Pada tahun 2025, jumlah penduduk Kecamatan Insana Utara relatif seimbang antara laki-laki dan perempuan. Tercatat penduduk laki-laki sebanyak 5.623 jiwa, sedangkan penduduk perempuan sebanyak 5.548 jiwa, dengan selisih 75 jiwa. Data ini menunjukkan komposisi penduduk yang cukup seimbang berdasarkan jenis kelamin.
Pada tahun 2025, jumlah murid di Kecamatan Insana Utara mencapai 2.803 siswa, yang terdiri dari 33 murid TK/PAUD, 1.764 murid SD, 630 murid SMP, 164 murid SMA, dan 212 murid SMK. Jumlah murid terbanyak berada pada jenjang SD, yang menunjukkan tingginya partisipasi pendidikan dasar di wilayah tersebut.
Jumlah guru di Kecamatan Insana Utara tahun 2025 didominasi oleh jenjang Sekolah Dasar (SD) sebanyak 122 orang, diikuti SMP sebanyak 84 orang. Sementara itu, jumlah guru pada jenjang SMA sebanyak 25 orang, SMK sebanyak 20 orang, dan TK hanya 3 orang. Data ini menunjukkan bahwa kebutuhan tenaga pendidik terbesar berada pada jenjang pendidikan dasar dan menengah pertama.
Jumlah sumber penerangan jalan di Kecamatan Insana Utara tahun 2025 didominasi oleh listrik PLN dengan jumlah 2 unit, sedangkan listrik non-PLN berjumlah 1 unit. Data ini menunjukkan bahwa sebagian besar penerangan jalan di wilayah tersebut telah memanfaatkan jaringan listrik PLN sebagai sumber energi utama.
Kecamatan Kota Kefamenanu pada tahun 2025 memiliki 60 sekolah, terdiri dari 9 TK/PAUD, 1 Raudatul Athfal, 23 SD, 1 Madrasah Ibtidaiyah, 11 SMP, 1 Madrasah Tsanawiyah, 8 SMA, dan 6 SMK. Jenjang SD mendominasi jumlah sekolah, menunjukkan bahwa fasilitas pendidikan dasar merupakan yang paling banyak tersedia di kecamatan ini.
Pada tahun 2025, Kecamatan Kota Kefamenanu memiliki 22 sarana kesehatan, terdiri dari 2 rumah sakit, 7 puskesmas, dan 13 apotek. Apotek merupakan sarana kesehatan yang paling banyak tersedia, diikuti puskesmas dan rumah sakit, sehingga mendukung akses masyarakat terhadap layanan kesehatan dan obat-obatan.
Jumlah murid di Kecamatan Naibenu tahun 2025 sebanyak 1.408 siswa, terdiri dari 608 siswa SD, 358 siswa SMP, dan 442 siswa SMA. Jumlah murid terbanyak berada pada jenjang SD, sedangkan jumlah murid pada jenjang SMA juga cukup tinggi dibandingkan SMP, menunjukkan keberlanjutan pendidikan hingga tingkat menengah atas di wilayah ini.
Pada tahun 2025, sumber penerangan di Kecamatan Mutis didominasi oleh listrik PLN sebanyak 3 titik, sementara listrik non-PLN sebanyak 1 titik. Kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian besar penerangan di wilayah ini telah menggunakan jaringan listrik PLN, meskipun masih terdapat sumber penerangan non-PLN dalam jumlah terbatas.
Kecamatan Teluk Mutiara pada tahun 2025 memiliki 77 sekolah, terdiri dari 23 TK/PAUD, 3 Raudatul Athfal, 26 SD, 14 SMP, 8 SMA, dan 3 SMK. Jumlah sekolah didominasi oleh jenjang SD, diikuti TK/PAUD dan SMP, yang menunjukkan ketersediaan fasilitas pendidikan yang cukup lengkap dari tingkat dasar hingga menengah.
Jumlah murid di Kecamatan Teluk Mutiara tahun 2025 sebanyak 13.913 siswa, terdiri dari 677 siswa TK/PAUD, 6.273 siswa SD, 2.993 siswa SMP, 2.900 siswa SMA, dan 1.070 siswa SMK. Jumlah murid terbanyak berada pada jenjang SD, sedangkan jumlah murid paling sedikit terdapat pada jenjang TK/PAUD. Data ini menunjukkan dominasi peserta didik pada tingkat pendidikan dasar di Kecamatan Teluk Mutiara.
Jumlah guru di Kecamatan Teluk Mutiara tahun 2025 sebanyak 1.268 orang, terdiri dari 112 guru TK, 456 guru SD, 318 guru SMP, 254 guru SMA, dan 128 guru SMK. Jumlah guru terbanyak berada pada jenjang SD, sejalan dengan jumlah sekolah dan murid yang lebih besar pada tingkat pendidikan dasar di wilayah ini.
Pada tahun 2025, Kecamatan Teluk Mutiara memiliki 13 sarana kesehatan, terdiri dari 2 rumah sakit, 2 puskesmas, dan 9 apotek. Apotek merupakan sarana kesehatan yang paling banyak tersedia, diikuti rumah sakit dan puskesmas, sehingga mendukung akses masyarakat terhadap layanan kesehatan dan kebutuhan obat-obatan.
Pada tahun 2025, sumber penerangan jalan di Kecamatan Teluk Mutiara didominasi oleh listrik PLN sebanyak 11 titik, sementara listrik non-PLN sebanyak 4 titik. Kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian besar penerangan jalan telah menggunakan jaringan listrik PLN, meskipun masih terdapat beberapa titik yang memanfaatkan sumber listrik non-PLN.
Pada tahun 2025, bencana alam yang paling banyak terjadi di Kecamatan Alor Barat Daya adalah angin puting beliung sebanyak 5 kejadian, diikuti tanah longsor sebanyak 4 kejadian dan banjir sebanyak 3 kejadian. Selain itu, terdapat 2 kejadian kebakaran hutan dan lahan serta 1 kejadian gelombang pasang. Kondisi ini menunjukkan bahwa angin puting beliung menjadi bencana yang paling dominan di wilayah tersebut.
Pada tahun 2025, sumber penerangan jalan di Kecamatan Mataru seluruhnya berasal dari listrik non-PLN sebanyak 6 titik, sedangkan tidak terdapat penerangan jalan yang menggunakan sumber non-listrik. Hal ini menunjukkan bahwa penerangan jalan di wilayah tersebut masih bergantung pada sumber listrik non-PLN.
Pada tahun 2025, sumber penerangan jalan di Kecamatan Pantar Tengah didominasi oleh listrik PLN sebanyak 2 unit, sedangkan sumber penerangan non-listrik sebanyak 1 unit. Kondisi ini menunjukkan bahwa pemanfaatan jaringan listrik PLN sebagai sumber penerangan jalan lebih dominan dibandingkan sumber penerangan non-listrik.
Pada tahun 2025, Kecamatan Pantar Tengah mengalami beberapa kejadian bencana alam dengan kekeringan sebagai bencana yang paling sering terjadi sebanyak 7 kejadian, diikuti kebakaran hutan dan lahan sebanyak 6 kejadian, angin puting beliung sebanyak 4 kejadian, dan banjir sebanyak 1 kejadian. Data ini menunjukkan bahwa bencana yang terkait dengan kondisi iklim dan musim kemarau menjadi ancaman utama di wilayah Kecamatan Pantar Tengah.
Pada tahun 2025, jumlah penduduk Kecamatan Pantar Timur mencapai 12.647 jiwa, yang terdiri dari 6.243 laki-laki dan 6.404 perempuan. Jumlah penduduk perempuan sedikit lebih banyak dibandingkan laki-laki, sehingga komposisi penduduk di Kecamatan Pantar Timur relatif seimbang antara kedua jenis kelamin.
Berdasarkan grafik Jumlah Guru Kecamatan Pantar Timur Tahun 2025, jenjang SD memiliki jumlah guru terbanyak yaitu 162 orang, diikuti SMP sebanyak 105 orang. Sementara itu, jumlah guru pada jenjang lainnya relatif lebih sedikit, yaitu SMA 37 orang, Madrasah Tsanawiyah 28 orang, SMK 26 orang, Madrasah Ibtidaiyah 22 orang, Raudatul Athfal 7 orang, dan TK 2 orang. Data ini menunjukkan bahwa kebutuhan tenaga pendidik di Kecamatan Pantar Timur paling besar berada pada jenjang Sekolah Dasar (SD).
Berdasarkan grafik, jumlah guru di Kecamatan Kota Atambua Tahun 2025 didominasi oleh jenjang SMP sebanyak 1.361 orang. Selanjutnya, jumlah guru SD tercatat 177 orang, SMA sebanyak 155 orang, TK sebanyak 58 orang, dan SMK merupakan yang paling sedikit dengan 44 orang. Data ini menunjukkan bahwa kebutuhan tenaga pendidik terbesar berada pada jenjang SMP di Kecamatan Kota Atambua.
Berdasarkan grafik, sarana kesehatan di Kecamatan Kota Atambua Tahun 2025 didominasi oleh apotek sebanyak 9 unit. Selain itu, terdapat 3 posyandu, 1 rumah sakit, dan 1 puskesmas. Data ini menunjukkan bahwa ketersediaan apotek merupakan sarana kesehatan yang paling banyak, sementara fasilitas pelayanan kesehatan dasar dan rujukan masih relatif terbatas.
Berdasarkan grafik, kejadian bencana alam di Kecamatan Kota Atambua Tahun 2025 meliputi 2 kejadian tanah longsor, 2 kejadian banjir, 2 kejadian kekeringan, dan 1 kejadian kebakaran hutan dan lahan. Data ini menunjukkan bahwa tanah longsor, banjir, dan kekeringan merupakan bencana yang paling sering terjadi, sedangkan kebakaran hutan dan lahan memiliki jumlah kejadian paling sedikit.
Pada tahun 2025, Kecamatan Atambua Barat memiliki 23 satuan pendidikan, yang terdiri dari 1 TK/PAUD, 2 Raudatul Athfal, 7 SD, 2 Madrasah Ibtidaiyah, 4 SMP, 1 Madrasah Tsanawiyah, 5 SMA, dan 1 SMK. Jenjang SD merupakan jumlah sekolah terbanyak, diikuti SMA dan SMP, menunjukkan bahwa fasilitas pendidikan dasar hingga menengah di wilayah ini tersedia dengan cukup baik.
Pada tahun 2025, jumlah murid di Kecamatan Atambua Barat mencapai 6.836 siswa, yang terdiri dari 162 murid TK/PAUD, 1.857 siswa SD, 770 siswa Madrasah Ibtidaiyah, 1.068 siswa SMP, 2.466 siswa SMA, dan 513 siswa SMK. Jumlah murid terbanyak berada pada jenjang SMA, diikuti SD dan SMP, yang menunjukkan tingginya partisipasi pendidikan pada jenjang menengah di wilayah tersebut.
Pada tahun 2025, Kecamatan Atambua Barat memiliki 521 guru, yang terdiri dari 15 guru TK, 17 guru Raudatul Athfal, 132 guru SD, 57 guru Madrasah Ibtidaiyah, 95 guru SMP, 175 guru SMA, dan 30 guru SMK. Jumlah guru terbanyak berada pada jenjang SMA, diikuti SD dan SMP, yang mencerminkan ketersediaan tenaga pendidik yang cukup untuk mendukung proses pembelajaran di berbagai jenjang pendidikan.
Pada tahun 2025, Kecamatan Atambua Barat memiliki 13 sarana kesehatan, yang terdiri dari 2 rumah sakit, 1 puskesmas, dan 10 apotek. Apotek merupakan sarana kesehatan yang jumlahnya paling banyak, menunjukkan kemudahan akses masyarakat terhadap pelayanan kefarmasian, sementara rumah sakit dan puskesmas mendukung pelayanan kesehatan rujukan dan layanan kesehatan dasar.
Pada tahun 2025, seluruh 4 desa/kelurahan di Kecamatan Atambua Barat telah menggunakan listrik PLN sebagai sumber penerangan jalan. Tidak terdapat desa/kelurahan yang menggunakan listrik non-PLN maupun sumber penerangan non-listrik, sehingga seluruh wilayah telah memperoleh akses penerangan jalan berbasis jaringan listrik PLN.
Pada tahun 2025, Kecamatan Atambua Selatan memiliki 31 satuan pendidikan, yang terdiri dari 17 TK/PAUD, 1 Raudatul Athfal, 6 SD, 2 SMP, 1 Madrasah Tsanawiyah, 1 SMA, 2 SMK, dan 1 Madrasah Aliyah. Jenjang TK/PAUD merupakan jumlah sekolah terbanyak, diikuti SD, menunjukkan tersedianya sarana pendidikan mulai dari usia dini hingga jenjang menengah di wilayah tersebut.
Pada tahun 2025, jumlah murid di Kecamatan Atambua Selatan mencapai 5.445 siswa, yang terdiri dari 468 murid TK/PAUD, 27 murid Raudatul Athfal, 2.036 siswa SD, 1.172 siswa SMP, 14 siswa Madrasah Tsanawiyah, 8 siswa SMA, dan 1.720 siswa SMK. Jumlah murid terbanyak berada pada jenjang SD, diikuti SMK dan SMP, yang menunjukkan tingginya partisipasi peserta didik pada jenjang pendidikan dasar dan menengah di wilayah tersebut.
Pada tahun 2025, Kecamatan Atambua Selatan memiliki 374 guru, yang terdiri dari 39 guru TK, 122 guru SD, 92 guru SMP, 1 guru Madrasah Tsanawiyah, 4 guru SMA, 115 guru SMK, dan 1 guru Madrasah Aliyah. Jumlah guru terbanyak berada pada jenjang SD, diikuti SMK dan SMP, yang menunjukkan ketersediaan tenaga pendidik yang memadai untuk mendukung proses pembelajaran di berbagai jenjang pendidikan.
Pada tahun 2025, Kecamatan Atambua Selatan memiliki 5 sarana kesehatan, yang terdiri dari 1 poliklinik, 1 puskesmas, dan 3 apotek. Apotek merupakan sarana kesehatan dengan jumlah terbanyak, sementara keberadaan poliklinik dan puskesmas mendukung pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat di wilayah tersebut.
Pada tahun 2025, Kecamatan Kakuluk Mesak memiliki 22 satuan pendidikan, yang terdiri dari 2 TK/PAUD, 12 SD, 4 SMP, 2 SMA, 1 SMK, dan 1 perguruan tinggi. Jenjang SD merupakan jumlah sekolah terbanyak, diikuti SMP, menunjukkan bahwa sarana pendidikan dasar dan menengah di wilayah ini tersedia dengan cukup baik.
Pada tahun 2025, Kecamatan Kakuluk Mesak memiliki 422 guru, yang terdiri dari 6 guru TK, 201 guru SD, 123 guru SMP, 54 guru SMA, dan 38 guru SMK. Jumlah guru terbanyak berada pada jenjang SD, diikuti SMP dan SMA, yang menunjukkan ketersediaan tenaga pendidik yang memadai untuk mendukung proses pembelajaran pada berbagai jenjang pendidikan.
Pada tahun 2025, jumlah murid di Kecamatan Kakuluk Mesak mencapai 3.028 siswa, yang terdiri dari 66 murid TK/PAUD, 2.022 siswa SD, 458 siswa SMP, 264 siswa SMA, dan 218 siswa SMK. Jumlah murid terbanyak berada pada jenjang SD, diikuti SMP, yang menunjukkan bahwa sebagian besar peserta didik berada pada jenjang pendidikan dasar di wilayah tersebut.
Pada tahun 2025, seluruh 6 desa di Kecamatan Kakuluk Mesak telah menggunakan listrik PLN sebagai sumber penerangan jalan. Tidak terdapat desa yang menggunakan listrik non-PLN maupun sumber penerangan non-listrik, sehingga seluruh wilayah telah memperoleh akses penerangan jalan berbasis jaringan listrik PLN.
Pada tahun 2025, seluruh 6 desa di Kecamatan Lasiolat telah menggunakan listrik PLN sebagai sumber penerangan jalan. Tidak terdapat desa yang menggunakan listrik non-PLN maupun sumber penerangan non-listrik, sehingga seluruh wilayah telah memperoleh akses penerangan jalan berbasis jaringan listrik PLN.
Pada tahun 2025, Kecamatan Lasiolat mencatat 1 kejadian bencana alam, yaitu tanah longsor. Tidak terdapat kejadian banjir, angin puting beliung, kebakaran, gempa bumi, gelombang pasang, abrasi, maupun kekeringan, sehingga kejadian bencana alam di wilayah ini relatif rendah dan didominasi oleh tanah longsor.
Pada tahun 2025, Kecamatan Kobalima Timur mengalami 4 kejadian bencana alam, yang terdiri dari 3 kejadian tanah longsor dan 1 kejadian kekeringan. Tanah longsor menjadi bencana yang paling sering terjadi, sehingga perlu mendapat perhatian dalam upaya mitigasi dan penanggulangan bencana di wilayah tersebut.
Pada tahun 2025, jumlah murid di Kecamatan Nunkolo mencapai 3.148 siswa, terdiri dari 16 murid TK/PAUD, 2.096 murid SD, 680 murid SMP, 239 murid SMA, dan 117 murid SMK. Jumlah murid terbanyak berada pada jenjang SD, yang menunjukkan bahwa peserta didik di Kecamatan Nunkolo masih didominasi oleh pendidikan dasar.
Pada tahun 2025, jumlah murid di Kecamatan Kot'Olin mencapai 3.678 siswa, terdiri dari 1.424 murid TK/PAUD, 1.424 murid SD, 563 murid SMP, dan 267 murid SMA. Jumlah murid terbanyak berada pada jenjang TK/PAUD dan SD dengan jumlah yang sama, menunjukkan tingginya peserta didik pada pendidikan usia dini dan dasar di wilayah tersebut.
Pada tahun 2025, jumlah murid di Kecamatan Kualin mencapai 5.429 siswa, terdiri dari 32 murid TK/PAUD, 2.806 murid SD, 1.290 murid SMP, 964 murid SMA, dan 337 murid SMK. Jumlah murid terbanyak berada pada jenjang SD, menunjukkan bahwa peserta didik di Kecamatan Kualin masih didominasi oleh pendidikan dasar.
Pada tahun 2025, Kecamatan Amfoang Timur memiliki 14 titik penerangan jalan, yang terdiri dari 5 titik menggunakan listrik PLN, 4 titik menggunakan listrik non-PLN, dan 5 titik menggunakan sumber non-listrik. Kondisi ini menunjukkan bahwa sumber penerangan jalan di wilayah ini cukup beragam, dengan penggunaan listrik PLN dan non-listrik yang relatif seimbang.
Pada tahun 2025, Kecamatan Kupang Barat memiliki 37 sekolah, terdiri dari 3 TK/PAUD, 20 SD, 7 SMP, 1 Madrasah Tsanawiyah, 2 SMA, 3 SMK, dan 1 Madrasah Aliyah. Jumlah sekolah didominasi oleh SD, menunjukkan bahwa fasilitas pendidikan dasar merupakan yang paling banyak tersedia di wilayah Kecamatan Kupang Barat.
Pada tahun 2025, jumlah murid di Kecamatan Kupang Barat mencapai 3.597 siswa, terdiri dari 52 murid TK/PAUD, 2.151 murid SD, 814 murid SMP, 558 murid SMA, dan 22 murid SMK. Jumlah murid terbanyak berada pada jenjang SD, menunjukkan bahwa peserta didik di Kecamatan Kupang Barat masih didominasi oleh pendidikan dasar.
Pada tahun 2025, Kecamatan Kupang Barat memiliki 13 sarana kesehatan, yang terdiri dari 1 rumah sakit, 1 puskesmas, dan 11 puskesmas pembantu. Jumlah puskesmas pembantu yang cukup banyak menunjukkan dukungan pelayanan kesehatan yang menjangkau masyarakat hingga tingkat yang lebih dekat dengan permukiman penduduk.
Pada tahun 2025, Kecamatan Kupang Barat memiliki 16 titik penerangan jalan, yang terdiri dari 12 titik menggunakan listrik PLN dan 4 titik menggunakan sumber non-listrik. Penggunaan listrik PLN mendominasi sumber penerangan jalan, menunjukkan bahwa sebagian besar fasilitas penerangan jalan di wilayah ini telah memanfaatkan jaringan listrik utama.
Pada tahun 2025, Kecamatan Kupang Barat mengalami 6 kejadian bencana alam, yang terdiri dari 1 kejadian tanah longsor, 1 kejadian banjir, 3 kejadian gempa bumi, dan 1 kejadian gelombang pasang. Gempa bumi merupakan bencana yang paling sering terjadi, sehingga perlu mendapat perhatian dalam upaya mitigasi dan kesiapsiagaan bencana di wilayah tersebut.
Pada tahun 2025, sumber penerangan jalan di Kecamatan Nekamese didominasi oleh listrik PLN sebanyak 11 titik, diikuti non listrik sebanyak 6 titik, dan listrik non-PLN sebanyak 1 titik. Kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian besar penerangan jalan telah memanfaatkan jaringan listrik PLN sebagai sumber energi utama.
Pada tahun 2025, Kecamatan Nekamese mengalami 11 kejadian bencana alam, yang terdiri dari 8 kejadian gempa bumi, 2 kejadian tanah longsor, dan 1 kejadian kekeringan. Gempa bumi merupakan bencana yang paling dominan, sehingga menjadi perhatian utama dalam upaya mitigasi dan penanggulangan bencana di wilayah tersebut.
Pada tahun 2025, jumlah murid di Kecamatan Amarasi Barat mencapai 3.498 siswa, yang terdiri dari 131 murid TK/PAUD, 1.712 murid SD, 848 murid SMP, 729 murid SMA, dan 78 murid SMK. Jumlah murid terbanyak berada pada jenjang SD, menunjukkan bahwa pendidikan dasar menampung sebagian besar peserta didik di wilayah tersebut.
Pada tahun 2025, sumber penerangan jalan di Kecamatan Amarasi Barat didominasi oleh listrik PLN sebanyak 8 titik, sedangkan 2 titik lainnya masih menggunakan sumber non listrik. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar penerangan jalan di wilayah tersebut telah memanfaatkan jaringan listrik PLN sebagai sumber energi utama.
Pada tahun 2025, jumlah murid di Kecamatan Amarasi Selatan mencapai 2.511 siswa, yang terdiri dari 69 murid TK/PAUD, 1.286 murid SD, 564 murid SMP, 481 murid SMA, dan 111 murid SMK. Jumlah murid terbanyak berada pada jenjang SD, menunjukkan bahwa pendidikan dasar menjadi jenjang dengan peserta didik paling dominan di wilayah tersebut.
Pada tahun 2025, Kecamatan Amarasi Selatan memiliki 309 orang guru, yang terdiri dari 4 guru TK, 116 guru SD, 92 guru SMP, 67 guru SMA, dan 30 guru SMK. Jumlah guru terbanyak berada pada jenjang SD, menunjukkan bahwa kebutuhan tenaga pendidik terbesar masih berada pada pendidikan dasar seiring dengan tingginya jumlah sekolah dan murid pada jenjang tersebut.
Pada tahun 2025, Kecamatan Rote Timur memiliki 28 sekolah, terdiri dari 7 TK/PAUD, 15 SD, 3 SMP, 1 Madrasah Tsanawiyah, 1 SMA, dan 1 Madrasah Aliyah. Jenjang SD merupakan yang paling dominan, menunjukkan bahwa fasilitas pendidikan dasar tersedia lebih banyak dibandingkan jenjang pendidikan lainnya di kecamatan ini.
Pada tahun 2025, jumlah murid di Kecamatan Rote Timur mencapai 3.638 siswa, terdiri dari 205 murid TK/PAUD, 1.719 murid SD, 766 murid SMP, 79 murid Madrasah Tsanawiyah, 800 murid SMA, dan 69 murid Madrasah Aliyah. Jumlah murid terbanyak berada pada jenjang SD, yang menunjukkan bahwa pendidikan dasar memiliki peserta didik paling banyak di kecamatan tersebut.
Pada tahun 2025, Kecamatan Rote Timur memiliki 305 guru, terdiri dari 21 guru TK, 142 guru SD, 70 guru SMP, 10 guru Madrasah Tsanawiyah, 48 guru SMA, dan 14 guru Madrasah Aliyah. Jumlah guru terbanyak berada pada jenjang SD, menunjukkan bahwa tenaga pendidik lebih banyak terkonsentrasi pada pendidikan dasar dibandingkan jenjang pendidikan lainnya.
Grafik tersebut menunjukkan bahwa dari total 376 guru di Kecamatan Pantai Baru pada tahun 2025, mayoritas mengajar di tingkat SD (201 orang) dan paling sedikit di tingkat TK (20 orang). Grafik tersebut menunjukkan bahwa dari total 376 guru di Kecamatan Pantai Baru pada tahun 2025, mayoritas mengajar di tingkat SD (201 orang) dan paling sedikit di tingkat TK (20 orang).
Total keseluruhan instansi pendidikan yang terdata di Kecamatan Lobalain pada tahun 2025 adalah sebanyak 56 sekolah. Jenjang SD memiliki jumlah sekolah terbanyak (26 sekolah), sedangkan beberapa jenjang seperti Raudatul Athfal, Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, dan SMK merupakan yang paling sedikit dengan masing-masing hanya memiliki 1 sekolah.
Sumber : BPS 2025