60.
Pembacaan Injil merupakan puncak Liturgi Sabda. Liturgi sendiri mengajarkan bahwa pemakluman Injil harus dilaksanakan dengan cara yang sangat hormat. Ini jelas dari aturan liturgi, sebab bacaan Injil lebih mulia daripada bacaan-bacaan lain. Penghormatan itu diungkapkan sebagai berikut :
(1) diakon yang ditugaskan memaklumkan Injil mempersiapan diri dengan berdoa atau minta berkat kepada imam selebran;
(2) umat beriman, lewat aklamasi-aklamasi, mengakui dan mengiani kehadiran Kristus yang bersabda kepada umat dalam pembacaan Injil; selain itu umat berdiri selama mendengarkan Injil;
(3) Kitab Injil sendiri diberi penghormatan yang sangat khusus.
117.
Altar harus ditutup dengan sekurang-kurangnya satu helai kain altar berwarna putih. Pada altar atau di dekatnya dipasang sekurang-kurangnya dua lilin bernyala; tetapi boleh juga empat, bahkan enam, khususnya pada hari Minggu dan hari raya wajib. Bila uskup diosesan memimpin Misa di keuskupannya, dipasang tujuh lilin. Di samping itu, hendaknya ada sebuah salib dengan sosok Kristus tersalib yang dipajang pada altar atau di dekatnya. Boleh juga lilin dan salib yang dihias dengan sosok Kristus tersalib itu dibawa dalam perarakan masuk. Kitab Injil (Evangeliarium ), bukan Buku Bacaan Misa ( Lectionarium ), dapat diletakkan pada altar, kecuali kalau kitab itu dibawa dalam perarakan masuk.
118.
Begitu pula hendaknya disiapkan:
a. di tempat duduk imam: Misale dan bila diperlukan, buku nyanyian;
b. di mimbar: Buku Bacaan Misa ( lectionarium );
c. di meja samping:
(1) piala, korporale, purifikatorium dan bila diperlukan, palla;
(2) patena dan, kalau diperlukan sibori-sibori ;
(3) hosti untuk komuni imam selebran, diakon, para pelayan,dan umat;
(4) ampul berisi air dan ampul berisi anggur, kecuali kalau barang-barang ini diantarkan oleh umat waktu perarakan persembahan;
(5) bejana air suci, kalau ada pemberkatan dan perecikan dengan air suci;
(6) patena untuk komuni umat;
(7) perlengkapan untuk membasuh tangan.
Sangat dianjurkan agar piala ditutup dengan kain; warnanya dapat putih atau sesuai dengan warna liturgi hari yang bersangkutan.
119.
Di sakristi hendaknya disiapkan busana liturgis (bdk. no. 337-341) untuk imam, diakon, dan pelayan-pelayan lain sesuai dengan bentuk perayaan :
a. untuk imam: alba, stola, dan kasula;
b. untuk diakon: albam stola, dan dalmatik. Namun dalmatik juga dapat ditiadakan, jika tidak diperlukan atau jika perayaannya tidak begitu meriah;
c. untuk pelayan lainnya: alba atau busana lain yang sudah disahkan.[*]
Semua petugas yang memakai alba, juga menggunakan singel dan amik, kecuali kalau bentuk alba tidak memerlukannya.
Kalau ada perarakan masuk, hal-hal berikut juga perlu disiapkan:
(1) Kitab Injil (Evangeliarium) ;
(2) pada hari Minggu dan hari raya: pedupaan dan wadah dupa ( kalau dipakai pedupaan );
(3) salib dan lilin bernyala untuk dibawa dalam perarakan.
120.
Setelah jemaat berkumpul, imam dan para pelayan, dengan mengenakan busana liturgis masing-masing, berarak menuju altar. Urutannya sebagai berikut :
a. Pelayan yang membawa pedupaan berasap, bila dipakai dupa.
b. Pelayan-pelayan yang membawa lilin bernyala, mengapit akolit atau pelayan lain yang membawa salib.
c. Para akolit dan pelayan-pelayan yang lain.
d. Lektor; dapat membawa Kitab Injil ( Evangeliarium ), bukan Buku Bacaan Misa (Lectionarium) yang sedikit diangkat.
e. Imam yang memimpin perayaan Misa.
Kalau dipakai dupa, sebelum perarakan mulai, imam membubuhkan dupa ke dalam pedupaan dan memberkatinya dengan tanda salib tanpa mengatakan apa-apa.
121.
Pada waktu perarakan menuju altar, dilagukan nyanyian pembuka (bdk. no. 47-48)
122.
Setibanya di depan altar, imam dan para pelayan membungkuk khidmat.
Kalau dalam perarakan ini dibawa salib, maka salib itu dipajang di dekat altar sehingga berfungsi sebagai salib altar, dan hanya salib itulah yang harus digunakan; kalau ada salib lain, lebih baik salib perarakan ini dipajang di tempat lain ( diluar panti imam ). Lilin-lilin yang dibawa oleh para pelayan, ditempatkan di dekat altar.
123.
Imam menuju altar dan menciumnya sebagai tanda penghormatan. Kalau dianggap perlu, imam lalu mendupai salib dan berkeliling mendupai altar.
132.
Selama dilagukan bait pengantar Injil, jika dipakai dupa, imam mengisi pedupaan dan memberkatinya. Kemudian, imam mangatupkan tangan, membungkuk khidmat ke arah altar sambil berdoa dalam hati: Sucikanlah hati dan budiku
133.
Jika Kitab Injil terletak di atas altar, sekarang imam mengambilnya dan membawanya ke mimbar, dengan sedikit diangkat. Waktu pergi ke mimbar imam didahului oleh putra altar yang dapat membawa pedupaan dan lilin bernyala. Semua yang hadir menghadap ke arah mimbar, dan dengan demikian menunjukkan penghormatan khusus kepada Injil Kristus.
134.
Di mimbar itu, imam membuka Kitab Injil dan sambil membuka tangan berkata : Tuhan sertamu, lalu mengatupkan tangan. Umat menjawab : Dan sertamu juga. Kemudian imam berkata : Inilah Injil Yesus Kristus?Dengan ibu jari imam membuat tanda salib pada Injil yang akan diwartakan, lalu pada dahi, mulut,dan dadanya. Hal yang sama juga dilakukan oleh umat. Umat menyerukan aklamasi : Dimuliakanlah Tuhan. Bila dipakai dupa (bdk.no. 277-278), imam mendupai Kitab Injil. Sesudah itu imam mewartakan Injil, dan sesudah pewartaan, ia melagukan atau menyerukan aklamasi : Demikianlah sabda Tuhan, yang dijawab umat dengan seruan : Terpujilah Kristus. Sesudah itu imam mencium Kitab Injil sambil berdoa dalam hati : Ya Tuhan, karena pewartaan Injil ini, hapuskanlah dosa kami.
276.
Pendupaan merupakan ungkapan hormatdan doa sebagaimana dijelaskan dalam Alkitab (bdk.Mzm 141:2; Why 8:3).
Dalam setiap bentuk Misa boleh digunakan dupa :
a. selama perarakan masuk;
b. pada permulaan Misa untuk menghormati salib dan altar;
c. waktu perarakan dan pewartaan Injil;
d. sesudah roti dan anggur disiapkan di altar, bahan persembahan, salib, dan altar didupai; juga imam dan jemaat.
e. waktu hosti dan piala diperlihatkan kepada umat sesudah konsekrasi masing-masing.
277.
Sesudah mengisi pedupaan, imam memberkatinya dengan membuat tanda salib di atasnya, tanpa mengatakan apa-apa.
Sebelum dan sesudah pendupaan, petugas membungkuk khidmat ke arah orang atau barang yang didupai, kecuali dalam pendupaan altar dan bahan persembahan untuk Ekaristi.
Pendupaan dilaksanakan dengan mengayunkan pedupaan ke depan dan ke belakang. Pedupaan diayunkan tiga kali untuk penghormatan: (a) Sakramen Mahakudus, relikui salib suci dan patung Tuhan yang dipajang untuk dihormati secara publik; (b) bahan persembahan; (c) salb altar, Kitab injil, lilin paskah, imam dan jemaat.
Pedupaan diayunkan dua kali untuk penghormatan: relikui dan patung orang kudus yang dipajang untuk dihormati secara publik. Semua ini didupai hanya pada awal perayaan Ekaristi sesudah pendupaan altar.
Altar didupai dengan serangkaian ayunan tunggal sebagai berikut :
a. Kalau altar berdiri sendiri, imam mendupai altar sambil mengelilinginya.
b. Kalau altar melekat pada dinding, maka imam mendupai sambil berjalan ke sisi kanan lalu ke sisi kirinya.
Kalau ada salib di atas atau di dekat altar, maka salib itu didupai sebelum altar. Atau, imam mendupai salib pada saat ia melintas di depannya.
Sebelum mendupai salib dan altar, imam mendupai bahan persembahan dengan mengayunkan pedupaan tiga kali atau dengan membuat tanda salib dengan pedupaan di atas bahan persembahan.
305.
Dalam menghias altar hendaknya tidak berlebihan. Selama Masa Adven penghiasan altar dengan bunga hendaknya mencerminkan ciri khas masa ini ( masa penantian penuh sukacita), tetapi tidak boleh mengungkapkan sepenuhnya sukacita kelahiran Tuhan. Selama Masa Prapaskah altar tidak dihias dengan bunga, kecuali pada Minggu Laetare (Minggu Prapaskah IV),
hari raya dan pesta yang terjadi pada masa ini.
Hiasan bunga hendaknya tidak berlebihan dan ditempatkan di sekitar altar, bukan di atasnya.