Ahad, 29 Januari 2023 dunia maya bisa menyaksikan kembali haul terbesar di muka bumi, Haul Guru Sekumpul (ke-18) setelah tiga tahun diredam pandemi. Setelah Musholla Ar-Raudhah merilis kabar resmi bahwa haul ke-18 terbuka untuk umum, dalam waktu singkat, para simpatisan dan jamaah rutin (dan baru) haul spontan bangkit mendirikan posko-posko, dapur umum, tempat rehat gratis, penginapan gratis, makanan gratis, parkir gratis, bahan bakar gratis, tambah angin gratis, dll.
Diperkirakan jutaan jamaah memenuhi ruang Martapura dan sekitarnya. Orang dengan keperluan selain haul yang ingin melintasi Jl. A. Yani harus mengalah atau mungkin pula menggerutu. Saat itu simpatisan haul ingin melunaskan rindu mereka, berada dalam ruang dan waktu berkumpul bersama mengenang almarhum KH. M. Zaini bin Abdul Ghani hanya di Sekumpul, Martapura. Mengharapkan berkah dari kebaikan-kebaikan kecil dan besar dalam momen haul.
Sebelumnya haul ke-18 ini dikabarkan hanya terbatas bagi kerabat dan keluarga dekat Guru Sekumpul sehingga banyak pihak berinisiatif melaksanakan haul Guru Ijai di beberapa tempat, bukan hanya di Kalsel (seperti di Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, dan Kotabaru) tapi juga wilayah Indonesia yang lain (seperti di Jambi dan Samarinda) dan haul yang diselenggarakan pada 26 Januari di tempat lain itu pun ternyata belum cukup untuk rindu yang melimpah.
Tampaknya, haul tanggal 29 Januari ingin mengoreksi pelaksanaan haul 26 Januari di tempat lain yang memberikan peluang kepada pejabat berpidato. Dalam tradisi haul Guru Sekumpul, pejabat dilarang pidato. Kesan ini tersirat dari Surat Pemberitahuan dari Musholla Ar-Raudhah yang beredar setelah 29 Januari 2023. Surat tersebut sekaligus menegaskan kepada siapa saja yang melaksanakan haul Guru Sekumpul di tempat lain agar berada di jalan yang diinginkan keluarga Tuan Guru: menjauhkan haul dari kepentingan politik elektoral, tidak memaksakan diri dan memaksa orang lain, dan apalagi karena motif kepentingan bisnis pribadi penyelenggara.
Sejak awal haul telah menjadi peristiwa kolaborasi kolosal atau fenomena gotong royong yang sangat besar. Dalam ruh kolaborasi, setiap orang bisa berperan sesuai kemampuan mereka. Ada peran imam, penjaga keamanan, panitia dapur umum, pengatur parkir, pendiri posko-posko, tukang sampah, wartawan, reporter dadakan, dll bekerja sama menyempurnakan persiapan, pelaksanaan, dan penyelesaian haul. Haul menolak monopoli peran oleh siapapun. Meski begitu, keluarga Guru Sekumpul tetap dipandang sebagai pemilik otoritas tentang tata cara haul yang benar.
Niat hadir ke haul pun mustahil tunggal. Mujiburrahman (2018) mengatakan bahwa cinta adalah pendorong utama jamaah datang ke haul. Bagi saya, cinta itu pun tak tunggal. Bisa jadi, haul bukan hanya cinta jamaah pada Guru Sekumpul tapi cinta mereka kepada hal lain yang memerlukan mediasi ruang spiritual di Sekumpul.
Pada haul ke-14 saya pernah hadir di Sekumpul dan hanya kebagian tempat di atas Jembatan Sekumpul. Berkah yang saya peroleh adalah pengalaman konkret, pemandangan dari jarak dekat, bukan dari langit yang memerlihatkan besarnya kuantitas jamaah. Dari jarak dekat, kita bisa lebih mengerti apa saja yang dilakukan jamaah di arena. Macam-macam: mulai dari yang sekuler sampai religius.
Tak semua pihak yang ada di arena mau sedekah demi berkah. Tak semua bisa gratis di sini. Di jalan ini banyak juga yang jualan. Entah apakah sudah ada kajian komprehensif tentang potensi ekonomi jamaah haul bagi perekonomian Martapura dan Banjarbaru.
Jamaah yang duduk di sebelah saya datang dari Amuntai dengan harapan anaknya bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Setiap orang di arena haul pasti punya masalah dan ingin masalahnya diatasi dengan doa ribuan jamaah. Mereka yakin pasti ada doa yang dikabulkan. Kalau tidak, mengapa jamaah haul tampah tahun kian banyak?
Bisa saja mitos haul Guru Sekumpul kian besar pada era digital karena kelisanan kedua menemukan teknologi repetisi yang dahsyat. Mitos itu merambat cepat seperti virus (viral) melalui berbagai platform media sosial. Namun, ini perlu diteliti lebih lanjut.
Akan tetapi apakah kolaborasi kolosal ini sepenuhnya baik. Apa tak ada mudaratnya? Coba pikirkan ribuan orang yang bergerak serentak menggunakan kendaraan bermotor. Pasti mereka meningkatkan emisi karbon yang besar karena kemacetan panjang akan menghasilkan emisi karbon lebih besar.
Bayangkan pula, ada anak-anak yang masih menyusu di tengah kerumunan polusi udara dan suara itu. Banyak di antara mereka yang tak pakai masker. Kalau daya tahan tubuh mereka kuat tak masalah. Semoga ini yang terjadi tapi pemusatan polusi tetap tak bisa dibenarkan. Bayangkan kalau peringatan dini BMKG bahwa pada 29 Januari mulai pukul 16.50 Wita berpotensi hujan dengan intensitas sedang hingga disertai petir terjadi?
Ajaibnya, ramalan itu meleset dan kejadian ini menambah daya magis haul. Bayangan ketaktanyamanan seperti ini bisa salah dan bias kelas. Kalau mereka memang ikhlas dengan semua resiko cinta dan rindu mereka, apa yang bisa katakan? Lelah tapi nikmat katanya. Lalu lintas bukan macet tapi melambat dan lancar. Meski begitu, koran lokal mengabarkan soal puluhan jamaah yang terpaksa harus dirawat karena kelelahan.
Namun coba bayangkan dampak lain dari kemacetan panjang dari arus banyak orang yang bergerak serentak ke Sekumpul. Bagaimana kalau di antara mereka ada yang mau ke bandara atau sedang dalam keadaan darurat yang lain. Semoga ini tak pernah terjadi tapi kemungkinan ini bisa terjadi tapi tak terdengar, tak terpikirkan, dan tak bisa dirasakan.
Selain potensi mengganggu kepentingan minoritas yang juga punya hak yang sama di jalan bersama, kemudaratan lain dari kebaikan berbagi makanan dan minuman adalah sampahnya yang dibuang sembarangan sepanjang jalan yang mereka lalui. Posko dan tempat rehat bisa mempertimbangkan penyediaan tempat sampah yang besar. Jamaah perlu diedukasi dan dingatkan dengan pesan Guru Sekumpul yang selalu menginginkan kebaikan, bukan keburukan.
Dalam konteks ini, desentralisasi pelaksanaan haul bisa jadi alternatif untuk meminimalkan polusi udara, suara, potensi kecelakaan lalu lintas, dan sampah serta mencegah pelanggaran hak pengguna jalan yang tak punya kepentingan dengan haul. Karena haul adalah peristiwa kolaborasi, setiap orang punya andil untuk mencegah dampak tersebut.
Loktabat Utara, 29 Januari 2023