in frame: gue
in frame: gue
Kita saksikan angin berhembus menembus selasar sukma. Kita sapukan debu-debu di atas senar; sang cipta irama. Hingga detik enggan memutar jarumnya, memberi panggung kita berdua. Di sudut ruang, sudah lama, sejak terakhir aku menjajahnya. Keluh ruwat dunia maya kembali kita memenangkannya. Ayunan lembut menyelami indahnya melodi hati entah apa yang disampaikannya. Lantunan manis antara busur dan senar mengikuti irama jiwa yang gusar.
Dilekatkannya erat kedua tangan ini pada busur dan ujung dirimu. Direbahkan nyaman dagu ini bersandar diatas kuat tubuhmu. Selalu, di sela waktu, percakapan tanpa kata tercipta, Di ruangan ini, hanya kita berdua; --biola
Sementara yang lain beradu nyaman peluk hangat siapa yang paling dinanti, lupa hangat dan aroma rasamu juga layak untuk dicari,
jiagh
Katanya, menyelami indahMu butuh arah. Namun tersesat aku tak berpeta, bertualang tak jarang menyerah.
Katanya memahamiMu butuh kearifan ilmu. Namun hamba ini fakir akal tak pandai tahu-menahu.
Katanya membacaMu butuh bahasa paling tinggi. Namun emosi memekak mengelabui hati, hingga akal ini dangkal tak bertepi.
Kucari maknaMu di sela-sela untaian kata kisah hidup manusia pilihanMu. Tiap-tiap kisahnya, kuurai, kurayu, yakin aku apapun ilham-Mu.
Gusarku perkara waktu, namun jawab kutemukan kembali dibersamai guratan kisah hidup para Sahabatnya.
Paham betul, mencintaiMu tak butuh syarat.
Bahkan bila dunia memberi batas atas inginku mendekatMu, sepenuh hati Kau tetap kuselami. Duniaku hanyut dalam lembut makna lembaran-lembaran kisahMu, membersamai sujud rendahku.
HambaMu akan tetap mencinta. Meski dunia kian kelam, harus aku tenggelam dan tiada.
Di sudut rumah, kucari Kau di selasar makna kisah Para Sahabat. Kucari ilmuMu di sela aksara.