Berdasarkan diagram Kelompok Pertokoan Kabupaten TTU, dapat dijelaskan bahwa sebagian besar pertokoan berada dalam satu kategori dominan sebanyak 7 unit (77,8%) di Kec. Kota Kefamenanu. Sementara itu, dua kategori lainnya masing-masing hanya berjumlah 1 unit (11,1%) di Kec. Insana Utara,Bikomi Utara,. Data ini menunjukkan bahwa aktivitas pertokoan di Kabupaten TTU masih terkonsentrasi pada satu kelompok utama, sedangkan kelompok lainnya memiliki jumlah yang relatif sedikit. Kondisi ini dapat menjadi dasar dalam perencanaan pengembangan dan pemerataan sektor perdagangan di wilayah Kabupaten TTU.
Berdasarkan diagram Pasar dengan Bangunan Permanen Kabupaten TTU, terdapat 5 pasar permanen yang tersebar di beberapa wilayah. Sebanyak 2 pasar (40%) di Kec. Insana Utara berada pada kategori/wilayah yang paling dominan, sedangkan masing-masing 1 pasar (20%) berada pada tiga kategori/wilayah Kec. Bikomi Nilulat, Kota Kefamenanu,Mutis. Data ini menunjukkan bahwa keberadaan pasar permanen di Kabupaten TTU masih belum merata dan cenderung terkonsentrasi pada wilayah tertentu. Oleh karena itu, diperlukan upaya pemerataan sarana perdagangan untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap fasilitas pasar yang memadai.
Berdasarkan diagram Minimarket Kabupaten TTU, terdapat 3 minimarket yang tersebar secara merata pada tiga wilayah yaitu Kec. Insana Utara, Bikomi Nilulat, Kota Kefamenanu. Masing-masing wilayah memiliki 1 minimarket (33,3%), sehingga tidak terdapat wilayah yang lebih dominan dibandingkan yang lain. Kondisi ini menunjukkan bahwa persebaran minimarket di Kabupaten TTU relatif seimbang, meskipun jumlahnya masih terbatas. Keberadaan minimarket tersebut dapat mendukung akses masyarakat terhadap kebutuhan sehari-hari serta mendorong aktivitas ekonomi lokal.
Diagram menunjukkan bahwa jumlah rumah makan/restoran di Kabupaten TTU didominasi oleh satu kategori dengan persentase sebesar 96,4% di Kec. Kota Kefamenanu, sedangkan kategori lainnya hanya mencapai 3,6% di Kec. Insana Utara. Hal ini menunjukkan bahwa distribusi rumah makan/restoran sangat tidak merata, di mana hampir seluruhnya berada pada kategori utama dan hanya sebagian kecil yang termasuk kategori lainnya.
Diagram lingkaran menunjukkan bahwa jumlah warung makan di Kabupaten TTU didominasi oleh satu kategori, yaitu sebanyak 30 unit atau 96,8% di Kec. Kota Kefamenanu dari total keseluruhan. Sementara itu, kategori lainnya hanya berjumlah 1 unit atau 3,2% di Kec. Insana Utara. Hal ini menunjukkan bahwa distribusi warung makan di Kabupaten TTU sangat didominasi oleh kategori utama, sedangkan kategori lainnya masih sangat sedikit.
Diagram lingkaran menunjukkan bahwa toko/warung kelontong di Kabupaten TTU didominasi oleh satu kategori dengan jumlah 103 unit atau 90,4% dari total keseluruhan di Kec. Kota Kefamenanu. Sementara itu, dua kategori lainnya masing-masing berjumlah 6 unit (5,3%) di Kec. Bikomi Nilulat dan 5 unit (4,4%) di Kec. Insana Utara. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar toko/warung kelontong berada pada kategori utama, sedangkan dua kategori lainnya memiliki proporsi yang relatif kecil.
Grafik Kelompok Pertokoan Kabupaten Alor menunjukkan bahwa jumlah kelompok pertokoan yang tercatat adalah 2 unit di Kec. Teluk Mutiara sehingga dapat disimpulkan bahwa keberadaan kelompok pertokoan di Kabupaten Alor masih sangat terbatas berdasarkan data yang tersedia. Informasi ini dapat menjadi dasar untuk melihat potensi pengembangan sektor perdagangan di daerah tersebut.
Grafik Pasar dengan Bangunan Permanen Kabupaten Alor menunjukkan bahwa terdapat 3 pasar dengan bangunan permanen di Kec. Teluk Mutiara dan 1 pasar di Kec. Alor Selatan. Data ini mengindikasikan bahwa sebagian besar pasar yang tercatat telah memiliki bangunan permanen, sehingga dapat mendukung aktivitas perdagangan yang lebih aman, nyaman, dan berkelanjutan bagi masyarakat serta pelaku usaha di Kabupaten Alor.
Grafik Pasar dengan Bangunan Semi Permanen Kabupaten Alor menunjukkan bahwa jumlah pasar semi permanen tersebar dalam beberapa kategori dengan total 29 pasar. Kategori dengan jumlah terbanyak masing-masing berjumlah 7 pasar (24,1%) di Kec. Alor Timur dan Alor Barat Daya, diikuti 6 pasar (20,7%) di Kec. Mataru dan 4 pasar (13,8%) di Kec. Alor Selatan. Sementara itu, kategori lainnya memiliki jumlah yang lebih sedikit, yaitu 2 pasar (6,9%) di Kec.Pureman serta Pantar Timur dan 1 pasar (3,4%) di Kec.Teluk Mutiara. Data ini menunjukkan bahwa pasar dengan bangunan semi permanen masih cukup dominan di Kabupaten Alor dan menjadi salah satu sarana penting dalam mendukung aktivitas perdagangan masyarakat.
Grafik Pasar Tanpa Bangunan Kabupaten Alor menunjukkan bahwa terdapat 8 pasar tanpa bangunan yang tersebar dalam beberapa kategori. Kategori terbesar berjumlah 5 pasar (62,5%) di Kec.Pantar Tengah, sedangkan tiga kategori lainnya masing-masing berjumlah 1 pasar (12,5%) di Kec. Alor Barat Daya,Alor Timur, Mataru. Data ini menunjukkan bahwa sebagian besar pasar tanpa bangunan terkonsentrasi pada satu kategori, sementara kategori lainnya memiliki jumlah yang relatif kecil. Kondisi ini mengindikasikan masih adanya pasar yang beroperasi tanpa fasilitas bangunan permanen maupun semi permanen, sehingga memerlukan perhatian dalam pengembangan sarana dan prasarana perdagangan di Kabupaten Alor.
Grafik Kelompok Pertokoan Kabupaten Belu menunjukkan bahwa terdapat 5 kelompok pertokoan yang tersebar dalam tiga kategori. Kategori terbesar memiliki 2 kelompok (50%) di Kec. Atambua Barat, 3 di Kec. Kota Atambua sedangkan dua kategori lainnya masing-masing memiliki 1 kelompok (25%) di Kec.Atambua Selatan dan Kakuluk Mesak .
Grafik Pasar dengan Bangunan Permanen Kabupaten Belu menunjukkan bahwa terdapat 2 pasar dengan bangunan permanen yang terbagi secara merata ke dalam dua kategori. Masing-masing kategori memiliki 1 pasar (50%) di Kec. Kota Atambua dan Atambua Barat, sehingga tidak terdapat kategori yang lebih dominan dibandingkan yang lain. Data ini mengindikasikan bahwa sebaran pasar dengan bangunan permanen di Kabupaten Belu relatif seimbang pada kategori yang ditampilkan, yang dapat mendukung aktivitas perdagangan secara lebih merata di wilayah tersebut.
Grafik Pasar dengan Bangunan Semi Permanen Kabupaten Belu menunjukkan bahwa terdapat 10 pasar semi permanen yang tersebar dalam beberapa kategori. Kategori terbesar memiliki 3 pasar (30%) di Kec. Lasiolat, diikuti oleh kategori dengan 2 pasar (20%) di Kec. Kakuluk Mesak, sedangkan lima kategori lainnya masing-masing memiliki 1 pasar (10%) di Kec. Raihat,Kota Atambua,Atambua Selatan, Lamaknen Selatan,Tasifeto Barat. Data ini menunjukkan bahwa pasar semi permanen di Kabupaten Belu memiliki sebaran yang cukup beragam, meskipun masih terkonsentrasi pada satu kategori utama. Keberadaan pasar semi permanen ini berperan penting dalam mendukung aktivitas perdagangan dan distribusi barang bagi masyarakat di berbagai wilayah Kabupaten Belu.
Grafik Pasar Tanpa Bangunan Kabupaten Belu menunjukkan bahwa terdapat 2 pasar tanpa bangunan di Kec. Tasifeto Timur yang seluruhnya berada dalam satu kategori. Dengan demikian, kategori tersebut mencakup 100% dari total pasar tanpa bangunan yang tercatat di Kabupaten Belu. Data ini mengindikasikan bahwa jumlah pasar tanpa bangunan di Kabupaten Belu relatif sedikit dibandingkan jenis pasar lainnya, namun tetap memerlukan perhatian dalam upaya peningkatan sarana dan prasarana perdagangan agar aktivitas ekonomi masyarakat dapat berlangsung dengan lebih baik dan nyaman.
Grafik Minimarket Kabupaten Belu menunjukkan bahwa terdapat 5 minimarket yang tersebar dalam dua kategori. Kategori terbesar memiliki 4 minimarket (80%) di Kec. Atambua Barat, sedangkan kategori lainnya memiliki 1 minimarket (20%) di Kec. Tasifeto Timur. Data ini menunjukkan bahwa keberadaan minimarket di Kabupaten Belu masih terkonsentrasi pada satu kategori utama, yang mencerminkan dominasi lokasi atau wilayah tertentu dalam perkembangan usaha ritel modern. Keberadaan minimarket tersebut berperan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat serta mendukung aktivitas perdagangan dan perekonomian daerah.
Grafik Rumah Makan/Restoran Kabupaten Belu menunjukkan bahwa terdapat 24 rumah makan/restoran yang tersebar dalam empat kategori. Kategori terbesar memiliki 11 unit (45,8%) di Kec. Kakuluk Mesak, diikuti oleh kategori dengan 6 unit (25%) di Kec. Lasiolat , 4 unit (16,7%) di Kec.Atambua Barat, dan 3 unit (12,5%) di Kec. Raihat. Data ini menunjukkan bahwa usaha rumah makan dan restoran di Kabupaten Belu cukup berkembang dengan konsentrasi terbesar pada satu kategori utama. Keberadaan rumah makan dan restoran tersebut berperan penting dalam mendukung sektor perdagangan, jasa, serta pariwisata daerah, sekaligus memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat dan pengunjung.
Berdasarkan grafik, jumlah pasar dengan bangunan permanen di Kabupaten Malaka tercatat 1 unit di Kec. Kobalima Timur. Data ini menunjukkan bahwa ketersediaan pasar yang memiliki bangunan permanen masih sangat terbatas sehingga diperlukan perhatian dalam pengembangan sarana dan prasarana perdagangan untuk mendukung aktivitas ekonomi masyarakat.
Berdasarkan grafik, jumlah pasar dengan bangunan semi permanen di Kabupaten Malaka tercatat 2 unit di Kec. Kobalima Timur. Jumlah ini lebih banyak dibandingkan pasar dengan bangunan permanen, yang menunjukkan bahwa sebagian sarana perdagangan di Kabupaten Malaka masih didominasi oleh bangunan semi permanen. Kondisi ini mencerminkan perlunya peningkatan kualitas infrastruktur pasar guna mendukung kenyamanan dan kelancaran aktivitas ekonomi masyarakat.
Berdasarkan grafik, jumlah pasar dengan bangunan semi permanen di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) sebanyak 6 unit. 4 unit terdapat di Kec. Kualin, 1 unit di masing-masing Kec. Nunkolo dan Kot'Olin. Sebagian besar pasar berada dalam kategori ini, yang menunjukkan bahwa infrastruktur pasar di Kabupaten TTS masih didominasi oleh bangunan semi permanen. Kondisi tersebut mengindikasikan perlunya peningkatan kualitas sarana pasar secara bertahap untuk mendukung kenyamanan pedagang dan masyarakat serta meningkatkan aktivitas perekonomian daerah.
Berdasarkan grafik, jumlah pasar tanpa bangunan di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) sebanyak 6 unit. 3 unit terdapat di Kec. Kot'Olin, 2 unit terdapat di Kec. Nunkolo, 1 unit terdapat di Kec. Kualin. Kondisi ini menunjukkan bahwa masih terdapat pasar yang beroperasi tanpa dukungan infrastruktur bangunan yang memadai. Keberadaan pasar tanpa bangunan dapat memengaruhi kenyamanan, keamanan, dan kelancaran aktivitas perdagangan, sehingga diperlukan perhatian dalam pengembangan dan penyediaan sarana pasar yang lebih layak untuk mendukung perekonomian masyarakat.
Berdasarkan diagram, kelompok pertokoan di Kabupaten Kupang berjumlah 9 unit, yang tersebar di Kecamatan Kupang Barat sebanyak 5 unit (55,6%) dan Kecamatan Nekamese sebanyak 4 unit (44,4%). Sebaran ini menunjukkan bahwa kelompok pertokoan lebih terkonsentrasi di Kecamatan Kupang Barat, meskipun perbedaannya tidak terlalu signifikan. Keberadaan kelompok pertokoan tersebut berperan penting dalam mendukung aktivitas perdagangan, memperlancar distribusi barang dan jasa, serta meningkatkan perekonomian masyarakat di wilayah Kabupaten Kupang.
Berdasarkan diagram, pasar dengan bangunan permanen di Kabupaten Kupang berjumlah 8 unit. Sebaran pasar permanen menunjukkan bahwa terdapat dua wilayah dengan jumlah terbanyak, masing-masing 3 unit (37,5%) di Kec. Kupang Barat, Nekamese, sementara dua wilayah lainnya masing-masing memiliki 1 unit (12,5%) di Kec. Amfoang Timur dan Amarasi Selatan. Distribusi ini mengindikasikan bahwa pembangunan infrastruktur pasar permanen di Kabupaten Kupang belum merata dan masih terkonsentrasi pada beberapa kecamatan tertentu. Keberadaan pasar permanen tersebut menjadi sarana penting dalam mendukung aktivitas perdagangan, meningkatkan kenyamanan pelaku usaha, serta memperkuat perekonomian daerah.
Berdasarkan diagram, pasar dengan bangunan semi permanen di Kabupaten Kupang berjumlah 5 unit. Sebaran pasar semi permanen menunjukkan bahwa satu wilayah memiliki jumlah terbanyak, yaitu 2 unit (40%) di Kec. Amarasi Barat, sedangkan tiga wilayah lainnya masing-masing memiliki 1 unit (20%) di Kec.Amfoang Timur, Amarasi Selatan, Amarasi Timur. Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar semi permanen masih menjadi salah satu bentuk infrastruktur perdagangan yang cukup dominan di beberapa kecamatan. Keberadaan pasar semi permanen berperan dalam mendukung aktivitas ekonomi masyarakat, namun peningkatan kualitas sarana dan prasarana pasar tetap diperlukan untuk meningkatkan kenyamanan, keamanan, dan efisiensi kegiatan perdagangan.
Berdasarkan diagram, pasar tanpa bangunan di Kabupaten Kupang berjumlah 5 unit. Sebarannya menunjukkan bahwa satu wilayah memiliki jumlah pasar tanpa bangunan terbanyak, yaitu 2 unit (40%) di Kec. Amarasi Barat, sedangkan tiga wilayah lainnya masing-masing memiliki 1 unit (20%) di Kec. Kupang Barat, Amarasi Selatan,Amarasi Timur. Kondisi ini menunjukkan bahwa masih terdapat pasar yang beroperasi tanpa fasilitas bangunan yang memadai. Oleh karena itu, diperlukan upaya peningkatan dan penyediaan infrastruktur pasar yang lebih layak guna mendukung kenyamanan pedagang dan pembeli, serta meningkatkan efektivitas aktivitas perdagangan di Kabupaten Kupang.
Berdasarkan diagram, jumlah minimarket di Kabupaten Kupang sebanyak 3 unit, yang tersebar pada dua wilayah. Sebanyak 2 unit (66,7%) berada di satu wilayah Kec. Kupang Barat, sedangkan 1 unit (33,3%) berada di wilayah Kec. Amarasi Selatan. Sebaran ini menunjukkan bahwa keberadaan minimarket di Kabupaten Kupang masih terkonsentrasi pada wilayah tertentu. Minimarket memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat, meningkatkan akses terhadap barang konsumsi, serta mendukung perkembangan sektor perdagangan dan perekonomian daerah.
Berdasarkan diagram, jumlah rumah makan/restoran di Kabupaten Kupang sebanyak 10 unit, yang tersebar di Kecamatan Kupang Barat sebanyak 7 unit (70%) dan Kecamatan Nekamese sebanyak 3 unit (30%). Sebaran ini menunjukkan bahwa usaha rumah makan/restoran lebih terkonsentrasi di Kecamatan Kupang Timur sebagai salah satu pusat aktivitas ekonomi dan pelayanan masyarakat. Keberadaan rumah makan/restoran berperan penting dalam mendukung sektor perdagangan dan jasa, menyediakan kebutuhan konsumsi masyarakat, serta berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi lokal dan pengembangan sektor pariwisata di Kabupaten Kupang.
Berdasarkan diagram, jumlah bengkel di Kabupaten Kupang sebanyak 26 unit yang tersebar di lima wilayah. Sebaran terbesar terdapat pada satu wilayah Kec. Kupang Barat dengan 8 unit (30,8%), diikuti wilayah Kec. Nekamese dengan 6 unit (23,1%), 5 unit (19,2%) di Kec. Amarasi Selatan, 4 unit (15,4%) di Kec. Amarasi Barat, dan 3 unit (11,5%) di Kec. Amarasi Timur. Distribusi ini menunjukkan bahwa usaha bengkel cukup berkembang dan tersebar di beberapa kecamatan, meskipun masih terdapat konsentrasi pada wilayah tertentu. Keberadaan bengkel sangat penting dalam mendukung kebutuhan perawatan dan perbaikan kendaraan masyarakat, serta berkontribusi terhadap pertumbuhan sektor jasa dan perekonomian di Kabupaten Kupang.
Berdasarkan diagram, jumlah sarana/usaha pada kategori yang ditampilkan sebanyak 2 unit atau 100% dari total data di Kec. Amarasi Selatan. Seluruh unit berada dalam satu kategori yang sama tanpa adanya pembagian ke kategori lain. Kondisi ini menunjukkan bahwa jenis usaha atau fasilitas tersebut masih sangat terbatas jumlahnya di Kabupaten Kupang. Meskipun demikian, keberadaannya tetap berperan dalam mendukung aktivitas ekonomi dan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan fungsi usahanya.
Berdasarkan diagram, jumlah agen travel di Kabupaten Kupang sebanyak 5 unit, yang tersebar di dua wilayah. Masing-masing wilayah memiliki jumlah yang relatif seimbang, yaitu 3 unit (60%) di Kec. Amarasi Timur dan 2 unit (40%) di Kec. Amarasi Selatan. Sebaran ini menunjukkan bahwa layanan agen travel telah tersedia di beberapa kecamatan untuk mendukung kebutuhan transportasi dan perjalanan masyarakat. Keberadaan agen travel berperan penting dalam meningkatkan aksesibilitas, mendukung mobilitas penduduk, serta menunjang aktivitas ekonomi dan sektor pariwisata di Kabupaten Kupang.
Berdasarkan diagram, jumlah ATM di Kabupaten Kupang sebanyak 4 unit, yang tersebar di dua wilayah. Sebanyak 3 unit (75%) berada di wilayah Kec. Nekamese, sedangkan 1 unit (25%) berada di wilayah Kec. Kupang Barat,. Sebaran ini menunjukkan bahwa fasilitas ATM masih terkonsentrasi pada wilayah tertentu yang memiliki aktivitas ekonomi dan kebutuhan layanan perbankan lebih tinggi. Keberadaan ATM sangat penting dalam memudahkan masyarakat melakukan transaksi keuangan, meningkatkan akses terhadap layanan perbankan, serta mendukung kelancaran aktivitas ekonomi di Kabupaten Kupang.
Berdasarkan diagram, jumlah agen bank di Kabupaten Kupang sebanyak 20 unit yang tersebar di lima wilayah. Sebaran terbesar terdapat pada satu wilayah dengan 6 unit (30%) di Kec. Kupang Barat, sedangkan tiga wilayah lainnya masing-masing memiliki 4 unit (20%) di Kec. Nekamese,Amarasi Barat,Amarasi Selatan, dan satu wilayah memiliki 2 unit (10%) di Kec. Amarasi Timur. Distribusi ini menunjukkan bahwa layanan agen bank telah menjangkau berbagai kecamatan di Kabupaten Kupang, meskipun tingkat persebarannya masih bervariasi. Keberadaan agen bank berperan penting dalam memperluas akses layanan keuangan bagi masyarakat, mendukung transaksi perbankan, serta mendorong inklusi keuangan dan pertumbuhan ekonomi daerah.
Berdasarkan diagram, jumlah warung makan di Kabupaten Kupang sebanyak 11 unit, yang tersebar di dua wilayah. Sebanyak 7 unit (63,6%) berada di Kec. Kupang Barat , sedangkan 4 unit (36,4%) berada di Kec. Nekamese. Sebaran ini menunjukkan bahwa usaha warung makan lebih terkonsentrasi pada wilayah dengan aktivitas masyarakat yang lebih tinggi. Keberadaan warung makan memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat, menciptakan peluang usaha dan lapangan kerja, serta mendukung pertumbuhan sektor perdagangan dan jasa di Kabupaten Kupang.
Berdasarkan diagram, jumlah industri furnitur di Kabupaten Kupang sebanyak 16 unit, yang tersebar di tiga wilayah. Sebaran terbesar terdapat pada satu wilayah dengan 8 unit (50%) di Kec. Amarasi Barat, sedangkan dua wilayah lainnya masing-masing memiliki 5 unit (31,25%) di Kec. Amarasi Selatan dan 3 unit (18,75%) di Kec. Amarasi Timur. Distribusi ini menunjukkan bahwa kegiatan industri furnitur lebih terkonsentrasi pada wilayah tertentu yang memiliki potensi sumber daya, tenaga kerja, dan akses pasar yang lebih baik. Keberadaan industri furnitur berperan penting dalam mengembangkan sektor industri pengolahan, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan nilai tambah bahan baku lokal, serta mendukung pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kupang.
Berdasarkan diagram, jumlah industri logam di Kabupaten Kupang sebanyak 9 unit, yang tersebar di tiga wilayah. Sebaran terbesar terdapat pada satu wilayah dengan 4 unit (44,4%) di Kec. Amarasi Barat, sedangkan dua wilayah lainnya masing-masing memiliki 3 unit (33,3%) di Kec. Nekamese dan 2 unit (22,2%) di Kec Amarasi Selatan dan Amarasi Timur. Distribusi ini menunjukkan bahwa industri logam telah berkembang di beberapa kecamatan dengan tingkat konsentrasi yang berbeda. Keberadaan industri logam memiliki peran penting dalam mendukung sektor manufaktur dan jasa teknik, menyediakan kebutuhan peralatan dan konstruksi, menciptakan lapangan kerja, serta berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah di Kabupaten Kupang.
Berdasarkan diagram, jumlah toko/warung kelontong di Kabupaten Kupang sebanyak 3 unit, yang tersebar di dua wilayah. Sebanyak 2 unit (66,7%) berada di satu wilayah di Kec. Kupang Barat , sedangkan 1 unit (33,3%) berada di wilayah Kec. Nekamese. Sebaran ini menunjukkan bahwa usaha toko/warung kelontong masih terkonsentrasi pada wilayah tertentu, namun tetap berperan penting dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat. Keberadaan toko/warung kelontong mendukung kelancaran distribusi barang kebutuhan pokok, memperkuat aktivitas perdagangan lokal, serta memberikan kontribusi terhadap perekonomian masyarakat di Kabupaten Kupang.
Berdasarkan diagram, jumlah industri tekstil di Kabupaten Kupang sebanyak 28 unit, yang tersebar di lima wilayah. Sebaran terbesar terdapat pada dua wilayah yang masing-masing memiliki 8 unit (28,6%) di Kec. Kupang Barat dan Amarasi Barat, diikuti wilayah lain dengan 5 unit (17,9%) di Kec. Amarasi Selatan , 4 unit (14,3%) di Kec. Amarasi Timur , dan 3 unit (10,7%) di Kec. Nekamese. Distribusi ini menunjukkan bahwa industri tekstil cukup berkembang dan tersebar di beberapa kecamatan, meskipun masih terkonsentrasi pada wilayah tertentu. Keberadaan industri tekstil berperan penting dalam mendukung sektor industri kreatif dan pengolahan, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan nilai tambah produk lokal, serta mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat di Kabupaten Kupang.
Berdasarkan grafik, jumlah industri pakaian jadi di Kabupaten Kupang sebanyak 11 unit, yang tersebar di tiga wilayah. Sebaran terbesar terdapat pada satu wilayah dengan 6 unit (54,5%) di Kec. Amarasi Barat, diikuti wilayah lainnya dengan 3 unit (27,3%) di Kec. Amarasi Selatan dan 2 unit (18,2%) di Kec. Amarasi Timur. Distribusi ini menunjukkan bahwa industri pakaian jadi telah berkembang di beberapa kecamatan, dengan konsentrasi yang lebih tinggi pada wilayah tertentu. Keberadaan industri pakaian jadi berperan penting dalam mendukung sektor industri pengolahan, menciptakan lapangan kerja, memenuhi kebutuhan sandang masyarakat, serta meningkatkan perekonomian lokal di Kabupaten Kupang.
Berdasarkan grafik, jumlah industri anyaman di Kabupaten Kupang sebanyak 7 unit, yang tersebar di tiga wilayah. Sebaran terbesar terdapat pada satu wilayah dengan 4 unit (57,1%) di Kec. Amarasi Barat, diikuti wilayah lainnya dengan 2 unit (28,6%) di Kec. Amarasi Selatan dan 1 unit (14,3%) di Kec. Amarasi Timur. Distribusi ini menunjukkan bahwa industri anyaman masih terkonsentrasi pada wilayah tertentu yang memiliki potensi bahan baku dan keterampilan masyarakat dalam kerajinan tradisional. Keberadaan industri anyaman berperan penting dalam melestarikan budaya lokal, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta mendukung pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kabupaten Kupang.
Berdasarkan diagram, jumlah industri makanan di Kabupaten Kupang sebanyak 8 unit, yang tersebar di tiga wilayah. Sebaran terbesar terdapat pada satu wilayah dengan 4 unit (50%) di Kec. Amarasi Barat, sedangkan dua wilayah lainnya masing-masing memiliki 2 unit (25%) di Kec. Amarasi Selatan dan Amarasi Timur. Serta 1 unit (25%) di Kec. Nekamese. Hal ini menunjukkan bahwa industri makanan lebih terkonsentrasi pada wilayah tertentu, namun telah berkembang di beberapa kecamatan di Kabupaten Kupang.
Berdasarkan grafik, jumlah industri minuman di Kabupaten Kupang sebanyak 6 unit, yang tersebar di tiga wilayah. Sebaran terbesar terdapat pada satu wilayah dengan 3 unit (50%) di Kec. Amarasi Barat, diikuti wilayah lainnya dengan 2 unit (33,3%) di Kec. Amarasi Timur dan 1 unit (16,7%) di Kec. Amarasi Selatan. Hal ini menunjukkan bahwa industri minuman telah berkembang di beberapa kecamatan, dengan konsentrasi yang lebih tinggi pada wilayah tertentu.
Berdasarkan grafik, jumlah usaha reparasi dan pemasangan mesin serta peralatan di Kabupaten Kupang sebanyak 2 unit di Kec. Amarasi Barat dan Amarasi Timur. Seluruh usaha tersebut berada dalam satu wilayah, sehingga menunjukkan bahwa jenis usaha ini masih sangat terbatas dan terkonsentrasi pada lokasi tertentu. Meskipun jumlahnya relatif sedikit, keberadaannya memiliki peran penting dalam mendukung kegiatan industri, perawatan peralatan, serta aktivitas ekonomi masyarakat.
Berdasarkan grafik, jumlah kelompok pertokoan di Kabupaten Rote Ndao sebanyak 2 unit di Kec. Lobalain. Data ini menunjukkan bahwa keberadaan kelompok pertokoan masih sangat terbatas dan terkonsentrasi pada satu wilayah. Meskipun jumlahnya sedikit, kelompok pertokoan memiliki peran penting dalam mendukung aktivitas perdagangan, menyediakan kebutuhan masyarakat, serta menunjang perekonomian daerah.
Berdasarkan diagram, jumlah pasar dengan bangunan permanen di Kabupaten Rote Ndao sebanyak 6 unit , yang tersebar di lima wilayah. Sebaran terbesar terdapat pada satu wilayah dengan 2 unit (33,3%) di Kec. Pantai Baru., sedangkan empat wilayah lainnya masing-masing memiliki 1 unit (16,7%) di Kec. Rote Selatan , Lobalain, Rote Barat Daya,Rote Barat, . Hal ini menunjukkan bahwa pasar permanen telah tersebar di beberapa kecamatan, meskipun jumlahnya masih relatif terbatas dan lebih terkonsentrasi pada wilayah tertentu sebagai pusat aktivitas perdagangan.
Berdasarkan diagram, jumlah pasar dengan bangunan semi permanen di Kabupaten Rote Ndao sebanyak 14 unit, yang tersebar di enam wilayah. Sebaran terbesar terdapat pada dua wilayah yang masing-masing memiliki 4 unit (28,6%) di Kec. Rote Timur dan Rote Barat Daya, diikuti dua wilayah dengan 2 unit (14,3%) di Kec. Landu Leko dan Pantai Baru , serta dua wilayah lainnya masing-masing 1 unit (7,1%) di Kec.Rote Barat,Lobalain. Hal ini menunjukkan bahwa pasar semi permanen cukup tersebar di berbagai kecamatan dan menjadi sarana penting dalam mendukung aktivitas perdagangan masyarakat di Kabupaten Rote Ndao.
Berdasarkan diagram, jumlah pasar tanpa bangunan di Kabupaten Rote Ndao sebanyak 22 unit, yang tersebar di tujuh wilayah. Sebaran terbesar terdapat pada dua wilayah yang masing-masing memiliki 5 unit (22,7%) di Kec. Pantai Baru dan Rote Barat Daya, diikuti satu wilayah dengan 4 unit (18,2%) di Kec. Rote Timur, serta empat wilayah lainnya masing-masing memiliki 2 unit (9,1%) di Kec. Landu Leko, Rote Selatan, Lobalain, Rote Barat. Hal ini menunjukkan bahwa pasar tanpa bangunan masih cukup banyak dijumpai dan tersebar di berbagai kecamatan sebagai sarana perdagangan yang melayani kebutuhan masyarakat setempat.
Berdasarkan diagram, jumlah minimarket di Kabupaten Rote Ndao sebanyak 5 unit, yang tersebar di tiga wilayah. Sebaran terbesar terdapat pada satu wilayah dengan 3 unit (60%) di Kec. Lobalain, sedangkan dua wilayah lainnya masing-masing memiliki 1 unit (20%) di Kec. Rote Selatan dan Rote Barat. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan minimarket masih terkonsentrasi pada wilayah tertentu yang menjadi pusat aktivitas ekonomi dan pelayanan masyarakat di Kabupaten Rote Ndao.
Berdasarkan diagram, jumlah rumah makan/restoran di Kabupaten Rote Ndao sebanyak 3 unit, yang tersebar di dua wilayah. Sebaran terbesar terdapat pada satu wilayah dengan 2 unit (66,7%) di Kec. Rote Barat, sedangkan wilayah lainnya memiliki 1 unit (33,3%) di Kec. Lobalain. Hal ini menunjukkan bahwa usaha rumah makan/restoran masih terkonsentrasi pada wilayah tertentu, namun tetap berperan penting dalam memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat dan mendukung aktivitas ekonomi daerah.
Berdasarkan grafik, jumlah pasar dengan bangunan permanen di Kabupaten Sabu Raijua sebanyak 6 unit, yang tersebar di dua wilayah. Sebaran terbesar terdapat pada satu wilayah dengan 4 unit (66,7%) di Kec. Hawu Mehara, sedangkan wilayah lainnya memiliki 2 unit (33,3%) di Kec. Sabu Liae. Hal ini menunjukkan bahwa pasar permanen lebih terkonsentrasi pada wilayah tertentu yang menjadi pusat aktivitas perdagangan dan pelayanan masyarakat di Kabupaten Sabu Raijua.
Berdasarkan grafik, jumlah pasar tanpa bangunan di Kabupaten Sabu Raijua sebanyak 3 unit, yang tersebar di dua wilayah. Sebaran terbesar terdapat pada satu wilayah dengan 2 unit (66,7%) di Kec. Hawu Mehara , sedangkan wilayah lainnya memiliki 1 unit (33,3%) di Kec. Raijua. Hal ini menunjukkan bahwa pasar tanpa bangunan masih menjadi sarana perdagangan yang digunakan masyarakat, terutama di wilayah dengan fasilitas pasar yang masih terbatas.
Berdasarkan diagram, jumlah bengkel di Kabupaten Sabu Raijua sebanyak 20 unit, yang tersebar di tiga wilayah. Sebaran terbesar terdapat pada satu wilayah dengan 10 unit (50%) di Kec. Hawu Mehara , diikuti wilayah lainnya dengan 7 unit (35%) di Kec. Sabu Liae dan 3 unit (15%) di Kec. Raijua. Hal ini menunjukkan bahwa usaha bengkel cukup berkembang dan terkonsentrasi pada wilayah tertentu yang memiliki aktivitas transportasi dan mobilitas masyarakat lebih tinggi. Keberadaan bengkel berperan penting dalam mendukung perawatan dan perbaikan kendaraan serta menunjang aktivitas ekonomi masyarakat di Kabupaten Sabu Raijua.
Berdasarkan grafik, jumlah salon di Kabupaten Sabu Raijua sebanyak 1 unit di Kec. Hawu Mehara. Data ini menunjukkan bahwa keberadaan usaha salon masih sangat terbatas dan hanya terdapat pada satu wilayah. Meskipun jumlahnya sedikit, salon tetap berperan dalam menyediakan layanan perawatan dan kecantikan serta mendukung perkembangan sektor jasa di Kabupaten Sabu Raijua.
Berdasarkan grafik, jumlah agen bank di Kabupaten Sabu Raijua sebanyak 10 unit, yang tersebar di tiga wilayah. Sebaran terbesar terdapat pada satu wilayah dengan 7 unit (70%) di Kec. Hawu Mehara, sedangkan dua wilayah lainnya masing-masing memiliki 2 unit (20%) dan 1 unit (10%) di Kec. Raijua. Hal ini menunjukkan bahwa layanan agen bank lebih terkonsentrasi pada wilayah tertentu, namun telah menjangkau beberapa kecamatan untuk mendukung akses masyarakat terhadap layanan keuangan dan perbankan.
Berdasarkan grafik, jumlah industri furnitur di Kabupaten Sabu Raijua sebanyak 21 unit, yang tersebar di tiga wilayah. Sebaran terbesar terdapat pada satu wilayah dengan 10 unit (47,6%) di Kec. Sabu Liae, diikuti wilayah lainnya dengan 9 unit (42,9%) di Kec. Hawu Mehara dan 2 unit (9,5%) di Kec. Raijua. Hal ini menunjukkan bahwa industri furnitur cukup berkembang dan terkonsentrasi pada dua wilayah utama. Keberadaan industri furnitur berperan penting dalam menciptakan lapangan kerja, meningkatkan nilai tambah bahan baku lokal, serta mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat di Kabupaten Sabu Raijua.
Berdasarkan grafik, jumlah industri logam di Kabupaten Sabu Raijua sebanyak 7 unit, yang tersebar di tiga wilayah. Sebaran terbesar terdapat pada satu wilayah dengan 5 unit (71,4%) di Kec. Sabu Liae, sedangkan dua wilayah lainnya masing-masing memiliki 1 unit (14,3%) di Kec. Hawu Mehara dan Raijua. Hal ini menunjukkan bahwa industri logam masih terkonsentrasi pada wilayah tertentu yang memiliki aktivitas produksi dan kebutuhan jasa logam lebih tinggi. Keberadaan industri logam berperan penting dalam mendukung kegiatan konstruksi, perbengkelan, dan pengembangan ekonomi lokal di Kabupaten Sabu Raijua.
Berdasarkan grafik, jumlah industri tekstil di Kabupaten Sabu Raijua sebanyak 11 unit, yang tersebar di dua wilayah. Sebaran terbesar terdapat pada satu wilayah dengan 10 unit (90,9%) di Kec. Hawu Mehara, sedangkan wilayah lainnya memiliki 1 unit (9,1%) di Kec. Sabu Liae. Hal ini menunjukkan bahwa industri tekstil sangat terkonsentrasi pada wilayah tertentu dan menjadi salah satu sektor usaha yang cukup berkembang dalam mendukung perekonomian masyarakat di Kabupaten Sabu Raijua.
Berdasarkan diagram, industri minuman di Kabupaten Sabu Raijua berjumlah 6 unit, yang terbagi merata pada dua kecamatan. Sebanyak 5 unit (50,0%) berada di Kec. Sabu Liae dan 1 unit (50,0%) berada di Kec. Hawu Mehara. Dengan demikian, persebaran industri minuman di Kabupaten Sabu Raijua relatif seimbang antara kedua kecamatan tersebut.
Berdasarkan diagram, usaha reparasi dan pemasangan mesin dan peralatan di Kabupaten Sabu Raijua berjumlah 6 unit, yang tersebar di tiga kecamatan. Sebanyak 3 unit (50,0%) berada di Kec. Raijua, 2 unit (33,3%) di Kec. Sabu Liae, dan 1 unit (16,7%) di Kec. Hawu Mehara. Dengan demikian, usaha ini didominasi oleh Kecamatan Raijua
Berdasarkan diagram, pasar dengan bangunan semi permanen di Kabupaten Sumba Timur berjumlah 7 unit, yang tersebar pada tiga kecamatan. Sebanyak 3 unit (42,9%) berada di kecamatan dengan jumlah tertinggi di Kec. Karera sedangkan masing-masing 2 unit (28,6%) berada di dua Kec. Pinu Pahar dan Tabundung. Dengan demikian, pasar semi permanen di Kabupaten Sumba Timur terkonsentrasi pada satu kecamatan utama.
Berdasarkan diagram, pasar tanpa bangunan di Kabupaten Sumba Timur berjumlah 3 unit, yang tersebar merata pada tiga kecamatan, masing-masing sebanyak 1 unit (33,3%) di Kec. Karera,Pinu Pahar,Tabundung. Dengan demikian, persebaran pasar tanpa bangunan di Kabupaten Sumba Timur relatif merata antar kecamatan.
Berdasarkan diagram, toko/warung kelontong di Kabupaten Sumba Timur berjumlah 344 unit, yang tersebar pada tiga kecamatan. Sebanyak 199 unit (57,8%) berada di kecamatan dengan jumlah terbanyak di Kec. Tabundung, diikuti 81 unit (23,5%) di Kec. Karera dan 64 unit (18,6%) di Kec.Pinu Pahar. Dengan demikian, lebih dari separuh toko/warung kelontong di Kabupaten Sumba Timur terkonsentrasi pada satu kecamatan.
Berdasarkan diagram, pasar dengan bangunan semi permanen di Kabupaten Sumba Barat berjumlah 2 unit, yang tersebar pada dua kecamatan, masing-masing sebanyak 1 unit (50%) di Kec. Lamboya dan Laboya Barat. Dengan demikian, persebaran pasar semi permanen di Kabupaten Sumba Barat relatif merata antar kecamatan.
Sumber : BPS 2025