Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun dihujat warganet ketika menggunakan metafora Firaun untuk Joko Widodo. Para pencibir Cak Nun itu mungkin pikirannya penuh dengan satu pengetahuan tentang Firaun yang buruk. Untuk menghindari hal-hal buruk yang mungkin terjadi, Cak Nun segera menyatakan permohonan maaf meski kemudian permintaan maafnya dinilai tanggung. Kata kesambet dipilih untuk mengatakan bahwa ia khilaf dan salah dan ingin minta maaf serta menghapus metafora itu. Ralat lisan tak bisa sepenuhnya lenyap dari ingatan dan momentum ini jadi cerita lisan yang penting bagi siapa saja tentang berbagai macam hal. Momentum ini membuat saya jadi belajar kembali memahami cara kerja metafora, terutama metafora Firaun.
Kamus Besar Bahasa Indonesia daring menyediakan arti bagi kata 'kesambet' (bahasa Jawa) sebagai sakit dan mendadak pingsan karena gangguan roh jahat (orang halus, hantu). Kata itulah yang dipilih Cak Nun setelah potongan video pernyataannya yang memetaforakan Presiden Joko Widodo viral. Saat metafora itu dilontarkan, Cak Nun dalam keadaan sadar dan merasa benar. Entah bagaimana perdebatan antara Cak Nun dan terutama dengan Sabrang, putranya sebelum memutuskan untuk meminta maaf, meski tampaknya belum sepenuhnya merasa bersalah. Kesan ini bisa dikaitkan dengan pernyataan Sabrang di kanal yang sama keesokan harinya.
Badai pasti berlalu walaupun itu belum lengkap. .... setiap malam ada siangnya, setiap siang ada malamnya. Yang perlu kita pastikan adalah pada semua pergesekan itu kita bareng-bareng tumbuh karena akan sia-sia pergesekan kalau tidak ada pertumbuhan. Kalau untuk urusan salah benar, tunjukkan aku satu hal di dunia tidak pernah berdiri sendiri. Salah benar selalu ada asumsi. (9.58-10-38)
Cak Nun bukan orang pertama yang menggunakan metafora Firaun. Dalam ranah politik elektoral, metafora Firaun juga pernah dipakai untuk Ahok oleh Anies Baswedan pada kampanye Pilgub 2016. Gus Sahal meresponsnya dengan menyatakan "Ahok digambarkan sebagai sosok Firaun zaman now, pemimpin non muslim yang angkuh, sombong dan zalim. Sedangkan Anies sepertinya ingin menampilkan diri sebagai Musa zaman now pejuang keadilan untuk rakyat yang selama ini tertindas."
Dalam beberapa narasi sejarah arti Firaun tak sesedehana dalam arti metafora yang telah jadi konvensi di Indonesia. Sejatinya, sebagai metafora, arti Firaun tak bisa dimonopoli oleh tafsir satu orang. Arti Firaun bagi Cak Nun adalah selaras dengan batas pengetahuannya.
Tahun lalu Rino W. Putra menulis puisi "Jajanan Keserakahan". Pada salah satu bait dari puisi empat bait ini dia menulis begini:
Selamat pagi Firaun
Senangkah tidur panjangmu?
Tenangkah kau di sana?
Hey Firaun bejibun orang ingin sepertimu
Sebut saja, Gayus, Nazar, Edhy, Djoko
Keserakahannya melibihimu tuan Firaun!
Firaun dalam puisi ini bukan hanya dipakai untuk mengonkretkan keserakahan tapi juga sandaran hidup. Pada bait terakhir dikatakan bahwa aku lirik memerlukan bantuan Firaun untuk menumpas nama-nama yang disebut itu. Puisi ini penuh paradoks, mungkin karena kesambet roh Firaun.
Dua tahun lalu Dedi Kampleng membaca puisi "Firaun, Iblis, dan Ken Arok" karya M Rohanudin. Firaun dipakai sebagai salah satu metafora untuk mengonkretkan pengaruh dahsyat kekuasaan. Dalam puisi ini, kesombongan iblis lebih berbahaya.
Firaun tenggelam di laut merah
Ketika sedang di puncak kekuasaan
Kekuasaan sama dengan bencana
Jika kekuasaan itu Firaun
Jika kekuasaan itu syahwat
...
Kalau merujuk ke bait ini, korprodi, kajur, dekan, rektor, direktur, ketua RT/RW, camat, wali kota, bupati, gubernur, menteri, presiden, dll yang kekuasaan jadi sumber bencana dan penuh syahwat bisa dimetaforakan sebagai Firaun. Hanya dengan memperluas bacaan tentang bagaimana Firaun dipakai sebagai cara berkomunikasi secara sastrawi, kita tak akan marah dengan penggunaan metafora Firaun oleh Cak Nun karena kemungkinan mirip (bahkan tak mirip sama sekali dengan) Firaun bukan hanya Jokowi tapi juga Cak Nun dan kita.
Biasanya kita melihat metafora pada aspek kemiripan atau pemiripan, kesamaan atau penyamaan, jarang pada soal ketidaksamaan dan perbedaan. Metafora membuat kita melihat dunia dari awal, tetapi sering kali melakukannya dengan menantang gagasan kita tentang kesamaan yang ada di antara berbagai hal; Meski mirip, pada kenyataannya, dua hal tak benar-benar sama.
Dengan demikian, metafora mewakili operasi dasar bahasa: ia berusaha untuk 'memperbaiki' pemahaman kita, tetapi pada saat yang sama juga mengungkapkan bagaimana ketetapan semacam itu, keinginan unntuk menstabilkan dan memastikan makna dibangun di atas pasir yang bergeser. Jadi, santai sajalah karena spektrum makna metafora selalu labil, dan berada pada batas-batas pengetahuan pencetus, penulis, pembaca dan pendengarnya.
Bagi Kang Sobary, metafora Firaun digunakan untuk merendahkan tapi gagal karena Jokowi telah lama mengambil posisi yang rendah dan mustahil bagi siapa pun untuk merendahkannya.
Sedangkan bagi Gus Miftah memetaforakan Jokowi dengan Firaun itu tidak tepat karena bagi Gus Miftah, ciri-ciri Firaun itu tak pernah sedih (senang terus), ngaku Tuhan, dan tak punya utang (42:22-43:36). Jokowi tak punya ciri-ciri itu.
Manariknya, berita tentang ini bisa dicari dengan mudah melalui mesin pencari Google dengan kata kunci yang sama: Cak Nun Firaun atau Jokowi Firaun. Begitulah kefiraunan Mbah Google. Metafora Firaun yang dicetuskan Cak Nun untuk Jokowi membuat keduanya jadi trending. Bagi AS Hikam, ini metafora yang menguntungkan Jokowi secara politik.
Loktabat Utara, 21 Januari 2023