Selamat datang di Ruang Biologi MA ARIFAH
Petunjuk :
1. Sebelum melakukan pembelajaran silahkan lakukan absensi online
2. setelah melihat video tersebut, silahkan baca materi di bawah ini kemudian
buatlah resume/poin-poin penting "catat di buku tulis masing-masing".
3. materi ini dapat diakses setiap hari kecuali absensi online dan evaluasi
Tujuan Pembelajaran:
11.5.6 Siswa dapat menjelaskan Pencernaan Hewan Ruminansia
11.5.7 Siswa dapat menganalisa Kelainan pada Sistem Pencernaan Manusia
Pencernaan Hewan Ruminansia
Hewan ruminansia adalah kelompok hewan yang memiliki perut berempat, yang terdiri dari beberapa kompartemen. Sistem pencernaan mereka sangat unik dan disesuaikan untuk mencerna tumbuhan serat yang sulit dicerna oleh hewan lain. Contoh hewan ruminansia meliputi sapi, domba, kambing, dan rusa.
Struktur Pencernaan Hewan Ruminansia:
Rumen:
Rumen adalah kompartemen pertama dalam perut ruminansia. Ini adalah tempat dimana mikroba seperti bakteri dan protozoa hidup dan membantu mencerna serat kasar dalam makanan.
Retikulum:
Retikulum memiliki fungsi khusus dalam menghasilkan boli makanan yang kemudian akan diolah kembali oleh hewan ruminansia untuk pencernaan lebih lanjut.
Omasum:
Omasum berfungsi sebagai filter mekanis dan penyerap air dari boli makanan sebelum mencapai bagian akhir.
Abomasum:
Abomasum mirip dengan lambung pada hewan non-ruminansia. Ini adalah tempat dimana pencernaan kimiawi terjadi, termasuk pencernaan protein oleh enzim.
Proses Pencernaan pada Hewan Ruminansia:
Fermentasi Mikroba:
Rumen adalah pusat fermentasi mikroba. Bakteri dan protozoa dalam rumen memecah serat kasar menjadi bentuk yang lebih sederhana, seperti asam lemak rantai pendek dan asam organik.
Regurgitasi dan Re-Mastikasi:
Setelah fermentasi awal di rumen, boli makanan dikembalikan ke mulut melalui proses regurgitasi. Hewan ruminansia kemudian mengunyah kembali boli makanan ini dalam proses re-mastikasi, memecah serat lebih lanjut dan memfasilitasi pencernaan lebih lanjut.
Pencernaan Akhir:
Setelah proses fermentasi dan re-mastikasi, boli makanan mencapai omasum dan abomasum. Di abomasum, pencernaan kimiawi terjadi dengan bantuan enzim yang mirip dengan sistem pencernaan hewan non-ruminansia.
Keunggulan Pencernaan Hewan Ruminansia:
Mencerna Serat Kasar: Sistem pencernaan ruminansia memungkinkan mereka untuk mencerna serat kasar dalam tumbuhan, seperti rumput dan daun yang sulit dicerna oleh hewan non-ruminansia.
Pemanfaatan Sumber Energi Rendah: Hewan ruminansia mampu menggunakan bahan pakan yang relatif rendah kualitasnya, seperti rumput yang belum diolah.
Kehidupan Simbiosis dengan Mikroba: Mikroba dalam rumen membantu mencerna makanan dan juga menyediakan nutrisi untuk hewan ruminansia.
Kesimpulan:
Hewan ruminansia memiliki sistem pencernaan yang unik dan sangat efisien dalam mencerna tumbuhan serat. Adaptasi ini memungkinkan mereka memanfaatkan sumber pakan yang mungkin tidak dapat dimanfaatkan oleh hewan lain, serta membangun hubungan simbiosis dengan mikroba yang membantu dalam proses pencernaan.
Kelainan pada Sistem Pencernaan
Sistem pencernaan manusia dapat mengalami berbagai macam kelainan dan penyakit yang dapat memengaruhi fungsi dan kesehatan organ-organ terkait. Kelainan dan penyakit pada sistem pencernaan dapat mempengaruhi proses pencernaan, penyerapan nutrisi, dan keseimbangan tubuh secara umum.
Beberapa Kelainan dan Penyakit Pada Sistem Pencernaan:
Gastroesophageal Reflux Disease (GERD):
GERD terjadi ketika asam lambung naik ke kerongkongan, menyebabkan sensasi terbakar (heartburn). Ini bisa terjadi karena sfingter antara kerongkongan dan lambung tidak berfungsi dengan baik.
Gastritis:
Gastritis adalah peradangan pada dinding lambung. Ini bisa disebabkan oleh infeksi bakteri Helicobacter pylori, penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID), alkohol, atau faktor lain.
Maag (Peptic Ulcer Disease):
Ulkus peptikum adalah luka pada dinding lambung atau duodenum. Faktor penyebab meliputi infeksi H. pylori dan penggunaan NSAID.
Sindrom Usus Besar Mudah Marah (Irritable Bowel Syndrome, IBS):
IBS adalah gangguan fungsional usus besar yang menyebabkan gejala seperti perut kembung, diare, dan sembelit. Penyebab pasti belum sepenuhnya dipahami.
Inflammatory Bowel Disease (IBD):
IBD termasuk penyakit Crohn dan kolitis ulserativa, yang menyebabkan peradangan kronis pada saluran pencernaan. Gejala meliputi diare berdarah, nyeri perut, dan penurunan berat badan.
Celiac Disease:
Penyakit celiac adalah reaksi autoimun terhadap gluten, protein dalam gandum. Ini merusak lapisan usus halus dan mengganggu penyerapan nutrisi.
Gallstones:
Batu empedu terbentuk dari kumpulan zat dalam empedu. Mereka dapat menyumbat saluran empedu dan menyebabkan nyeri abdomen yang parah.
Hepatitis:
Hepatitis adalah peradangan hati, yang bisa disebabkan oleh infeksi virus (misalnya hepatitis A, B, C), alkohol, obat-obatan, atau faktor lain.
Pancreatitis:
Peradangan pankreas dapat disebabkan oleh alkohol, batu empedu, atau infeksi. Ini dapat menyebabkan nyeri abdomen yang parah dan masalah pencernaan.
Colon Cancer:
Kanker usus besar adalah salah satu bentuk kanker yang paling umum. Faktor risiko termasuk usia, riwayat keluarga, polip usus besar, dan gaya hidup.
Pencegahan dan Pengobatan:
Pencegahan dan pengobatan kelainan dan penyakit pada sistem pencernaan melibatkan perubahan gaya hidup, pengaturan pola makan, penghindaran faktor risiko, serta pemberian obat-obatan atau tindakan medis yang sesuai. Penting untuk berkonsultasi dengan profesional kesehatan jika mengalami gejala atau memiliki riwayat keluarga terkait penyakit-penyakit ini.
Kesimpulan:
Kelainan dan penyakit pada sistem pencernaan dapat sangat memengaruhi kualitas hidup dan kesejahteraan seseorang. Pengetahuan tentang penyebab, gejala, dan tindakan pencegahan atau pengobatan dapat membantu individu menjaga kesehatan sistem pencernaan dan menghindari komplikasi yang lebih serius.