Selamat datang di Ruang Biologi MA ARIFAH
Petunjuk :
1. Sebelum melakukan pembelajaran silahkan lakukan absensi online
2. setelah melihat video tersebut, silahkan baca materi di bawah ini kemudian buatlah resume/poin-poin penting "catat di buku tulis masing-masing".
3. materi ini dapat diakses setiap hari kecuali absensi online dan evaluasi
Tujuan Pembelajaran:
11.6.4 Siswa dapat menghitung Kapasitas Paru- paru (Praktikum)
11.6.5 Siswa dapat menyebutkan Faktor yang mempengaruhi Frekuensi Pernapasan
Langkah Kerja Menghitung Kapasitas Paru-paru (Praktikum)
Alat dan Bahan:
Spirometer (alat untuk mengukur volume udara pernapasan)
Pengukur denyut nadi
Pengukur waktu (jam atau stopwatch)
Kertas dan pensil untuk mencatat hasil
Langkah-langkah:
Pengenalan:
Jelaskan tujuan praktikum kepada peserta dan pastikan mereka mengerti bagaimana alat dan prosedur pengukuran bekerja.
Persiapan Peserta:
Minta peserta untuk duduk atau berdiri dengan nyaman. Pastikan mereka siap untuk mengambil napas dalam-dalam dan memahami instruksi.
Pengukuran Frekuensi Napas:
Gunakan pengukur waktu untuk mengukur satu menit penuh. Selama satu menit tersebut, peserta diminta untuk menghitung berapa kali mereka bernapas. Catat hasilnya.
Menggunakan Spirometer:
Berikan spiroketer kepada peserta dan jelaskan cara penggunaannya. Minta mereka untuk memegang spiroketer dengan benar dan mengikuti instruksi.
Pengukuran Kapasitas Vital:
a. Minta peserta untuk mengambil napas dalam-dalam dan mengeluarkannya dengan sekuat tenaga ke dalam spiroketer.
b. Catat hasilnya sebagai Kapasitas Vital (VC).
Pengukuran Volume Ekspirasi Paksa Pertama (FEV1):
a. Minta peserta untuk mengambil napas dalam-dalam dan mengeluarkannya dengan sekuat tenaga selama satu detik ke dalam spiroketer.
b. Catat hasilnya sebagai Volume Ekspirasi Paksa Pertama (FEV1).
Pengukuran Kapasitas Inspirasi (IC) dan Kapasitas Ekspirasi (EC):
a. Minta peserta untuk mengambil napas dalam-dalam dan menahan napas selama beberapa detik.
b. Minta peserta untuk menghembuskan udara secara perlahan ke dalam spiroketer sampai tidak ada udara tersisa dalam paru-paru.
c. Catat hasilnya sebagai Kapasitas Inspirasi (IC).
d. Minta peserta untuk mengambil napas dalam-dalam, lalu menghembuskan udara dengan sekuat tenaga sampai tidak ada udara tersisa dalam paru-paru.
e. Catat hasilnya sebagai Kapasitas Ekspirasi (EC).
Analisis Data:
Hitung nilai rata-rata dari semua pengukuran yang telah dilakukan. Bandingkan hasil pengukuran antara peserta yang berbeda.
Kesimpulan:
Berikan kesimpulan berdasarkan data yang telah diukur. Diskusikan faktor-faktor yang mungkin memengaruhi hasil pengukuran, seperti umur, jenis kelamin, dan aktivitas fisik.
Catatan:
Pastikan untuk mengikuti pedoman keselamatan yang berlaku saat melakukan praktikum, terutama dalam penggunaan alat dan interaksi dengan peserta. Jika Anda bukan ahli medis atau instruktur terlatih, lebih baik melaksanakan praktikum ini di bawah pengawasan yang kompeten.
Faktor-faktor yang mempengaruhi frekuensi pernapasan:
Frekuensi pernapasan, yaitu jumlah napas yang diambil dalam satu menit, dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Pada umumnya, tubuh manusia memiliki mekanisme pengaturan yang rumit untuk memastikan bahwa tingkat oksigen dan karbon dioksida dalam darah tetap dalam kisaran yang tepat. Berikut adalah beberapa faktor utama yang mempengaruhi frekuensi pernapasan:
Kebutuhan Oksigen:
Ketika tubuh membutuhkan lebih banyak oksigen, seperti saat beraktivitas fisik, frekuensi pernapasan akan meningkat untuk memasok lebih banyak oksigen ke dalam paru-paru dan ke dalam darah. Ini membantu memenuhi kebutuhan energi yang meningkat selama aktivitas.
Kebutuhan Karbon Dioksida:
Karbon dioksida adalah produk sampingan dari respirasi seluler. Tingkat karbon dioksida dalam darah juga memengaruhi frekuensi pernapasan. Ketika kadar karbon dioksida meningkat, seperti saat melakukan aktivitas fisik intens, tubuh akan merespons dengan meningkatkan frekuensi pernapasan untuk mengeluarkan lebih banyak karbon dioksida.
Aktivitas Fisik:
Aktivitas fisik yang lebih tinggi menyebabkan peningkatan kebutuhan oksigen dalam tubuh. Ini mengarah pada peningkatan frekuensi pernapasan untuk memasok oksigen tambahan ke dalam darah.
Kadar Karbon Dioksida dalam Darah:
Kadar karbon dioksida dalam darah diatur oleh reseptor khusus di aorta dan arteri karotis yang peka terhadap perubahan pH darah. Ketika kadar karbon dioksida meningkat, reseptor ini merangsang sistem saraf untuk meningkatkan frekuensi pernapasan agar karbon dioksida lebih cepat dikeluarkan.
Kebutuhan Metabolisme Basal:
Metabolisme basal adalah tingkat metabolisme yang dibutuhkan oleh tubuh dalam keadaan istirahat. Frekuensi pernapasan yang lebih rendah diamati saat tubuh beristirahat, karena kebutuhan oksigen dan produksi karbon dioksida lebih rendah.
Stres dan Emosi:
Stres, kecemasan, dan emosi intens dapat mempengaruhi frekuensi pernapasan. Reaksi "fight or flight" dapat memicu peningkatan frekuensi pernapasan sebagai respons terhadap situasi stres.
Faktor Lingkungan:
Ketinggian tempat, kualitas udara (misalnya, udara tercemar), dan suhu juga dapat mempengaruhi frekuensi pernapasan. Di tempat yang lebih tinggi, di mana kandungan oksigen lebih rendah, tubuh dapat merespons dengan meningkatkan frekuensi pernapasan untuk mendapatkan lebih banyak oksigen.
Kondisi Kesehatan:
Beberapa kondisi kesehatan seperti penyakit paru-paru, gangguan jantung, dan masalah pernapasan lainnya dapat mempengaruhi frekuensi pernapasan. Misalnya, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) dapat menyebabkan kesulitan bernapas dan peningkatan frekuensi pernapasan.
Faktor-faktor ini bekerja bersama untuk memastikan bahwa tubuh memiliki pasokan oksigen yang cukup dan mengatur pengeluaran karbon dioksida. Sistem pernapasan secara otomatis menyesuaikan frekuensi pernapasan sesuai dengan kebutuhan tubuh dalam berbagai situasi.