Sebagai konsekuensi penggunaan istilah dengan pengertian baku yang jelas, antara pengertian Musuh Alami dan Agensia Pengendali Hayati (APH) yang dialih bahasakan dari Biological Control Agents (BCA) perlu dibedakan. Di forum nasional, khususnya Pusat Karantina Tumbuhan (PUSKARA) kini menggunakan istilah “Agensia Hayati” sebagai alih bahasa dari Biotic agents, termasuk di dalamnya BCA sehingga dalam kegiatan rapat dinas yang diadakan setahun sekali ada Komisi Agensia Hayati, karena dalam tugasnya juga mengurusi jasad hidup lain yang tidak termasuk MA.
Sebagai bagian kompleks komunitas dalam ekosistem setiap spesies serangga termasuk serangga hama dapat diserang oleh atau menyerang organisme lain. Bagi serangga yang diserang oleh organisme penyerang disebut sebagai “musuh alami”. Secara ekologi istilah tersebut kurang tepat karena adanya musuh alami belum tentu akan merugikan kehidupan serangga terserang. Hampir seluruh kelompok organisme dapat berperan sebagai musuh alami serangga hama termasuk kelompok vertebrata, nematoda, jasad renik, invertebrata di luar serangga. Kelompok musuh alami yang paling penting adalah dari golongan jenis serangga itu sendiri.
Adapun makna Agensia Pengendali Hayati adalah Musuh Alami yang sudah atau sedang digunakan sebagai sarana (agens) untuk Pengendalian Hayati. Berdasarkan cara kerja atau sifatnya musuh alami dapat dikelompokan menjadi 3 kelompok yaitu Predator, Parasitoid dan Patogen. Patogen antara lain berasal dari kelompok Virus, Bakteri, Cendawan dan Nematoda. Dilihat dari kegunaannya musuh alami atau agens pengendalian hayati dapat dibagi menjadi tiga kelompok yaitu parasitoid, predator, dan patogen.
Keunggulan dan Keuntungan Pengendalian Hayati
1. Tingkat keberhasilan pengendalian hama yang tinggi dengan biaya yang rendah dalam periode waktu yang lama.
2. Agen pengendalian hayati aktif mencari inang atau mangsanya, tumbuh dan berkembang mengikuti dinamika populasi inang atau mangsanya.
3. Pengendalian hayati tidak berpengaruh negatif terhadap manusia dan lingkungan.
4. Beberapa tipe agens pengendalian hayati bisa digunakan sebagai insektisida hayati.
5. Umumnya spesies hama tidak mampu berkembang menjadi resisten terhadap agens pengendalian hayati. Resisten terhadap Bacillus thuringiensis, Pupa Brontispa longisima mengalami enkapsulasi akibat serangan parasitoid Tretrastichus brontispae.
Keterbatasan atau Kelemahan Pengendalian Hayati
Penelitian awal untuk mencari pemecahan masalah hama dengan pengendalian hayati memerlukan staf teknis dan pakar yang banyak, biaya yang tinggi, waktu yang lama.
Hasil pengendalian hayati antara lain turunnya populasi hama sasaran tidak dapat dilihat dengan segera.