Menurut Bleeker, industri gula pertama kali muncul di Panarukan, tepatnya di Wringin Anom, pada tahun 1845. Pada tahun 1855, terdapat lima pabrik gula di Residensi Besuki, dua di antaranya berada di Besuki dan tiga di Panarukan. Total luas perkebunan gula mencapai 2.200 bau, dengan rincian 800 bau di Besuki dan 1.400 bau di Panarukan. Dengan diterapkannya kebijakan kolonial liberal sejak tahun 1870, pemerintah memberikan kesempatan kepada perusahaan swasta untuk mendirikan pabrik gula di Besuki. Akibatnya, empat pabrik gula swasta didirikan pada tahun 1879. Pada tahun 1890, jumlah pabrik gula meningkat menjadi 13, namun kemudian menurun menjadi 10. Pabrik gula baru yang didirikan meliputi Pandji (Panarukan), Prajegan, Asembagus (Pantai Utara), Tenggarang (Bondowoso), Kabat, Rogojampi, dan Sukowidi (Banyuwangi).
Pabrik Gula Wringin Anom
Industri gula di Jember muncul pada tahun 1920 ketika Handelsvereeniging Amsterdam (HVA), pemilik industri gula Jati roto berusaha untuk memperluas area di bawah budidaya tebu ke wilayah Jember. HVA mengajukan permintaan untuk menyewa tanah. Pemerintah mengabulkan permintaan pertama dan mengizinkan HVA untuk menyewakan 500 bouws tanah di lima desa, yaitu Padoemasan, Djom bang, Keting, Kraton, dan Kencong. Ini diatur oleh Besluit van den Directeur van Binnenlandsch Bestuur ddo. 19 Februari 1920 No. 425 A/I. Pada tahun berikutnya ijin diberikan untuk menyewa 1,500 bau, yang dituangkan melalui Besluit van den Directeur van Binnenlandsch Bestuur ddo. 26 Januari 1921 No. 203 A/I. Pada tahun yang sama, HVA melanjutkan upaya untuk mengajukan permohonan lain untuk menyewa 3.500 bau lahan di Kencong dan Bondoyudo. Upaya selanjutnya dilakukan dengan mengusulkan permintaan untuk pendirian parbrik gula baru di Jember. Antara 1925 - 1928 tiga pabrik gula baru mulai beroperasi dan menggiling tebu di wilayah Jember.
Rumah dinas dan Komplek perumahan PG Djatiroto
Bangunan dan Kereta PG Jatiroto yang digunakan ketika masa kolonial Belanda