Tiga kata inilah (sepintas, serius, selesai) yang beliau selalu katakan kalau melihat saya tak selesai-selesai mengurusi sesuatu yang baginya tampak tidak praktis. Bagi saya beliau seperti ingin mengatakan, "Cobalah hidup praktis seperti saya yang bisa menyelesaikan banyak hal dengan cepat." Ketiga kata itulah yang sangat melekat dalam ingatan saya yang menghubungkan banyak kejadian dalam pergaulan kami sebagai kolega di kampus. Itulah pilihan yang tak perlu selalu saya ikuti tetapi kadang sikap itu ada benarnya dalam komunitas yang tidak terlalu mementingkan kedalaman. Namun, bisa saja kesepintasan itu baginya adalah kedalaman. Bukankah puisi yang dalam kadang harus sepintas tapi serius supaya terus dibaca tak selesai-selesai? Sajak "Tahu di Waktu" seperti menjelaskan makna kata sepintas itu.
Selengkapnya...
Di media ini pula ia mengikrarkan diri sebagai bagian dari kubu sastra gombal di tengah maraknya kubu-kubuan di kalangan sastrawan (FB 27 Agustus 2020). Entah apa maksudnya. Namun, kalau kita runut antara lain ke pengalaman Sapardi Djoko Damono yang sajak-sajaknya sering digunakan menggombali orang lain, sastra gombal berarti sastra dengan bahasa sehari-hari yang mudah dipahami, bukan sastra adiluhung yang mengerikan (Apriyono, 2017). Meski demikian, ia juga menyatakan sikapnya untuk tak menulis puisi sontoloyo, yakni puisi yang tidak baik (FB 27 Oktober 2018).
Selengkapnya...