Pestisidia merupakan bahan kimia yang digunakan untuk membunuh hama, baik insekta, jamur maupun gulma. Pestisida telah secara luas digunakan untuk tujuan membrantas hama dan penyakit tanaman dalam bidang pertanian. Pestisida juga digunakan dirumah tangga untuk memberantas nyamuk, kecoa dan berbagai serangga penggangu lainnya. Dilain pihak pestisida ini secara nyata banyak menimbulkan keracunan pada orang (Runia Y, 2008).
Pestisida adalah substansi (zat) kimia yang digunakan untuk membunuh atau mengendalikan berbagai hama. Pestisida berasal dari bahasa inggris yaitu pest berarti hama dan cida berarti pembunuhan. Yang dimaksud hama bagi petani sangat luas yaitu : tungau, tumbuhan pengganggu, penyakit tanaman yang disebabkan oleh fungi (jamur), bakteria dan virus, nematoda (cacing yang merusak akar), siput, tikus, burung, dan hewan lain yang dianggap merugikan (Subiakto sudamo, 1991).
Penggolongan Pestisida
Pestisida dapat digolongkan berdasarkan organisme target dan cara kerjanya, yaitu:
a. Insektisida
Insektisida merupakan bahan yang mengandung senyawa kimia beracun yang bisa mematikan semua jenis serangga. Serangga menyerang tanaman untuk memperoleh makanan denganberbagai cara, sesuai tipe mulutnya.
Kelompok pestisida yang terbesar dan terdiri atas beberapa sub kelompok kimia yang berbeda, yaitu:
1. Organoklorin merupakan insektisida Chlorinated hydrocarbon secara kimiawi tergolong insektisida yang relatif stabil dan kurang efektif, ditandai dengan dampak residunya yang lama terurai dilingkungan. Salah satu insektisida organoklorin yang terkenal adalah DDT. Pestisida ini telah menimbulkan banyak perdebatan. Kelompok organoklorin merupakan racun terhadap susunan syaraf baik pada serangga maupun mamalia. Keracunan dapat bersifat akut atau kronis. Keracunan kronis bersifat karsinogenik (kanker).
2. Organofosfat, insektisida ini merupakan ester asam fosfat atau asam tiofosfat. Pestisida ini umumnya merupakan racun pembasmi serangga yang paling toksik secara akut terhadap binatang bertulang belakang seperti ikan, burung, cicak dan mamalia. Pestisida ini mempunyai efek, memblokade penyaluran impuls syaraf dengan cara mengikat enzim asetilkolinesterase. Keracunan kronis pestisida golongan organofosfat berpotensi karsinogenik.
3. Karbamat, kelompok ini merupakan ester asam H-metilkarbamat. Bekerja menghambat asetilkolinesterase. Tetapi pengaruhnya terhadap enzim tersebut tidak berlangsung lama, karena prosesnya cepat reversibel. Apabila timbul gejala tidak bertahan lama dan cepat kembali normal. Pestisida kelompok ini dapat bertahan dalam tubuh antara 1 sampai 24 jam sehingga cepat diekskresikan.
4. Piretroid dan yang berasal dari tanaman lainnya piretroid berasal dari piretrum diperoleh dari bunga Chrysanthemun cinerariaefolum. Insektisida tanaman lain adalah nikotin yang sangat toksik secara akut dan bekerja pada susunan saraf. Piretrum mempunyai toksisitas rendah pada manusia tapi menimbulkan alergi pada orang yang peka (Raini, 2007)
b. Fungisida
Fungisida merupakan bahan yang mengandung senyawa kimia beracun dan bisa digunakan untuk memberantas dan mencegah fungi/cendawan. Cendawan ini merusak tanaman dengan berbagai cara. Misalnya sporanya masuk kedalam bagian tanaman lalu mengadakan pembelahan dengan cara pembesaran sel yang tidak teratur sehingga menimbulkan bisul-bisul. Pertumbuhan yang tidak teratur ini mengakibatkan sistem kerja pengangkut air menjadi terganggu (Wudianto, 2007).
c. Herbisida
Herbisida merupakan pestisida yang digunakan untuk mengandalikan gulma atau tumbuhan pengganggu yang tidak dikehendaki. Karena herbisida aktif terhadap tumbuhan, maka herbisida bersifat fitotoksik.
d. Bakterisida
Bakterisida mengandung bahan aktif yang bisa membunuh bakteri. Ukuran bakteri sangat kecil yaitu sekitar 0,15-6 mikron, sehingga mudah masuk kedalam tanaman inang melalui luka, stomata, pori air, kelenjar madu dan lentisel. Didalam tanaman, enzim bakteri akan memecah sel sehingga menimbulkan lubang pada bermacam-macam jaringan atau memecah tepung menjadi gula dan menyederhanakan senyawa nitrogen yang komplek untuk memperoleh tenaga agar bertahan hidup. Bakteri ini juga menghasilkan zat racun dan zat lain yang merugikan tanaman, bahkan menghasilkan zat yang bisa merangsang sel-sel inang membelah secara tidak normal.
Didalam tanaman, bakteri ini akan bereaksi menimbulkan penyakit sesuai tipenya. Bakteri bisa menyebar melalui biji, buah, umbi, serangga, burung, siput, ulat, manusia, dan pupuk kandang. Bakterisida biasanya bekerja dengan cara sistemik karena bakteri melakukan perusakan dalam tubuh inang. Perendaman bibit dalam larutan bakterisida merupakan salah satu cara aplikasi untuk mengendalikan Pseudomonas solanacearumyang bisa mengakibatkan layu pada tanaman famili solanaceae.Contoh bakterisida yaitu Agrymicin danAgrept.
e. Nematisida
Nematoda yang bentuknya seperti cacing kecil panjangnya 1 cm walaupun pada umumnya pnjangnya kurang dari 200 sampai 1000 milimikron, hidup pada lapisan tanah bagian atas. Racun yang dapat mengendalikan nematoda ini disebut nematisida. Umumnya nematisida berbentuk butiran yang penggunaanya bisa dengan cara ditaburkan atau dibenamkan dalam tanah. Walaupun demikian, ada pula yang berbentuk larutan dalam air yang penggunaanya dengan cara disiramkan.
f. Akarisida
Akarisida atau sering juga disebut dengan mitisida adalah bahan yang mengandung senyawa kimia beracun yang digunakan untuk membunuh tungau, caplak dan laba-laba. Bagian tanaman yang diserang adlah daun, batang, dan buah. Bagian tanaman yang diserang oleh tungau akan mengalami perubahan warna, bentuk, timbul bisul-bisul atau buah rontok sebelum waktunya. Contoh akarisida yaitu Kelthene MF dan Trithion 4 E.
g. Rodentisida
Rodentisida adalah bahan yang mengandung senyawa kimia beracun yang digunakan untu mematikan berbagai jenis binatang pengerat isalnya tikus. Tikus sering menyerang tanaman pangan, holtikultura, dan tanaman perkebunan dalam waktu yang singkat dengan tingkat kerugian yang cukup besar. Rodentisida yang efektif biasanya dalam bentuk umpan beracun. Contohnya Diphacin 110, Kleret RMB, Racumin, Ratikus RB, Ratilan, Ratak dan Gisorin.