Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Malvales
Famili : Malvaceae
Genus : Sterculia
Spesies : Sterculia foetida L.
Berdasarkan hasil pendataan terbaru, populasi kepuh tercatat sebanyak 3 pohon.
Status konservasi : Least Concern (2024)
Kepuh (Sterculia foetida) merupakan tumbuhan berbentuk pohon besar dari famili Malvaceae (suku kapas-kapasan). Tanaman ini berasal dari wilayah Afrika tropis dan menyebar luas mulai dari Afrika Timur, Asia Selatan, Asia Tenggara, Kepulauan Nusantara hingga Australia, terutama pada bioma beriklim tropis kering. Nama spesifik foetida merujuk pada bau khas yang kurang sedap yang dihasilkan oleh bunga atau bagian tertentu dari pohon ini
Di Indonesia, kepuh dikenal dengan berbagai nama daerah seperti kepoh (Jawa), halumpang (Batak), kalumpang (Sulawesi), dan kekepahan (Bali)
Nama ilmiah Sterculia foetida pertama kali dipublikasikan oleh botanis Carolus Linnaeus dalam Species Plantarum pada tahun 1753
Kepuh (Sterculia foetida) merupakan pohon besar yang dapat tumbuh hingga 40 m dengan diameter batang 90–300 cm. Batangnya tegak dan berkayu, memiliki sistem percabangan monopodial dengan tajuk bertingkat menyerupai Terminalia. Kulit batang berwarna abu-abu hingga cokelat kehitaman, bertekstur kasar dan mudah dikenali. Daunnya majemuk menjari dan tersusun rapat di ujung ranting, terdiri atas 7–9 anak daun berbentuk jorong hingga lonjong dengan tekstur tebal dan kaku, berwarna hijau mengilap serta beraroma tidak sedap saat diremas. Bunganya majemuk dan berkelamin satu, dapat berumah satu atau dua, tersusun dalam malai dekat ujung ranting, berwarna hijau pucat hingga ungu kusam dan berbau menyengat. Buah berupa folikel besar berwarna merah terang saat masak, tersusun seperti bintang, masing-masing berisi 10–17 biji lonjong berwarna kehitaman hingga merah gelap yang melekat pada aril kuning.
Kayu kepuh berwarna putih keabu-abuan, relatif lunak, dan kurang tahan terhadap cuaca. Oleh karena itu, pemanfaatannya terbatas untuk biduk, perahu lesung, peti kemas, korek api, mainan ukir, dan pekerjaan interior ringan (Orwa et al., 2009).
Biji kepuh dapat dimakan setelah diolah dan mengandung minyak nabati dengan kadar minyak total sekitar 34%. Daunnya mengandung protein dan mineral sehingga dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak (Orwa et al., 2009).
Daun, kulit batang, dan biji digunakan dalam pengobatan tradisional untuk demam, penyakit kulit, pencuci rambut, purgatif, serta ramuan herbal tertentu. Namun, penggunaan tradisional ini perlu kehati-hatian karena potensi toksisitas (Herdiana, 2005; Perry, 1980).
Kepuh sering dikaitkan dengan mitos dan kepercayaan lokal, terutama di Jawa dan Bali, sehingga banyak tumbuh di kawasan pemakaman dan situs sakral (Jayanti, 2018).
Kepuh tumbuh optimal pada:
Ketinggian 0–500 mdpl
Daerah tropis dengan musim kering jelas
Tanah berdrainase baik, termasuk tanah bertekstur ringan hingga sedang
Intensitas cahaya tinggi (toleran terhadap kondisi terbuka)
Spesies ini memiliki sistem perakaran dalam yang berperan penting dalam konservasi air dan siklus hidrologi, sehingga potensial sebagai tanaman rehabilitasi lahan kering (Njurumana, 2011; Orwa et al., 2009).