Ulasan film Jendela Seribu Sungai (JSS) oleh Dewi Alfianti setidaknya menegaskan dua hal. Pertama, tak ada respons tunggal terhadap film ini. Setiap penonton akan membawa cakrawala harapannya masing-masing. Puja-puji dan caci-maki sudah menjadi bagian dari sejarah film ini.
Kedua, ia menegaskan bahwa film ini tidak realistis baginya yang mengerti budaya yang dilayarperakkan. Pernyataannya dengan tepat menunjukkan persamaan film ini dan novelnya yang belum dia baca. Karena saya sudah baca dan nonton, saya bisa memastikan bahwa film dan novelnya sama-sama tidak realistis pada beberapa bagian. Rinciannya ada dalam tulisan saya yang lebih panjang.
Sebagian penjelasan sudah ada dalam tulisan Dewi bahwa meskipun fiksi itu pada dasarnya mengada-ada, fiksi realis tetap berupaya patuh pada hukum kesepertihidupan. Misalnya, kalau mau ke Loksado jangan menunggu angkutan di Pasar Sudimampir, tapi harus ke Pal 6. Mungkin gambar-gambar seperti ini yang ditangkap aneh oleh siswa SMP di samping kanan saya saat nonton. Tak ada ekspresi emosi. Mungkin apa yang mereka saksikan bertabrakan dengan estetikanya. Ada keanehan yang tidak bisa ia terima.
Kalau kita cermati film ini dalam paradigma alih wahana, film dan novelnya berdialog secara tidak setara dan dekonstruktif. Kasus serupa juga terjadi pada Laskar Pelangi. Bedanya, novel dan film Laskar Pelangi bukan proyek Pemda. Sementara novel JSS memang ditulis dengan maksud untuk difilmkan oleh Pemko Banjarmasin. Entah apa pertimbangannya, mengapa (jika memang mau membuat film anak) novelnya tidak ditulis sebagai novel anak sejak awal, tetapi novel untuk usia 17 tahun ke atas?
Di sinilah film ini ingin mengubah novel JSS. Di novel, Arian yang sok tahu diubah menjadi Arian yang tidak banyak tahu, Ibu Arian yang cerewet jadi pendiam, Bu Sheila yang tak berjilbab jadi berjilbab, yang sekolahnya di Barito Kuala jadi di Banjarmasin. Itulah beberapa koreksi film ini terhadap novel yang jadi sumber naskah skenario.
Tentu bukan cuma itu, bagian-bagian novel yang ditinggalkan film ini mungkin memang sama sekali tak layak bagi kebutuhan anak-anak. Anak-anak sekarang tak bisa lagi dibayangkan seperti anak-anak zaman Andrea atau Fuadi. Mimpi anak-anak yang sudah bisa menyentuh layar tablet, tampaknya masih sulit ditemukan oleh film ini. Makanya, cita-citanya jadi klise.
Makna Jendela dan Sungai
Jika Kota Seribu Sungai adalah sinonim dari Banjarmasin, maka Jendela Seribu Sungai sama dengan apa? Jendela menjadi kata kunci yang amat penting. Paling tidak, jendela dalam film ini punya dua makna. Pertama, makna relasi dan oposisi biner jendela dalam film. Kedua, film ini sendiri sebagai jendela untuk melihat dan mempertontonkan Banjarmasin secara parsial dan semu. Ini jendela obscura yang bisa membolak-balikkan kenyataan. Konsep camera lucida bisa dipakai untuk memahami mengapa orang bisa menemukan kebenaran yang berbeda dari sebuah tayangan.
Dalam film ini ada dua jendela yang divisualisasikan secara berlawanan. Jendela rumah Arian yang selalu terbuka. Dari sana Arian memandang jendela yang lain, jendela rumah Bunga. Dalam konteks ini sungai bisa dimaknai bukan hanya sebagai penghubung tapi juga lambang jarak sosial dan perbedaan kelas sosial yang timpang. Arian sebagai si miskin dan Bunga sebagai si kaya. Jendela si miskin selalu terbuka, dan jendela si kaya selalu tertutup. Tak ada relasi saling memandang antarjendela. Ini cerita dari pandangan jendela si miskin, bukan si kaya. Sudut pandang Arian dalam novel masih terasa dominan.
Ini seperti simbolisasi bawah sadar yang muncul ke permukaan. Simbolisasi ini dengan sangat gamblang mewakili jarak sosial antara kubu yang pro pembuatan film ini dan yang tidak. Silakan telusuri cerita tentang polemik anggaran 6 miliar saat film ini akan dibuat. Bisa juga visualisasi itu punya makna lain terkait ketimpangan sosial secara umum di Kalimantan Selatan. Si miskin yang peduli dan si kaya yang perlu dibantu. Rasanya tidak berlebihan kalau visualisasi ini klop dengan riwayat film ini. Kalau si miskin diremukkan hidupnya dan si kaya didukung mencapai puncak, film ini sebenarnya ingin menyampaikan pesan visual tersebut kepada siapa?
Bagi yang suka dengan perdaya teknologi visual yang mengubah air sungai Martapura yang sehari-hari keruh dan coklat menjadi hijau toska dan bening, pasti tak akan sampai pada bagaimana film ini memaknai sungai. Sungai tak bermakna tunggal dalam film ini. Warna biru/hijau toska sekilas tampak indah tapi itu bukan warna air sungai Martapura sehari-hari. Malah disebutkan bahwa air dengan warna begitu justru berbahaya bagi kehidupan biota sungai. Sungai bukan hanya ibu yang penuh kasih sayang, sumber kehidupan, sumber pengetahuan dan kebijaksaanaan, tetapi juga jarak pemisah yang berpotensi bahaya. Sungai bukan hanya ruang budaya tapi juga ruang buaya.
Film ini juga jendela yang memperlihatkan Banjarmasin sebagai kota yang tidak ramah bagi disabilitas. Kesan ini bisa ditarik dari cerita Bunga yang mau mendaftar lomba tari di Taman Budaya. Lembaga kebudayaan itu dicitrakan negatif sebagan lawan dari sikap wali kota yang positif dan akomodatif. Kepedulian kepada disabilitas dicitrakan belum melembaga. Kalau pun ada, itu hanya keberpihakan pemimpin secara pribadi. Nuansa kampanye kepemimpinan agak kental pada bagian ini.
Karena cita-cita film ini ingin mengangkat citra sungai lebih tinggi daripada jalan, wajah jalan raya sebisa mungkin disembunyikan dari jendela. Bahkan beberapa gambar film ini menampilkan citra jalan Banjarmasin yang berbahaya dan mematikan.
Terakhir, film ini menegaskan karakter sorangan orang Banjar. Sikap ini dititipkan pada tokoh Arian. Keberhasilan Arian memanggungkan Bunga bukan karena pengakuan lembaga yang punya panggung bagi keberadaan Bunga tetapi karena akses pribadi Arian kepada wali kota. Akses itu tentu diperoleh karena keberanian Arian. Jadi, yang memungkinkan cita-cita Bunga bisa menari di ruang publik bukan hanya karena kemauan Bunga, Arian, dan Bu Sheila, tapi juga kepedulian wali kota. Meskipun, penampilan wali kota Banjarmasin sangat minim di layar, film ini cukup memadai sebagai media kampanye politik. Kemunculan Pak wali di layar membuat para emak kompak teriak, "Nah, ini dia!" Saya tak paham apa maksud pernyataan itu.
Begitulah kira-kira film ini bicara secara visual ke cakrawala harapan estetika saya. Tidak ada makna tunggal dari film. Setiap penonton akan membawa pengalaman estetiknya masing-masing. Penonton yang punya pengalaman nonton ribuan kali, estetikanya pasti beda dari saya yang cuma baru nonton film JSS kemarin (20 Juli 2023).
Kalau ada seorang penonton-ribuan-film mengatakan bahwa JSS film yang gagal, santai saja. Tarik nafas, elus dada. Hembuskan pelan-pelan. Sah-sah saja. Tak ada film yang perlu dibela. Film produk kebudayaan biasa. Kita boleh suka atau tidak.
Bagi saya, JSS ini semacam mimpi yang menceritakan dirinya sendiri. Ini cara terbaik untuk menerima JSS sebagai film realis semu dan film politik (karena pakai APBD). Dengan begitu kita bisa menerima beberapa absurditas peristiwa di dalamnya. Begitulah film anak-anak yang lahir dari rahim politik anggaran yang polemis dan mungkin juga sangat traumatik, seperti visualisiasi kelahiran Kejora dan Bunga di bagian awal film ini.
Loktabat Utara, 24 Juli 2023