Pada tahun 1904, Du Bois dan J. J. van Gorsel membuka perkebunan karet pertama di Residensi Besuki, di Tanggul, yang dikenal sebagai “Zeelandia.” Mereka membudidayakan karet para (Hevea brasiliensis) yang lebih unggul dibandingkan ficus elastica dan castilloa elastica. Keputusan ini diambil setelah kegagalan bisnis kopi mereka akibat serangan larva dan penurunan harga kopi global.
Permintaan karet yang meningkat, terutama dari industri otomotif, mendorong pengembangan perkebunan karet sebagai alternatif. Pada tahun 1907, kongres tentang budidaya karet diadakan di Jember untuk meningkatkan pengetahuan para pekebun. Rubber Maatschappij Amsterdam didirikan pada tahun yang sama, dengan Du Bois sebagai administrator, memproduksi 2.000 kilogram karet yang dijual ke Amsterdam. Output karet terus meningkat, mencapai 14.935 kilogram pada tahun 1910 dan 38.345 kilogram pada tahun 1911.
Mengangkut karet dengan truk di perkebunan
Rumah pengeringan krep (kiri) dan pabrik karet milik Perusahaan Budaya Karet Kalitengah di Tanggoel, Jawa Timur
Data jumlah ekspor hasil pertanian dan perkebunan di wilayah Karesidenan Besuki