Vienna
"Not just a city, it was a tone that either one carries forever in one's soul or one does not," ―Sándor Márai
"Not just a city, it was a tone that either one carries forever in one's soul or one does not," ―Sándor Márai
Kawasan belanja produk branded
Mengunjungi Vienna, ibukota Austria, bagai membawa saya ke kehidupan masa lalu bangsa ini. Bangunan-bangunan dengan gaya arsitektur kuno masih tampak berdiri kokoh berdampingan dengan gedung-gedung baru dan modern.
Sejak pagi hingga malam saya berkeliling Vienna, mengagumi karya seni yang ada disekitarnya. Nampaknya karena ini akhir pekan, banyak orang berbelanja dan memburu sale. Berbagai brand terkenal, terutama label fashion.
Vienna - menurut opini saya - adalah kota yang layak huni. Kota ini ramai dengan obrolan orang-orang yang sedang berada di cafe dan restoran desainnya lebih menyerupai ruang keluarga. Di sekeliling kota banyak museum dengan seni arsitektur yang anggun sehingga menggambarkan kualitas hidup. Inilah antara lain yang menjadi alasan saya merasa aman berkeliling kota dengan berjalan kaki.
Jika lelah atau enggan berjalan kaki keliling kota, tersedia kereta kuda yang dapat disewa. Model kereta kuda ini sama sekali tidak dimodifikasi menjadi sarana angkutan modern, tapi tetap mempertahankan bentuk aslinya, seperti yang banyak digunakan untuk transportasi sejak abad pertengahan lalu.
Tidak ada mobil atau motor disekitarnya. Ide mengendarai kereta kuda ini bukan hanya mengurangi polusi suara knalpot kendaraan, tapi juga polusi udara karena asap kendaraan bermotor, sehingga menambah kenyamanan warga, terutama pejalan kaki.
Peradaban dan Seni
Warga Austria mencintai dan menghargai seni sebagai bagian dari peradaban manusia. Bukan hanya seni tari, seni suara, drama, opera, dan lainnya, tetapi juga seni arsitektur dan budaya yang menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Pemerintah Austria menyadari betul akan tingginya nilai warisan budaya bersejarah suatu bangsa. Sehingga tak heran jika kita dapat menemukan begitu banyak bangunan dengan arsitektur gaya kuno yang masih berdiri gagah. Beberapa bangunan tua dikelola dengan baik dengan restorasi dan renovasi tanpa mengubah bentuk aslinya, agar generasi berikutnya bisa belajar banyak tentang sejarah negara.
Perhatikan baik-baik gambar diatas, bagian menara yang warnanya tampak berbeda atau lebih putih itu-percaya atau tidak=sebenarnya adalah gambar sketsa!
Ya, gambar tersebut dicetak diatas canvas (seperti poster) dan digunakan untuk menyelubungi bagian yang sedang direstorasi karena rusak. Dengan adanya selubung itu, bentuk menara akan tetap nampak sebagaimana rupa aslinya.
Dengan adanya selubung itu, bentuk menara akan tetap nampak sebagaimana rupa aslinya. Pada sudut lain terdapat beberapa bangunan bersejarah yang telah berubah menjadi kantor, kafe atau restoran, museum, dll di antara bangunan modern. Tapi meskipun tua, mereka terlihat bersih dan terawat dengan baik, berdampingan dengan berbagai gedung baru yang serba modern.
Jumlah bangunan bersejarah yang tetap berdampingan dengan gedungmodern di Jakarta tidak sebanyak seperti yang bisa kita temui di Eropa. Nilai dan apresiasi masyarakat Eropa terhadap bangunan kuno dan arsitektur bersejarah sangat tinggi dan warga negara merasa bangga memilikinya.
Kota dengan langit biru yang cantik.
Restorasi bangunan kuno di tengah kota Vienna.
Selama berabad-abad, Vienna memang kota yang menunjukkan kualitas hidup. Mengapa? Karena umumnya tiap kali bertemu untuk bersantai sambil minum kopi, masyarakat tidak membahas tentang pekerjaan.
Warga kota Vienna pada umumnya lebih senang membahas tentang pengalaman perjalanan atau wisata liburan, membahas pagelaran yang mereka saksikan di teater atau sinema, atau konser musik yang mereka sukai.
Mereka juga membahas kegiatan diskusi yang mereka ikuti atau seminar yang mereka datangi dan mengembangkan topik. Begitu pula dengan kuliner, mereka akan membahas makanan dan minuman yang mereka suka dan restoran favorit yang mereka kunjungi.
Jika warga Singapura yang selalu berjalan cepat dan nampak terburu-buru, atau karena karena alasan efisiensi, warga Vienna malah sebaliknya. Ini memang berkaitan dengan perbedaan budaya. Masyarakat Vienna mencintai seni dan budaya, sehingga kecenderungan mereka lebih kepada kualitas hidup. Mereka saling bertukar ide di kedai kopi ketimbang membahas soal keruwetan pekerjaan.
Kota Komposer Jenius Ternama
Karena begitu tinggi memberikan penghargaan terhadap seni dan kualitas hidup, maka tidak heran jika Vienna, ibukota Austria, melahirkan komposer yang terkenal hingga ke seluruh dunia. Komposer yang populer dengan keindahan gubahannya antara lain Amadeus Mozart, Ludwig van Beethoven, Joseph Haydn dan Franz Schubert.
Vienna mendapat julukan kota musik. Wolfgang Amadeus Mozart yang menulis opera terkenal, Marriage of Figaro, di apartemen yang terletak di Jl. Domgasse No. 5. Ia tinggal tinggal di apartemen tersebut dari 1784 hingga 1787. Sementara Beethoven, komposer jenius lainnya, menghabiskan waktu selama 35 tahun di Vienna, sehingga Vienna mempunyai sekitar 30 tempat yang terkait dengan Beethoven, komposer yang legendaris itu.
Kota Kualitas Hidup
Selain komposer dan musik, Vienna pernah mengalahkan 220 kota lain di dunia, dari segi politik, ekonomi, sosial budaya, kesehatan, pendidikan, layanan publik, transportasi, rekreasi hingga perumahan dan lingkungan alam. Vienna dinobatkan sebagai the best city for life atau kota terbaik untuk tinggal pada tahun 2012.
Kemudian pada tahun 2019, menurut Mercer's Quality of Living Survey, Vienna adalah kota terbaik untuk tinggal. Pada kenyataannya kota ini memang selalu masuk kategori Top-5 di dunia dari survey yang mempertimbangkan faktor politik, sosial, ekonomi, kesehatan dan pendidikan.
Street artist (pengamen) Vienna
Street artist - impersonating
Mereka adalah para 'pengamen' dan 'pengemis' lho! Beda banget dengan yang biasa kita lihat di Jakarta, ya? Saya sama sekali tidak bermaksud merendahkan, tapi dengan berbagi sudut pandang, maka setidaknya kita bisa melihat dan belajar.
Street Artist
Penampilan tampil berbeda, mengenakan kostum rupa-rupa, ada penyihir, puteri, anak-anak, puteri, Ratu Cleopatra, dll, sambil duduk diam dan hanya sekali-sekali mengganti posisi atau bergeser.
Tidak ada yang merintih-rintih memohon belas kasihan atau mengejar meminta uang karena kelaparan - seperti pengemis yang biasa terlihat di jalanan Jakarta atau kota-kota lainnya.
Di depan street artist nampak ada kaleng kecil yang disediakan kepada pejalan kaki atau mereka yang ingin memberikan uang.
Di Austria, seni sangat dihargai dan memperoleh tempat yang tinggi, tidak sebagaimana halnya di Jakarta (mungkin tepatnya belum, atau barangkali sudah ada, akan tetapi belum benar-benar diterapkan secara maksimal). Ada banyak warisan sejarah dan budaya yang tak ternilai di Jakarta, namun nampak kurang terawat atau terlihat begitu kotor.
Pasti akan menyenangkan jika karya seni para seniman jalanan (street-artists) bisa diselenggarakan secara rutin di area terbuka yang bersih di Jakarta, seperti di ibukota Vienna ini. Orang pasti akan pergi ke sana untuk bersosialisasi dan happy dengan lingkungan yang bersih, rapi dan terawat.
Kondisi situs 'Kota Tua' Jakarta sempat membuat saya miris. Seni lokal asli "Betawi" sudah seperti 'gone with the wind'. Warga Jakarta seperti tidak punya budaya tradisional yang benar-benar dijaga atau dibanggakan diantara kehidupan modern. Berbeda dengan warga Eropa di mana seni tua atau kuno dan modern bisa berdiri bersama secara harmonis.
Bayangkan jika warga Jakarta benar-benar bangga akan kesenian tradisional lokal yang tidak memiliki nilai-nilai yang khas yang dapat ditawarkan kepada pengunjung baru atau sebagai obyek wisata yang unik! Seni Betawi hanya tampil musiman saja, dilakukan dalam waktu tertentu, tapi setelah itu tenggelam.
Graz
The UNESCO City of Design, showcasing a fascinating blend of tradition and modernity.