Pada 7 Januari 2021 lalu muncul berita yang menyampaikan bahwa Gunung Merapi di perbatasan DIY-Jawa Tengah sedang meletus. Benarkah Gunung Merapi Meletus? Jika dilihat dari berita yang disampaikan bahwa gunung merapi mengeluarkan awan panas (wedhus gembel dalam bahasa Jawa). Apakah munculnya awan adalah pertanda bahwa suatu gunung meletus? Tidak, munculnya awan tidak selalu menjadi pertanda gunung berapi sedang meletus. Awan yang keluar dari kawah gunung berapi dapat merupakan akibat dari guguran kawah gunung, namun bisa juga merupakan letusan gunung berapi yang sebenarnya. Nah.. yang terjadi pada gunung Merapi pada tanggal 7 Januari 2021 lalu merupakan awan yang muncul karena adanya guguran dinding kawah gunung merapi. Lalu apakah peristiwa tersebut dapat dikatakan sebagai peristiwa vulkaniame atau tidak?
Vulkanisme merupakan proses mengeluarkan material yang berbentuk cair/padat/gas dari dalam bumi melalui lubang-lubang di permukaan bumi (umumnya berupa gunung berapi). Jadi, peristiwa keluarnya awan panas karena guguran dinding kawah dapat juga disebut sebagai akibat aktivitas vulkanisme. Bahkan, munculnya gas beracun dari retakan tanah di dataran tinggi Dieng, Wonosobo juga dapat dikategorikan sebagai aktivitas vulkanisme. Lalu, bagaimana proses vulkanisme dapat terbentuk? Secara singkat, aktivitas vulkanisme disebabkan oleh arus konveksi dari lapisan astenosfer. Lebih lengkapnya silahkan lihat video disamping.
Intrusi magma adalah proses penerobosan magma melalui rekahan-rekahan (retakan) dan celah pada lapisan batuan pembentuk litosfer, tetapi tidak sampai ke permukaan bumi. Sedangkan Ekstrusi magma adalah proses keluarnya magma ke permukaan bumi. Ekstrusi magma inilah yang menyebabkan gunung api atau disebut juga vulkan.
BOM (Batu besar)
Lapili (Batu kecil)
Pasir
Debu
Batu Apung
Lava
Lahar panas
Lahar hujan
Solfatar/Belerang
Fumarol/Uap air
Mofet
Bentuk gunung berapi ini memiliki lereng yang landai, bahkan terkadang tidak disadari bahwa suatu kota/rumah berdiri di atas tubuh gunung berapi. Sifat magma dari bentuk perisai ini adalah basa dengan kekentalan rendah serta kurang mengandung gas. Oleh karena itu, erupsi yang terjadi memiliki kekuatan yang lemah dengan cara melelehkan lava layaknya aliran sungai (efusif).
Contoh vulkan perisai banyak dijumpai di Kep. Hawaii seperti gunung Mauna Loa, Mauna Kea, Kilauea dan sebagainya.
Bentuk gunung berapi ini memiliki kemiringan lereng yang cukup curam sekitar 45 derajat. Oleh karena itu, tidak jarang jika secara keseluruhan bentuk gunung ini menyerupai kerucut. Material erupsi strato berupa piroklastik. Magmanya bersifat asam, lebih kental dan banyak mengandung gas sehingga erupsinya menyebabkan letusan besar (eksplosif).
Sebagian besar vulkan di Indonesia tergolong vulkan strato. Contohnya adalah Gunung Merapi, Gunung Bromo, Gunung Sinabung, Gunung Agung, Gunung Kerinci, dll.
Bentuk gunung berapi ini memiliki ukuran kawah yang besar. Kawah yang besar ini terbentuk dari adanya letusan besar di masa lalu yang pernah terjadi. Bentuk maar memiliki erupsi dahsyat yang menghempaskan sebagian besar tubuh gunung, namun erupsi selanjutnya lebih dominan gas yang mengikis batuan membentuk lubang besar.
Contoh gunung berbentuk maar di Indonesia adalah gunung lamongan dengan kawahnya bernama kawah klakah. Gunung Kelimutu (kawah tiga warna) di Nusa Tenggara Timur. Di luar negeri terdapat gunung Eifel (Jerman) dan gunung Auvergne (Perancis)
Tipe-tipe letusan gunung berapi memiliki jenis yang bermacam-macam. Setiap gunung memiliki karakteristiknya masing-masing. Klasifikasi pertama, jika dilihat dari besarnya letusan gunung berapi. Seperti skala richter pada gempa bumi, letusan gunung berapi pun memiliki satuan yang digunakan untuk menunjukkan besarnya letusan gunung berapi tersebut. Satuan yang dipakai pada letusan gunung berapi adalah Volcanic Explosivity Index (VEI). Standar pengukuran VEI berdasarkan pada tingginya kolom abu vulkanik yang dikeluarkan dan dilemparkan ke udara. Guna memahami skala VEI silahkan lihat video disamping.
Klasifikasi kedua adalah gunung berapi yang dilihat dari model letusannya. Model letusan ini dipengaruhi oleh jenis magma dan tekanan gas yang ada di dalamnya. Terdapat 7 jenis gunung berapi berdasarkan klasifikasi ini, yaitu:
Magmanya yang sangat cair dan sedikit tekanan gas sehingga memunculkan sungai lava yang mengalir ke laut. Contohnya Gn. Mauna Kea, Hawaii.
Tekanan gas yang tinggi dari dapur magma menyebabkan material vulkani terlempar lurus ke udara. Contohnya Gn. Bromo, Indonesia.
Kandungan gas yang banyak di dalam perut bumi membuat material vulkanik terlempar lurus ke udara dan memunculkan kawah samping untuk mengeluarkan gas-gas yang banyak. Contohnya Gn. St. Helens, USA.
Magma yang sedikit kental sehingga lontaran material vulkanik tidak terlalu tinggi. Contohnya adalah Gn. St. Vincent Italia
Magma yang cair dan tekanan gas yang besar menyebabkan munculnya magma seperti air mancur dan menyembur ke atas. Contohnya adalah Gn. Raung, Indonesia dan Gn. Stromboli, Italia.
Magma yang kental dan tekanan gas yang tinggi kadang menyebabkan letusan tidak hanya terjadi pada kawah saja. Terkadang mumcul kawah sekunder di samping kawah utama. Contohnya Gn. Pelee, USA.
Gunung Merapi merupakan gunung api yang lain dari pada yang lain. Magma yang kental dan tekanan gas yang tidak menentuk menyebabkan memunculkan leleran lava menuruni gunung disertai awan panas di atasnya.
Klasifikasi yang ketiga untuk gunung api yaitu berdasarkan aktifitas yang terjadi sepanjang masa gunung tersebut. Pada klasifikasi ini terbagi kedalam 3 Tipe, yaitu:
Tipe A, masih menghasilkan magma Kawahnya selalu mengeluarkan asap dan letusan. Contohnya gunung Sinabung, Merapi, Bromo, dll
Tipe B, masih memperlihatkan gejala gunung berapi aktif yaitu mengeluarkan solfatara. Contohnya gunung Rajabasa di Lampung dan Gunung Patuha di Jawa Barat.
Tipe C, tidak diketahui sejarah erupsinya dalam catatan manusia, namun masih menunjukkan adanya aktifitas di masa lampau. Contohnya adalah Kawah Manuk Kamojang di Jawa Barat dan Dataran tinggi Dieng di Jawa Tengah.
Suhu udara di sekitar gunung naik secara mendadak
Sumber air banyak yang mengering
Sering terjadi getaran-getaran gempa lokal
Pohon-pohon banyak yang meranggas dan mati
Binatang-binatang liar banyak yang mengungsi ke tempat lain karena ekologinya terganggu
Terdapat gas belerang, gas yang menggeluarkan belerang dinamakan solfatar
Terdapat gas fumarole
Sumber air panas berasal dari air hujan yang meresap kedalam lapisan batuan yang masih panas
Terdapat mata air makdani (mata air mineral)
Terdapat geyser
Muncul mata air mineral (Makdani)
Muncul sumber mata air
Tanah menjadi subur karena banyak mineral
Merusak lingkungan
Merusak ekosistem dan kerugian finansial
Menimbulkan korban jiwa