September adalah bulan kelahiran Universitas Lambung Mangkurat (ULM). Tahun ini kampus berlambang burung enggang ini berusia 65 tahun. Secara resmi logo dies tahun ini telah dirilis di laman ULM. Slogannya: sinergi dan kolaborasi untuk ULM bermartabat. Masalahnya, apakah logo ini bermartabat sebagai duta komunikasi visual? Di sinilah sivitas bisa berbeda pendapat. Tulisan ini hanya ingin menjelaskan bagaimana makna martabat logo ini jika dibaca sebagai objek komunikasi visual. Entah apakah logo ini hasil dari sinergi dan kolaborasi tim yang mengerti arti penting komunikasi visual bagi martabat lembaga. Atau dibuat begitu saja asal ada? Entahlah.
Logo dies ULM 2023 dibentuk dengan bahasa gambar dan verbal. Dua gambar utamanya: pohon bakau berbatang coklat dan berdaun hijau. Enggang hinggap di salah satu rantingnya. Angka enam dan lima dilukis dengan gradasi warna kuning. Di bawah gambar itu ada slogan yang ditulis dengan dua jenis huruf berwarna warna hitam yang tidak unik, dalam pengertian, jenis huruf itu ada dalam koleksi huruf Windows.
Logo ini berbeda dari tradisi logo ULM sebelumnya dan dari kebiasaan desain logo universitas bermartabat di Indonesia. Mungkin inilah yang dimaksud dengan martabat dalam versi logo ini. Bermartabat harus berani berbeda walau orang mungkin bisa menilai bahwa logo ini terlalu ramai, kumuh dan muram dan terkesan asal-asalan. Apa pun kata orang, begitulah martabat yang mungkin mau dipilih oleh desainer atau pemikir logo ini.
Apa makna pilihan warna itu berdasarkan hasil riset tentang warna? Pada tahun 2000 Thomas J. Madden dkk melakukan penelitian tentang makna dan preferensi warna di berbagai dunia lintas budaya. Hasilnya yang antara lain terkait dengan pilihan warna logo dies ULM 2023, yaitu hitam, coklat, kuning, merah dan hijau.
Kata Thomas, warna hitam dan coklat cenderung berkumpul bersama pada peta persepsi dan tampak terpisah dari warna lainnya, biasanya berada di salah satu ujung peta dan sering kali berada dalam kuadran yang benar-benar terpisah dari warna lainnya. Hitam dan coklat cenderung diasosiasikan dengan makna "sedih" dan "basi" di berbagai budaya. Asosiasi makna tambahan dari kata "formal" (di Brasil, Kolombia, RRC, dan Taiwan) dan "maskulin" (di Austria, Hong Kong, Amerika Serikat) terlihat jelas di beberapa negara, yang sekali lagi menunjukkan makna universal dan unik untuk warna hitam dan coklat lintas budaya dan negara.
Bagaimana kira-kira makna enggang hitam pada gambar itu? Apakah enggang dalam logo tak boleh diwarnai dengan warna lain dengan makna lebih relevan dengan slogan verbalnya? Tentu boleh. Masalahnya, mengapa pilihan warna logo dies ULM 2023 itu? Tugas pemerhati ilmu warnalah yang bisa membantu menjelaskan.
Bagi para ilmuwan warna, warna merupakan bagian penting dari dunia visual, yang mempengaruhi cara orang melihat dan merasakan dunia di sekitarnya. Memahami ilmu warna dan efek emosional serta perilaku dari berbagai warna dapat membantu kita menciptakan desain, seni, dan tata visual yang lebih efektif dan berdampak.
Warna juga berdampak kuat pada emosi dan perilaku. Menurut psikologi warna, warna yang berbeda dapat membangkitkan respons emosional yang berbeda pada setiap orang. Merah sering dikaitkan dengan energi, gairah, dan kegembiraan. Biru dikaitkan dengan ketenangan, kepercayaan, dan stabilitas. Kuning sering dikaitkan dengan kebahagiaan dan optimisme. Hitam diasosiasikan dengan keanggunan dan kecanggihan.
Contoh lain tentang bagaimana warna mempengaruhi perilaku manusia dan fisiologi manusia, adalah jawaban atas pertanyaan tentang bagaimana cara menurunkan stres di tempat kerja. Yang disarankan antara lain mengecat dinding dengan warna yang tepat di tempat yang tepat. Cara ini dapat membuat perbedaan yang menarik atau menenangkan." Riset Wexner (1954, hal. 434) mencatat bahwa merah lebih sering diasosiasikan dengan kegembiraan-merangsang, oranye dengan kesusahan-terganggu-kesal, biru dengan kelembutan-menenangkan, ungu dengan bermartabat-megah, kuning dengan ceria-riang-gembira , dan hitam dengan kuat.
Xerox Corporation pernah meluncurkan kampanye pencitraan dan reposisi logo dan merek dagang. Keduanya diubah dari biru menjadi merah. Alasannya, ingin mengubah persepsi pelanggan terhadap Xerox dari perusahaan mesin fotokopi tradisional menjadi perusahaan teknologi yang lebih terdiversifikasi yang menawarkan printer, pemindai, faks, dan peralatan pencitraan selain mesin fotokopi. Cimbalo, Beck, dan Sendziak (1984) menguji hubungan warna dan emosi terhadap siswa sekolah dasar (kelas dua dan tiga) dan mahasiswa. Untuk kedua kelompok, peringkat warna sangat bervariasi: Kuning, oranye, dan biru ditetapkan sebagai warna bahagia, dan merah, hitam, dan coklat ditetapkan sebagai warna sedih.
Kalau kita pakai hasil ini sebagai acuan, masyarakat umum dan sivitas ULM bisa jadi akan berbeda pula memaknai pilihan warna logo ini.
Apa warna sinergi? Secara universal warna biru dianggap sebagai warna sinergi. Martabat itu warnanya ungu. Warna kolaborasi itu harus warna cerah dan beragam. Hitung ada berapa warna dalam logo dies ULM ini? Mengapa tak menampilkan 11 warna sebagai representasi fakultas yang ada di ULM?
Terakhir, bagaimana dengan bakau sebagai simbol? Secara global bakau dipakai untuk menyimbolkan berbagai hal, mulai dari semangat kerja sama dan kesadaran tentang kekuatan batin dan keberanian diri dalam masa perjuangan. Ia menjadi tanda dari sikap yang tenang di lahan basah, di tepi pantai, untuk melindungi daratan dari abrasi, gelombang, badai dan bahkan ancaman tsunami. Pertanyaannya, ancaman badai macam apa yang akan dihadapi ULM mulai dari dies ini?
Apa Anda tahu jawabannya? Saya tidak tahu.
Daftar Rujukan
Cimbalo, Richard S., Karen L. Beck, and Donna S. Sendziak (1984), "Emotionally Toned Pictures and Color Selection for Children and College Students," The Journal of Genetic Psychology, 133 (2), 303-304.
Thomas J. Madden, Kelly Hewett and Martin S. Roth. (2000). Managing Images in Different Cultures: A Cross-National Study of Color Meanings and Preferences. Journal of International Marketing, Vol. 8, No. 4 (2000), pp. 90-107
Wexner, Louis B. (1954), "The Degree to Which Colors (Hues) Are Associated with Mood-Tones," Journal of Applied Psychology, 38 (3), 432-35.