Pada pembahasan sebelumnya kita sudah belajar tentang tenaga endogen dan eksogen. Dari fenomena tenaga endogen dan eksogen menghasilkan material berupa batuan dan tanah yang sering kita lihat saat ini. Pembentukan tanah dan batuan oleh tenaga endogen dan eksogen merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Guna mempermudah memahami proses pembentukan tanah dan batuan secara umum dapat dilihat pada diagram di samping.
Proses dimulai dari keluarnya magma dari letusan gunung berapi, Magma yang membeku akan menjadi batuan beku. Contoh batuan beku adalah Batu apung, batu obsidian, batu granit, batu basalt, batu diorit, batu andesit, batu gabro, dan batu liparit.
Batuan beku tersebut mengalami proses erosi dan pelapukan sehingga berubah menjadi tanah. Tanah (Soil) adalah kumpulan dari benda alam di permukaan bumi yang tersusun dalam horizon-horizon, terdiri dari campuran bahan mineral, bahan organik, air, dan udara.
Tanah merupakan media tumbuhnya tanaman. Lapisan tanah di permukaan bumi ini terkadang disebut juga dengan Pedosfer. Pedosfer adalah lapisan tanah yang menempati bagian paling atas dari lithosfer (kulit Bumi) dan merupakan tempat berlangsungnya proses pembentukan tanah. Tanah tersusun dari beberapa komponen yang tergantung pada jenis tanah, lapisan tanah, pengaruh cuaca, iklim, dan campur tangan manusia. Komponen utama penyusun tanah adalah sebagai berikut:
Bahan mineral (45%), berasal dari pelapukan secara mekanis dan diteruskan oleh proses kimiawi yang pada akhirnya membentuk mineral pembentuk tanah.
Bahan organik (5%), berasal dari sisa-sisa tanaman, hewan, dan mikroorganisme yang mengalami pelapukan.
Udara (25%), udara yang terdapat dalam tanah tidak sama dengan yang terdapat pada atmosfer. Udara yang berada dalam tanah selalu tetap termasuk kelembapannya.
Air (25%) terdapat dalam tanah karena ditahan/ diserap oleh masa tanah, tertahan oleh lapisan kedap air, atau karena drainase yang kurang baik.
Pembahasan mengenai tanah ini akan kita pelajari lebih lanjut pada pertemuan selanjutnya. Terdapat 3 pokok pembahasan yang akan kita diskusikan tentang tanah, yaitu:
Setelah terlapuk dan tererosi menjadi tanah, tanah akan mengendap dan membentuk batuan dengan karakteristik lain. Bahan sisa-sisa pelapukan dan erosi tersebut akan mengalami pengendapan dan mengeras menjadi batuan sedimen. Batuan sedimen ini memiliki jenis yang bervariasi karena tergantung pada jenis batuan induk yang tererosi/terlapuk. Selain itu, perbedaan tekstur dan besaran komponen yang menyusun batu tersebut juga akan membedakan jenis batuannya. Oleh karena itu, batuan sedimen menjadi jenis batuan yang paling banyak variasinya. Beberapa diantaranya dapat dilihat pada gambar dibawah ini.
Batuan sedimen lama kelamaan akan tertimbun oleh material sedimentasi yang lain atau justru mengalami proses pengangkatan (uplift) oleh fenomena tektonisme dan/atau seisme. Batuan sedimen yang mengalami pengangkatan akan kita temui sebagai batuan-batuan diatas dan (mungkin) beberapa diantaranya akan mengalami pelapukan/erosi sehingga kembali menjadi tanah kembali. Namun, jika batuan tersebut mengalami tekanan (himpitan) atau terkena suhu tinggi (mendekat kepada magma) maka seolah olah batuan tersebut dimasak oleh alam. Batuan sedimen/batuan beku yang mengalami tekanan/suhu tinggi akan berubah menjadi batuan metamorf. Beberapa jenis batuan metamorf adalah kuarsa (quartzite), slate, marble (marmer), gneiss, schist, serpentit (serpentinite), ruby, topaz, dan safir. Batuan metamorf ini banyak digunakan sebagai batu akik yang dipasang pada cincin karena warna dan tekstur yang menarik.