ada cerita tentang anak muda yang ngeluh ke kakek-kakek. cerita ini udah banyak diceritain. kalau udah pernah tau ceritanya, yaa itung-itung recall. kalau belum tau ceritanya, begini..
ada anak muda datang ke kakek tua di pinggir danau yang jernih airnya. anak muda itu punya persoalan dan sambat ke kakek tua.
“saya punya masalah bla bla bla bla” berat banget terasanya.
kakek itu lalu beranjak sebentar. dia bawa 2 genggam garam, lalu bawa satu gelas kosong. dimasukkan 1 genggam garam tadi ke dalam gelas, dan diambil satu gelas air danau yang jernih itu dengan gelas berisikan segenggam garam. terus kakek tua itu nyuruuh anak muda buat minum.
“minum”
air itu langsung dimuntahkan sama si anak muda “wah asin banget!” katanya.
lalu kakek tua itu melempar segenggam garam sisanya ke danau yang luas. lalu air danau yang jernih itu diambil lagi dengan gelas yang sama.
“sekarang minum” kata kakek tua. “gimana rasanya?” tambah si kakek.
“segar, enak, lebih nyaman” jawab si anak muda.
“itulah hatimu. kalau hatimu sesempit gelas ini, maka masalah sekecil apapun akan selalu menghadirkan kesulitan seperti tadi kamu menelan garam. tapi kalau hatimu luas, sebesar apapun masalah tidak akan pernah berdampak pada dirimu kecuali kamu mampu menyusun cara untuk mengatasinya”
Ujian seberat apapun yang kita alami gapernah diberikan ke kita kecuali tujuannya adalah untuk mengabulkan doa yang selama ini kita harapkan. cara allah mengabulkan doa ada banyak, salah satunya dengan ujian. karna desain dasar kesuskesan adalah ujian. misal waktu dulu kita SMA, apa mungkin kita diwisudakan dengan penuh kebahagiaan kalau ga lewatin ujian? belajar dulu - ujian - bisa jadi remedial - belajar lagi - ujian - lulus - wisuda.
kalau gak lewat belajar dan ujian mustahil kan kita bisa wisuda? ternyata harapan hukum dasarnya bisa dilewati dengan ujian.
kalau mengalami peristiwa, coba inget inget lagi kita pernah minta apa yang bikin Allah kasih jalan ini (kesusahan yang kita rasain) supaya menuju ke doa doa kita.
tapi Allah itu adil, allah gak akan nguji kita kecuali sesuai dengan kemampuan kita. jadi kalau ga mampu, ga mungkin dikasih ujian. artinya, harapan yang kita minta ke Allah pun akan sesuai dengan kemampuan kita. jadi kalau kita minta sesuatu ke Allah yang nggak mungkin kita bisa menggunakannya, nggak akan Allah kasih.
kalau kita ketemu peristiwa sulit, langusng bilang ke hati “gak mungkin gue diuji kalau gue gak mampu”.
di surah Al-Insyirah ayat 5 “Fa inna ma'al usri yusra” (Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan) dan ditegaskan lagi di ayat 6 “Inna ma'al 'usri yusra” (sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan). disana Allah janji sesulit apapun masalah yang kita alami, maka Allah akan datangkan solusi semudah-mudahnya yang bisa kita nikmati dan kita jalani.
ngomong di lisan emang enteng ya :D gue ngomong kayak gini bukan berarti hati gue luas banget, gue juga masih belajar buat ikhlas dan nrimo semua kejadian dalam hidup kok. sendiri emang susah, makanya Allah janji bakal selalu ada buat kita segelap apapun situasinya, kayak yang Allah janjiin di surat Ad-Dhuha: 1) Wad duhaa 2) Wal laili iza sajaa 3) Ma wad da'aka rabbuka wa ma qalaa. (Demi waktu dhuha -ketika matahari naik sepenggalah- dan demi malam apabila telah sunyi, Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak (pula) membencimu,).
gue sendiri, proses gw bangun resiliensi di bantu temen dan keluarga. nikmat banget rasanya punya temen dan keluarga yang bikin gw ngerasa disayang. kalau lo butuh temen, bisa kok hubungin gue *finger cross. karna gue tau rasanya jalan sendirian pas lagi butuh-butuhnya kehadiran orang wkwk