"kau tak pernah bilang, bahwa bulan lebih besar di sini. kau tak pernah bilang, bahwa langit dan laut lebih biru disini. Alunan sasando yang merdu dan genggam hangatmu, demi rindu aku akan menjupaimu. Di Pulau Lembata.."
Begitu kurang lebih kutipanmonolog dari novel fiksi yang terinspirasi dari keindahan NTT karangan Sari Narulita, judulnya Cintaku Di Lembata. Novel bergenre romance ini ceritain seroang gadis anggota paduan suara asal ibu kota, yang jatuh cinta sama lelaki kelahiran Kupang, anak tokoh masyarakat Pulau Sabu. Dipertemukan keduakalinya di Pulau Lembata, dan terpaksa harus kembali berpisah di Kota Kupang. Status si tokoh laki-laki sebagai 'putra mahkota' membatasi jalinan kisahnya bersama si tokoh perempuan. Perbedaan kepercayaan, status masyarakat, adat dan aturan suku yang kian pelik jadi faktor utamanya.Â
Bu Sari mendeskripsikan panorama NTT dengan sederhana, lembut, dan berhasil membangun imaji atas kesyahduan tiap perjalanan kedua tokoh. Buat siapapun yang membacanya, akan muncul kerinduan buat datang, termasuk gue.