Pada abad ke-20, pemerintah fokus pada pengembangan infrastruktur, termasuk jalur kereta api. Jalur dari Kalisat ke Mrawan dibuka pada tahun 1902, diikuti oleh jalur dari Mrawan ke Banyuwangi setahun kemudian. Pembangunan ini mengatasi isolasi antara Jember dan Banyuwangi, meningkatkan konektivitas dan memfasilitasi migrasi orang Jawa dari daerah padat di Jawa Timur dan Tengah ke selatan Jember, mengubah pola migrasi yang sebelumnya didominasi oleh orang Madura. Selain itu, pembangunan jalur kereta api menarik minat kapitalis Barat untuk berinvestasi dalam perkebunan di selatan Jember.
Setelah jalur utama selesai, jalur sekunder dibangun untuk menghubungkan beberapa kabupaten, seperti rute dari Rambipuji ke Puger yang dibuka pada tahun 1912. Perusahaan swasta juga terlibat dalam pembangunan jalur sekunder untuk mengangkut hasil panen, terutama tebu, ke pabrik.
Pemerintah juga membangun dan memperbaiki jalan di daerah Bedadung, Tanggul, dan menghubungkan Jember dengan Bondowoso dan Situbondo. Pada tahun 1925, perhatian diberikan untuk memperbaiki jalan-jalan di Tanggul dan Distrik Mayang. Jalan dari Jember ke Banyuwangi dibuka untuk lalu lintas bus, karena transportasi kereta api dianggap kurang efisien untuk angkutan orang.
Jalan Gumitir pada masa kolonial
Stasiun Soekowono
Perlintasan kereta api dan terowongan di Mrawan
Pembangunan jembatan kereta api di Jember
Pembangunan jalan antara Banjoewangi dan Djember
Pembangunan Terowongan Kereta di Garahan 1901-1902
Stasiun Jember 1927 dan saat ini
Stasiun Bondowoso yang tidak beroprasi
Tampak dalam stasiun Bondowoso
Stasiun Situbondo yang tidak beroperasi
Stasiun Panarukan
Stasiun Mrawan
Jalur kereta api di stasiun Mrawan
Peta Jalur Kereta Api
Arsip pembuatan jalur kereta api di Jember-Panarukan