Selayang Pandang
Pencak Silat adalah seni beladiri asli Indonesia. Kekayaan budaya Indonesia yang demikin beragam tentunya menjadikan makna pencak silat juga beragam, tak jarang selalu identik dengan cultur budaya setempat yang penuh dengan mitos. Pencak dan silat oleh masyarakat madura merupakan dua makna yang berbeda namun satu adanya. Ibarat dua sisi mata uang namun tetap satu adanya. Pencak biasa dimaknai sebagai kembangnya atau seninya atau jurusnya, sementara Silat dimaknai dengan isi, atau aplikasi atau tekniknya. Karena itu hampir sebagian besar masyarakat madura selalu berbicara dengan istilah Pencak daripada Silat. Hal ini dikarenakan masyarakat di madura masih menganggap seseorang yang sedang berlatih silat atau memperagakan ilmu silat dengan jurus-jurusnya maka itu adalah Pencak ”a pencak” (bahasa madura) yang artinya bermain jurus pencak. Karakteristik masyarakt madura yang keras demikian alamnya yang juga keras menjadikan masyarakat madura seolah membutuhkan sebuah senjata handal dalam setiap aktifitasnya. Pengertian senjata disini bermakna dua, yakni senjata secara harfiyah yakni senjata seperti pada umumnya (clurit, pisau dan sejenisnya) dan arti kedua senjata yang mereka sebut “sekep odik” yang artinya senjata hidup. Dalam pengertian yang kedua inilah yang menjadikan masyarakat madura sangat mencintai pencak silat. Karena senjata hidup yang dimaksud mereka adalah senjata yang tidak terlihat dan selalu siaga jika ada bahaya, senjata tersebut adalah jurus-jurus silat. Karena itu, pencak silat dalam perspektif masyarakt madura bisa dimaknai secara philosophy yakni, Pencak = sempen jek cak ngocak (pencak = simpan jangan bilang-bilang).
Masyarakat madura sejak dulu nenek moyangnya dikenal ulet dan suka menjelajah ke tanah sebrang. Hingga kini masih mentradisi dikalangan masyarakat madura. Pencak silat yang berada di Desa Klungkung juga berasal dari nenenk moyang suku madura yang merantau dan menetap di desa ini. Masyarakat Klungkung sendiri sebagian merupakan keturunan orang-orang madura dan bahasa sehari-hari yang digunakan adalah bahasa madura. Mereka melestarikan budaya yang dimiliki dimanapun mereka tinggal, termasuk pencak silat yang diteruskan secara turun-temurun hingga saat ini, tak heran jika di Desa Klungkung terdapat 5 (lima) Perguruan Pencak Silat. Semua perguruan pencak silat Desa Klungkung sudah terdaftar di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jember dan memiliki nomor induk kesenian. Kelima perguruan pencak silat tersebut antara lain:
- Pencak Silat Mawar Tunggal pimpinan Bapak Mistar
- Pencak Silat Putra Pemuda pimpinan Bapak Marukdin
- Pencak Silat Sinar Putra pimpinan Bapak Mat Salim
- Pencak Silat Garda Patih pimpinan Bapak Marjoyo
- Pencak Silat Rukun Pemuda pimpinan Bapak Toari (Durahman)
Secara umum, isitilah dalam pencak silat sebagai berikut :
Kuda-kuda: adalah posisi menapak kaki untuk memperkukuh posisi tubuh. Kuda-kuda yang kuat dan kukuh penting untuk mempertahankan posisi tubuh agar tidak mudah dijatuhkan. Kuda-kuda juga penting untuk menahan dorongan atau menjadi dasar titik tolak serangan.
Sikap dan Gerak: Pencak silat ialah sistem yang terdiri atas sikap (posisi) dan gerak-gerik (pergerakan). Ketika seorang pesilat bergerak saat bertarung, sikap dan gerakannya berubah mengikuti perubahan posisi lawan secara berkelanjutan.
Langkah: Ciri khas dari Silat adalah penggunaan langkah. Langkah ini penting di dalam permainan silat yang baik dan benar. Ada beberapa pola langkah yang dikenali, contohnya langkah tiga dan langkah empat.
Kembangan: Kembangan utama biasanya dilakukan pada awal laga dan dapat bersifat mengantisipasi serangan atau mengelabui musuh. Seringkali gerakan kembangan silat menyerupai tarian. Kembangan adalah salah satu bagian penilaian utama dalam seni pencak silat yang mengutamakan keindahan gerakan.
Buah: Pencak Silat memiliki macam yang banyak dari teknik bertahan dan menyerang. Secara tradisional istilah teknik ini dapat disamakan dengan buah. Pesilat biasa menggunakan tangan, siku, lengan, kaki, lutut dan telapak kaki dalam serangan. Teknik umum termasuk tendangan, pukulan, sandungan, sapuan, mengunci, melempar, menahan, mematahkan tulang sendi, dan lain-lain.
Jurus: Jurus ialah rangkaian gerakan dasar untuk tubuh bagian atas dan bawah, yang digunakan sebagai panduan untuk menguasai penggunaan teknik-teknik lanjutan pencak silat (buah), saat dilakukan untuk berlatih secara tunggal atau berpasangan. P
Sapuan dan Guntingan: adalah salah satu jenis buah (teknik) menjatuhkan musuh dengan menyerang kuda-kuda musuh, yakni menendang dengan menyapu atau menjepit (menggunting) kaki musuh, sehingga musuh kehilangan keseimbangan dan jatuh.
Kuncian: adalah teknik untuk melumpuhkan lawan agar tidak berdaya, tidak dapat bergerak, atau untuk melucuti senjata musuh. Kuncian melibatkan gerakan menghindar, tipuan, dan gerakan cepat yang biasanya mengincar pergelangan tangan, lengan, leher, dagu, atau bahu musuh.
Perguruan Pencak Silat Desa Klungkung
(Pilih Icon di bawah ini)
DAFTAR PUSTAKA
Marfin. 2011. Pencak Silat Madura. Blog Bangkalan. Diakses 20 Januari 2024 dari https://bangkalan.blogspot.com/2011/02/pencak-silat-madura.html
Pengelola Web Kedikbud. 2017. 10 Objek Budaya dalam UU Pemajuan Kebudayaan. Diakses 20 Januari 2024 dari https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2017/06/ini-10-objek-budaya-dalam-uu-pemajuan-kebudayaan
Juniawan, Nanang. 2023. Potensi Budaya Desa Klungkung.Diakses 20 Januari 2024 dari https://desabudaya.kemdikbud.go.id/cultural-heritage/village/profile
Ivan, Nuril, Rendi. 2024. "Pendataan Objek Pemajuan Kebudayaan Desa Klungkung". Hasil Wawancara Pribadi: 12 Januari 2024, Desa Klungkung