofis. Kegiatan mereka adalah mengajarkan pengetahuan kepada kaum muda.[3]
Yang menjadi objek penyelidikannya bukan lagi alam tetapi manusia, sebagaimana yang dikatakan oleh Prothagoras, ‘Manusia adalah ukuran untuk segala-galanya’. Hal ini ditentang oleh Socrates dengan mengatakan ‘bahwa yang benar dan yang baik harus dipandang sebagai nilai-nilai objektif yang dijunjung tinggi oleh semua orang’.
Hasil pemikiran Socrates dapat diketemukan pada muridnya Plato. Dalam filsafatnya, Plato mengatakan :’realitas seluruhnya terbagi atas dua dunia yang hanya terbuka bagi panca indra dan dunia yang hanya terbuka bagi rasio kita. Dunia yang pertama adalah dunia jasmani dan yang kedua dunia ide.
Pendapat tersebut dikritik oleh Aristoteles dngan mengatakan bahwa yang ada itu adalah manusia-manusia yang konkret. ‘Ide manusia’ tidak terdapat dalam kenyataan. Aristoteles adalah filsuf realis dan sumbangannya kepada ilmu pengetahuan besar sekali.
3. Masa Helinitis dan Romawi
Pada zaman Alexander Agung telah berkembang sebuah kebudayaan trans nasional yang disebutk kebudayaan Hellnistis, karena kebudayaan Yunani tidak terbatas lagi pada kota-kota Yunani saja, tetapi mencakup juga seluruh wilayah yang ditaklukan Alexander Agung.
Pada masa ini muncul beberapa aliran berikut :
a. Stoisisme
Menurut paham ini, jagatraya ditentukan oleh kuasa-kuasa yang disebut ‘Logos’. Oleh karena itu, segala kejadian berlangsung menurut ketetapan yang tidak dapat dihindari.
b. Epikurisme
Segala sesuatu terdiri atas atom-atom yang senantiasa bergerak. Manusia akan bahgia jika mau mengakui susunan dunia ini dan tidak boleh takut pada dewa-dewa.
c. Skeptisisme
Mereka berpikir bahwa bidang teoritis manusia tidak sanggup mencapai kebenaran. Sikap umum mereka adalah kesangsian.
d. Eklektisisme
Suatu kecenderungan umum yang mengambil berbagai unsur, filsafat dari aliran-aliran lain tanpa berhasil mencapai suatu pemikiran yang sungguh-sungguh.
e. Neo Platonisme
Yakni paham yang ingin menghidupkan kembali filsafat Plato. Tokohnya adalah Plotinus. Seluruh filsafatnya berkisar pada Allah yang satu. Segala sesuatu berasal dari ‘yang satu’ dan ingin kem,bali kepadanya.
4. Zaman Abad Pertengahan
Filsafat pada zaman abad pertengahan mengalami dua periode :
a. Periode Patristik
Patristik berasal dari kata Latin patres yang berarti bapa-bapa Gereja, ialah ahli agama kristen pada abad permulaan agama Kristen.
Periode ini mengalami dua tahap :
(1) Permulaan agama kristen. Setelah mengalami berbagai kesukaran terutama mengenai filsafat Yunani maka agama Kristen memantapkan diri.
(2) Filsafat Agustinus merupakan seorang ahli filsafat yang terkenal pada masa patristik.
b. Periode Skolastik
Periode Skolastik berlangsung dari tahun 800 – 1500 M. Periode ini dibagi menjadi tiga tahap :
(1) Periode skolastik awal (absad ke 9 – 12)
Ditandai oleh pembentukan metode yang lahir karena hubungan yang rapat antara agama dan filsafat. Yang tampak pada permulaan ialah persoalan tentang universalia
(2) Periode puncak perkembangan skolastik ( abad ke 13)
Ditandai oleh keadaan yang dipengaruhi oleh Aristoteles akibat kedatangan ahli filsafat Arab dan Yahudi.
(3) Aperiode skolastik akhir ( abad ke 14 – 15 )
Ditandai dengan pemikiran kefilsafatan yang berkembang ke arah nominalisme ialah aliran yang berpendapat bahwa universalisme tidak memberi petunjuk tentang aspek yang sama dan yang umum mengenai adanya suatu hal.
5. Zaman Modern
Zaman Modern dimulai dengan masa renaissance yang berarti kelahiran kembali, yaitu usaha untuk menghidupkan kembali kebudayaan kalsik (Yunani-Romawi). Pusat perhatian tidak lagi kosmos, seperti zaman kuno, atau Tuhan seperti abad pertengahan, melainkan manusia. Mulai zaman modern inilah manusia yang dianggap sebagai titik fokus dari kenyataan.
Zaman modern ditandai dengan munculnya rasionalisme Rene Descartes (1596-1650), B. Spinoza (1632-1677) dan G.Libniz (1646 – 1716). Mereka menekankan pentingnya rasio atau akal budi manusia.
Pada abad ke-18 terkenal dengan zaman pencerahan, dengan munculnya tokoh-tokoh empirisme. Istilah empirisme berasal dari kata Yunani empeiria yang berarti pengalaman indrawi. Empirisme memilih pengalaman sebagai sumber utama pengenalan, baik pengalaman lahiriah yang menyangkut dunia maupun pengalaman batiniah yang menyangkut pribadi manusia saja.
6. Masa Kini
Masa kini dimulai pada abad ke-19 dan 20 dengan timbulnya berbagai aliran yang berpengaruh seperti :
a. Positivisme
Positivisme mulai pada filsuf A. Comte menyatakan bahwapemikiran setiap manusia, setiap ilmu dan pemikiran suku bangsa manusia pada umumnya melewati tiga tahap yaitu :
ü Tahap teologis
Dalam tahap teologis manusia percaya bahwa di belakang gejala alam terdapat kuasa adikodrati yang mengatur fungsi dan gerak gejala-gejala tersebut.
ü Tahap metafisis
Dalam tahap metafisis, kuasa-kuasa adikodrati diganti dengan konsep dan prinsip-prinsip yang abstrak, misalnya kodrat dan penyebab. Metafisika dijunjung tinggi dalam bab ini.
ü Tahap positif-ilmiah
Dalam tahap positif sudah tidak diusahakan lagi untuk mencari penyebab yang terdapat di belakang fakta-fakta, manusia membatasi diri pada fakta yang disajikan kepadanya. Atas dasar observasi dengan menggunakan rasionya, ia berusaha menetapkan relasi-relasi persamaan atau urutan yang terdapat antara fakta-fakta.
b. Marxisme
Pemikiran Karl Marx ditunjukkan dengan materialism dialektis dan materialism historis.
Dalam ajaran mengenai materialisme dialektis bahwa kenyataan kita akhirnya terdiri atas materi yang berkembang melalui suatu proses dialektis. Ajaran materialisme historis adalah bahwa arah yang ditempuh sejarah sama sekali ditentukan oleh perkembangan sarana produksi yang materiil.
c. Eksistensialisme
Eksistensialisme adalah filsafat yang memandang segala gejala dengan berpangkal kepada eksistensi. Pada umumnya kata eksistensi berarti keberadaan, tetapi di dalam filsafat eksistensialisme ungkapan eksistensi yang mempunyai arti khusus. Eksistensi adalah cara manusia berada di dalam dunia. Cara manusia di dalam dunia berbeda dengan cara berada benda-benda. Benda-benda tidak sadar akan keberadaanya, juga yang satu berada di samping yang lain, tanpa hubungan. Sedangkan manusia berada bersama-sama dengan benda-benda itu. Benda-benda itu menjadi berarti karena manusia.
d. Fenomenologi
Metode fenomenologi berasal dari E. Husserl (1859-1938) dan kemudian diperkembangkan oleh M. Scheler (1874-1928) dan M. Merleau Ponty. Kata fenomenologi berasal dari kata Yunani fenomenon yaitu sesuatu yang tampak, yang terlihat, yang di dalam bahasa Indonesia disebut “gejala”. Jadi fenomenologi adalah suatu aliran yang membicarakan fenomena atau gejala sesuatu yang menampakkan diri.
Menurut para filsuf pengikut pengikut fenomenologi, suatu fenomen tidak perlu harus dapat diamati dengan indra, sebab fenomen dapat juga dilihat secara rohani tanpa melewati indra. Juga fenomen tidak perlu suatu peristiwa, jadi fenomen bisa diartikan apa yang menampakkan diri dalam dirinya sendiri.
e. Pragmatisme
Pragmatisme merupakan aliran filsafat yang lahir di Amerika Serikat sekitar tahun 1900. Tokoh-tokoh terpenting dari pragmatisme adalah W. James (1842-1920) dan J. Dewey (1859-1914). Pragmatisme mengajarkan bahwa ide-ide tidak benar atau salah melainkan bahwa ide-ide dijadikan benar oleh suatu tindakan tertentu.
f. Neo-Kantianisme dan Neo-Thomisme
Neo-kantianisme berkembang terutama di Jerman. Filsafat dalam aliran ini dianggap sebagai epistemologi dan kritik ilmu pengetahuan. Tokoh-tokoh terpenting adalah E. Cassier (1874-1945), H. Rickert (1863-1936), H. Vaihinger (1852-1933). Neo-tomisme, yaitu aliran yang mengikuti paham Thomas Aquinas, dan berkembang di dunia katolik di banyak negara Eropa dan di Amerika.