Di perjalanan, khususnya jalan menurun, seringkali kondisi mengharuskan gue buat melangkah lebih cepat dari biasanya supaya gue nggak kepeleset, dan lutut gue nggak nyeri. Disana gue dilatih berpikir cepat buat milih jalur mana yang harus gue pijak. Mau injak batang pohon yang notabenenya lebih "keset", tapi takut kaki nyangkut di sela-sela ranting. Mau lewat jalan kerikil yang kelihatannya lebih landai, tapi ternyata malah lebih licin. Semua jalur ada plus minusnya, engga ada yang plus doang.
Di awal perjalanan turun, ritme jalan gue sempet lambat karna kelamaan mikir harus lewat jalan yang mana. Lama-kelamaan perjalanan turun terasa nikmat-nikmat aja, toh mau pilih jalan A atau B, bakal ada peluang buat kepeleset juga kan? Jadi dinikmati aja jalannya, pake hati, kalau kepeleset ya berdiri lagi. Lagian gue jalan gak sendiri kan, ada temen yang siap ngulurin tangan kalau gue kepeleset. Ya di ketawain dulu sih pastinya.
Ya sama juga kayak hidup gue. Kadang gue kelamaan mikir harus pilih keputusan yang mana. Padahal apapun keputusan yang gue ambil pasti akan menuntun gue ke 'suatu tempat' kan? Gak jarang karna kebanyakan overthinking malah menghasbiskan waktu dan melewatkan banyak kesempatan yang lain. Yaa, gue gabisa salahin naluri manusia yang punya firasat, "feeling gue gue harus pilin jalan A, kalau gue ambil jalan lain firasat gue nggak enak" Tapi.. gue nggak pernah tau skenario lengkap yang udah direncanakan Tuhan kan?
Beberapa jam sebelum benar-benar 'mendaki', kita semua serombongan istirahat di base camp. Disana kita makan dan mulai memilah dan memilih barang apa aja yang mau kita bawa dan yang kita tinggal di base camp.
Sebenernya gue udah tau apa yang bener-bener esensial buat dibawa. Tapi kadang otak duniawi gue ngelak. Misalnya, "kayaknya gue harus bawa kerudung ini deh, soalnya warnanya matching sama baju gue yang itu". Darimana gue punya dasar pemikiran kayak gitu? Ya, supaya bagus buat foto HAHA. Dan barang-barang lainnya yang ga memiliki nilai urgensi yang tinggi. Setelah berdebat dengan diri sendiri, akhirnya gue memutuskan buat bawa kerudung secukupnya. TAPI, gue bawa 2 jaket. Alasan pertama, karna takut dingin. Alasan kedua, yaa.. karna gue pengen bawa aja haha (iya ga penting alasannya).
Belum ada satu jam jalan, punggung gue udah pegel haha, karna gue masih newbie mendaki gunung dan emang tas gue berat. Pas pundak gue udah terasa gak kuat, mau ngurangin barang juga udah nggak bisa, base camp udah jauh.
Kadang gue terlalu fokus sama hal-hal yang indah di mata. Sampe gue lupa apa yang indah dan enak di nikmati ya kesederhanaan. Gue terobsesi ingin dapet pengakuan dan validasi dari orang lain kalau gue itu A B C D bla-bla-bla (intinya ingin terlihat hebat). Tapi karna obsesi gue, gue malah gagal jadi diri sendiri which is memberatkan gue. Dan sebenarnya, validasi itu nggak esensial banget. Obsesi gue untuk dapet pengakuan mengantarkan mereka pada ekspektasi tinggi terhadap gue. Ingin rasanya membalikan waktu supaya orang-orang gak menaruh proyeksi tinggi diatas pundak gue. Tapi udah telat, perjalanan udah jauh. Padahal sebenernya gue bisa buang jauh ego dan emosi gue di awal, Gue bawa kesederhanaan dan rasa syukur ke dalam tas gue supaya perjalanan gue terasa lebih lapang.
ya.. gimana.. gue masih perlu belajar tentang hal ini.
"Mas Le, pos 2 masih jauh?"
"tidak, tidak, di depan sana sudah pos 2" *ngomong pake aksen logat lombok*
"di depan mana mas?"
"di balik bukit yang diujung sana itu"
:)
Begitulah kurang lebih percakapan gue sama mas-mas guide. Apa yang dikatakan si mas guide nggak salah, bener kok Pos 2 ada di depan. walaupun depan bukit. Gue tau maksud Mas Le bilang begitu supaya gue termotivasi buat jalan terus dan me-sugesti kalau pos selanjutnya udah deket. Tapi buat gue, kalimat-kalimat kayak begitu PHP :') Gue lebih seneng dikasih tau aja jarak sebenarnya. Kalau jauh ya jauh, kalau udah deket ya bilang deket.
Mungkin disini gue harus belajar memahami Love Language orang lain kali ya (HAHA bawa-bawa love language). Bisa jadi banyak pengunjung lain yang butuh disugesti kalau tempat tujuan udah deket dan nggak semua pengunjung seneng kalau dikasih tau realita jarak pos 2 yang sebenarnya. Maksud Mas Le juga baik, supaya tamu beliau semangat. Dan gue ga berhak menuntut supaya semua orang paham dengan semua kemauan gue. Karna (mengutip youtube 1%) orang lain nggak berhak tanggung jawab atas bahagia oranglain. Tapi orang lain secara alamiah punya tugas moral untuk berusaha membahagiakan manusia lain karna kita makhluk sosial.
Jadi, ya, Mas Le cuma lagi berusaha buat gue tenang, walaupun caranya nggak pas di gue. Dan dengan begitu, gue punya media buat belajar memahami kalau tiap orang punya cara yang berbeda buat membahagiakan orang lain.
Tim Sembalun, nama rombongan gue, beranggootakan 7 orang. Dimana 5 orang diantaranya udah berpengalaman naik gunung. Kasarannya, ya, emang mereka menargetkan mendaki 7 summit Indonesia. Jelas dong jam terbang dan persiapannya jauh lebih pro dibanding gue.
Dari awal perjalanan gue selalu merasa tertinggal. Merasa jadi anak bawang karna kecepatan gue paling lambat. Gue selalu panik kalau gue udah di baris paling belakang. Mas-mas Guide selalu ingetin gue "Pelan pelan aja kak. kecil-kecil langkahnya gapapa yang penting konsisten". Tapi gue selalu membandingkan diri gue dengan kelima temen gue itu. Kenapa sih gue gabisa secepat yang lain? lucu ya, padahal gue tau, mau jalan lambat atau secepat kuda, kita bakal ketemu di satu titik kumpul yang sama. Tapi tetep aja, ego yang menekan gue supaya gue bisa maju mendahului mereka-mereka yang jauh lebih berpengalaman.
Beberapa kali gue berhenti sejenak di perjalanan. Gue tengok ke atas, duh masih jauh banget!.
Ya, Rinjani tinggi, rasa-rasanya gue ga berhak buat berhenti karna masih panjang perjalanan yang harus gue tempuh. Gue senderan di batang pohon, gue basuh sedikit dahaga gue, dan nggak sengaja gue nengok ke belakang. Gila! ternyata gue udah berjalan sejauh ini?? dan lewatin jalan yang seindah ini juga? kok gue gak nyadar ya?!
Begitu juga gue di kehidupan sehari-hari. Gue terlalu fokus sama kecepatan orang lain, dan selalu membandingkan diri gue dengan orang lain. Alhasil gue nggak pernah merasa cukup. Rasanya selalu ada aja yang kurang dari gue. Padahal orang yang dijadikan patokan memang orang yang punya jam terbang lebih banyak.
"Nggak apa-apa langkahnya kecil-kecil, yang pentnig konsisten. Nanti juga sama-sama kumpul di Pos 3".
Dalam berproses, seringkali gue berorientasi sama progress orang lain, bukan progress gue sendiri. Dan yang paling bahaya, saking terlalu asik ngurusin perjalanan orang, gue sampe lupa sama tujuan gue sendiri. Tujuan gue perlahan berubah jadi "Gimana caranya supaya gue bisa kayak yang lain" instead of "Gue harus sampai puncak Rinjani".
Memaksa diri gue buat setara dengan oranglain juga membuat gue lupa akan hal-hal indah yang gue lalui di sepanjang perjalanan. Contohnya, gue terobsesi buat menyelesaikan tugas-tugas sekolah duluan, sampe gue nolak tawaran temen-temen gue buat nonton bioskop, karaokean, dll. Padahal, ngumpulin duluan atau belakangan, nggak mempengaruhi nilai yang akan gue dapat. Dapet nilai bagus enggak.. kehilangan momen bareng temen-temen iya.. (ini gue pas SMP btw).
Ya, Sama kayak Rinjani. Capek-capek jalan secepat kuda, nyampe duluan enggak... nggak sempet foto-foto di tempat indah iya.. haha
Dari sini gue jadi paham kalau kecepatan orang nggak ada yang sama. Karna kita lagi berlari di lintasannya masing-masing. Satu-satunya lawan yang ada di lintasan gue, ya gue sendiri. Istilah musuh paling berat adalah diri sendiri benar adanya. Gue belajar buat fokus sama tujuan gue dan belajar menerima diri sendiri. Kalau capek, nggak apa-apa luangin waktu buat rehat sejenak. Tengok ke belakang. Tapi bukan buat berhenti. Buat reminder diri sendiri kalau gue berhasil melalui perjalanan panjang yang sebelumnya nggak gue kira bisa gue laluin.
Di Rinjani gue sering bertemu pendaki lain. Sesama Indonesia maupun luar negeri.
Suatu momen di Tanjakan Penyesalan, gue kehausan dan nggak ada sedikitpun air tersisa di dalam botol gue.
"Pak Arif, masih ada air nggak ?"
"Abis juga, Can"
Wisatawan asal Malaysia yang juga bersandar di batang pohon nggak jauh dari gue tiba-tiba menyodorkan botol minumnya berisikan air full. Langsung gue buka tutup botolnya, gue tuang air yang ada di botolnya ke botol gue. Tapi wisatawan itu memberi kode gestur tubuh supaya gue terima semua airnya.
Setelah bertemu dengan wisatawan yang lupa gue tanya namanya itu, gue ketemu dengan wisatawan asal Aceh. Kasusnya sama kayak gue, kehabisan air. Karna gue ada lebih, gue kasih sebagian air gue, dan beliau ngasih gue madu sachet.
Rasa kekeluargaan di Rinjani begitu lekat. Udara dingin Tanjakan Penyesalan dihangatkan dengan keramaan orang-orang didalamnya. Disana gue diajarkan untuk bersikap sederhana, memahami kebutuhan. Kadang dari kesederhanaan gue bisa dapet suatu nilai lebih. Dan nilai lebih itu yang bisa digunakan sebagai modal berbagi ke orang lain. Andai aja semua orang di dunia kayak begitu, mungkin akan lebih damai.. Gue belajar buat mengambil segala sesuatu seperlunya, dan berusaha buat berbagi bila punya.
Hmm.. Urusan keluarga ini, faktor penyebabnya adalah karna gue merasa jauh, dan khawatir. Ya jauh, gue di lombok, keluarga gue di Depok.
Di setiap perjalanan seringkali terbesit, "Duh, kalau ternyata keluarga di rumah ada yang sakit gimana ya?" perasaan-perasaan itu muncul dan sering bikin gue resah. Ingin selalu mengabari dan menanyakan kabar orang rumah, tapi gue nggak ada sinyal. Satu-satunya yang bisa gue lakuin adalah berdoa semoga keluarga gue sehat dan gue bisa segera bertemu dengan mereka lagi.
Benar ya, kata orang-orang. Kadang segala sesuatu yang penting di hidup bakal terasa lebih berarti pas udah jauh.
Akibat muncul perasaan-perasaan itu, sebisa mungkin gue selalu menghubungi keluarga gue kalau ada sinyal. Supaya khawatir gue terbayar, dan merekapun tenang melepas gue naik Rinjani.
Dan setelah turun dari Rinjani, kehadiran keluarga ataupun orang-orang terdekat di hidup gue lebih termaknai.
#ceilah
Setelah melalui perjalanan panjang, sampailah gue di Pelawangan Sembalun. Gue disambut oleh teman-teman satu rombongan. Iya, akhirnya gue sampe juga.
Kita semua menikmati momen di Pelawangan Sembalun. Ada yang masak Indomie, nyanyi, bikin kopi, tidur-tiduran, foto-foto, macem-macem. Ditengah menikmati suasana, tiba tiba langit lombok gelap, berangin dan sesekali tetesan hujan terasa jatuh di pipi gue. Satu tetes-dua tetes hujan membasahi tanah pelawangan, tak lama Pelawangan Sembalun diguyur hujan lebat dan badai angin. Rasanya suasana yang semula sangat menyenangkan begitu cepat berganti jadi muram. Begitupun perasaan gue waktu itu.
"Kalau besok nggak bisa ke puncak dan turun ke Segara Anak, nggak apa-apa ya?"
Aaargh gue udah jauh jauh kesini, masa sampai sini aja :(
"Iya, enggak apa-apa kok, Mas" jawab gue pasrah.
Sampai malampun tidur gue nggak nyenyak, karena patok tenda gue lepas dan beberapa kali tenda gue hampir terbang. Makin pupus deh harapan buat berdiri di 'Atap Lombok'. Satu-satunya yang bisa gue usahakan cuma berdoa.
Jam 3 dini hari, disuguhi kopi, juga tawa para Guide mengundang gue untuk keluar dari tenda. Gue lihat langit Rinjani dan enggak ada kata lain yang terucap selain "Subhanallah.."
Langit hitam legam yang gue lihat 4 jam lalu berubah menjadi terang, cantik permata gemerlap. Langit terasa sangat bersahabat, bintang-bintang terasa sangat dekat, tanpa henti-hentinya gue pandang lekat-lekat.
Rasa kopi masih tersisa di bibir. Jaket, gloves, gaiter, headlamp, tongkat dan sepatu sudah terpasang rapi. Gue berdiri. Bersama teman-teman, gue mulai langkah berani, menuju atap Rinjani.
Perihal Segara Anak, gue dan rombongan tetap nggak bisa turun kesana karna jalur licin dan berbahaya sehabis diguyur hujan.
Emang ada beberapa hal di hidup gue yang gabisa gue kontrol. Gue bisa memberikan usaha terbaik agar hal yang gue inginkan tercapai, tapi perlu gue sadari bahwa ada faktor penentu lain yang nggak bisa gue apa-apain. Cuaca misalnya. Tapi, karna sifat manusia, kadang gue dikecewakan dengan beberapa hal yang sifatnya datang dari diri sendiri. Misalnya ekspektasi.
Disaat rasanya sudah nggak ada yang bisa diusahakan lagi, satu-satunya jalan ya berharap sama Tuhan. Ya, gue lupa, gue berharap sama ekpektasi gue sampai lupa seharusnya gue hanya menggantungkan harapan kepada Allah.
Lagi-lagi, dari Rinjani gue belajar membedakan hal-hal yang bisa gue kendalikan dan yang enggak. Gue belajar mengatur ulang persepsi atau cara pandang terhadap kejadian yang terjadi di sekitar gue. Allah dengan segala kuasa dan ketetapannya enggak akan pernah salah.
3726 mdpl, puncak gunung api tertinggi ke dua di Indonesia setelah Gunung Kerinci. Iyap, Gunung Rinjani. Dari kelas 5 SD gue terobsesi pingin banget naik Rinjani. Bukan karna sok-sok hype film 5cm, tapi ceritanya dulu gue dikasih tugas IPS buat cari keanekaragaman alam di Indonesia, dan gue langsung seneng banget sama Rinjani. Waktu kelas 6 SD, wali kelas gue nyuruh temen-temen di kelas tulis wish list, mereka kebanyakan nulis ingin dapet nilai UN bagus, ingin masuk SMP negeri, dll. waktu itu gue nulis "Berdiri di puncak rinjani" lengkap dengan gambar gunung, matahari dan sawahnya.
Singkat cerita di kelas 8, wali kelas gue, Pak Arif, nyuruh hal yang sama, tulis wish list. Dan gue masih nulis hal yang sama juga, ingin berdiri di puncak Rinjani.
Dari SD gue selalu nyisishin uang jajan gue soalnya gue tau pesawat ke lombok dan beli peralatan gunung rada mehong ya wak. Tapi lama-kelamaan satu persatu kebeli, mulai dari carrier, sepatu, jaket, tongkat, gaiter, dll.
Suatu hari di kelas 9, gue dipanggil ke ruang guru oleh Pak Arif. panik gakk? Ya panik lah gue kira gue bikin salah, ternyata Pak Arif tawarin gue buat ikut rombongan naik Rinjani!!
Pulang sekolah gue langsung cerita ke ayah mama gue. Mama gue sih okok aja. Nahh ayah gue yang rada takut gegara gue dianggap masih dibawah umur dan gue satu-satunya anggota cewe di rombongan. Trus apa yg gue lakuin waktu itu? Yap, nangis HAHA. gue ngobrol pelan-pelan sama ayah gue dan akhirnya meluncurrr gue ke Rinjani.
Duh cerita perjalanan ke rinjani ngga bisa gue tulis semua, kepanjangan soalnya.
Intinya, Rinjani ngasih gue alasan buat selalu bersyukur, Allah itu sebaik2nya seniman dgn karyanya yg luarr biasa. ngasih gue pelajaran buat terus berjuang (gaya banget haha). Lewat terik matahari savana Sembalun, panjangnya Tanjakan Penyesalan, naik turun bukit, dan sampe deh gue di the 3rd Seven Summit Indonesia.
Dingin nusuk tulang, wajah berlumur pasir, diatas ketinggian 3726 meter diatas permukaan laut, Allah masih mengizinkan matahari naik ke tengah biru langit Pulau Lombok.
Rinjani juga ngasih gue kesan tentang indahnya buat selalu minta doa kepadaNya.
Anyway, kalau kalian ada yang mau ke Rinjani, bisa kali berkabar hehe. Oh iya, tbh, rasa pasir gak enak guys.